Keluarga Antares baru saja pulang dengan memakai baju seragam hitam. Tentu saja bukan dari sekolah melainkan dari pemakaman dengan pakaian serba hitam. Wajah mereka kelihatan sangat pucat dan mata bengkak masih basah karena air mata yang tidak kunjung berhenti keluar. Cara berjalan mereka juga tidak normal, sepertinya tersandung kerikil akan langsung jatuh pingsan seketika.
Sampai di depan pintu rumah, Sang Ayah mengambil kunci yang diletakkan diatas pot bunga kesayangan istrinya. Disanalah selalu disimpan kunci rumah, lokasi itu tidak pernah diubah karena sudah menjadi kebiasaan. Bahkan semua anggota keluarga bisa mencari dan mengambil kunci itu mungkin sambil menutup mata.
Sepertinya pintu tak kunjung terbuka juga, Anak kedua dari keluarga Antares itu maju untuk membantu ayahnya yang kelihatan kesulitan memasukkan kunci karena mata yang kabur dan tangan yang gemetaran. Walau sekarang statusnya sudah berubah, Hali sudah naik menjadi anak pertama sekarang.
"Ferris, kau saja yang membuka pintu!" Kata Sang Ayah yang membuat langkah Hali terhenti. Begitupun dengan anggota keluarga yang lain merasa terkejut dengan ucapan Juvenal barusan.
"Ayah, Ferris sudah meninggal. Kita baru saja dari pemakamannya, ayah tidak ingat?!" Kata Hali yang membuat seluruh keluarga kembali menangis histeris di depan rumah mereka sendiri yang pintunya seperti sulit untuk dibuka.
Bukam karena lupa tapi karena sudah menjadi kebiasaan. Ferris yang merupakan anak pertama selalu menjadi tulang punggung keluarga dan selalu bisa diandalkan dalam segala hal. Juvenal mengucapkan itu karena tidak sengaja tapi menjadi kalimat bencana untuk seluruh keluarganya lagi.
Hali segera merebut kunci ditangan ayahnya dan membuka pintu rumah, "Kalau mau menangis, di dalam! Jangan sampai kita menjadi tontonan tetangga!" Dengan tegas Hali mengatakan itu, tidak seperti biasanya Hali begitu. Sepertinya dia merasa harus mengambil peran sebagai anak pertama sekarang karena Ferris meninggal.
Hari pertama dan kedua berduka adalah hari yang sangat berat. Bahkan hari-hari selanjutnya pun masih menyisakan rasa sakit dan duka. Sebuah luka di hati yang tidak akan pernah sembuh dan akan selalu berbekas diingatan. sayangnya penyimpanan ingatan manusia tidak bisa semudah itu untuk dihapus seperti komputer yang hanya bisa dengan satu klik.
Tapi duka itu terus menghantui setiap hari, ibaratkan hantu yang menyeramkan selalu mengantui. Begitulah ingatan manusia, terutama ingatan akan luka dan duka akan terus datang dan pergi tanpa diundang.
Nyatanya kehidupan tidaklah berbaik hati, cuti untuk berduka hanya diberikan waktu 3 hari. Setelah itu satu keluarga Antares harus kembali menjalani kehidupan sehari-hari lagi. Memang benar yang dikatakan orang kalau dunia tidak menunggumu saat kau terjatuh tapi kau harus bangun sendiri dan mengejar ketertinggalan. Kerasnya kehidupan di dunia nyata tidak memberi keringanan untuk mereka yang sedang terluka.
Keluarga Antares mulai menjalani kehidupan seperti biasa lagi. Kembali ke rutinitas tapi masih belum bisa menyingkirkan kebiasaan yakni tetap menyiapkan kursi untuk Ferris yang sudah tiada.
Selalu ada tempat untuk Ferris di meja makan, ruang keluarga, kamar Ferris juga masih tetap sama dan terus dibersihkan layaknya masih ada orang tinggal disana, begitu juga di kampusnya. Pacar Ferris tetap menyediakan satu kuris kosong untuk Ferris seperti sudah menjadi kebiasannya selama ini. Menyimpan tasnya di sebelah kursi kosong hingga Ferris datang. Tapi kali ini sampai perkuliahan selesai pun Ferris tidak datang-datang juga menyingkirkan tas Odelia.
Awalnya satu keluarga Antares tidak ada yang mengeluhkan soal itu. Menganggap bahwa Ferris masih ada disana. Masih terus menyiapkan tempat untuk Ferris walau tidak akan pernah mengisi tempat yang disediakan itu. Selalu ada kursi kosong untuk Ferris di rumah dan di kampus. Hal itu dilakukan untuk mengenang Ferris agar tidak pernah terlupakan. Sayangnya itu menjadi bencana, kursi kosong yang dipakai sebagai tempat untuk menghormati Ferris menjadi hal buruk. Kursi kosong itu perlahan menjadi teror bagi keluarga Antares dan juga bagi Odelia.
"Sepertinya sudah waktunya kita benar melepaskan Kak Ferris, merelakannya ... Kita mulai dari menyingkirkan kursi ini!" Kata Hali mengangkat kursi Ferris dari meja makan saat hendak sarapan bersama keluarga lainnya.
"Tidak, berani-beraninya kau Hali!" Sang Ibu memgembalikan kursi kosong itu ditempat semula.
"Seperti yang sudah diharapkan darimu Hali, pasti diantara kita semua kaulah yang paling bahagia kalau Kak Ferris meninggal." Kata Trina anak ketiga di keluarga Antares, adik Hali yang berbeda dua tahun.
"Beruntung sekali, sekarang Kak Hali lah yang akan jadi ahli waris keluarga ini bukan lagi Kak Ferris." Kata Anya, anak ketiga keempat.
"Apa?! Enak saja?! Anak laki-lakilah yang berhak untuk mewarisi perusahaan keluarga. Karena sekarang sudah tidak ada Kak Ferris berarti hanya aku disini yang berhak." Kata Dava.
"Hahh?! Apa yang bisa dilakukan oleh anak SMP sepertimu?!" Kata Trina.
"Kak Ferris juga masih kuliah tapi sudah bekerja di perusahaan ayah, aku juga tidak lama lagi masuk SMA dan kalian ... Perempuan akan menikah dengan laki-laki keluarga lain dan hanya akan menjadi rumah tangga dan membesarkan anak. Laki-lakilah yang berhak untuk memimpin ... Menjadi ahli waris!" Kata Dava penuh percaya diri.
Juvenal berhenti makan dan menaruh alat makannya di meja, "Kakak kalian yang meninggal tapi seakan seperti kami yang meninggal. Membahas dan memperdebatkan soal warisan disaat kami masih hidup dan makan bersama di meja makan ini. Lucu sekali!" Sang Ayah menghentakkan kedua tangannya membuat meja bergertar dan isi meja bergerak.
Begitu besar sebuah peran anak pertama bahkan setelah tidak ada lebih terasa lagi bagaimana kekosongan peran itu sangat berpengaruh pada seluruh keluarga.
Sarapan hari itu menjadi sarapan terburuk tahun itu. Biasanya sarapan untuk membantu memulai hari dengan tenaga yang sudah diberi karbohidrat. Tapi nyatanya, menjadi mimpi buruk. Sarapan kali itu mrmbuat satu keluarga mendapatkan gangguan pencernaan. Entah karena masalah psikologis atau memang karena ada sesuatu yang salah dengan makanannya.
Hali baru pelajaran pertama sudah minta izin ke UKS untuk mendapatkan perawatan dan diberi obat untuk sakit perutnya itu. Karena tidak kunjung sembuh juga, maka Hali diberi izin untuk pulang dan beristirahat di rumah. Adiknya Trina, lebih memilih untuk pulang ke rumah sepupunya saat Hali bertemu Trina juga datang ke UKS.
Saat pulang ke rumah, Fidela juga terlihat ada di dapur sedang membuat teh hangat.
"Ibu juga pulang?!" Tanya Hali.
"Kau juga?! Sepertinya ada yang salah dengan masakan ibu ya ...." Kata Fidela menyodorkan teh hangat yang dibuatnya untuk Hali baru kemudian membuay yang baru untuknya diri sendiri.
"Sepertinya bukan soal makanan bu ...." Kata Hali dengan tertawa.
"Ya, kupikir juga begitu." Kata Fidela setuju saja.
Hali masuk ke kamarnya untuk beristirahat, meletakkan tasnya dan mengganti baju seragamnya dengan piyama. Hali memasang earphone dan mulai memutar musik untuk membantunya tidur. Sudah dua lagu selesai tapi Hali tidak kunjung tidur juga. Hingga lagu ketiga dimainkan dan itu adalah lagu kesukaan kakaknya. Bon Jovi - Livin' on a prayer.
"Hem, setahuku aku tidak pernah memasukkan lagu ini ke playlist ku ...." Hali bangun dan memeriksa smartphone nya. Tapi lagu langsung berpindah sendiri padahal belum selesai, Hali mengira hanya tidak sengaja tadi menekan saat mengambil hp, "Hem?!" Hali kemudian memeriksa semua lagu yang ada di playlist nya tapi tidak ada lagu itu. Tidak mungkin memang Hali menambahkan lagu yang dibencinya itu ke dalam playlist, kalau kakaknya saja memutar lagu itu. Hali langsung datang protes di depan kamar Ferris meminta agar itu dimatikan.
"Atau premium ku sudah habis ya?! Tidak, masih tersisa satu bulan lebih ...." Hali mengira pemutar musiknya itu dalam mode acak karena premiumnya habis ternyata tidak. Tapi Hali tidak terlalu mempersoalkan karena aplikasi musik memang kadang error. Hali melepaskan earphone nya dan akhirnya bisa terlelap tidur.
Trina akhrinya kembali ke rumah saat sudah menjelang malam. Hali tidak mengatakan apa-apa kalau Trina lebih memilih ke rumah sepupu daripada langsung pulang ke rumah.
"Aku tahu kakak marah, tapi jangan menggedor-gedor pintu kamarku!" Kata Trina masuk kedalam kamar Hali protes.
"Bukan aku, aku tidak pernah meninggalkan kamar!" Kata Hali.
"Lalu siapa yang melakukan itu kalau bukan kakak?! Ibu?! Ayah, Anya dan Dava bahkan belum pulang ke rumah!" Kata Trina.
"Mungkin kucing tetangga yang masuk rumah lagi atau tikus. Yang jelas bukan aku Trina, sejak kapan aku mengganggumu kalau sedang marah?! Pasti aku akan langsung masuk kekamarmu daripada hanya menggedor-gedor pintu kamarmu." Kata Hali yang memang masuk akal bagi Trina, karena Hali tidak pernah melakukan kejahilan selama ini.
Trina keluar kamar Hali dan membanting pintu dengan kasar. Hali menahan emosinya karena tadi pagi saat sarapan sudah perang. Rasanya memulai lagi di makan malam adalah tindakan yang tidak dewasa. Lagipula sakit perut Hali masih belum sembuh, kalau terjadi perdebatan lagi mungkin Hali akan berakhir di UGD rumah sakit.
Untungnya makan malam berlangsung damai tanpa perang mulut lagi. Tapi suasana sangat mencekam, tidak ada obrolan hanya suara alat makan yang terdengar mengisi suara di ruangan makan itu.
"Hem?! Siapa yang mengambil udang di pasta Kak Ferris?!" Anya mengorek-ngorek piring Ferris yang selalu ikut diisi juga. Atau ibu yang sengaja tidak memasukkan udang di pasta Kak Ferris? Padahal kan aku yang bisa memakannya." Kebetulan di keluarga itu Ferris dan Anya sangat suka udang. Jadi hanya dua orang itu yang selalu dibuatkah khusus karena Hali dan Dava alergi udang, "Apa karena Kak Ferris sudah tidak ada makanya ibu asal-asalan saja begitu soal makanan Kak Ferris?!"
"Apa maksudmu?!" Fidela sudah berlinang air mata, "Sudah menjadi kebiasaan ibu memasakan untuk kalian berlima, mana mungkin ibu melakukan kesalahan?! Jelas-jelas semua udang hanya untuk kalian berdua saja."
"Jadi kemana semua udang yang ada di piring Kak Ferris?!" Tanya Anya.
"Anya! Ini hanya soal sepele, kenapa kau berlebihan begini?! Ibu bisa saja melakukan kesalahan." Kata Dava.
"Tidak, sepertinya ibu sudah melupakan Kak Ferris." Kata Anya pergi dari meja makan dan naik keatas kamarnya.
Hali memegang perutnya yang kembali mules, "Hahh ... Tidak lagi!" Hali sudah menyadari kalau ini bukan soal makanan tapi karena stres jadi dia mengalami sakit perut itu. Sehingga Hali lebih memilih untuk bangun membungkus bekal sarapan saat ibunya masih memasak.
"Buru-buru sekali? Masih subuh juga ... Tidak ikut sarapan dengan semuanya?!" Tanya Fidela.
"Tidak bu." Sahut Hali, "Aku lebih mengutamakan kesehatan ...." Katanya dalam hati.
"Halo ...." Hali menjawab panggilan saat masih pagi buta itu, "Kak Odelia?! Ada apa?!" Tapi hanya ditutup tanpa berbicara satu katapun.
Sehingga Hali memutuskan untuk mengirimi pesan, "Kak Odelia pasti merindukan Kak Feriss ya?! Kami juga satu keluarga masih begitu kak. Rasanya masih berat untuk menerima kalau Kak Ferris sudah tidak ada. Kak Odelia pasti juga merasakan hal yang sama. Kalau kakak punya waktu, bisa ke rumah kita makan malam bersama. Kak Odelia bisa duduk di kursi Kak Ferris."
Odelia yang menerima pesan itu langsung melempar smartphone nya, "Duduk di kursi Ferris?!"
Tidak ada balasan dari Odelia, membuat Hali merasa harus menemui secara langsung. Jadi, saat pulang sekolah Hali masuk kedalam kamar Ferris untuk mencari alamat Odelia yang baru karena keluarga Odelia sudah pindah sebelum Ferris meninggal. Katanya Ferris akan membawa satu keluarga berkunjung ke rumah baru Odelia tapi nyatanya itu tidak bisa dilakukan lagi.
Hali mencari secara menyeluruh meja Ferris tapi tidak ditemukan juga alamat Odelia yang telah dicatat. Handphone Ferris rusak total saat kecelakaan dan tidak bisa diperbaiki lagi, untungnya Ferris biasanya selalu mencatat hal penting seperti alamat. Hali berusaha meminta alamat pada Odelia tapi tidak kunjung mendapat balasan juga.
Hali berpindah pada tas kuliah Ferris yang masih dengan isi dan keadaan yang sama semenjak Ferris terakhir kali pakai. Hali merasa aneh memeriksa isi tas kakaknya itu. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan bagaimana. Tas ransel yang sudah dipakai Ferris sejak masih SMA tidak pernah diganti-ganti juga.
Hali mengeluarkan satu per satu isi tas Ferris, setiap isi tas yang dikeluarkan membuat Hali merinding. Bukan karena takut, tapi semuanya terlihat begitu normal. Semua benda-benda disana masih seperti punya pemilik. Hali membuka buku diary Ferris, tidak dibaca satu per satu untuk tetap menjaga privasi Ferris. Tapi langsung dibuka lembaran terakhir. Sepertinya Hali mencari ditempat yang benar. Hali tidak ingin membaca apa yang tertulis disana selain hanya fokus pada alamat saja. Tapi matanya tidak bisa dihentikan untuk melirik.
Air mata Hali tidak disadari langsung menetes. Melihat bagaimana rencana Ferris yang ingin memberi hadiah atas rumah baru keluarga Odelia. Semua rencana itu menjadi sia-sia, tidak pernah bisa diwujudkan. Karena kematian berkata lain, rencana Ferris ditakdirkan untuk tidak pernah terjadi.
Hali tidak bisa lagi berlama-lama di kamar kakaknya yang penuh poster band Queen dan Bon Jovi.
"Tutup pintunya Li!"
"Iya, kak ...." Sahut Hali, "Hahh?!" Hali kaget, hanya langsung menyahut saja seperti sudah menjadi kebiasaannya. Hali langsung merinding, kali ini benar perasaan takut. Bagaimana bisa suara kakaknya yang sudah meninggal itu bisa didengar lagi begitu jelas. Apakah hanya halusinasi Hali saja. Hali tidak tahu bagaimana lagi merespon, langsung menjatuhkan diri di depan kamar kakaknya itu.
Hali tidak pernah membicarakan itu pada anggota keluarga yang lain. Tidak ingin menambah masalah saat badai masih belum reda. Hali juga tidak bisa memastikan kalau itu benar terjadi atau itu hanyalah halusinasinya saja. Jadi, Hali lebih memilih untui menyimpannya sendiri saja. Tapi rencananya untuk menemui Odelia, pacar Ferris tidak dihentikan. Terlebih setelah apa yang terjadi.
Hali mengira itu hanyalah mengalami stres pasca trauma. Mungkin menemui orang lain selain keluarganya bisa membantu Hali keluar dari stresnya itu. Keluarganya yang masih belum kembali dalam keadaan normal, seperti sedang gencatan senjata dalam masa perang bukannya benar sudah berdamai dengan musuh yakni berduka.
Dengan membawa kue manisan dan bunga keberuntungan yang ditanam dalam pot. Hali datang ke rumah baru keluarga Odelia.
"Hali ...." Ibu Odelia membukakan pintu. Ekspresinya entah bagaimana membuat Hali kurang senang. Seperti bukan menyambut seseorang dengan bahagia tapi seperti bertanya kenapa datang kesana.
"Selamat atas pindahan rumah barunya tante, maaf ... hanya saya yang datang. Nanti keluarga yang lain akan menyusul." Kata Hali sebisa mungkin untuk menjaga ekspresi wajahnya terlihat tidak tersinggung.
"Tentu saja, tante maklum. Ayo masuk! Terimakasih banyak hadiahnya ...." Tapi ucapan dan sikap Ibu Odelia tidak sesuai menurut pandangan Hali atau Hali sudah terlanjur sakit hati makanya apapun yang dilakukan Ibu Odelia sudah dipandang buruk bagi Hali.
Bagaimana bingkisan makanan hanya ditaruh sembarangan. Padahal butuh berjam-jam Hali memilihnya. Pot bunga yang dihias sedemikian rupa dibayar dengan harga mahal ditaruh didepan pintu tidak dibawa masuk, padahal itu menggunakan uang pribadi tabungan Hali sendiri karena pasti akan membuat masalah baru lagi kalai memberitahu keluarganya soal kunjungan ke rumah Odelia disaat Odelia sendirilah yang seharusnya datang dulu berkunjung tapi tidak pernah datang sekalipun.
"Odelia ada tante?!" Tanya Hali belum dipersilahkan duduk sudah ke inti pembicaraan karena tidak ingin berlama-lama disana lagi.
"Ada di kamarnya." Sahut Ibu Odelia.
Hali langsung meminta izin untuk ke kamar Odelia masih dengan sikap yang terus dijaga agar tetap sopan walau dalam hati sudah sering memaki.
"Kak Odelia tidak kekampus?!" Itulah sapaan Hali saat membuka pintu kamar mendapati Odelia duduk diatas kasurnya dengan mengelilingi diri dengan bantal seperti barikade dan lampu kamar yang dibiarkan menyala pada saat jendela kamar sendiri sudah membuat sinar matahari masuk kedalam kamar, "Ada yang aneh disini ...." Kata Hali dalam hati.
Handphone Odelia juga kelihatan baik-baik saja dan berdering di meja tapi diabaikan, "Dan kenapa Kak Odelia tidak membalasa pesanku?!"
"Ada yang salah Hali ...." Kata Odelia.
"Apanya kak? Hp? Saklar lampu?" Tanya Hali.
"Apa kau tidak merasakannya?!" Tanya Odelia dengan mata merah dan kantung mata hitam sepertinya karena kurang tidur.
"Merasakan?!" Tanya Hali.
"Ferris, dia kembali." Sahut Odelia.
"Apa maksud kakak?!" Tanya Hali.
"Apa kau tidak mengalami kejadian aneh berhubungan dengan Ferris?!" Tanya Odelia.
Seketika ingatan soal yang tadi kembali membuat Hali merinding. Tapi Hali menolak untuk percaya kalau apa yang dimaksud Odelia itu sama dengan apa yang dialaminya. Bagi Hali itu hanyalah halusinasi saja, "Aku akan ke psikiater setelah darisini kak, mungkin Kak Odelia juga bisa ikut denganku. Kita semua hanya stres pasca trauma sehingga mengalami kejadian aneh."
"Tidak, ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan kesehatan Hali." Kata Odelia dengan mata melotot.
"Kak Odelia sendiri kuliah jurusan psikologi ...." Kata Hali heran bagaimana ucapannya itu harusnya didukung oleh Odelia sendiri.
"Tidak, kau salah!" Teriak Odelia disertai tangisan histeris setelahnya membuat Ibu Odelia datang dan langsung mengusir Hali.
"Lihat, apa yang telah kalian ... Keluargamu perbuat!" Kata Ibu Odelia menyalahkan Hali tentang sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, "Memang siapa Ferris itu sampai membuat putriku jadi begini?! Apa hebatnya dia?!"
Odelia yang mendengar ucapan ibunya itu langsung menarik rambut ibunya, "Berani-beraninya kau mengatakan hal buruk soal Ferris! Memangnya kau siapa?!"
Hali panik sesaat tapi segera membantu Ibu Odelia dari serangan Odelia. Tidak berhasio juga, karena Odelia semakin menggila. Hali memanggil ambulance walau sebenarnya ingin memanggil polisi. Odelia yang seperti kerasukan terus menyakiti ibunya sendiri.
Petugas ambulance sendiri bingung saat tiba di lokasi, "Apa dia terkena rabies?"
"Berani-beraninya kau memanggil ambulance!" Teriak Ibu Odelia.
"Lalu aku harus memanggil siapa?!" Hali tidak tahan lagi terus disalahkan padahal hanya mencoba membantu.
Odelia dan ibunya dibawa ambulance untuk ke rumah sakit terdekat. Dengan mengabaikan tamunya yakni Hali tanpa mendengar kalimat pamit dari Hali atau meminta rumahnya dijaga atau begitulah seharusnya biasanya kalau normal, tapi ini hanya langsung menyuruh Hali pergi. Padahal Hali berharap mendengarkan kata maaf ataupun terimakasih.
Hali kembali ke rumahnya tanpa membicarakan aap yang telah terjadi. Walau kali ini sebenarnya hal besar yang harus diketahui keluarga tapi setelah melihat foto keluarga besar di ruang tamu. Hali tersadar kalau dialah anak pertama sekarang. Walau belum bisa terlalu membantu setidaknya harus bisa menjaga keluarganya agar tidak terluka lagi disaat luka masih belum sembuh.
Malam kembali menyapa, Hali sendiri tidak menyadari perubahan itu karena hanya diam mematung dikamarnya setelah dari rumah Odelia.
"Makan malam!" Kata Anya membuka pintu kamar Hali dan menutupnya lagi. Hanya menyampaikan pesan tapi dengan cara tidak tulus.
Makan malam lainnya yang begitu kelam, seharusnya makan malam keluarga adalah suasana terhangat untuk berbincang-bincang santai. Tapi setidaknya tidak ada lagi perdebatan kekanak-kanakan, makan malam itu hanya berlangsung cepat dan sunyi.
***
Hali tidur dan terbangun jam tiga subuh tapi langsung berteriak saat kakinya menyentuh sesuatu dan bergerak. Hali mengira itu adalah kejadian aneh lainnya lagi tapi ternyata itu adalag Anya yang tidur dibawa samping ranjangnya.
"Apa-apaan Anya?!" Hali protes saat menyalakan lampu melihat sosok Anya bangun dengan rambut acak-acakan dan mengucek-ngucek matanya, "Bukankah kau membenci kakak?! ada apa kau tiba-tiba tidur disini?!"
"Hanya ingin saja ...." kata Anya seperti menyembunyikan sesuatu tapi ditutup-tutupi. Hali tahu karena tidak pernah ada dalam ingatan Hali Anya tidur didekatnya. Hali ingin bertanya apa juga mengalami hal aneh tapi diurungkan.
Hali dan Anya pun melanjutkan tidur. Saat Hali bangun dan menuruni tangga, sebuah siluet yang tidak asing sedang duduk di sofa.
"Tidak mungkin ...." Hali sebisa mungkin menyadarkan dirinya agar tidak jatuh pada ilusi optik. Dan benar itu hanyalah Dava, tanpa disadari Dava ternyata sudah tumbuh besar mirip seperti Ferris jika dilihat dari belakang.
"Apa yang kau lakukan disini?! Kau tidur disini?!"" Hali menghela napas lega.
"Iya." Dava hanya pergi begitu saja.
"Ad apa tiba-tiba, kau bahkan tidak bisa tidur kalau bukan diranjangmu sendiri. Kenapa tidur disini?!" kata Hali yang diabaikan oleh Dava.
***
Sebuah panggilan masuk dari nomor telepon rumah saat Hali sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dengan ditemani oleh warna langit senja yang indah.
"Hali, ada yang ingin kusampaikan. Datanglah ke Rumah sakit jiwa Harapan." kata Odelia langsung menutup telepon.
Hali sebenarnya tidak ingin menggubris lagi tapi setelag mendengar kalau Odelia di rumah sakit jiwa, rasanya Hali harus pergi. Mungkin disana ia juga bisa mendapatkan pencerahan dan mendapatkan kembali kewarasannya setelah tersadar melihat keadaan Odelia bahwa dirinya juga harus rutin ke psikiater agar tidak bernasib sama. Sayangnya, setelah mendengar ucapan Odelia. Hali langsung menyatakan kalau sudah gila juga.
"Maaf, Kak. Aku tidak tahu kalau kakak dibawa kesini ... aku akan memberitahu keluarga untuk datang menjenguk kakak. Mungkin itu akan membantu kakak dalam penyembuhan." kata Hali.
"Tidak, sebelum itu ... kau harus melakukan sesuatu! Sebenarnya aku pernah datang ke rumahmu Hali. Melihat bagaimana ibumu masih memperlakukan seperti Ferris masih hidup dengan menyediakan kursi kosong. Akhirnya akupun juga melakukan hal yang sama. Tapi itu salah Hali, tidak seharusnya kita melakukan itu. Ferris telah pergi terus menahannya dengab perasaan kita. Itu akan melahirkan hal buruk datang dan itu bukan Ferris." kata Odelia.
Setelah mendengar ucapan Odelia itu, Hali menyelidiki dulu apa yang terjadi dan memang benar ada banyak rangkaian kecelakaan ternyata yang terjadi di kampus Odelia. Seseorang yang duduk di samping Odelia semuanya bernasib buruk.
Hali pun kembali ke rumah dan mengumpulkan semua kursi milik Ferris. Fidela mencoba menghentikan tapi Hali berhasil membakar semua kursi kosong itu.
"Ibu, ini bukan soal bagaimana kita tetap menganggap Kak Ferris bersama kita dengan melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan untuk Kak Ferris tapi itu untuk menenangkan diri kita sendiri. Tapi cara terbaik adalah dengan merelakan Kak Ferris, itu juga akan membantu kita lebih cepat pulih dari duka ini." kata Hali.
-TAMAT-