Langit tak selalu-nya tersenyum...
Langit tak selalu-nya menangis...
Langit tak selalu-nya tertawa...
Langit pula tak selalu-nya marah..
Langit sama hal nya seperti manusia...
Yang bisa saja menangis...
Bisa pula tiba-tiba tertawa...
Tiba-tiba tersenyum...
Dan tiba-tiba marah...
Aku Nadin, Aku suka dengan langit. Melihat langit bagiku seperti melihat surga. Indah, namun sulit digapai.
Namun terkadang aku tidak suka pada langit saat langit sedang marah. Saat langit membuat semuanya gelap. Bukan bintang yang menemaninya, tapi petir yang menyambar keras lah yang menemaninya. Aku benci tatkala petir itu tiba² hadir. Ketika langit yang mulanya cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi hitam gelap.
"Ya seperti itulah langit." Saut sahabatku Fika sambil menepuk pundak-ku yang masih asik menatap langit sore.
"Langit itu seperti manusia bukan? Bisa tiba-tiba saja menangis, tertawa, tersenyum, dan marah?. Manusia pula juga tidak ada yang tau bahwa hari itu dia akan tiba-tiba menangis. Manusia tidak tau bahwa dia akan bahagia atau tidak hari itu. Ya sama hal nya seperti langit. Sebenarnya langit pun tidak mau hari itu tiba-tiba dia menurunkan hujan begitu saja tanpa sebab dan akibat. Benar bukan apa yang ku bilang?" Saut Fika panjang lebar.
"Sekarang ayo kita cari tempat berteduh.. sebentar lagi langit akan menurunkan hujan." Saut Fika sambil menarik tanganku menuju sebuah halte bus.
"Kau boleh tidak menyukai hujan, tapi ingat hujan turun dari langit. Bukankah kau menyukai langit Nadin? Lantas mengapa kau masih membenci hujan?" Saut Fika kembali ditengah gemuruh rintikan hujan.
Setelah hujan berhenti, Aku dan Fika langsung bergegas pergi dari halte bus menuju rumah masing-masing. Aku kembali masuk ke dalam kamarku yang penuh dengan gambar langit hasil potretan-ku. Merebahkan badanku di atas kasur sembari menatap langit-langit kamar dan larut dalam tidur nyenyak.
{END}
❤ ! Komentar! 👍🏻!