"Bbrruuaakk !"
Sepedaku menabrak pembatas jalan yang terbuat dari semen cor. Stangnya patah, mustahil bisa digunakan lagi padahal perjalanan menuju rumah Lik Dar masih cukup jauh.
Biasanya jalanan ini sepi terlebih menjelang fajar seperti ini. Tapi, entah mengapa ada seorang laki-laki tua, bongkok mengenakan camping tidur sembarangan di tengah jalan.
"Anak muda, kau tidak apa-apa, bukan? maaf kakek sekedar melepas lelah di tempat ini, karena jarang dilewati kendaraan. Kakek sudah berjalan seharian hendak menuju rumah cucu kakek yang berada di desa sebelah,"
kata laki-laki tua itu sambil tersenyum ramah.
Aku mendongkol sekali melihatnya tidur sembarangan, tapi, sapaan ramah dan lemah lembut darinya, membuatku iba. "Tidak apa-apa, kek... kakek sendiri apakah baik-baik saja,"
"Tidak apa-apa, den... tapi, sepertinya sepedamu rusak parah dan tampaknya kau tergesa-gesa sekali,"
"Sepeda masih bisa diperbaiki, kek...
yang penting, kakek tidak apa-apa," kataku sambil tertawa tawar.
"Namamu, Den Bagus, ya ? Kakek tidak punya apa-apa untuk mengganti sepedamu itu. Tapi, kakek punya sesuatu buatmu," sambil berkata demikian, orang itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah batu seukuran 2 jari jempol orang dewasa. Aroma harum bunga melati, menggelitik hidungku saat benda itu disodorkan.
"Apa ini, kek ?" tanyaku sambil mengamati benda tersebut. Aku bisa melihat dengan jelas... batu pualam. Namun, setelah berpindah ke tanganku, batu tersebut mendadak berubah menjadi sebuah boneka. BONEKA SEORANG WANITA CANTIK.
Kakek bongkok itu tersenyum, "Kita bertemu di tempat ini, itu artinya berjodoh.... berjanjilah pada kakek, benda itu sangatlah berharga, memang tidak semahal sepedamu, tapi, jika kau bisa merawat dan memperlakukannya dengan baik, maka, keberuntungan senantiasa menyertaimu, sebaliknya, jika kau mengabaikannya... benda itu bisa mencelakakanmu juga orang-orang di sekitarmu,"
"Baiklah, kek... tapi, jika benda ini sangat berharga, mengapa kakek memberikannya padaku?" tanyaku.
Tak ada jawaban. Aku tersentak, kakek itu sudah hilang dari pandanganku. Apakah aku berhalusinasi ? Tidak. Kakek itu tadi benar-benar ada di hadapanku, tapi, sekarang... kemana perginya? Dan, sepeda... sepedaku tiba-tiba saja sudah berada tak jauh dari tempatku berdiri dan tidak ada kerusakan yang berarti... padahal tadi aku dapat melihat dengan jelas... stangnya patah jadi dua... tapi, kini sudah menyambung lagi dan terlihat seperti baru. Apa sebenarnya yang terjadi ? Siapakah kakek itu ? aku tak mengenalnya, tapi dia mengenalku...
_____
Lik Dar terbaring lemah di pembaringannya, wajahnya pucat bak kertas, senyumnya, senyum penuh keputusasaan saat melihatku masuk.
Aroma busuk tercium, lalat-lalat beterbangan mengerubuti sehelai kain Kumal pada punggung kaki kirinya.
Sudah 3 tahun ini, diabetes menggerogoti Lik Dar. Para dokter sudah tak mampu menanganinya, vonis masa hidupnya tidak kurang dari 2 bulan lagi. Tapi, semangat hidup beliaulah yang memaksanya bertahan hingga saat ini. Dan setelah isterinya meninggal, akulah yang merawat dan menjaganya sekalipun jarak antara rumahku dengan rumahnya jauh.
"Le ...." sapa Lik Dar lemah, "Sebenarnya, kau tak perlu melakukan ini setiap hari, lebih baik kau urus saja bapak-ibumu. Mereka seharusnya yang lebih diperhatikan,"
"Tidak apa-apa, Lik..." kataku sementara tangan bekerja cepat mengganti kain penutup luka, membersihkan lukanya yang senantiasa mengeluarkan nanah, "Lik sudah banyak membantu keluarga kami, maka, inilah yang bisa kulakukan untuk membalas budi baik Lik... saya berharap, Lik segera sembuh dan beraktivitas lagi seperti dulu," sambungku.
Mendadak, angin berhembus perlahan, sayup-sayup terdengar suara, "Sudah dilakukan," aku tersentak, mencari-cari darimana asal suara itu. Di rumah ini cuma ada aku dan Lik Dar saja, tak ada orang lain lagi.
"Lik, apakah Lik mendengar sesuatu?" tanyaku.
"Aku tak mendengar apa-apa, le ?! Memangnya, kau mendengar apa?" tanyanya.
"Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi..." kataku.
Lik Dar bangun dari tempat tidurnya ... wajahnya yang semula pucat seperti kertas, mendadak berubah menjadi ceria dan perlahan-lahan bau busuk yang masih tercium dari luka pada kaki-kaki pamanku itu lenyap. Kain yang membalut luka dan tadi bercampur nanah mengering. Kain itu kembali ke asalnya kain bersih dan kering.
"Le, apa Lik sedang bermimpi ?" tanya Lik Dar.
"Ada apa, Lik ?"
Lik Dar tidak menjawab melainkan bangun dan berjalan kesana-kemari memutari pembaringan. DIA SUDAH SEMBUH. "Tidak mungkin ..." kataku dalam hati, hampir seluruh dokter mengatakan bahwa hidup Lik Dar tinggal 1 minggu lagi... tapi, jika melihat kenyataan ini... yah, dia sudah sembuh. Penyakitnya hilang entah kemana.
Lik Dar tertawa, "Terima Kasih gusti pangeran, terima kasih ... tak tahu bagaimana aku harus membalas semuanya ini," katanya sambil melompat kegirangan, ia kemudian menatap ke arahku, "Le... bilang sama ibumu, Lik Dar sudah sembuh dan bisa membantunya bekerja lagi," Kubiarkan tanganku dicengkeram keras-keras olehnya, "Ba ... baik, lik..." kataku singkat setelah cukup lama bengong dan akupun pamit pulang sambil membawa sejuta pertanyaan yang mungkin belum bisa terjawab untuk saat ini.
_____
Aku kembali mengendarai sepeda, menyusuri jalanan berbatu yang telah kulewati saat hendak menuju ke rumah Lik Dar. Mendadak saja wajah kakek tua itu terbayang juga benda pemberiannya. Saat tiba di sebuah pematang sawah yang hijau, kuhentikan laju sepedaku dan duduk di tempat yang kuanggap enak untuk beristirahat / melepas lelah. Pada pematang sawah itu terdapat anak sungai berair jernih dan berarus tenang. Mataku menerawang jauh dan tanpa sadar tangan kananku merogoh saku dimana boneka pemberian kakek aneh itu tersimpan.
Aku terkejut, boneka itu tidak ada di tempatnya, "Astaga, dimana boneka itu terjatuh," seruku sambil mencarinya di sepanjang jalanan. Tidak ada. Bagaimana bisa hilang ? Aku kebingungan. Sayup-sayup terdengar suara tawa riang seorang wanita. Suara itu tak jauh dari tempatku berdiri, menggelitik rasa penasaranku dan perlahan-lahan menghampirinya.
Diantara kilauan cahaya keperakan mentari senja, di dalam air sungai bandayuda yang berarus tenang dan jernih ... sepasang mataku melihat seorang wanita cantik tengah berendam sambil memercikkan air sungai ke wajahnya. Sebagian air membasahi rambutnya yang panjang, hitam dan berombak, sebagian lagi mengalir membasahi tubuhnya yang telanjang dan berkuning langsat. Dalam keadaan seperti itu dia bagaikan seorang bidadari berselimutkan mutiara, menebarkan pesona siapa saja yang memandangnya termasuk diriku yang masih lajang dan sudah berkepala tiga. SEMPURNA, untuk seorang wanita itu menurutku.
Lama sudah aku mengamatinya dan dia seakan tidak peduli, hingga akhirnya percikan air mendarat di wajahku, membuyarkan semua lamunanku tentang wanita asing itu. "Den Bagus, daripada kau duduk sendirian disitu, kemarilah temani aku mandi dan bermain-main di dalam air yang jernih ini," katanya sambil tertawa. Aku melamun hingga mendengar suara lembut dan manja itu untuk kesekian kali, "Den Bagus. Apa yang kaulamunkan ? Kemarilah, temani aku," aku segera tersadar dengan pemandangan di depanku, buru-buru aku membuang muka sebab, seumur hidup baru kali ini aku melihat seorang wanita asing mandi telanjang di tempat terbuka seperti itu. Biasanya wanita-wanita atau gadis-gadis di daerah Banjar ini kalau mandi di sungai, mereka mengenakan sehelai kain, paling tidak untuk menutupi bagian kewanitaannya, sehingga tak mengundang bencana.
Kututup wajahku dengan tangan, tapi, bayangan wanita itu tak bisa menghilang begitu saja dan telinga ini mendengar suara cekikikan, "Den Bagus... " kembali wanita itu menyapa kini suaranya semakin lama semakin dekat hingga aku merasakan pakaian pada bahu kananku basah. Kualihkan pandanganku dan jari-jemari lentik yang indah serta mulus tengah memegang bahuku itu, mau tak mau aku menoleh dan wanita itu sudah berada tepat di hidungku. Wajah wanita itu benar-benar cantik, aku pernah bertemu dengan wanita itu ... tapi, dimana,ya ? Untuk sesaat aku mencoba mengingat-ingat.
Akan tetapi, sebuah suara mengejutkanku dari arah lain, "Kamu Den Bagus, kan ? Apa yang kau lakukan di tempat ini sendirian apalagi saat hari menjelang petang seperti ini,"
Aku menoleh, seorang laki-laki setengah baya berdiri sambil membawa sebuah cangkul yang masih basah dengan tanah berlumpur juga rumput di bahu kanannya. "Kang Iwan..." aku berjalan menghampirinya, "Sebenarnya, saya hendak mencari barangku yang terjatuh tapi ... " aku merogoh sakuku dan tanganku seperti memegang sebuah benda, "Yah... tampaknya sudah ketemu," sambungku meski ada rasa heran.
"Kalau begitu ... cepatlah pulang. Tahukah kau, itulah yang oleh penduduk desa ini terkenal keangkerannya, apalagi di malam jum'at legi seperti ini,"
"Baik, kang... sekarang juga aku akan pulang. Terima kasih," kataku sambil meraih sepedaku yang diparkir tak jauh dari situ, sepeda kujalankan dan kembali menyusuri jalanan berbatu dan bersamaan dengan itu kang Iwan juga buru-buru meninggalkan tempat itu.
Sepeda terhenti manakala di depan ada iring-iringan penduduk desa, aku mengenal semuanya termasuk 6 orang yang berjalan paling depan, mereka memanggul peti sambil melantunkan ayat-ayat suci al qur'an. Pada barisan belakang, Neng Didien, Neng Irul dan Neng Lastri tampak tengah mengenakan pakaian adat desa kami kebaya dan rambutnya disanggul, ada 2 helai bunga kamboja terselip pada telinga mereka. Tampaknya mereka bertugas sebagai pendamping keluarga orang yang meninggal.
"Neng Didien, siapa yang meninggal ?" tanyaku.
"Lik Tar, Kang ... dia meninggal. Jatuh terpeleset di kamar mandi, kami akan memakamkannya malam ini di TPA Banjar. Apa akang tidak ikut menghantarkannya ke sana ?" ujar Neng Didien.
"Lik Tar ?" tanyaku, "Baiklah, kalian pergilah dulu setelah itu aku menyusul, mungkin aku akan ikut tahlil di rumahnya," aku kembali mengayuh sepedaku. Lik Tar, sebenarnya dia adalah bekas Kepala rampok, tapi, sudah menjalani hukuman penjara selama lebih kurang 5 tahun. Begitu bebas, ia bertobat menjadi guru dakwah, tapi, menurutku dakwahnya terlalu berlebihan dan monoton serta menonjolkan keegoannya padahal belum tentu diterima semua orang.
Kejadian sepanjang hari ini, membuatku banyak melamun : kakek aneh, sembuhnya Lik Dar secara tiba-tiba, menghilangnya patung / boneka lalu kembali kutemukan, pertemuanku dengan wanita misterius yang mandi di sungai ... ah, masih banyak pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Tapi, jika aku membicarakan dengan orang lain, bisa-bisa dianggap gila.
_____
Malam mulai larut, kabut-kabut tipis yang dibawa oleh hembusan angin malam merayap, merasuk ke dinding-dinding kamarku. Bunyi serangga malam diiringi dengan gesekan ranting dan daun pohon bambu yang tumbuh lebat di halaman belakang, bagaikan gesekan alat-alat musik yang dimainkan oleh dewa-dewi di Khayangan, membuat suasana begitu tenang dan damai. Seperti biasa kubuka jendela kamarku dan kubiarkan angin malam berhembus perlahan menerpa wajahku. Aku berharap angin dan kabut malam itu membawa pergi semua kejenuhan yang selama ini senantiasa membayang-bayangiku, tapi, tidak mampu menghapus semua peristiwa yang terjadi sepanjang siang tadi.
Lagi. Baru saja aku menutup mulutku, terdengar suara seorang wanita, kali ini suara itu benar-benar dekat denganku, "Apakah kau yakin dengan ucapanmu itu, Den Bagus ?" bersamaan dengan itu, angin berhembus kencang, boneka itu perlahan-lahan berubah menjadi butiran-butiran debu yang bergulung-gulung menjadi satu, melayang, berputar-putar di udara dan membentuk sesosok tubuh seorang wanita cantik tanpa busana, detik berikut dia sudah berdiri tepat di hadapanku, ia tersenyum manis dan membuatku tak bisa berkata apa-apa.
Melihat sikap kikukku, wanita itu balas menatapku dengan tatapan tajam menusuk, "Benarkah apa yang kau katakan itu, Den Bagus ?" tanyanya setengah mendesak.
"Apa maksudmu ?" tanyaku.
"Benarkah, kau hendak mengambilku sebagai isteri?"
Aku bingung harus menjawab apa, tapi, harus kuakui dia memang seorang wanita yang cantik jelita, dia adalah salah satu tipe wanita kesukaanku.
Wanita itu terus-menerus menatapku, hingga tanpa sadar bibirku terbuka dan kata-kata inilah yang keluar dari bibirku, "Ya. Aku tak mau menyangkalnya,"
Wanita itu tersenyum simpul, lalu mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Wajahku memerah, malu melihat keadaan kamarku ini, terlebih seorang wanita asing. Buru-buru aku meraih sebuah kain dan kulampirkan pada bahunya, "Udara dingin malam ini, kenakanlah kain ini untuk menghangatkan badanmu. Besok akan kucarikan pakaian yang cocok untukmu," kataku. Wanita itu tidak peduli, sepasang bola matanya seakan berputar, mengamati lukisan yang tergantung pada dinding kamarku, "Apakah lukisan-lukisan ini kau yang membuatnya ?" tanyanya.
"I... Iya, aku selalu menghabiskan waktuku dengan melukis, tapi, selama ini tak ada yang mempedulikannya," jawabku.
"Maksudmu, kau ingin semua lukisan ini menarik perhatian para seniman dan kolektor ?"
"Be ... Benar,"
"Kalau begitu, SELESAI," ujarnya singkat.
"A... apa maksudmu, neng ?"
"Kau lihat saja besok. Tapi, aku minta tolong ... di hadapan orang-orang lain kau jangan sebut-sebut aku. Hanya padamulah aku berbicara dan hanya padamulah aku menampakkan semua yang kumiliki... aku adalah milikmu, Den Bagus,"
Aku terkejut, "Hah, apa maksudmu ?"
Wanita itu tersenyum, "Dengar ... aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu jika kau memperlakukanku dengan baik seperti yang dikatakan Aki Kolot, tapi, jika kau berbuat macam-macam padaku... maka aku takkan mempedulikanmu lagi ... bahkan nasibmu bakal lebih buruk daripada saat ini,"
Di balik kata-kata yang terlontar begitu halus dan lembut, terselip juga ancaman dan aku merasakan kehadirannya dalam hidupku, akan merubah semua yang ada. Lagipula, hanya orang bodohlah yang memperlakukan wanita ini seenak perutnya sendiri. Tak peduli siapa dia, darimana asalnya ... CINTA TELAH MEMBUATKU MENJADI ORANG BERBEDA.
Kami berdua berdiri berhadap-hadapan, mataku tak berkedip manakala memandang wajah wanita ini, hingga sebuah ketukan menyadarkanku sekaligus membuatku bingung, "Le, bukalah pintu ini sebentar, ibu mau bicara denganmu,"
"Itu, ibuku ... bersembunyilah. Kalau beliau tahu ada wanita apalagi tanpa busana seperti ini, bisa-bisa aku kena marah habis-habisan," kataku setengah berbisik, tapi, tampaknya, wanita itu seakan tak peduli. Saat aku hendak membuka pintu, mendadak pintu sudah dibuka dari luar dan ibu sudah menerobos masuk.
Ibuku menatap dengan pandangan heran, "Kau bicara dengan siapa, le ? kenapa wajahmu pucat sekali,"
Perlu waktu yang cukup lama bagiku untuk menenangkan diri, tapi, ibuku seperti tak melihat adanya wanita berdiri di tengah ruangan, apakah benar ibuku tak melihatnya. "Le, apakah kau tidak enak badan ?" tanya ibuku.
"Ti... tidak, bu... saya tidak apa-apa... mungkin karena letih saja," jawabku sengaja berbohong.
"Kemarilah," ibu menarik tanganku dan kami duduk di tepi pembaringan, "Ibu dengar, Lik Dar sudah sembuh, ya ? ini sama sekali tak bisa dipercaya," sambungnya.
"Itulah kenyataannya, Bu. Ia sudah sembuh padahal beberapa hari yang lalu sempat mengeluh dan putus asa," jelasku setelah aku benar-benar bisa menenangkan diri dan memastikan ibuku tak melihat wanita yang ada di kamarku itu padahal aku bisa melihat wanita itu berdiri di hadapan kami sementara sepasang matanya mengamati ibuku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Kalau begitu ... syukurlah. Oya, sewaktu kamu pergi siang tadi... ada seorang pria datang dan menanyakanmu, le..."
"Siapakah dia, bu ?"
"Entahlah, tapi, dia mengatakan bahwa adalah seorang kolektor barang antik termasuk lukisan-lukisanmu itu, le...Apakah kau mengenalnya atau setidaknya mempunyai teman kolektor barang-barang antik seperti itu ?"
"Tidak, bu. Tapi, biarlah besok akan saya temui. Sebab, kita tak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan Lik Dar,"
"Baiklah. Sekarang istirahatlah, mudah-mudahan mulai besok dan selanjutnya, nasib baik akan senantiasa menyertaimu, le," sambil berkata demikian ibu melangkah meninggalkan kamar tidur.
"Terima kasih, bu,"
Saat pintu tertutup dan suara langkah-langkah kaki ibu terdengar menjauh, aku menoleh ke arah wanita yang duduk setengah terbaring. Aku berjalan menghampirinya, wajahku dan wajahnya bertemu, "Siapapun engkau, aku tak peduli, terima kasih karena telah dipertemukan denganmu," kudekatkan bibirku ke kening wanita itu, kukecup lembut dahinya yang halus dan kuning itu . Wanita itu tidak menolak, ia tersenyum dan kami pun tenggelam dalam gelora lautan asmara.
Keesokan harinya, benar-benar menjadi hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Lukisanku diborong oleh seorang kolektor barang antik, dia berani membayar mahal atas semuanya, termasuk biaya untuk mengadakan pameran di galerynya. Yah, semuanya berubah. Dulu aku adalah pemuda pengangguran, luntang-lantung cari kerja dan gagal dalam segala hal. Aku putus asa, sepertinya TUHAN tak adil, tapi, kini ... segala sesuatunya sudah berubah. Seiring dengan melambungnya namaku, saat itu pula kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima oleh akal sehat terjadi.
_____
Mobil yang kukendarai menyusuri jalanan-jalanan gelap Desa Banjar, hari yang melelahkan. Candaan konyol teman-teman, khususnya Ratmi hanya sekejab saja menghilangkan rasa jenuh dan lelah itu. Yah, Ratmi adalah sekertaris pribadiku yang dulunya, juga seorang wanita yang kucintai dan kusayangi, tapi, pernikahannya dengan Kevin memupuskan harapanku untuk mengambil dia sebagai isteri, apalagi waktu itu aku adalah seorang pemuda melarat dan bisa dibilang tak punya masa depan / tujuan. Hubungan kami kini hanyalah sebagai teman biasa, dia tetap menarik sekalipun sudah memiliki 3 orang anak. Tadi, aku sempat makan malam bersama dan mengantarkannya pulang. Untuk sesaat aku membiarkan diriku mengenang saat-saat dimana kami bersama. Tapi, mendadak bayangan wajah TRINIL muncul, membuyarkan lamunanku tentang Ratmi. Trinil adalah nama yang kuberikan pada boneka wanita yang telah membantuku menjadi orang yang cukup disegani dan dihormati sebagai seorang seniman eksentrik dan mumpuni.
Detik berikut aku menginjak rem mobil dengan tiba-tiba, di depan seorang wanita berambut hitam panjang tanpa busana berdiri, sementara sepasang matanya menatap tajam ke arahku. TRINIL.
Aku membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri sambil bertanya, "Hei, apa yang kau lakukan di tempat ini ?"
Wanita itu tak menjawab, airmukanya menunjukkan rasa tidak suka, belum pernah kulihat dia bersikap seperti itu, "Apa yang terjadi ?" tanyaku lagi sambil melepas jaket kulitku untuk kemudian kupakaikan pada tubuhnya, "Pakailah ini, angin malam tak baik untuk kesehatanmu,"
Mendadak tangan Trinil mencengkeram kemejaku dan menarikku keras-keras, hingga hidung kami nyaris bertabrakan.
Cukup lama kami berdiri berhadap-hadapan, dia mengamatiku dalam-dalam seakan hendak menembus kulit dan daging pada wajahku, lalu dia berkata dengan dingin, "Jika sampai aku melihatmu berduaan dengan wanita lain selain aku ... aku akan membunuhnya," setelah itu ia mencampakkan kemejaku lalu berjalan menjauhiku.
"Hei, kemarilah ..." kataku sambil menarik lengannya lalu bersama-sama masuk ke dalam mobil. Trinil tetap diam, aku bisa melihat dengan jelas dari pancaran matanya, DIA CEMBURU. Aku tersenyum, "Trinil, aku dan Ratmi hanya berteman saja, lagipula dia sudah menikah, bagaimana pendapat orang nanti tentangku,"
Trinil tetap tak bersuara, sepasang matanya menerawang jauh dan aku semakin bingung bagaimana harus meyakinkannya, "Jangan seperti itu, bicaralah," pintaku. Baru saja kututup bibirku, HP berbunyi, Ibu menelepon, "Hallo ..." kataku.
Di seberang sana, kudengar isak tangis ibuku dan wajahku berubah manakala mendengar kata-katanya. Secepat kilat kuinjak pedal gas dan mobilku meluncur kencang menerobos kabut yang mulai turun dan membuat jalanan semakin gelap dan dingin. Aku memutar mobil ke arah yang berlawanan dengan arah rumah, kami menuju ke rumah Lik Dar.
_____
Halaman rumah Lik Dar sudah dipenuhi orang. Ibuku dan sanak familiku sudah berkumpul disana. Mereka semua melantunkan doa-doa orang meninggal. Yah, Lik Dar meninggal. Dokter tidak bisa menentukan apa penyebab kematiannya.Saat aku melihat jenazahnya di halaman belakang, beliau tampak seperti sedang tidur, ada sedikit senyum di wajahnya. Beliau tampak tenang dan damai. Aku teringat bagaimana aku merawatnya, aku teringat pesan-pesannya sewaktu beliau masih hidup, itulah yang membuat hatiku seakan-akan disayat-sayat sembilu, tanpa terasa mataku basah oleh airmata.
"Tidak ada waktu untuk berduka, Den Bagus ..." mendadak terdengar suara dari samping kiriku. Buru-buru aku menoleh, seorang pria paruh baya mengenakan pakaian putih berdiri menatapku, "Siapakah Anda ? Bagaimana kau bisa tahu namaku, sedang, aku tak mengenalmu ?"
Pria tua itu tersenyum, "Sebenarnya, aku sudah mengenalmu sejak kau pindah di Desa Banjar ini. Aku adalah salah satu daripada para tetua desa ini. Jadi, semua yang terjadi di desa ini aku tahu semua. Jika selamanya kau menyimpan boneka dalam saku kananmu itu, maka, akan jatuh korban lebih banyak lagi, termasuk dirimu sendiri,"
Aku tersentak, "Jadi ... Anda sudah mengetahuinya ? Bagaimana bisa demikian ?"
"Ceritanya panjang sekali. Tapi, itu adalah urusan keluarga kami, jadi, biarkan kamilah yang akan menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkan orang-orang di sekitar kami. Kemarikan boneka itu, biar kumusnahkan saja," jelas laki-laki tua itu dengan nada bersungguh-sungguh.
"Aku takkan memberikan boneka ini pada siapapun juga, aku akan menjaga dan melindunginya sebagaimana dia telah menjaga dan melindungiku,"
"Den Bagus... jangan keras kepala. Apakah kau akan membiarkan korban-korban berjatuhan untuk kesekian kalinya ? Mana ... mana boneka itu, berikan padaku,"
"Tidak ! Siapapun kau dan sekalipun berniat baik, toh, semua yang meninggal akibat kesalahan mereka sendiri. Lagipula, dia takkan menggangguku dan kalaupun kuberikan boneka ini, takkan mampu menghidupkan mereka lagi. Sebaiknya, kau segera pergi meninggalkan tempat ini,"
"Hmm, jadi kaupun sudah tahu, bahwa boneka itu bisa menebar petaka ? Maka, aku akan memusnahkan boneka itu dengan caraku sendiri," sambil berkata demikian laki-laki itu mengangkat tangan kanannya dan pada saat itulah aku merasakan saku kanan celana panjangku terbakar dan mengepulkan asap tipis merah kehitaman diiringi rintihan perlahan. Akupun merasakan boneka itu bergerak-gerak hendak terlempar keluar, buru-buru, aku memasukkan tanganku ke dalam saku, niatku untuk membuat boneka itu tetap berada di saku tapi, kejadian itu begitu cepat, aku merasakan tanganku memegang debu. Boneka itu sudah hancur dan entah mengapa aku juga merasakan sebagian diriku hancur.
Tak bisa kulukiskan perasaanku saat itu. Aku hanya menatap tajam ke arah laki-laki itu. Jari telunjuk kananku menuding lurus ke wajahnya lalu berkata, "Penampilanmu saja seperti orang suci, tapi, sikapmu buruk sekali. Trinil hanya membunuh orang-orang yang semasa hidupnya bergelimang darah dan dosa Tak pernah menjamah ataupun mengganggu orang lain. Trinil masih lebih baik darimu !! Kelak, kau akan mendapat karmanya, Pak Tua !!!" setelah berkata demikian aku melangkah meninggalkan orang tua. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil sesekali menahan nafas, "Kau tak mengerti Den Bagus," itulah kata-kata terakhir yang kudengar darinya tapi, aku tak peduli. Aku benar-benar marah dan gusar tapi, mau kulampiaskan pada siapa ?
_____
Kanvas setinggi orang dewasa itu kosong, sekosong hati dan jiwaku. Tangan kanan yang memegang kuas bergetar hebat, kugigit bibirku keras-keras, aku tak peduli betapa sakitnya saat gigi-gigiku ini menggigit bibir. Aku tak peduli darah merembes dari luka akibat gigitan itu. Kupejam mata ini dan mengingat kembali saat-saat Trinil masih di sisiku. Tanpa sadar tangan-tangan ini bergerak, menorehkan warna-warna gelap ke permukaan kanvas kosong itu, sesekali mata ini melirik ke arah jendela kamarku, disitulah Trinil duduk sambil memandang ke arah halaman belakang rumahku dan aku berharap ia ada disitu saat aku melukis. Tapi, yang ada hanyalah kehampaan. Seandainya angin malam yang turun dari kaki-kaki bukit mampu menghilangkan kekosongan dan kehampaan ini akan lebih baik, tapi, itu adalah harapan yang semu.
Trinil sudah pergi, dia takkan kembali lagi dan aku hanya bisa melukis segala sesuatu yang dimilikinya : Wajah, tubuh, senyum dan saat terakhir ia marah padaku. Kenangan indah juga kenangan pahit bercampur menjadi satu kupadukan dengan warna-warna yang ada di permukaan kanvas hingga akhirnya lukisan itu kuselesaikan. Sebuah lukisan seorang wanita cantik berdiri di antara bayangan pepohonan yang rimbun, ia tersenyum padaku. Kupandangi lukisan itu lekat-lekat, setelah membereskan alat-alat lukisku... aku melangkah ke halaman belakang.
Langkahku terhenti di hadapan sebuah pohon kayu jati yang sudah lama mati, perlahan-lahan tangan-tanganku bekerja... mengukir dan memahat sementara imajinasiku mengarah pada wajah Trinil berikut segala yang dimilikinya. Aku tak peduli hari berganti hari, tak peduli potongan-potongan kayu dan serat-seratnya bercampur aduk dengan rambut, baju, kulit dan tubuhku. Aku tak peduli keringat dan debu menyelimutiku, tak peduli langit terang ataupun gelap, tak peduli haus dan lapar serta luka-luka pada jari-jemari yang kian melebar juga darah membasahi peralatan ukir dan pahatku.
Aku berhenti bekerja saat di hadapanku berdiri sebuah patung wanita cantik jelita. Aku tersenyum, "Trinil... kau sudah kembali berada di sisiku. Kini tak seorangpun bisa menghancurkanmu dan aku akan selalu menjaga dan melindungimu disini, SELAMANYA," desahku perlahan. Samar-samar aku melihat patung itu bergerak, ia tersenyum manis kepadaku sambil berkata, "Terima kasih. Mari kita pergi dari sini, sayang ...." ia mengenggam erat tanganku. Aku menganggukkan kepala, "SELESAILAH SUDAH," kataku.
( 19 - Sept -2018 )