Tahun 2014………..
Rita, panggil saja seperti itu, seorang Wanita yang sudah memiliki suami dan 3 anak, 1 laki-laki dan 2 perempuan, bekerja sebagai seorang tukang pijat syaraf dan pijat relaksasi. Dengan semua anaknya yang masih menjadi pelajar dan sang suami yang hanya seorang penjahit karung goni di luar kota. Ia tengah duduk di kursi bawah pohon kersen sambil termenung memandang cerahnya langit di pagi menjelang siang itu.
“ Aku masih harus membayar daftar ulang ilham masuk smk, ida masuk smp dan kiki naik kelas 5, tapi aku juga ingin membelikan ida sepedha, bagaimana ini? Hufffttt.” Ucap nya dalam hati, merasa miris pada dirinya sendiri. “Oh tidak! Aku harus kerja aduhhh gimana sih rit”. Ucapnya lagi dengan menggerutu pada dirinya sendiri.
Siang hari…
Rita yang sudah sampai di rumahnya yang berukuran kecil itu langsung duduk di Kasur yang ada di dalam rumah dan melihat anaknya yang akan pergi ke rumah saudara yang memang bersebelahan dengan rumahnya untuk bermain.Saat melihat anaknya ‘Ida’ pikiranya Kembali menerawang saat tadi ia pulang kerja dan lewat toko sepedha , memang sudah beberapa hari ini setiap ia pulang kerja yang menjadi pusat perhatiannya adalah toko sepeda.
“Ya allah aku sangat ingin membelikan ida sepedha, semoga aku segera bisa membelinya.” Ucapnya dalam hati dengan tersenyum. Bukankah tuhan selalu mempunyai rencana sendiri untuk hamba-Nya?, termasuk rezeki.
Esok harinya Rita mendapat telfon dari seseorang yang belum pernah ia pijat untuk dapat datang memijatnya di rumah, orang tersebut memberi tahu bahwa rumahnya berada di alamat XXXXX No 3 dan tanpa pertimbangan apapun ia menerima nya, karena yang ia fikirkan hanya ia butuh uang.
“Alhamdulilah, semoga nanti ada orang lain yang pesan jasa pijatku amin.” Ucapnya bersyukur pada tuhan karena rezeki yang akan ia ambil nanti untuk tambahan uang tabungannya yang ia kumpulkan untuk membelikan sepedha sang anak.
Siang hari lebih tepatnya pukul 13.00 Rita berangkat ke alamat yang sudah ia ketahui tadi menggunakan sepedha tua yang itupun ia juga meminjam pada keponakannya.
Sampailah ia di depan rumah yang terlihat sangat sepi, tapi rumah itu cukup besar dan bagus tapi ya itu tadi suasanya sepi sekali.
“Ini bener rumahnya bukan ya?, Ah sudahlah ku tanya saja siapa tahu memang benar.” Ucap Rita berlalu masuk ke dalam halaman rumah tersebut.
Tok tok tok “Halo,selamat siang.” Panggilku sambil mengetuk pintu rumahnya,namun perhatianku teralihkan pada halaman rumah tersebut karena aku merasa seolah ada yang aneh.
Klek Suara pintu yang terbuka membuat rita mengalihkan pandangannya yang sedari tadi melihat sekeliling halaman. Di tengah pintu yang terbuka itu menampilkan seorang Wanita yang Rita Yakini adalah pemilik rumah ini.
“Maaf apa benar ini rumah yang pesan pijat tadi pagi?.” Tanya rita pada Wanita tersebut.
Tapi respon Wanita itu hanya mengangguk dan berjalan masuk.
Saat masuk kedalam Rita tidak bisa untuk tidak mengedarkan pandangannya, pasalnya rumah itu penuh dengan warna hijau, dari karpet, tembok, bantal, serta pakaian yang digunakan, bahkan plafon nya pun berwarna hijau.
“ Kok hijau semua ya” Ucap rita heran dalam hati sambil terus mengamati ruang tamu yang tidak ada hiasan apapun di tembok bahkan sudut ruangan. “Ah sudahlah mungkin memang selera mereka warna hijau.” Lanjutnya dalam hati.
Karena Wanita dan laki laki tadi hanya diam berdiri, akhirnya Rita memulai obrolan lebih dulu. “Ini pijatnya dimana ya?, disini (ruang tamu), atau di ruangan lain?”. Wanita tadi hanya menunjuk ke bawah (karpet) yang sudah terdapat bantal disana.
Perlahan Wanita pemilik rumah tersebut langsung merebahkan dirinya begitu saja tanpa sepatah katapun. Sedangkan laki-laki yang Rita Yakini adalah suami dari Wanita tadi hanya duduk di sudut ruang tamu sambil melihat rita yang sedang memijat Wanita itu.
“Astaga, apakah mereka bisu, kenapa sedari tadi hanya diam dan melakukan instruksiku saja ya?” Rita yang merasa heran hanya bisa membatin. Pasalnya sejak setengah jam yang lalu, lebih tepatnya saat rita memulai sesi pijatnya kedua orang (suami-istri) tadi hanya diam tanpa saling berinteraksi.
Satu jam pun berlalu, sudah waktunya pekerjaan rita selesai, “Ini pijatnya sudah selesai, sepertinya ibu hanya terlalu lelah, karena tadi saya pijat semua syaraf dan tulangnya baik baik saja.” Rita menjelaskan kondisi tubuh Wanita yang tadi dipijatnya tapi sekali lagi hanya anggukan yang didapat, Rita yang mulai terbiasa akhirnya hanya menghela nafas.
“Maaf?.” Tanya rita pada laki laki yang tadi ia Yakini sebagai suami Wanita tadi, tentu saja ia bingung, pasalnya ia tadi hanya memijat istrinya itupun hanya pijat relaksasi, tapi bukan uang yang di berikan tapi sebuah amplop putih yang ukurannya cukup Panjang seperti amplop undangan. Tanpa bertanya lagi ia membuka amplop itu depan kedua orang tadi, ia yang tadinya kebingungan kini justru merasa tidak enak karena nominal yang diberikan lumayan banyak. “Saya ucapkan terima kasih, tapi maaf saya tidak bisa menerimanya.” Ucap Rita sambil menyodorkan kembali amplop tersebut pada suami Wanita tadi. “Sudah, mbak rita ambil saja uang ini ya.” Ucap laki-laki tersebut sambil mendorong tangan rita Kembali.
“Eh tapi pak, yasudah terima kasih ya pak bu, kalau begitu saya pamit undur diri.” Pamitnya pada pasutri tersebut.
Sesampainya dirumah
“Alhamdulilah ya allah engkau menjawab doa hambamu ini, tapi sungguh ini sangat banyak, ah sudahlah yang penting aku sudah punya uang untuk belikan ida sepeda.” Ucap rita sambil memandangi uang yang ia keluarkan sedikit dari amplop tadi “Semoga pasangan tadi lancar rezekinya.” Doa nya untuk pasangan suami istri tadi dalam hati.
Skip
Malam hari saat ida, kiki dan salah satu saudara yang Bernama mitha sedang duduk di kursi Panjang bawah pohon kersen tengah berbincang bincang.
“Nah iya, pelajaran di sekolah semakin sulit.” Ucap Ida pada si mitha tadi.
“Ya namane udah smp lho da.” Jawab mitha menanggapi ucapan ida tadi. Sedangkan kiki yang masih sd tidak tahu apa-apa atas perbincangan tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka.
“Ida” Panggil Rita yang entah muncul dari mana. “Ya buk, dalem?.” Tanya sang anak pada ibunya.
“Kamu masih pingin punya sepedah?.”
“Iya buk.”
“Warna?.”
“Hijau buk.”
“Merek?.”
“Phoenix aja buk.”
“Ya udah tunggu dulu ya, ibuk berangkat beli dulu.” Rita yang merasa sudah mendapatkan jawaban detail pun segera berangkat membeli sepedah untuk anaknya.
“Halah ibuk mungkin Cuma bercanda, kayak gatau ibuk aja.” Ucap ida pada adik dan mitha yang menampilkan raut bingung.
25 menit kemudian.
“Hah?, Beneran ternyata?, Kok?” Ucap mitha, ida, kiki yang terperangah tidak percaya.
“Nih, sepedah baru buat ida, yang rajin ya sekolahnya nak.” Ucap Rita enteng sambil menuntun sepedah itu mendekat pada ida tanpa menyadari raut terkejut sang anak dan sepupunya.
“Ibuk, ini beneran?, makasih buk Hikss.” Ucapan terima kasih dan tangis Bahagia tak bisa ditahan lagi oleh ida, pasalnya ia juga kasihan pada sang ibu yang harus antar jemput setiap hari ke sekolah, pikirnya kalau ia punya sepedah sendiri sang ibu tak perlu lagi antar jemput setiap hari.
“Aku kira mbak rita tadi Cuma bercanda, lha gimana ngomongnya kayak nggak serius.” Ucap mitha tidak percaya atas apa yang ia lihat.
4 tahun kemudian…
“Kok orang itu sudah tidak pernah lagi menghubungi aku ya?.” Rita bertanya pada dirinya sendiri, ia kebingungan karena orang yang sudah memberi ia uang banyak waktu itu sudah tidak pernah menghubunginya lagi, sedangkan rita yang merasa harus masih mengucapkan terima kasih lagi secara langsung pun harus menahannya.
Saat Rita sedang memasak tiba-tiba ponsel nya berbunyi, menekan tombol hijau di handphone jadul merek Nokia 3315 tersebut dan…
“Halo?, benar ini nomornya mbak rita tukang pijat?.” Terdengar pertanyaan dari orang di seberang sana.
“Ah, iya benar, dengan saya sendiri, maaf tapi ini siapa ya?.” Tanya rita pada orang tersebut karena sebelumnya ia belum pernah menyimpan no orang yang sedang menelponnya.
“Ah iya baik, tapi untuk jadwalnya saya kosong besok apa tidak apa?, baiklah terima kasih, ya selamat siang.” Rita yang sudah selesai betlefon ria dengan orang tersebut akhirnya meletakkan handphone miliknya.
“Oh iya ya, alamat orang ini kan dekat dengan orang waktu itu.” Gumamnya pada diri sendiri
“Kalau begitu besok aku tanya saja pada orang waktu itu sekaligus mengucapkan terima kasih lagi.” Lanjutnya bergumam sambil menopang salah satu tangan nya di dagu. “Oke, semangat rita.” Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Keesokkan harinya…
Rita pergi ke rumah orang yang waktu itu memberinya uang bayaran pijat sangat banyak baginya, dengan tujuan untuk bertanya letak alamat rumah orang yang pesan jasa pijat kemarin.
“Kok kayak nggk ada orang ya? Atau mereka sudah pindah.” Tanya Rita dalam batin.Rita yang kebingungan akhirnya inisiatif bertanya pada orang yang rumahnya depan rumah yang terlihat sepi itu. “Maaf cari siapa ya mbak?.” Tanya orang tersebut saat aku mendekat kepagar rumahnya.
“Itu saya mau tanya orang yang punya rumah ini kemana ya?, kok saya perhatikan dari tadi rumahnya seperti sudah kosong.”
“HAH?, wahh,ma-maaf saya ndak tahu mbak m-m maaf.”. Dengan tubuh bergetar seperti ketakutan orang itu menjawab pertanyaan ku sambil berlalu masuk kedalam rumahnya.
“Lho mas MAS.” Teriak ku memanggil orang tadi.
“MBAK RITA DISINI.” Teriak seseorang sambil menganyunkan tanganya di atas. Rita yang sedari tadi masih kebingungan pun menoleh kearah suara dan menganggukkan kepalanya.
Meskipun kakinya telah menapak di rumah orang yang tadi memanggilnya, tapi pandangan Rita seolah tak bisa lepas dari rumah yang dulu pernah ia kujungi 4 tahun yang lalu. “Mbak Rita, silahkan masuk ayo.” Ucap pemilik rumah tadi yang seolah menyadarkannya. “Ohh iya bu.”
35 menit pun berlalu, Rita dan Wanita yang sedang ia pijat tadi terus mengobrol tak tentu, kadang bergosip dan lainnya, sampai akhirnya Rita berkata.”
“Saya dulu juga pernah kesini bu, juga pijat, rumah no 4 dari sini.” Dengan santai Rita menjelaskan kalau dulu ia juga pernah kesini.
“HAH? Beb.. beneran mbak?, mbak sampeyan jangan bercanda lho ya? Nggak lucu!!!.”
“Saya serius bu, ngapain juga saya ngomong kalau saya nggak ngelakuinnya.”
Kok ibuk ini kayak syok takut ya? Tanya Rita dalam batin karena merasa aneh akan respon clientnya ini.
“Kkapan mbak? Kapan sampeyan pernah kesini? Nggk maksud saya ke rumah itu?.” Tanya clientku dengan suara yang terbata. “Engg kalau nggk salah baru 4 tahun yang lalu bu.”
“Lho bu kemana?.” Tanya ku karena tiba-tiba orang yang sedang ku pijat tadi menarikku ke teras rumahnya dan menunjukkan rumah yang ku maksud tadi.
“Iya bu bener itu rumahnya.”. “Maaf mbak tapi saya sudah disini 20 tahun dan sejak saya menempati rumah ini, rumah itu sudang kosong tak berpenghuni.” Jelasnya kepadaku.
“HAH,bu beneran to?, ttap tapi saya beneran kesana 4 tahun lalu untuk pijat nyonya rumah itu dan saya juga di bayar dengan uang.”
“Saya nggak bohong mbak, saya memang sudah 20 tahun tinggal disini dan rumah itu sudah kosong.”
Lha terus yang aku pijat dulu siapa?
Skip
Sesampainya dirumah rita langsung duduk di Kasur kamar dengan keadaan yang masih merasa terkejut.”Masa dulu yang aku pijat bukan manusia?, pantas saja rumahnya sepi, hening dan suasana sunyi, tapi waktu itu saat aku menyentuh tubuhnya kok aku tidak merasa kan ada yang aneh pada kulitnya ya? seolah aku memang sedang memijat tubuh manusia.” Gumamnya
Tapi kalau memang mereka bukan manusia kok uangnya nggk jadi daun kayak di film ya?.” Ucap nya bertanya pada diri sendiri. “Tapi katanya rumah itu sudah kosong selama 20 tahun!, argghhh sudahlah orang nyatanya uang itu benar benar jadi sepedah dan barang belanjaan.” lanjutnya lagi.
S
K
I
P
Setelah hari dimana Rita mengetahui tentang rumah orang yang ia pijat 4 tahun lalu, akhirnya ia memutuskan untuk berusaha melupakan kejadian yang sampai saat ini masih menjadi pertanyaan di dalam hati kecilnya.
TAMAT
Annoucement!!!
Cerita ini murni dari pikiran author.
Mohon kritik dan saran nya karena cerita ini baru cerita pertama yang author buat.