Aku seorang penulis, bisa dibilang cukup sukses dengan karya-karya cemerlang. Suatu hari aku ingin menyelesaikan sebuah karya yang paling ditunggu oleh pembaca. Aku ingin menulis sebuah karya yang tidak akan mengecewakan mereka. Untuk itu aku butuh tempat agar bisa fokus tanpa gangguan.
Setelah berkeliling di beberapa tempat, aku menemukan sebuah tempat yang ideal. Sepi, bebas dari kebisingan dengan pemandangan sejuk dan yang terpenting ada sebuah kamar dengan meja nyaman untuk menulis.
Malam itu aku mulai menggoreskan penaku, meski terasa sangat lelah dan mengantuk setelah seharian mempersiapkan tempat aku tetap ingin menyelesaikan targetku, hingga pena yang aku pegang terjatuh begitu saja. Aku tergagap, tersadar, kemudian bangkit mencarinya di bawah meja, kursi, tapi tidak aku temukan.
"Dimana penaku terjatuh?" Aku bergumam sendiri sambil merangkak dibawah meja.
Blaak! "Aduuuh!" Kepalaku membentur meja saat akan berdiri. Aku masih heran kemana penaku terjatuh. Tiba-tiba lampu padam, Aku masih berdiri di samping meja. Cahaya redup rembulan bisa masuk dalam kamar itu. Sebuah lilin menyala sendiri di atas meja. Aku bisa melihat penaku bergerak sendiri di atas kertas
Aku kucek-kucek mataku, "Benarkah apa yang aku lihat ini, ataukah hanya halusinasi?" Aku buka mataku, pulpen itu masih disana, bergerak menulis kata demi kata.
Aku semakin bingung ketika mendekati sebuah cermin tua yang tergantung di dinding kamar itu, aku melihat diriku yang menulis disana. Dia memandang tajam ke arahku kemudian tersenyum dengan sudut bibirnya.
"Aku duduk menulis disana? Lalu siapa aku yang berdiri di sini ? Apakah dia kembaran ku?"
Aku memandang ke arah meja, tak ada siapapun duduk di kursi itu, hanya penaku saja yang bergerak di atas kertas dengan nyala lilin yang bergoyang.
"Hai, siapa kamu?" Aku bertanya didepan cermin, tak ada jawaban yang bisa aku dengar dari sana.
"Haaii...jawab pertanyaan ku!" Aku berteriak dengan keras, tapi tetap saja dia tidak juga memberikan jawaban.
Aku semakin bingung, kakiku gemetar hingga terduduk di kursi tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku kembali melihat ke cermin, dan melihat diriku yang menulis disana.
Aku memandang ke arah meja, kemudian melihat lagi ke cermin, berulang kali aku melakukan hal itu, tak ada yang berubah, masih seperti sebelumnya.
Tok..tok...tok.
Aku mendengar seseorang mengetuk pintu, "Jenny, apakah kau di dalam sana?" Aku bisa mendengar dengan jelas itu adalah suara teman dekatku yang datang. Aku bergegas berdiri untuk membukakan pintu untuknya, mungkin dia bisa menolong kondisi yang membingungkan ini, tapi sebelum aku sampai, Ricky sudah duduk disana, seperti sudah berbincang dengan seseorang.
"Hai... Ricky!!?" "Ricky!!" Aku berteriak keras, tapi dia asik berbincang dengannya, suaraku tetap tak terdengar, tubuhku tak tampak di depan Ricky, tanganku menyentuh wajah Ricky tapi seperti menggenggam udara, tak berjejak tak ada rasa.
"Aku membawa ini untukmu Jen!" Kata Ricky sebelum melangkah pergi. Sebuah senter Ricky berikan kepadanya, aku tahu itu untukku. Senter itu seperti terbang bergerak, kemudian berhenti di atas meja. Aku kembali berdiri di depan cermin tua, Aku memandangi tingkahnya, berganti piyama dengan pakaian ku, meminum kopi dengan gelasku dan melakukan semua hal dengan benda milikku.
Aku benci hal itu, aku pegang cermin tua itu. Aku tarik cermin itu dari dinding.
Braak...krompyang!!
Aku bisa membantingnya hingga pecah berkeping-keping. Aku mengusap wajahku penuh emosi puas "Hemmmh rasakan itu!"
"Oh, Aku bisa meraba wajahku!" kemudian memegang senter pemberian Ricky dan menggapai semua yang ingin aku genggam. "Yess!" Teriakku gembira.
Listrik juga ikut menyala.
Aku mendekati meja tempatku menulis, tulisan dia ada disana. Aku membuka dan membacanya lembar demi lembar. Karya itu selesai seperti yang ingin aku tuliskan.