Aku tak tau arah kemana akan pergi. Pergi mencari jalan dari lika-liku kehidupan. Sandiwara tiada henti. Susah tuk menjadi diri sendiri. Susah tuk menemukan jati diri.
Apalah daya kehidupan perempuan di negeri ini. Di rendahkan di remehkan sudah menjadi sentapan nikmat sehari-hari. Tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang mau berempati.
Inilah aku, seorang gadis yang tak luput dari lika-liku. Tak puas tanpa adanya masalah hidup. Hidup meraung mengharap simpati. Tak henti memperjuangkan harga diri. Demi pertahankan hidup yang lebih mandiri.
Aku adalah anak dari kedua orang tua yang cukup sederhana. Ayahku seorang petani desa, dan ibuku seorang Pegawai Negeri Sipil di kantor kecamatan. Mereka bedua meninggalkanku saat aku masih berada di bangku SD. Meninggalkan tanpa pamit di dalam tragedi kecelakaan itu.
Aku Diana, seorang gadis biasa yang baru saja menduduki bangku kelas 2 SMA. Kehidupan SMA mungkin di rasa akan biasa-biasa saja, bagi anak yang hidup menggantung orang tua. Tak merasakan susahnya hidup sendiri.
Seperti hari-hari biasanya, aku berjalan kaki menuju sekolah sambil menenteng manisan yang akan di titipkan di ibu kantin. "Akhirnya yang di tunggu datang juga, kukira kau terlambat hari ini". Ucap Dewi, sahabatku sambil menyomot manisan yang ku bawa. "Kebiasaan, gak basa-basi asal nyomot aja, pokoknya wajib bayar! ". Ucapku kesal. " He.. he.. he... Oh iya, kamu udah tau belum tentang murid baru yang jadi anggota kelas kita hari ini? " ucap Dewi memberitahu ku. "kring.... kring.... kring". Bunyi bel sekolah menyela pembicaraan kita untuk mengisyaratkan segera memasuki kelas.
Benar saja, seorang pria yang tak pernah ku kenal sebelumnya memasuki kelas dan mulai memperkenalkan dirinya. Rayhan, nama yang di sebutnya saat itu. Badanya tampak langsing menjulang tinggi jauh ke atas langit. Mungkin bisa di bilang "TAMPAN" ?. Aku tak tau apa yang terjadi ketika melihatnya. Apakah ini yang di sebut jatuh cinta?.
Aku selalu melihat wajahnya dalam angan-angan. Tak tahu apa yang sedang terjadi di dalam hati. Dilema tiada henti, untuk menanyakan hati yang sedang terjatuh (jatuh hati). Mungkin ini adalah cinta pertamaku. Aku menuangkan segalanya kepada Dewi sesaat setelah pulang sekolah. Kami biasa nongkrong di taman dekat rumah Dewi. "Hmm... kalau menurutku nih ya, dia memang tinggi tapi gak terlalu tampan sih... Tapi itu semua terserah kamu, kalau suka ya bilang suka aja. " Ucap Dewi memberi saran. "Betul juga sih Deuuu, tapi masa cewe yang ngejar-ngejar sih? lagipula aku tuh masih bimbang dengan perasaan ini" ucapku sambil memakan cilok yang baru di beli.
Tak sengaja pandanganku malah salah fokus terhadap Rayhan yang baru saja turun dari motor yang di kendarai nya. Diri ini membeku rasannya ketika dia menghampiri kursi kami dan sedikit berbincang. " Hai, Diana ya? yang tadi duduk di seberang ku. Salam kenal ya". Ucap Rayhan. "Aku gak di tanyain nih?". Ucap Dewi bercanda. " He.. he... he... he.. he.. ". Tawa Rayhan.
Hari mulai petang dan kami merencanakan untuk pulang. Seperti biasanya kami berjalan kaki ke rumah Dewi dan aku membuka aplikasi ojek online untuk memesan dan mengantarkanku pulang. Namun tiba-tiba " Mau aku antar pulang aja gak? " ucap Rayhan yang ternyata dari tadi mengikuti kami. Entah mengapa aku asal menjawab mau saat itu. Pandangan Dewi pun mulai sinis terhadap Rayhan. Tapi ternyata semuanya baik-baik saja. Rayhan mengantarku pulang dengan selamat. "Lho kamu tinggal sendirian di rumah?". Tanya Rayhan. "Hmm iya nih, tapi terkadang juga ada tetangga yang menghampiri dan mengantarkan makanan". Ucapku saat itu. Semenjak hari itu, hubungan kami semakin erat. Rayhan sering mengantarku ketika bepergian. Dan kami resmi berpacaran hanya dalam beberapa minggu setelah hari itu.
Dewi pernah mengingatkanku untuk berhati-hati dengan Rayhan. "Dengar-dengar Rayhan itu adalah anak yang di keluarkan dari sekolah sebelumnya lho.... dia di keluarkan setelah menghamili seorang gadis di situ.". Ucap Dewi mengingatkanku. " ahh... masa sih? , kan udh jelas kalau dia itu pindahan dari luar kota karena ikut ayahnya yang di pindah tugaskan". Ucapku saat itu. "Terserah kamu aja deh kalau begitu" Ucap Dewi dengan kesal.
Aku mulai memikirkan perkataan dewi sejak saat itu. Tapi kalau di pikir-pikir malah semakin kepikiran. Lagipula sudah beberapa bulan ini kami menjalani hubungan dan tidak ada yang terjadi. Mungkin saja yang di katakan dewi hanyalah gosip semata.
***
Kini sudah tibalah waktunya kami menjalani ujian tengah semester. Seperti biasanya aku mengajak Rayhan untuk ikut belajar bersama di rumah Dewi. Dewi sudah mulai bisa menerima kondisiku saat ini dan sudah mau menerima Rayhan. Ketika hari sudah menunjukan petang, kami pun berpisah dan aku meminta Rayhan untuk mengantarkanku pulang.
Tak seperti biasanya, Rayhan mengatakan dirinya capek dan ingin beristirahaat sejenak di rumahku. Tak sedikitpun terlintas pikiran buruk di benakku. Aku memberinya minum dan membiarkannya memasuki rumahku. Tak lama setelah itu dia berpamitan untuk pulang dan mulai mengendarai motornya.
Hari demi hari, Rayhan mulai sering main dan berkunjung ke rumahku. Tak jarang, ia membawakanku makanan ataumu minuman ringan.
Sampai pada suatu ketika, Rayhan mengantar ku pulang dan membawakanku minuman. Minuman ini tak seperti biasanya. Rasanya sedikit pait dan membuatku pusing. Samar-samar aku melihat seseorang memasuki rumah dan mendorongku hingga ke kamar. Tak ada tenaga yang aku miliki untuk melawan. Aku membiatkannya merebut apa yang telah ku jaga. Tak kusangka perlakuannya.
Dunia rasanya hancur seketika. Tak pantas lagi aku di sebut sebagai gadis. Tak mampu kakiku berjalan menginjak keluar rumah. "BUNUH DIRI" adalah satu-satunya kata yang selalu terlintas di pikirannku.
Tak ada yang dapat mendeskripsikan perasaanku saat ini. Rasa trauma dan ketakutan menghantuiku selalu. Tak berani keluar untuk menceritakan apa yang terjadi. Dewi menghampiriku untuk menanyakan apa yang sudah terjadi. Apalah dayaku untuk menceritakan trauma yang ku alami. Dewi yang bisa mengerti perasaanku mulai menenagkanku dan berhenti menanyakan nya.
Perlahan, aku mulai membuka hatiku dan berani untuk menceritakan segalanya. Dewi, adalah orang pertama yang mengetahui hal ini. Ia syok dan tak bisa bekata-kata lagi. Tatapannya menunjukan harapan yang hancur tentang diriku. Kami merncanakan untuk membawa kasus ini ke sekolah.
Namun, ada satu hal yang kami lupakan, yaitu "BUKTI". Kini, harapanku memudar kembali. Di tambah dengan Rayhan yang seolah tak tau kejadian yang sudah terjadi.
hari berikutnya, aku mulai mual dan muntah, mengisyaratkan suatu hal yang tidak di inginkan. Aku melakukan tes, dan sesuatu itu menjadi kenyataan. Garis dua, adalah hal yang paling mengerikan di dalam hidupku. Rasa ingin mati semakin menggebu-gebu. Dewi mencoba menenangkanku. Namun, apa yang ingin di tenangkan? semua sudah terjadi dan tak dapat di ulang kembali.
Kami memutuskan untuk membawa kasus ini ke sekolah. Rayhan mengakui perbuatnya dan kami harus menanggung resiko yang sangat berat. Di keluarkan dari sekolah, adalah hukuman yang paling tidak pernah terbayang, apalagi terlintas di pikiranku. Semuanya hancur dalam sekejap saja.
Banyak orang yang membelaku, termasuk dewi yang membelaku paling depan. Namun, peraturan tetaplah menjadi peraturan. Berita ini menyebar dengan cepat ke satu sekolah bahkan lingkungan tempat tinggalku. Cacian menjadi kebiasaan sehari-hariku. Di tambah lagi dengan aku yang mengalami keguguran saat itu.
Namun pada akhirnya, aku mampu menerima kekuranganku sebagai tumpuan utama dalam hidup ini. Aku tetap melanjutkan sekolah hingga menjadi sarjana seperti saat ini.
Dunia ini gelap, tak tau arah kemana akan pulang. Kutuangkan semua isi pikiran ini kedalam sebuah karya goresan tangan. Sebuah buku yang bejudul "GADIS LIKA LIKU" yang sukses di pasaran saat ini.
Ini semua adalah kejadian yang dulu pernah ku alami. Dan aku berharap sebagai kaum perempuan harus bisa menjaga martabat dan harga diri sekuat kuatnya. Tak terkecoh oleh rintangan-rintangan yang ada. Tetap berada dalam satu pendirian.
Ini aku, dan inilah kisahku, semoga dapat mengispirasi kita semua