Jederrr....
Malam berkabut yang diiringi dengan hujan deras dan petir menyambar, aku sedang menunggu temanku, dia berjanji bahwa dia akan menemani ku malam ini.
ayah dan ibuku pergi keluar kota, tapi dengan hujan yang sederas ini aku ragu jika Riko temanku itu tidak jadi datang.
Tok, tok, tok...
Ketukan pintu itu seketika mengalihkan perhatian ku dari cara TV, aku segera membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Tapi, begitu pintu dibuka tidak ada siapa-siapa, hanya jejak kaki yang sepertinya masih baru terbentuknya. Aku pun mengabaikannya aku pikir itu hanya anak-anak iseng yang kurang kerjaan, tapi begitu aku berbalik kebelakang setelah menutup pintu.
"Doorrrr..."
"Astaga Riko, bikin kaget aja sih!" Riko mengagetkan ku dari belakang, tapi anehnya kapan Riko masuk ke rumah.
Sedangkan Riko hanya tersenyum karena berhasil membuat ku kaget.
"Kita jadikan, main berdua?" Tanya Riko.
"Iya jadi, orangtua ku sudah pergi dari tadi pagi. Aku kira kamu tidak akan datang,"
"Ini adalah hari yang penting kenapa tidak jadi datang,"
"Tapi kamu baik-baik aja kan? Wajahmu itu sangat pucat," tanya ku yang khawatir karena wajah Riko terlihat sangat pucat sudah seperti mayat hidup dan tubuhnya yang basah juga menjadikan ku khawatir bahwa dia akan masuk angin nanti.
"Udah nggak apa-apa kok Nando, aku sehat-sehat aja." Jawab Riko.
"Oke deh,"
"Bagaimana, kamu sudah ada jalangkung nya?"
"Sudah dong, aku deg-degan terus tahu saat ayah dan ibuku dirumah. Bisa bahaya kalau mereka tahu kita akan main jalangkung,"
"Ya udah ayo kita main!" Riko sangat bersemangat, pasalnya dia ingin mencoba apa benar jalangkung bisa memanggil arwah.
"Jalangkung, jalangkung, di sini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak diundang pulang tak diantar."
Kami menyanyikan mantra itu bersamaan, tapi tidak terjadi apa-apa. Kami terus mencoba hingga yang ketiga kalinya, angin mulai bertiup kencang, gorden yang ada di rumahku mulai tertiup kesana-kemari.
"Nando, sepertinya kita berhasil." Ucap Riko yang kegirangan.
"Mungkin cuma angin hujan," ucap ku yang masih berpikir secara logika.
tringgg... tringgg... tringgg...
Telepon rumah tiba-tiba saja berbunyi, aku segera melepaskan jalangkung itu dan mengangkat telepon.
"Halo,"
"Halo Nando, Tante cuma mau ngabarin aja, Riko sudah meninggal malam ini kecelakaan saat mau menuju rumah kamu." Isak tangis mama Riko yang berusaha menahan tangisnya dan memberitahu ku.
Seketika mataku melebar, jika Riko sudah meninggal lalu siapa yang berada di rumah bersama ku saat ini.
Bulu kuduk ku mulai merinding, aku ragu-ragu ingin menolehkan kepalaku ini.
Saat aku menoleh kebelakang, Riko menatap ku, tubuhnya yang basah tadi sekarang sudah dipenuhinya darah, salah satu matanya keluar menyembul dan dia juga tersenyum meringis kearah ku.
"Allahuakbar," aku terbangun dari tidurku.
Ternyata tadi itu hanya mimpi, tapi ponselku berbunyi dan ibuku memberitahu bahwa Riko sudah meninggal.
Mataku seketika melebar, "lalu tadi itu mimpi atau bukan?"