"Jannatin tajri min tahtihal anharu khalidina fiha abada (surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dan penghuni surga abadi di dalamnya)". Ayat dari Qur'an surah Al-Bayyinah inilah yang tadi kulantunkan saat mengimami shalat subuh berjamaah menggantikan Abah yang sedang bepergian.
Matahari memang belum terlihat, tapi hari ini adalah hari yang cerah secerah wajah-wajah santri yang shalat subuh berjama'ah tadi. Sambil menyusuri jalanan pondok yang berkabut, hatiku terus bergumam:
"Matahari belum bersinar, tapi wajah-wajah santri itu mewakili sinarnya. Bukankah selain surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, penduduk surga juga bercirikan wajah yang berseri? Dan santri-santri itu wajahnya berseri semua. Itu tandanya mereka calon penghuni surga".
Kupelankan langkahku senada dengan bacaan Surah Al-Bayyinah yang kusenandungkan sambil berjalan. Sebagian diriku tengah membayangkan surga yang letaknya jauh, dan sebagian diriku yang lain membayangkan surga yang letaknya dekat. Disaat fikiranku berjalan mendatangi surga yang jauh, kakiku justru sedang berjalan mendatangi surga yang dekat.
Kabarnya, surga yang jauh itu belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah dilogika, tapi nyatanya aku tengah membayangkannya. Fikiranku sudah masuk ke surga yang jauh itu. Mataku terbelalak melihat pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Maha Suci Allah yang telah menciptakan surga dengan keindahannya. Ya Allah, aku tidak akan menanyakan bagaimana Engkau menciptakan semua ini karena Engkau Maha Segalanya. Tapi sejauh mata memandang, baru kali ini aku melihat pohon yang tumbuh terbalik. Akarnya menjulang ke atas, daunnya selebar langit, batangnya selebar bumi, tingginya melebihi gunung dan buah-buahan yang tumbuh ke bawah hingga memetiknya pun tak perlu susah payah".
Baru melihat pohon saja, sudah membuat akalku berhenti membayangkan surga yang jauh itu. Fikiranku kembali ke jalan bersama kakiku yang semakin dekat dengan surga yang dekat. Ketika aku sudah di depan surga yang dekat itu, aku teringat petuah Abah sewaktu remaja dulu:
"Nak, kemanapun kamu pergi, jangan lupakan surga yang dekat! Kamu boleh mencari surga yang jauh tapi jangan melupakan surga yang dekat! Surga yang dekat itu ada di rumahmu. Surga yang jauh itu belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah difikirkan manusia.
Tapi surga yang dekat setiap hari kamu melihatnya, setiap hari kamu mendengarnya, setiap hari kamu memikirkannya, rumah dan keluarga adalah surga yang paling dekat denganmu. Nak, jika sampai masa dewasamu, maka surga yang dekat itu rumah tanggamu. Ajak anak dan isterimu menanam pohon surga untuk mereka petik buahnya di surga sana!" Begitulah Petuah Abah.
Aku sudah di depan rumah, melepaskan sandal, berjalan ke arah pintu, lalu mulai mengetuk pintu surgaku. Belum sempat mengucap salam, Bidadari Surgaku sudah membukakan pintu. Dia membukakan pintu dengan senyuman seperti ada kebahagiaan yang ia sembunyikan dariku.
"Kenapa dek, kok mas lihat senyummu kayak matahari terbit?" Tanyaku penasaran.
"Aku ngandung lagi mas" Jawab isteriku bahagia.
Aku mengelus perutnya, memandang sempurna wajah cantiknya dan mulai bertutur-kata:
"Hadza min fadhli Rabbi, liyabluwani a asykuru am akfuru (ini adalah karunia dari Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mensyukuri nikmatnya atau malah mengkufurinya). Dan aku bersyukur dikaruniai keturunan dari bidadari secantik dirimu".
Isteriku yang masih bahagia itu menjawab:
"Fabiayyi alai Rabbikuma tukadz-dziban? (Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan)?" .
Baru saja aku tersenyum, isteriku kembali berucap:
"Mas, kalau anak yang ke empat ini perempuan, njenengan mau ngasih nama apa?".
Tiba-tiba aku teringat Qur'an Surah Al-Bayyinah yang kubaca subuh tadi. Dengan yakin aku menjawab permintaan isteriku itu:
"Baiti Jannati kan nama ibunya, kalau yang nomer empat ini bener perempuan, aku ingin dia miliki kecantikan abadi seperti yang dimiliki ibunya".
"Namanya siapa mas?" Tanyanya penasaran.
"Khalidina Abada" Kataku mengecup kening isteriku.