_~ Jika hanya menyapa saja bukan masalah..
Tapi untuk kali ini di selalu mengejutkanku, ya.. inilah alasan mengapa Aku dianggap sebagai seorang introvert.
Setahuku.. introvert adala seorang yang pendiam dan suka menyendiri. Itu bukanlah jati diriku yang sebenarnya.
Aku gadis periang.. cerewet dan suka bergaul sampai saat itu datang.
"__ Aaaakkh.."
BRAKKK.. mobil sport putih sudah berguling di jalan, beserta pengemudinya yang terjebak di dalamnya.
"__ tolong.. siapapun.. sakiit_"
Rintihan itu terdengar miris
Dari sudut lain seorang gadis memakai headphone akan menyebrang. Melihat kejadian tragis itu..
Bukunya berjatuhan dari pelukannya, lututnya mendadak lemas.. keringat dingin mengucur deras.
"..astaga.. ap..apa.. itu,"
Mulutnya terkatup matanya sangat normal dan jelas melihat sosok di depannya merintih.
Kebetulan atau memang takdir, kejadian tadi berputar lagi dipikirkannya.
Gadis itu memberanikan diri mendekat, karena sosok yang terjepit itu seolah-olah memanggilnya.
"_.. tol..tolong"
tangan laki laki itu terjulur.. jendak meraih tangan sang gadis.
Reflek gadis itu menerima uluran tangannya.
Spalsh!!
" Woi.. Del, nglamun aja lo hah.."
Adelia, gadis penolong itu adalah dia.. tapi entahlah pertolongan apa yang akan dia lakukan .
Karena jujur saja, hanya memberi kesaksian saja pada polisi.. tapi sudah dianggap penolong.
Penolong dari keluarga korban.
" eh hai Do, masih ada jam?"
Aldo, hanya dia pelindung dan penghibur Adelia saat ini. Setelah dianggap aneh oleh orang-orang.. hanya Aldo yang mau menerimanya.
"tidak ada.. bagaimana jika kita makan"
"boleh juga" Adel tersenyum bahagia.
"Seafood? atau.. Javanese food?"
"Nasi Padang saja hehe"
"Oke, lets go" Aldo tak pernah sungkan untuk menemani Adel.
Bagi Aldo, Adel bukan sepenuhnya seperti yang orang orang katakan. Justru sebaliknya.
Adel setia membonceng Aldo.
"em.Del?".
"ya??"
"apa dia masih suka datang"
dia? siapa?
Dia adalah korban tabrakan maut itu, Adel sering bermimpi bahkan merasakan akan hadirnya.
Apa maksudnya? sampai saat ini Adel tak tahu.
"em.. masih, kadang sebelum tidur dia berbisik.."
"wahh.. sudah kayak mahasiswa semester awal aja rajin absen haha"
"haahh ntahlah" memasang wajah lesu.
"apa katanya?" Aldo selalu penasaran.
"masih sama.. Tolonglah aku, apa kau tahu.. ini sangat mengganggu"
" yaa.. ya.. sebaiknya segeralah kau bertemu keluarganya siapa tahu__"
"tidak semudah itu, Keluarganya tidak mau tahu.. "
Sampai makan selesai Aldo masih berkutat dengan obrolan yang sama.
"bye.. thank Do kamu jadi repot-repot"
"aih.. nganter doi pulang mah kecil"menjentikkan jari.
" bisa aja kamu.. sana gih balik "
"oke. bye" Aldo memberikan flying kiss pada Adel.
Adel hanya tersenyum.
Bukannya Adel tak memiliki perasaan yang sama, tapi akan buruk jika Aldo berharap banyak. Karena Adel membawa nama buruk untuknya.
Bugh!
Hempasan tubuh di ranjang menjadi obat tersendiri untuk Adel. Aroma khas perempuan menenangkan pikiran sejenak.
Adel mengambil sesuatu dari kantornya.
Melihat kompas itu sekali lagi.
"_. tolong.. berikan ini, jangan sampai..."
Adel memejamkan mata,..
"aaaahh.. apa lanjutan kata katanya. kenapa dia harus mati dulu".
Adel bersiap tidur.
Matanya lebih mudah terpejam kali ini karena rasa capek sudah mendominasi.
Sampai..
" Tolong... sampaikan... tolonglah.."
Seketika mata Adel terbuka.
"siapa itu??"
Bulu kuduk Adel sudah berdiri, iras wajahnya pucat pasi. Perlahan Adel menenangkan diri.
"wuuft.. calm down jangan teriaak okey.. semuanya. baik aman.. terkendali"
Adel tidak boleh gegabah, seisi rumah akan bangun dan terganggu lagi.
Adel tak mau jika Ayah sampai mendatang psikologi lagi. Bisa bisa di cap gila beneran dirinya.
Adel memang pernah trauma, dan stress ringan.
Bedakan antara stress dan gila okey?
hampir sama namun sedikit beda.. beda tipis-tipis.
Adel mulai terpejam lagi.
"tolonglah.. Tolong".. serak parau.
Suaranya terdengar dekat. Adel ketakutan , ia takut untuk membuka matanya.