06. - Kerasukan -
Perlahan-lahan aku membuka pelupuk mataku, kutempelkan punggungku ke dinding-dinding batu dan jari-jemariku meraih batu-batuan untuk pegangan ataupun pijakan, aku harus segera keluar dari tempat ini. Aku merayap naik dan terus naik, aku lega mimpiku beberapa waktu yang lalu tidak menjadi kenyataan.
Aku terus merayap dan merayap, mulut sumur sudah kelihatan. Tapi, mendadak pergelangan kaki kananku seperti tersangkut sesuatu. Kualihkan pandanganku bermaksud melihat benda apa yang menahanku. Sepasang mata ini terbelalak manakala, melihat rambut hitam panjang dan basah melingkari pergelangan kaki kananku, rambut itu menarik kakiku. “Lepaskan aku !” teriakku berusaha melepaskan diri, aku meronta, menjerit sekuat tenaga manakala tubuhku melorot ke bawah beberapa meter. Rambut itu begitu kencang mengikat kakiku, menarikku. Aku terus berusaha merayap, tapi, tertahan. Aku putus asa.
Di tengah keputusasaan, sebuah tali mendarat tepat di kepalaku. Kucengkeram tali itu kuat-kuat dan aku merasakan tubuhku terangkat ke atas. Aku menarik nafas lega saat keluar dari sumur. Rambut yang mengikatku hilang entah kemana dan aku melihat Miwako, Cindy dan Maribeth menatapku dengan perasaan khawatir bercampur lega.
______
Lingkaran merah kehitaman pada pergelangan kaki kananku tidak juga menghilang sekalipun kugosok berulang-ulang. Bekas ikatan rambut itu seakan menyatu dengan kulit, bahkan kian merembet hingga ke betis. Aku selalu menjaga kebersihan kulitku sepanjang waktu, merasa ngeri memandangnya. Kering dan terlihat seperti bersisik, sisik ular serta menebarkan aroma amis dan busuk.
Entah sudah berapa kali pengharum ruangan kusemprotkan, bau itu tak kunjung hilang malah makin menyengat.
Bau itu seakan membawaku menuju ke tempat asing dan tidak membiarkanku keluar dari sana. Masker kembali kugunakan. Aku tak ingin jiwaku keluar dari ragaku untuk kemudian tersesat.
Saat aku bertanya pada Cindy, Maribeth dan Miwako, apakah mereka mencium aroma tidak sedap di kamarku ... mereka menggeleng-gelengkan kepala.
Aroma itu hanya tercium olehku seorang. MUNGKIN ? Itu membuatku frustasi. Yah, Michikko telah membuat jati diriku yang sebenarnya hilang. Tersinggung, marah tanpa alasan yang jelas, dan parahnya selera makanku hilang. Bobotku menurun drastis dan membuat kawan-kawanku merasa iba.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Miwako, “Ini sudah hari keenam, jika Arimbi terus-menerus seperti ini, maka, Michikko akan dengan mudah menguasainya dan Arimbi menjadi orang yang berbeda,”
“Apa yang harus kita lakukan, Nona Miwako ?” tanya Maribeth.
“Ajak dia ke sumur,” mendadak terdengar suara dan Jen-Shen hadir di tengah-tengah Cindy, Maribeth dan Miwako. Buru-buru Cindy dan yang lainnya menatap ke arah Jen-Shen. “Seharusnya kalian tahu, bau amis dan busuk memenuhi kamarnya,” jelas Jen-Shen.
“Yah, sebenarnya kamipun sudah tahu itu. Tapi, mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja,” ujar Miwako.
“Kita memang harus segera mengakhiri penderitaan Kak Arimbi. Mengapa harus dibawa ke sumur Jen-Shen ?” tanya Cindy.
“Menurut perkiraanku ...” Maribeth menyahut, “Michikko ada di dalam sumur tempat Arimbi terperosok kemarin,”
“Kalau memang demikian, akulah yang harus turun untuk mengambilnya,” tandas Miwako.
“Kalau bukan Arimbi yang datang, dia takkan menampakkan dirinya,” sahut Jen-Shen.
Miwako tersenyum, “Jen-Shen ... apa kau tahu, bahwa aku datang ke Indonesia ini sambil membawa teman-temanku. Merekalah yang menarik Michikko masuk ke dalam sumur itu, mereka pulalah yang akan mengeluarkannya,”
“Saya tahu, Nona Miwako ... tapi, Michikko yang sekarang, bukanlah Michikko yang dulu. Kekuatannya lebih besar daripada dulu sewaktu kalian menundukkannya,” jawab Jen-Shen, “Dalam hal ini kita membutuhkan ketegaran hati Arimbi juga keberaniannya, jika tidak, mustahil Michikko bisa ditundukkan,”
“Kalau begitu, kalian pergilah ke sumur itu. Biar aku yang menjelaskannya pada Arimbi,” usul Maribeth.
“Kak Maribeth,” sapa Cindy, “Kakak yakin bisa mengatasi Kak Arimbi ? Berhati-hatilah. Mungkin kakak tidak tahu, bahwa sebenarnya Kak Arimbi memiliki kemampuan bisa melukai orang sekalipun tidak menyentuhnya ?”
“Aku tahu dan akan berhati-hati,"
_____
Pagi itu, kulihat Maribeth memasuki kamarku sambil membawa nampan berisi makanan-makanan kesukaanku.
“Kak Arimbi, pagi ini kami memasak Nasi Goreng Ikan Asin kesukaan kakak, plus jus jambu merah. Sejak pagi-pagi buta tadi kami mempersiapkannya untuk kakak,” sapanya ramah sambil meletakkan nampan itu di meja kamarku. Aku tersenyum, “Mengapa kalian berbuat seperti ini padaku ? Harusnya akulah yang melayani kalian sebab, kalian adalah tamu-tamuku. Atau paling tidak, biarlah bi Ajeng yang melakukan ini semua,”
“Bi Ajeng tampak sedang sibuk mencuci baju, membersihkan dan mengepel lantai. Kami tidak tega mengganggunya. Lagipula usia beliau sudah tidak muda lagi, maka, biarlah kami membantunya sedikit,” kata Maribeth.
Asap dan aroma nasi goreng tersebut, sejenak menghilangkan aroma busuk yang memenuhi ruang kamarku.
Mendadak saja selera makanku timbul dan menyikat habis hidangan yang disajikan oleh Maribeth. Tapi, aku masih merasa lapar, padahal aku tahu sepiring nasi goreng, bisa dimakan untuk dua atau tiga orang. Apalagi aku, seporsi saja sudah membuat perutku penuh tapi ... Maribeth menatapku dengan pandangan heran, “Kak, selera makanmu sudah kembali rupanya. Bagaimana rasanya ? Enak dan gurih, kan ?” tanyanya.
“Emh, bisakah kau buatkan lagi untukku ?” tanyaku, Maribeth mengangguk, “Bisa, kak... tapi, apa perut kakak tidak kekenyangan nanti ?”
“Sudah ... jangan banyak bicara lagi... tolong buatkan satu porsi lagi. Bisa,kan ?”
Maribeth menganggukkan kepala, kemudian membalikkan badan dan berjalan meninggalkan ruang tidurku.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Maribeth kembali masuk sambil membawa sepiring nasi goreng yang kupesan, “Ini, kak... silahkan dimakan. Senang rasanya selera makan kakak kembali, tapi, jangan dipaksakan. Bisa-bisa kekenyangan dan tidak baik untuk kesehatan kakak,” katanya. Aku segera menyambar dan melahap nasi goreng yang disodorkan ke wajahku.
Maribeth hanya menatapku dengan pandangan heran, “Kak, pelan-pelan masih panas,”
Aku tak peduli, kulahap masakan itu hingga tak tersisa sedikit pun, “Tambah lagi,” kataku. Maribeth mundur beberapa tindak, “Kak, apa kau serius ? Kau sudah makan lebih dari 3 piring, apa kakak baik-baik saja ?” tanyanya. Pertanyaan Maribeth ini, bagiku seperti rengekan seorang anak kecil, “Aku lapar. Tahu !! Cepat buatkan lagi, aku tak bisa membiarkan perutku kelaparan seperti ini,” seruku tiba-tiba.
“Tidak, kak ... kakak harus lebih memperhatikan kesehatan, terlalu banyak makan bisa membuat sakit perut apalagi, nasi goreng ikan asin ini. Bisa membuat kakak ...”
“Prang !!”
Aku memotong ucapan Maribeth dengan membanting piring ke lantai, itu membuat wanita itu melompat kaget. Aku tak berhenti sampai disitu, aku melompat turun dari pembaringan, menjulurkan cakar kananku ke leher Maribeth dan mendorong tubuhnya hingga membentur tembok sambil berkata, “Buatkan lagi atau kupatahkan lehermu !!”
Wajah Maribeth pucat pasi, “Kak, mengapa suaramu berubah ? Sadarlah, kak... ini bukan Kak Arimbi yang kukenal ?” tanyanya. Aku tak menjawab, sambil mencekik leher wanita itu, kuangkat tubuhnya yang nyaris memiliki tinggi badan yang sama denganku tapi, memiliki bobot lebih besar dariku. Aku mampu mengangkatnya dengan mudah, aku tak peduli ia meringis kesakitan, aku terus mencekik dan menatap tajam ke arahnya, “Kau cerewet sekali ! Mengapa tidak kaukabulkan saja permintaanku ?!”
“Kau menyakitiku, kak ...” seru Maribeth dengan suara serak, wajahnya pucat dan membiru, mendadak saja kurasakan kepalaku pusing dan tubuhku lemas tak bertenaga. Buru-buru kulepaskan cekikanku, mataku terbelalak, “Astaga ... apa yang kulakukan ?” tanyaku seakan baru terbangun dari mimpi buruk, “Ma ... Maafkan aku, Maribeth,” aku jatuh terduduk dan kulihat Maribeth menggosok-gosok lehernya, ia menarik nafas lega dan menghampiriku, “Kak, kakak baik-baik saja ?” tanyanya memberanikan diri memegangku, padahal baru saja nasibnya bagai telur di ujung tanduk.
Mendadak perutku seperti diaduk-aduk, aku berlari ke kamar mandi, “Hoek !!” aku memuntahkan hampir seluruh isi perutku hingga membuat tubuh ini lemas, “Apa yang terjadi ?” tanyaku lemas. Maribeth menghampiriku, “Bagaimana perasaan kakak sekarang ?”
“Entahlah. Mendadak saja aku mendapati diriku sudah berada di toilet dan muntah-muntah,” jawabku lemah. Aroma busuk kembali menggelitik hidungku, kuraih masker untuk kemudian kukenakan. Yah, bau busuk itu masih tercium, tapi, tak separah tadi dan aku mulai bisa mengendalikan diri.
Maribeth membimbingku berdiri, “Michikko. Dia merasuk ke dalam tubuh kakak,” katanya.
“Aku mengerti. Tapi, aku tak sadar kapan dia masuk ke dalam tubuhku, tahu-tahu aku tak bisa mengendalikan emosiku. Kemana Miwako dan Cindy ?”
“Mereka berniat menemui Michikko di Cafe Tidar,”
“Cafe Tidar ? Maksudmu... Bangunan terbengkalai yang dulunya SMA Tidar I ?”
“Benar, kak.... dan saya memutuskan untuk tetap disini menjaga kakak,”
“Ini adalah hari keenam. Kau bisa lihat pergelangan kananku, bukan ?”
Maribeth mengangguk, “Bekas ikatan itu menjalar hingga ke betis paha kakak, itulah yang selalu menebarkan aroma busuk. Kemungkinan, itulah penyebab kakak kerasukan,”
“Jadi ... kau sudah tahu ?”
“Bukan hanya aku, Cindy dan Miwako mengetahuinya, kak.... Menurut pendapat Nona Miwako ... jika bekas ikatan itu sudah menjalar ke seluruh tubuh kakak, artinya, kakak sudah dikuasai oleh Michikko,” jelas Maribeth.
“Aku takkan membiarkan itu terjadi. Kita harus segera menemukan jasad Michikko. Aku yakin, jasadnya ada di dalam sumur itu,”
_____
Aku dan Maribeth berangkat menuju lokasi dimana dulunya SMA Tidar I berdiri. Aku melihat Cindy dan Nona Miwako tengah berdiri tak jauh dari tempatku terperosok kemarin. Selain mereka tampak beberapa orang pria tengah membersihkan tempat itu. “Apa yang kalian lakukan ?” tanyaku.
Miwako menatap ke arahku, “Seharusnya, kau tetap di rumah, Arimbi. Ini adalah urusan keluargaku, jadi, biarkan aku yang mengatasinya,”
“Tidak!” seruku, “Aku tak bisa tinggal diam. Dia telah mengacaukan hidupku dan nyaris membunuh Maribeth, maka, akulah yang harus menanganinya,”
“Apakah kau tahu cara menghadapi Michikko ?” tanya Miwako.
Aku terdiam. Memang, hingga saat ini aku belum tahu cara menghadapi Michikko. Tapi, karena peristiwa tadi dimana aku nyaris membunuh Maribeth, aku tidak bisa tinggal diam. Aku terdiam seribu bahasa, pada saat itulah Miwako kembali berbicara, “Kau tidak tahu, bukan ? Maka, serahkan masalah ini padaku,” Mendadak saja aku berteriak keras, “Pergi dari tempat itu !” sambil berkata demikian aku mengangkat tangan kananku. Pada saat itulah, terdengar bunyi ledakan keras, membuat pria yang sedang bekerja itu terpental sejauh satu meter. Semak belukar yang menutupi puing-puing bangunan seperti tercabut hingga ke akar-akarnya, lobang pada dinding bangunan hancur berantakan.
Miwako, Cindy dan Maribeth membelalakkan matanya.
“Astaga, dia kembali kerasukan !” seru Maribeth.
“Benar ! Michikko sudah merasukinya. Lihat, kaki kanannya berubah,” sahut Cindy sambil menunjuk kaki kanan Arimbi. Betis kanan Arimbi menghitam bersisik seperti kulit ular, warna hitam itu menjalar ke tangan kanan, hingga ke sekujur tubuh Arimbi. Melihat hal itu Miwako segera berdiri di tengah-tengah sambil berkata dalam bahasa Jepang dan diterjemahkan oleh Jen-Shen yang sudah sejak tadi hadir di tempat itu, “Akhirnya kau menampakkan dirimu Michikko. Takkan kubiarkan kau membuat ulah lagi,”
Wajah Arimbi berubah mengerikan, rambutnya yang semula disisir rapi mendadak awut-awutan dan menutupi sebagian wajahnya. Ia menyeringai mengerikan dan berkata, “Menyingkirlah, kau takkan bisa menghalangi rencanaku, kak,” suara Arimbi juga mendadak terdengar aneh terkadang menurun dan terkadang meninggi seperti suara pria. Dia bukan lagi Arimbi, seperti yang pertama kali dikenal oleh Miwako, Maribeth dan Cindy. “Kalian masuklah ke dalam sumur tersebut, jangan sampai dia masuk dan menghancurkan raganya. Kalau itu terjadi, Arimbi tidak bisa diselamatkan. Aku berusaha untuk menahannya,” sambil berkata demikian Miwako menggerakkan tangan kanan ke arah Cindy dan Maribeth dan memasukkan 2 wanita itu ke dalam dinding juga ke arah para pria yang duduk heran.
“Michikko, aku tahu penderitaan yang kaualami, tapi, jangan biarkan dendam meracuni jiwamu. Sebaiknya, kau keluarlah dari tubuh wanita itu. Jangan biarkan aku berbuat nekad,” ujar Miwako.
“Dimanapun aku berada, semua orang memusuhiku dan menganggapku aneh ? Mereka tak henti-hentinya menyakitiku bahkan melecehkanku. Mengapa ini semua terjadi padaku ? Hidup ini tidak adil, kak. Layakkah aku diperlakukan demikian oleh mereka ? Jangan salahkan aku kejam,”
“Bukankah kau memiliki teman baik ? Kalau tidak salah namanya Thalia. Hanya saja kau tak menghiraukannya. Tapi, kau menyelamatkannya saat tempat ini terbakar, bukan ? Sekali lagi jangan biarkan dendam meracuni kebaikan hatimu,”
“Harus kulakukan. Aku ingin hidup lagi dan merasakan bahwa di dunia ini masih ada kebahagiaan dan keadilan yang tersisa untukku. Menyingkirlah, kak !” sahut Michikko sambil menggerakkan tangannya ke arah Miwako. Mendadak saja tanaman merambat juga tanaman-tanaman liar lain yang berada di dekatnya seperti hidup. Perlahan-lahan bergerak naik ke udara cabang-cabangnya yang panjang meliuk-liuk di tengah udara untuk kemudian bergerak bersamaan ke arah Miwako. Wanita itu tampaknya sudah mempersiapkan diri, ia mengangkat kedua tangannya dan menghentikan gerak akar, serabut dan cabang-cabang tanaman tersebut. Wajah kedua wanita itu tampak menegang, membuat urat-urat nadi dan ototnya menonjol membentuk seperti guratan-guratan memanjang dan berliku-liku mirip cacing dan ular.
Menyadari serangannya tertahan Michikko memekik keras. Mendadak angin berhembus kencang, menerbangkan debu, kerikil, batu dan tanah juga puing-puing bangunan semuanya bergerak menuju ke arah Miwako. Miwako membelalakkan mata, “Astaga, kekuatanmu begini hebat. Tak heran kau berniat bangkit kembali dan merampas raga Arimbi. Dengan demikian baik aku ataupun ibu mungkin tak akan bisa menahanmu lagi. Tapi, aku takkan menyerah. Ibu bantu anakmu ini mengembalikan Michikko ke asalnya,” Miwako mencoba menenangkan diri, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia merasakan hawa dingin yang sejuk menerpa punggungnya, dan serangan Michikko yang nyaris menyesakkan dadanya perlahan-lahan hilang dan... tampak seperti tembok raksasa membentang diantara Miwako dan Michikko. Dan, “DDUUAARR...” ledakan keras terdengar memekakkan telinga dan 2 wanita itu sama-sama terdorong beberapa tindak ke belakang lalu jatuh terduduk.
“Celaka, kekuatannya di luar dugaanku, aku memerlukan bantuan,” kata Miwako dalam hati lalu, bibirnya komat-kamit dan tak lama kemudian, dari dalam tanah menyembul keluar 10 orang wanita berambut hitam panjang tergerai dan berpakaian seragam ala siswi Jepang berwarna coklat. Mereka kemudian berdiri mengelilingi tubuh Arimbi yang masih dikuasai oleh Michikko.
Kehadiran 10 sosok itu cukup mengejutkan Arimbi, tapi, mendadak ia tertawa mengerikan, ”Ha... ha... ha... ha... kakak masih juga menggunakan mereka sebagai bala bantuan. Percuma saja, aku sudah tahu cara mengatasinya,” setelah berkata demikian ia memekik keras, keras sekali membuat Miwako buru-buru menutup telinganya. Bukan hanya Miwako, tapi, juga kesepuluh sosok itu. Menyusul kemudian bunga-bunga api memercik dan mengenai kayu-kayu kering dalam waktu singkat api menyala dan membakar kesepuluh sosok itu.
Terdengar teriakan yang menyayat hati, tubuh 10 sosok itu terpanggang oleh bara api, teriakan-teriakan itu berakhir saat tubuh mereka ambruk ke tanah. Wajah Miwako memucat, “Tidak mungkin,”
Melihat perubahan air muka Miwako, Michikko tertawa, “Ha... ha... ha... ha... kini hanya kau dan aku, mari kita selesaikan saja semuanya setelah itu aku akan membakar wanita yang bernama Cindy dan Maribeth.
“Aku takkan membiarkanmu melakukan itu Michikko. Menurutmu kau sudah menang ? Belum. Aku berjanji pada ibu untuk membawamu kembali kepadanya, maka, harus kutepati janjiku itu,” sahut Miwako sambil berdiri tegak sepasang matanya menatap tajam ke arah Michikko, “Bagiku mudah saja aku membunuhmu, tapi, biar bagaimanapun juga kau adalah adik kandungku,”
_____
Di saat dua kakak beradik itu terlibat dalam pertempuran supernatural yang sengit, di dalam tampak Cindy dan Maribeth dibantu dengan 3 orang pria tengah mencari-cari sesuatu. Dua wanita itu tampak sedang putus asa, salah seorang dari 3 pria itu berjalan menghampiri mereka, “Sebenarnya, apa yang kita cari di tempat ini ?” tanyanya.
Cindy dan Maribeth saling pandang, baru saja hendak membuka bibirnya, seorang pria lain menyahut, “Kita mencari mayat. Kata gadis Jepang itu di dalam sumur ini ada jasad adiknya yang bernama Michikko. Mayat itu sudah ada disini beberapa puluh tahun yang lalu, kemungkinan sudah menjadi tengkorak,”
“Mayat ?” tanya pria pertama, “Yang benar saja, aku adalah seorang tukang kayu yang hanya bergelut dengan kayu dan sejenisnya, tidak pernah berurusan dengan mayat. Keluarkan aku dari sini,”
“Kau tenang saja. Ada Ki Prana. Jika ada apa-apa beliaulah yang bertanggung jawab,” ujar pria kedua sambil menunjuk ke arah pria ketiga yang mendadak muncul dari permukaan air.
“Bagaimana, Ki ? Apa Anda sudah menemukannya ?” tanya Cindy.
“Volume air terlalu besar, satu-satunya jalan adalah menguras sumur ini,” jawab orang itu, “Memang itu butuh waktu yang lama, tapi, aku yakin bisa menemukannya tanpa menguras air,”
“Bagaimana caranya, Ki ?” tanya Maribeth.
“Kurasa kalian tahu bahwa tempat ini menyimpan energi yang cukup besar. Tempat ini adalah sumber kekuatan wanita yang bernama Michikko itu,” ujar Ki Prana, “Maka dari itu aku akan menyatukan semua energi yang terkumpul di tempat ini dan energi itu cukup untuk menarik benda-benda yang berasal dari dunia gaib,” sambungnya.
Setelah berkata demikian Ki Prana menoleh ke arah 2 pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri, “Kalian dengarlah. Di tempat seperti ini kita harus tenang, ketakutan kalian bisa membuat kekuatannya makin bertambah dan nyawa Nona Miwako bisa terancam. Biarkan kukerjakan tugasku, memang butuh waktu cukup lama, tapi tidak, kalau kalian tenang dan bantulah aku,”
“Apa yang harus kami lakukan, Ki ?” tanya Maribeth yang tiba-tiba saja merasa tidak tenang.
“Kak Maribeth, tenangkan dirimu,” sahut Cindy, “Kita memang seperti sedang diawasi, tapi, tekanan yang menyesakkan dada ini berasal dari atas sana. Jelas disana telah terjadi pertempuran dahsyat. Berharap saja agar Nona Miwako selamat dan Arimbi bisa kembali seperti semula,”
“Benar-benar mengerikan. Seumur hidup baru pertama kalinya aku mengalami kejadian seperti ini,” ujar Maribeth sambil mengalihkan perhatiannya ke arah Ki Prana yang tengah memejamkan mata dan mengatur pernafasannya, tanpa sadar semua yang ada di tempat itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Ki Prana.
Semua orang mendengar banyak sekali suara-suara aneh di sela-sela suara-suara ledakan aneh yang berasal dari atas. Tapi, dalam waktu singkat, suasana aneh dan menyesakkan dada itu mendadak berubah yang mereka dengar hanyalah gemericik air yang berasal tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Suara gemericik air itu makin jelas terdengar, semua orang termasuk Cindy dan Maribeth membuka kelopak matanya dan hendak menatap ke arah asal suara itu, tapi, Ki Prana menyahut, “Kalau kalian mau melihat bunyi apa itu, boleh-boleh saja. Tapi, jangan sampai konsentrasi kalian buyar gara-gara melihat wujud sebenarnya. Itulah yang membuat Arimbi kerasukan,”
Semua orang menuruti perkataan Ki Prana, mereka melanjutkan meditasinya. Tapi, lama kelamaan suara itu semakin mengganggu, salah seorang pria membuka matanya dan seluruh permukaan air tengah ditutupi oleh rambut hitam, panjang. Matanya terbelalak lebar manakala, rambut itu perlahan-lahan melayang ke udara dan bergerak ke arahnya. Wajah pria itu memucat, begitu rambut itu sudah ada di dekat hidungnya, ia melihat sepasang sinar kemerahan keluar dari sela-sela rambut tersebut. Sepasang sinar kemerahan tersebut, semakin lama semakin jelas dan membentuk bola mata.
Bola mata itu lebih besar daripada bola mata manusia pada umumnya, biji matanya terbelalak lebar, urat-urat pembuluh darah dan syarafnya bagaikan sekawanan cacing merah bergerombol mengelilingi biji mata tersebut. Sekalipun tak ada tanda kehidupan di dalamnya yang kosong dan hampa, namun, itu membuat siapa saja yang memandangnya takut dan ngeri. Pria tersebut merasakan rahangnya kaku, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Jantung berdetak dua kali lebih cepat di atas normal, sekujur tubuhnya bergetar dan mengejang hebat. Sekian lamanya mengalami kejang-kejang, tubuhnya kemudian roboh dan tidak bergerak-gerak, sepasang matanya terbelalak lebar tapi, tak ada lagi tanda kehidupan di dalamnya.
Rambut yang mirip kepala tanpa tubuh tersebut melayang perlahan mengintari Ki Prana, Cindy, Maribeth dan yang lainnya. Mereka seakan tidak terpengaruh dengan apa yang telah terjadi. Terdengar bunyi kecipak air dan dari permukaan melompat keluar 10 sosok wanita berbaju merah hati, berambut hitam panjang tergerai, “Modotte Kite Ne !!!” terdengar seruan membahana, menggema seakan memenuhi tempat tersebut.
Baik Ki Prana, dan yang lain terkejut saat membuka matanya, 10 sosok tersebut telah berdiri mengelilingi mereka tapi, kepala mereka menengadah ke atas. Detik berikut, 10 sosok itu merangkak naik. Dalam waktu singkat mereka semua sudah berada di atas.
“Tampaknya pertarungan supernatural seru sedang berlangsung di atas. Kita harus membantu Nona Miwako,” ujar Cindy.
“Jangan,” sahut Ki Prana, “Fokuskan saja pencarian kita pada jasad Nona Michikko, semakin lama terendam di dalam air, kekuatannya akan terus berlibat ganda,” sambungnya.
Baru saja Ki Prana menutup mulutnya, mendadak Maribeth berseru, “Ki, Cindy, lihatlah benda yang mengapung di atas permukaan air di depan kita itu ?” Serentak orang-orang menatap ke arah yang ditunjuk oleh Maribeth.
Cindy berjalan menghampiri benda tersebut dan membelalakkan mata, “Ki ... sepertinya, ini adalah kerangka manusia,” katanya.
“Tampaknya apa yang kita cari sudah ditemukan,” ujar Ki Prana.
_____
Bersambung Jilid Ke-7