SINOPSIS:
Kisah ini adalah lanjutan dari Masker yang sudah dipublikasikan beberapa waktu lalu.
Kali ini Arimbi dan teman-temannya harus berhadapan dengan gadis misterius pemilik kekuatan supernatural, memaksa Arimbi untuk melepaskan Maskernya. Arimbi menghadapi dilema yang benar-benar sulit untuk mengambil sebuah keputusan. Di satu sisi Arimbi tidak ingin melihat kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi di masa lalu... Di lain sisi gadis bernama Michikko tersebut ternyata adalah saudara tirinya yang benar-benar memerlukan bantuannya. Padahal ia sama sekali tak mengenalnya karena sudah lama meninggal.
P R O L O G :
Sudah berulang kali kucoba memejamkan mata ini. Tapi, tidak berhasil, padahal rasa kantuk sudah menyerangku sejak pukul 19:30 tadi. Baru saja kudengar, jam dinding di kamarku berbunyi 12 kali, sudah lewat tengah malam, tapi, masih tidak bisa memejamkan mata. Aku gelisah.
Mendadak saja, aku sudah berada di tempat lain. Sebuah tempat yang asing, di kanan-kiriku berdiri pohon cemara, angin berhembus perlahan menggoyang dedaunan, menggesek ranting. Sayup-sayup telinga ini mendengar deburan bunyi ombak di kejauhan. Sebuah tempat asing yang sangat kuidam-idamkan seumur hidupku.
Akan tetapi, semuanya berubah dalam hitungan detik. Semua pohon cemara yang hijau mendadak mengering dan menghitam demikian pula rumput-rumput yang tumbuh di sekitarku. Semuanya mengering dan digantikan oleh rekahan tanah bagaikan terbakar panas di musim kemarau. Bunyi ombak itu tak kudengar lagi, ‘Hei, dimana ini ? Sejak kapan aku berada di tempat ini ?” tanyaku seorang diri. Aku berjalan menyusuri jalanan gersang dan tandus itu. Langkahku terhenti saat dihadapanku berdiri 2 buah pohon beringin yang bentuknya aneh lagi mengerikan. Akar-akarnya tumbuh tak beraturan, sebagian menyeruak di permukaan tanah, sebagian melingkar pada badan pohon dan menggantung di tengah udara. Lumut-lumut yang menutupi hampir semua badan pohon, menebarkan aroma aneh saat angin dingin berhembus perlahan. Yah, pohon beringin itu mungkin sudah tumbuh disana sebelum aku lahir.
Di ujung sana, sebuah rumah Belanda yang usianya pun sudah tua sekali dan tak terawat. Mataku menyapu ke sekeliling, mendadak saja bulu kuduk ini berdiri, manakala angin dingin kembali berhembus dan tatapanku terhenti pada sesosok tubuh seorang gadis remaja berdiri di depan pintu gerbang rumah tersebut. Usia gadis itu 18 tahun setara denganku, dia menggendong sebuah boneka, kulitnya kuning tapi pucat, rambutnya hitam-panjang lagi kusut dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk. Sesekali kepalanya menyentak ke kiri, tapak tangan kanannya bergetar hebat.
Ia berbaju ungu, berlengan panjang dengan bawahan sebatas lutut.
Aku juga penggemar boneka, tapi,sekalipun boneka wanita berambut pirang dan dikepang dua yang berada dalam pelukan gadis itu sekilas terlihat lucu, tapi, tak ingin aku memilikinya ... boneka itu bagiku terlihat cukup mengerikan aku merasa ada sebuah kekuatan mistis tak kasat mata tersimpan di dalamnya. Mendadak gadis itu menengadah, aku bisa melihat dari sela-sela rambutnya yang tergerai panjang itu seakan bercahaya. Ia mengangkat telunjuk kanannya ke arah masker yang senantiasa menutupi hidung dan mulutku ini, “LEPAS, MASKER ITU DAN LIHATLAH APA YANG TERJADI,” pintanya dengan suara berat. Aku heran, kugelengkan kepalaku. Aku menolak permintaannya, karena tahu, apabila kulepas masker penutup hidung dan mulutku ini ... aku akan tersiksa.
Karena permintaannya kutolak, mendadak saja ia menggeram. Mendadak saja jari-jemarinya bergerak hendak menyambar maskerku ini. Aku mengelak, berlari menjauh, gadis itu mengejarku. Tapi, sepertinya akar-akar yang tumbuh tak beraturan itu menghalangi langkah-langkahku hingga akhirnya kakiku tersangkut dan tubuhku jatuh terbanting. Teriakan mengerikan semakin lama semakin dekat, gadis itu sudah berada tepat di wajahku. Dapat kulihat seberkas cahaya liar dan mengerikan terpancar dari matanya. Teriakannya parau, membuatku harus menutupi kedua telingaku. “Tidak !! jangan, takkan kubiarkan kau melepas maskerku ini. Jangan !!” teriakku sambil menahan agar masker yang menutupi wajahku tidak terlepas. Tapi, masker terlepas. Saat masker ini terlepas, aku menutup mataku rapat-rapat, tak ingin melihat, apa yang seharusnya tetap terkubur oleh jaman.
"Pergi !" sambil menjerit keras aku mendorong tubuhnya yang menindihku. Ia terdorong beberapa langkah ke belakang, menyeringai mengerikan. Mataku terbelalak lebar manakala di belakang wanita itu berdiri sosok lain. Sosok wanita tua bongkok, berbaju hitam, berambut kelabu. Ia tertawa terkekeh-kekeh dengan suara seperti tercekik berkata, "Kalian adalah orang-orang istimewa, pantas sekali menyandang gelar cucu Raden Mas Djojo Diningrat. Tapi, aku ingin tahu, apa yang akan Sentono lakukan manakala melihat kalian saling bermusuhan, bertarung dan membunuh.... he...he...he...he...," sambil berkata demikian ia membanting kayu berukiran sisik ular yang digunakan sebagai penopang tubuhnya ke tanah. Dan, saat itulah dari dalam tanah keluar hewan-hewan melata : ular, kalajengking, kelabang, cacing, belatung dan lain-lainnya, merayap ke arahku. Aku benar-benar jijik dengan binatang-binatang semacam itu terlebih saat menyentuh permukaan kulitku. Belum lagi wanita yang memaksaku untuk melepaskan masker ini.
Aku takut, berontak, berteriak sekeras mungkin manakala hewan-hewan melata itu mulai menyentuh kulitku. Dan....
_____