flash back
Daud&Raya (first time they meet each other)
Anak lelaki itu menatap perban yang melingkari kaki nyaris menutupi betis hingga lutut. Ia menyesal tidak mendengarkan perintah orang tuanya dan memilih untuk pergi bersama teman-temannya. Kalau saja temannya tidak mengajaknya berkuda, kalau ia mau mendengarkan perintah mamanya, kalau saja ia tidak melawan, maka dia hari ini pasti sedang bersenang-senang menunggu penerbangan di bandara, melakukan petualangan bersama-sama dan melewati liburan dengan summer camp bersama teman-temannya ke negara Paman Sam.
Ia menggerutu kesal karena mempertahankan sikap keras kepalanya. Maklum, di umur tanggung antara anak-anak menuju remaja, ia memiliki hormon tidak stabil. Pergolakan dari emosi membuatnya merasa paling benar dan paling tahu. Ditambah betapa ia nyaris mendapatkan apa pun permintaannya, pantaslah… ia tidak bisa dibantah oleh siapa pun, termasuk kedua orangtuanya. Maka… beberapa waktu kemarin, ia tetap pergi meski mamanya melarang. Akibatnya, ia kemudian terjatuh ketika sedang berkuda. Kakinya patah bahkan ia harus istirahat penuh lalu membatalkan banyak rencana liburan sekaligus summer camp bersama
teman-temannya.
Pikirannya sibuk begitu mengingat perubahan sikap kakeknya. Kenapa beberapa hari sejak kecelakaannya, Kakek bersikap tidak biasa? Padahal ia biasanya mendapat banyak kasih sayang dari kakeknya. Mulai dari pelukan, kecupan di kepala, elusan penuh kasih, tapi sejak ia mengalami kecelakaan, kakeknya bahkan tidak sudi untuk menatapnya. Ia bertanya-tanya apa kesalahannya? Apa karena ia tidak mau mendengarkan mamanya dan mengakibatkan pembatalan summer camp?
Ia tahu betapa acara itu memiliki popularitas serta tingkat gengsi yang tinggi karena para orang tua berlomba-lomba mendapatkan tiket untuk membuat anak-anak mereka masuk ke sana. Itu merupakan camp untuk keturunan keluarga kaya raya. Dari seluruh belahan bumi, para keturunan orang penting, penerus dari kerajaan, anak-anak pejabat yang paling berpengaruh dari yang berpengaruh, bangsawan eropa, mereka berkumpul di sekolah musim panas itu. Tahun ini ia wajib mengikutinya mengingat ia baru lulus sekolah dasar dan akan masuk ke JHS--Junior High School. Sudah waktunya untuk berteman dan mengenal kelompok elite dari negara lain.
Tapi apa bisa kakeknya merasa begitu marah dan sebegitu cepat berubah sikap hanya karena kesalahan kecil. Benar… kesalahannya kecil, kan? Ia bisa hadir di summer camp tahun berikutnya. Kakeknya bahkan bisa mendapatkan kapan pun tiket itu tanpa harus antri, mengingat keluarga besarnya merupakan anggota inti dari grup elite di camp itu. Lalu… masalahnya di mana?
Anak itu bergerak ketika mendengar langkah kaki terburu-buru. Ia melirik jam digital di meja, ini waktunya makan siang. Siapa tamu yang datang di jam segini? Apa mama beserta papanya sudah pulang? Untuk makan siang? Masa?! Bahkan mereka tidak begitu sering makan di rumah. Lalu kenapa tiba-tiba mereka pulang di jam ini?
Ia mulai memasang kewaspadaan. Langkah-langkah itu banyak, beberapa… bahkan banyak yang berlari di koridor. Apa itu para pengawal? Apa kakeknya pulang? Mengingat tadi pagi kakeknya pergi, tingkahnya kelewat aneh. Tidak biasanya ia terburu-buru sepagi itu. Semisalnya memiliki urusan penting biasanya orang yang akan mencari ke rumah. Ini malah Ibrahim justru setengah berlari-- kesulitan melangkah terburu-buru pergi dari rumah.
Dia berpikir bahwa alien menyerang dunia. Di belahan bumi mana alien mendarat? Apa negara ini ikut terdampak dari kedatangan mereka? Kalau masalah itu tidak kelewat berat, maka kakeknya tidak akan sesibuk itu. Lalu… apa yang membuat kakeknya sibuk sesibuk ini?
“Pak Haaaan!” pekiknya ketika ia memaksa melangkah, menyadarkan bagian tubuhnya ke sebuah tongkat, bertumpu lalu mulai mengangkat kaki. Ia melihat bayangan seorang laki-laki.
Aneh!
Kenapa Pak Han, asisten kakeknya, orang kepercayaan Ibrahim masuk ke kamar di sebelah? Dari celah pintu kamar, terlihat lelaki itu mondar-mandir ke kamar di sebelahnya.
“Pak Haaan!”
Lelaki itu menghentikan langkah, kemudian menatap kaget. “Tuan, kenapa bangun? Kata Tuan Ibrahim, anda masih harus berbaring. Kenapa malah ke luar kamar?” tanya Pak Han kemudian menolongnya memapah, keluar kamar.
Ia menumpukan tubuh ke lengan lelaki itu. Perlahan ia melangkah, menuju ke balkon, mengintip keramaian di lantai bawah. Ia menengok ke kamar sebelah, tepat satu kamar samping kamar miliknya, beberapa pengurus beserta asisten rumah tangga melakukan bersih-bersih. Itu merupakan tempat bermainnya. Biasanya ia beserta teman-temannya menggunakan kamar itu untuk melakukan permainan dalam ruangan. Mulai dari bermain game di komputer, console game, mini indoor golf, hingga koleksi lego-lego raksasa dipasang di kamar itu.
Ke mana mereka memindahkan koleksinya? Barang-barangnya? Kenapa dalam waktu begitu cepat, kamar itu berubah penuh pernak-pernik berwana merah muda. Demi Tuhan! Itu adalah wonderland miliknya. Itu area miliknya. Kenapa mereka berani mengubah sebelum mendapatkan persetujuannya?
Apa kakek menyuruh mereka? Apa mereka gila? Atau kakeknya yang gila?
“Pak Haaaan?!” pekiknya ketika ia menemukan macam-macam boneka dibawa masuk. “Apa Pak Han minta dipecat? Kenapa kalian berani menyingkirkan mainan saya?”
Lelaki tua itu tersenyum masam kemudian menghela napas. “Kakek menyuruh untuk merenovasi kamar itu,” ucapnya.
“Tapi kenapa?”
“Karena….” terbata Pak Han sulit menceritakan apa yang sebenarnya mereka hadapi.
Bocah itu berpikir cepat. Apa mungkin ia akan memiliki adik baru? Apa ibunya tengah hamil? Tapi rasanya, tidak mungkin kan? Kalau pun hamil, mamanya mungkin baru mengandung dibulan awal karena belum nampak tanda kehamilan. Perutnya pun tetap datar. Maka tidak buru-buru begini mempersiapkan kamar untuk adik barunya. Bahkan mereka tidak perlu sekurang ajar itu membuang mainannya. Kamar itu berubah dari wonderland menjadi negeri dongeng fairy tale!
Pandangannya menatap para pengawal. Mereka telah baris di depan pintu. Tepat waktu benda itu di buka, kakeknya masuk. Ia bersiap untuk memekik… ingin protes kepada Ibrahim, ketika ia menyadari kalau kakeknya… masuk bersama gadis kecil.
Itu kalau betul perempuan itu manusia asli. Mengingat… penampilannya kelewat kumal, rambut bagai ijuk… bahkan mungkin ujung sapu di rumahnya lebih rapi dari rambut anak itu yang semrawut. Dia siapa?
Kalau memang bumi didatangi alien-- kalau memang benar ada alien ntahlah. Apa perempuan itu anak alien yang harus dibawa ke rumah ini? Apa dia harus tinggal di bumi? Apa mereka harus tinggal dan hidup bersama? Apa kamar yang berada di sampingnya kamar untuk anak itu?
Demi Tuhan… kalau ini hukuman karena ia tidak mau mendengarkan perintah orang tuanya, ia mau berjanjia agar di lain kali ia menuruti apa pun permintaa mama, papa, atau kakeknya. Ia pun berani janji agar menjadi murid yan baik. Meskipun memang pintar namun ia sering membuat masalah. Ia siap berjanji untuk lebik baik di Junior school nanti.
Ia rela berjanji apa saja asalkan gadis-- alien itu tidak tinggal di sini!
note* ini cuma cerita selingan mengenai flash back pertama Raya&Daud bertemu (seperti cerita behind the scene),
ini bagian cerita untuk sekadar promo kalau novel lengkap bisa di cari bagian novel His Virgin Ex Wife
nuwun utk yg brkenan mampir baca