[Horor] SANDEKALA
AUTHOR : Keanu
" Satu, dua, tiga...dua puluh lima, " suara bocil bernama Cempaka menghitung angka satu hingga dua puluh lima, saat ia berhitung wajah nya menelungkup di batang pohon manggis. Ia dan lima teman nya yang lain sedang bermain petak umpet di sebuah lahan kosong yang di tumbuhi berbagai macam pohon rimbun.
Tempat tersebut di jadikan arena bermain anak-anak Desa Lewiawi. Desa yang terpencil dan tertinggal di tahun 90-an. Usai berhitung, Cempaka mulai mendongakan wajah. Tubuh mungil nya berbalik, ia menengok kanan dan kiri dengan langkah pelan dan mata nya waspada. Lima teman nya yang lain tengah bersembunyi. Kemungkinan mereka sembunyi di balik semak-semak yang memenuhi pinggiran lahan tersebut.
Cempaka langsung melihat ke belakang saat mendengar suara langkah kaki yang tengah berlari. Terdengar suara ranting dan dedaunan kering terinjak oleh seseorang di balik semak belukar. Ia mendekat perlahan, lalu menyingkap dedaunan yang menghalangi pandangan nya. Cempaka menelisik semak tersebut, mata nya mencari sosok yang ia kira sahabat nya yang sedang berlari tadi dan terdengar berhenti tepat dimana diri nya berdiri saat ini.
Sayang sekali tak ada siapa pun di sana, tiba-tiba seseorang menepuk pundak nya membuat Cempaka terloncat kaget.
" Ngapain masih di sini, Cempaka? Teman-teman mu udah pada pulang. Ini udah mau surup, gak baik main di luar. Takut Sandekala, yuk pulang, " rupa nya Bu Ningsih Ibu dari Cempaka yang menepuk pundak anak itu.
Bersamaan dengan perkataan Ningsih, gerombolan burung hitam terbang ke arah utara. Anak dan Ibu itu pun mendongak ke atas, langit hampir gelap, hari akan beranjak petang. Ningsih segera menarik lengan Cempaka, membawa nya pulang.
Usai mandi Cempaka menghampiri Ningsih yang saat itu sedang menyiapkan makan malam mereka. Ia duduk dengan tangan bersedekap di meja, mata nya melihat satu persatu menu makan malam. Seperti biasa hanya ada nasi dan kerupuk bundar berwarna putih sebagai lauk nya.
Bukan hanya menu makan nya yang ia keluhkan saat ini, tapi juga teman-teman nya yang tadi bermain bersama nya. Mereka meninggalkan Cempaka sendirian di lahan kosong, bukan bersembunyi melainkan mereka dengan sengaja pulang ke rumah masing-masing.
Hal itu kerap kali mereka lakukan, Cempaka menjadi bahan candaan teman-teman nya. Meski begitu Cempaka tetap saja ingin bermain dengan mereka karena tak ada lagi yang mau berteman dengan nya. Kata para tetangga, Cempaka tidak punya Ayah bahkan ada yang tak segan mengatakan diri nya anak haram. Itulah sebab nya anak-anak di desa ini selalu membully dan menjadikan nya bahan candaan.
" Ayo makan, malah bengong. " Ningsih menyendokan nasi ke dalam piring putri nya.
" Lain kali kalau udah sore tuh cepet balik. Pamali anak gadis masih keluyuran jam segitu, takut Sandekala, " ucap Ningsih.
Cempaka memasukan nasi ke dalam mulut nya, ia merasa heran dengan kata Sandekala yang sering di ucapkan oleh Ibu nya itu. Hampir setiap hari jika ia pulang sore, pasti ia mendengar kosakata asing itu yang keluar dari mulut Ningsih.
" Sandekala itu apa sih, Bu ? " tanya Cempaka penasaran, mulut nya sibuk mengunyah. Ia menunggu jawaban dari Ningsih sambil terus makan nasi dengan kerupuk.
" Sandekala itu pergantian hari dari sore ke malam hari, saat itu bertepatan dengan keluarnya hantu-hantu atau makhluk halus. Jadi sebaiknya kamu segera pulang sebelum saat itu tiba, " jelas Ningsih.
" Hantu? " seketika Cempaka teringat kejadian di semak belukar tadi, ia mendengar seseorang berlari di balik sana.
" Iya, hantu. Hantu sandekala itu biasanya genderewo sama wewe gombel, " kata Ningsih seraya memberi ekspresi seram dengan melebarkan bola mata.
" Si Genderewo ini bertubuh besar seperti raksasa, tubuh nya berbulu lebat dengan bola mata sebesar bola ping-pong. Nah kalau wewe gombel hantu perempuan yang punya dada besar, wajah nya seram, berkuku runcing, dia paling suka sama anak-anak kayak kamu ini. Wewe gombel suka nyulik anak yang suka main di saat sandekala, dia akan menyembunyikan anak itu di balik dada besar nya, " ucap Ningsih dengan ekspresi menakut-nakuti Cempaka.
Semua itu ia lakukan agar Cempaka tidak mengulang perbuatan nya yang suka pulang di waktu surup. Anak seumur Cempaka pasti akan percaya dengan dongeng menakutkan itu, bukti nya saat ini wajah Cempaka terlihat tegang mendengar cerita dari Ningsih.
***
" Cempaka, kita main petak umpet lagi yok ! " ajak Wiwid salah satu dari kelima teman nya.
" Ogah, kemarin juga kalian malah pulang ninggalin aku sendirian, " tolak Cempaka yang saat ini sibuk bermain rumah-rumahan dari tanah masih di lahan kosong tempat biasa mereka bermain.
Wiwid melirik ke arah yang lain, kode mata mereka menyaratkan sebuah rencana licik untuk Cempaka.
" Kali ini aku yang jaga, kamu dan yang lain sembunyi. " Wiwid bersikeras membujuk, akhir nya Cempaka pun mengiyakan karena mereka mengancam tak akan lagi mengajaknya bermain jika kali ini ia menolak main petak umpet bersama mereka.
Kali ini Wiwid yang jaga, ia menelungkupkan wajah nya di pohon manggis dan mulai berhitung. Cempaka dan ke empat teman nya yang lain segera berlari untuk bersembunyi.
Dua teman Cempaka sembunyi di dekat semak, dua yang lain nya sembunyi di balik tembok bekas benteng rumah yang kosong. Sementara Cempaka bersembunyi sendiri di bawah pohon karet yang besar. Ia yakin Wiwid tak akan bisa menemukan nya di sana, secara batang pohon karet itu besar belum lagi ranting nya banyak menjuntai ke bawah. Cempaka yang bertubuh mungil merasa tempat itu adalah pilihan yang tepat untuk nya bersembunyi.
Entah kenapa saat itu, Cempaka merasa kantuk. Beberapa kali ia menguap. Cempaka menggosok mata nya yang mulai makin berat, suara Wiwid masih terdengar sayup di telinga nya. Kedengaran nya dua teman yang lain sudah ia temukan dari tempat sembunyi. Setelah itu Cempaka tak tau lagi, ia ketiduran hingga waktu pergantian siang ke malam tiba ia baru bangun.
Cempaka bangun, ia menepuk-nepuk rok nya yang kotor karena duduk di bawah pohon. Mata nya celingukan mencari Wiwid dan yang lain. Keadaan sudah hampir gelap dan sunyi. Ia berjalan perlahan keluar dari tempat persembunyian nya. Pikiran Cempaka sudah kemana-mana, ia teringat Ibu nya yang pasti akan marah karena lagi-lagi dia terlambat pulang. Aneh nya, Ningsih tak kunjung datang menjemput seperti biasa nya.
Langkah Cempaka terhenti saat mendengar suara cekikikan dari atas pohon. Tubuh mungil gadis itu bergetar hebat, nafas nya memburu, melihat sosok mengerikan yang berada di atas pohon dan kini mulai turun tepat di hadapan nya.
Sosok Wewe gombel yang kini menyeringai ke arah Cempaka. Dari ciri-ciri fisik hantu wanita itu Cempaka yakin sosok itu adalah wewe gombel, sesuai dengan yang di katakan Ningsih Ibu nya. Ingin sekali Cempaka berlari namun rasa nya kaki gadis itu terasa terpaku di tempat.
Jemari panjang dengan kuku runcing melengkung menjulur ke arah nya, dengan mudah nya wewe gombel itu mencengkram tubuh mungil Cempaka.
" Tidaaaakkk...toloooong lepaskaan aku..., " teriak Cempaka histeris.
Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh gadis kecil itu. Ia di angkat oleh jemari wewe gombel dan di masukan ke balik bagian dada nya yang besar. Seketika semua gelap dan pengap, Cempaka pun tak sadarkan diri di bawah kukungan wewe gombel itu.