Di desa tempat tinggal Siti sedang kesulitan air. Maklumlah sekarang sedang musim kemarau dan hujan sudah lama tidak turun. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga desa harus mengambil air di sebuah tangki air yang terletak di ujung desa. Namun untuk mengambil air itu warga harus mengantri sejak subuh karena air PAM mengalir pada dini hari.
Siti yang sering datang terlambat, beberapa kali tidak kebagian air dan dimarahi oleh ibunya. Karena sudah gerah dengan omelan ibunya, akhirnya malam ini Siti tidur lebih awal agar bisa bangun lebih pagi untuk mengambil air.
Ketika Siti terjaga, dia langsung mengambil dua buah jerigen untuk mengisi air. Kemudian dia keluar rumah dan berjalan menuju tangki air melewati kebun-kebun pisang dan nangka milik tetangganya.
Keadaan jalan yang gelap sama sekali tidak menyurutkan langkah gadis yang baru tamat SMP itu. Baginya omelan ibunya lebih menakutkan daripada apapun.
Ketika sampai di tangki air, bangunan itu tampak gelap. Satu-satunya penerangan di sana hanyalah sebuah lampu neon 5 watt yang tergantung di sebuah tiang besi yang berkedip-kedip seolah sedang sekarat.
Siti segera menuju keran yang berderet dan menaruh jerigennya. Tempat itu agak gelap karena cahaya neon tidak sampai ke sana. Siti memutar keran namun anehnya air tidak keluar.
"Kok airnya tidak keluar? "
Siti berdiri dengan gusar. Beberapa kali dia menepuk-nepuk lengannya karena digigiti nyamuk.
Wuush.
Angin bertiup agak kencang membuat ranting-ranting pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang. Hawa dingin membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Hu..hu..hu..
Suara burung hantu terdengar di pucuk pohon rambutan yang tumbuh di samping tangki air.
"Kok aku jadi merinding begini sih? " Gadis itu memandangi keadaan di sekitarnya dengan gelisah.
Rasa takut tiba-tiba menghinggapinya ketika menyadari bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang berada di tempat itu. Biasanya ketika dia kemari, sudah ada banyak orang yang mengantri.
Tes..tes..
Siti merasa ada tetesan air yang membasahi tubuhnya. Gadis itu menengadahkan tangan.
Tes.
Setetes air jatuh di telapak tangannya.
"Gerimis? " Gadis itu heran. Hujan tidak turun di desanya sudah lebih dari tiga bulan. Dan sekarang tiba-tiba gerimis?
Tes..tes..
Tetesan air yang jatuh membasahinya semakin deras. Tanpa sadar kedua tangannya menutupi kepala agar rambutnya tidak basah.
Siti kemudian memandang ke arah jalanan di depan sana. Jalanan aspal itu terlihat kering dan berdebu.
"Aneh." Pikirnya.
Untuk memastikan di luar tidak gerimis, Siti turun ke jalan. Di atas sana langit tampak cerah dipenuhi gugusan bintang. Tangan Siti menengadah ke atas. Setelah menunggu beberapa waktu, tidak ada setetes air pun yang membasahinya.
"Aneh." Batin gadis itu lagi.
Siti kemudian berjalan kembali ke deretan keran air. Dengan tidak sabar dia memutar-mutar keran namun air tak kunjung keluar.
"Hihihihi."
Sebuah suara tawa wanita terdengar samar-samar seperti bisikan, membuat jantung Siti berdegup kencang.
"Siapa sih yang tertawa? " Siti mengusap tengkuknya yang meremang.
"Hihihihi."
Suara tawa yang terdengar konstan itu masih terdengar. Kali ini suaranya bertambah kencang membuat jantung gadis itu serasa mau melompat keluar.
Rasa-rasanya dia ingin sekali berlari menjauh dari tempat itu. Namun Siti tidak beranjak karena mengingat tujuan utamanya, mengambil air.
"Bismillah."
Mulut Siti mulai komat-kamit membaca doa yang diingatnya. Berbagai doa yang dihapalnya seakan menguap karena didera rasa takut.
"Hihihihi."
Entah kenapa suara tawa itu seakan mengejek Siti yang membaca doa asal-asalan.
Tes..tes..
Air kembali menetes-netes membasahi Siti. Kali ini gadis itu tidak lagi berpikir bahwa tetesan itu berasal dari gerimis. Lagipula, bukankah di atas sana ada atap yang menaungi?
Dalam sekejap kesadarannya itu membuat tubuhnya menggigil ketakutan. Dengan menguatkan hatinya dia melihat ke atas.
"... " Kosong.
Tidak ada apa-apa di atas sana. Hanya ada balok-balok kayu yang dipaku menyilang untuk menopang genteng.
Deg.. deg.. deg..
Suara detak jantungnya terdengar riuh. Mata gadis itu dengan curiga memindai sekitar tempat itu.
Wuush.
Sekelebat bayangan putih terbang dari atap ke atas pohon rambutan. Dahan-dahan pohon itu bergerak-gerak tak wajar, seolah ada seseorang yang sengaja menggoyang-goyangkannya.
Srek.. srek..
Beberapa lembar daun dari pohon itu rontok dan jatuh ke atas tanah.
Tanpa sadar Siti menempelkan punggungnya ke tembok yang terasa dingin. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pori-porinya dan membasahi kaos oblong bergambar Hello Kitty yang dikenakannya.
Matanya terus saja mengawasi pucuk pohon rambutan. Siti merasa melihat sesuatu yang bergerak-gerak di sana.
"Hihihihi."
Suara tawa mengerikan itu kembali terdengar.
Siti meneguk ludah dengan susah payah ketika melihat sesuatu merayap turun seperti cicak. Posisi kepala makhluk itu di bawah. Rambut panjangnya terurai menutupi kepalanya. Saking panjangnya, rambutnya sampai menyentuh tanah.
Tubuh Siti serasa membeku dan darahnya berdesir. Napasnya tercekat dan bibirnya terkunci. Dia memang belum pernah melihat makhluk seperti itu tapi dia bisa menduga makhluk apa itu.
Makhluk itu sudah mencapai tanah, kini dia mulai berdiri dengan gerakan patah-patah. Dengan ganjil, makhluk yang seluruh wajahnya ditutupi rambut itu melangkah tertatih-tatih mendekati Siti.
Siti terbelalak melihat makhluk itu semakin dekat. Aroma amis bercampur busuk menyeruak, mengaduk-aduk perut Siti.
Dengan menahan mual, Siti berdoa sebisanya. Dalam hati dia meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Perlahan-lahan kakinya mulai bisa digerakkan. Sekuat tenaga Siti berusaha menyeret tubuhnya menjauh dari tempat itu.
Wuush.
Suara kepakan kain seperti layar perahu yang ditiup angin terdengar di belakangnya. Siti berlari sekencang-kencangnya mencoba menghindari kejaran makhluk itu.
Dari sudut matanya, Siti melihat bayangan putih terbang seperti potongan kain yang tertiup angin.
Beberapa kali Siti hampir terjungkal karena tersandung batu dan akar pohon.
Setelah cukup lama berlari, Siti mulai menyadari kalau kini dirinya tidak lagi berada di jalan menuju rumahnya. Entah kenapa sekarang dia malah berada di tempat yang banyak ditumbuhi pohon kamboja.
Glek.
Siti menelan ludah begitu melihat batu-batu nisan yang berderet. Kuburan. Siti bingung bagaimana dia bisa berada di area itu. Bukannya tadi dia berlari ke arah barat? Sedangkan kuburan ini berada sekitar 100 meter ke timur dari tangki air.
Tiupan angin membuat daun-daun pohon kamboja saling bergesekan dan menimbulkan bunyi gemerisik. Untuk sesaat Siti bingung untuk menentukan arah.
Kemudian Siti mengenali pohon beringin yang tumbuh di tengah-tengah area itu. Seingatnya, jika berjalan terus ke arah kanan pohon itu maka dia akan sampai di gapura kuburan.
Dengan hati-hati Siti melangkah agar tidak menginjak gundukan tanah kuburan yang tersebar di sekitarnya. Dengan mengandalkan instingnya, dia akhirnya menemukan gapura putih itu.
"Alhamdulillah."
Siti mengucap syukur karena menemukan pintu keluar.
Saat dia melangkah melewati gapura, harum melati memenuhi udara. Bulu kuduk Siti kembali meremang.
"Siti."
Tiba-tiba Siti dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggilnya. Jantung Siti seolah berhenti seketika saking kagetnya.
Dengan berat hati Siti menoleh ke arah sumber suara. Di pinggir jalan ada seorang wanita berdiri menatapnya. Dia merasa pernah melihat wanita itu.
"Siapa? " Tanya Siti ragu-ragu.
Wanita itu mendekat. Sorot lampu yang menempel di atas gapura menerangi wajah wanita itu.
"Mbak Dewi? " Siti hampir melonjak gembira begitu mengenali wanita itu. Dia adalah tetangganya yang bekerja di kota.
Wanita itu tersenyum tetapi raut wajahnya terlihat sedih.
"Mbak Dewi baru pulang? " Siti melihat wanita itu mengangguk.
"Kok Mbak Dewi sendirian? Memangnya tidak ada yang menjemput? " Setahu Siti, Mbak Dewi selalu dijemput oleh Hilman, adik lelakinya yang kebetulan adalah teman sekelas Siti sejak SD.
Mbak Dewi menggeleng pelan. Mereka kini berjalan meninggalkan area kuburan. Bangunan tangki air tempat Siti mengambil air kini mulai terlihat puncaknya.
"Untung aku ketemu Mbak Dewi jadi ada yang menemani. Tadi aku ketakutan lho, Mbak. " Siti menceritakan pengalaman seramnya tadi.
"Kasihan kamu, Siti. Mbak akan menemani kamu, pasti tidak ada yang berani menggangu lagi. "
"Iya Mbak, aku sampai ngos-ngosan gini. "
"Kalau kamu mau, mbak akan menemani kamu setiap malam untuk mengambil air. "
"Wah, beneran? Ya pasti aku mau dong! " Siti merasa senang.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan bangunan tangki air. Siti kemudian memeriksa apakah airnya sudah menyala atau belum.
Sooor!
Air mengalir dengan deras. Dengan perasaan lega Siti segera mengisi kedua jerigennya sampai penuh.
"Sudah? " Tanya Mbak Dewi.
"Sudah Mbak." Siti menenteng jerigen-jerigennya dengan kedua tangannya.
Mereka berjalan pulang sambil mengobrol sampai Siti melupakan kejadian menyeramkan yang dialaminya.
Di depan sana ada seseorang yang berjalan mendekat. Siti mengenali orang itu. Dia adalah Pak Hamid, orang yang biasa mengimami sholat di mushola.
"Wah, tumben kamu jam segini sudah mengambil air? "
"Iya Pak Hamid, soalnya kemarin tidak kebagian air." Ucap Siti sambil tersenyum malu.
"Makanya kalau tidur jangan kemalaman. Eh, tapi memangnya kamu pergi mengambil air jam berapa? Tidak takut memangnya malam-malam ke sana sendirian? "
"Takut sih. Tapi tadi ketemu Mbak Dewi di jalan, jadi sekarang sudah nggak takut lagi. Iya kan, Mbak? " Siti menoleh ke arah Mbak Dewi.
"Kamu sebaiknya segera pulang, jangan mampir-mampir! " Pak Hamid memandang tajam ke arah Siti.
"Iya, Pak. Lagipula ada Mbak Dewi yang menemani. Kan rumah kita searah. "
"Kalau begitu saya antar saja. Takutnya nanti kalau kamu keluyuran, ibumu bisa susah. "
"Diih, Pak Hamid ini nggak percayaan amat! " Gerutu Siti.
Gadis itu kemudian berjalan sambil asik mengobrol dengan Mbak Dewi, sementara Pak Hamid mengikuti di belakang.
"Sudah sampai, Pak. Terima kasih sudah mengantar. " Kata Siti ketika mereka sampai di depan rumahnya.
"Iya. Cepat masuk sana! "
"Mbak Dewi mau mampir? " Tanya Siti pada Mbak Dewi.
"Jangan! " Bentak Pak Hamid. Siti terlonjak kaget, sedang Mbak Dewi terlihat cemberut tidak suka.
"Loh, kenapa nggak boleh Pak? " Tanya Siti.
"Ini masih malam. Nggak usah ngajak-ngajak mampir segala! Mbak Dewi biar pulang kemudian tempatnya sendiri. " Suara Pak Hamid sangat tegas sehingga Siti tidak berani membantah.
"Ya sudah. Maaf ya Mbak Dewi, saya nggak jadi nawarin mampir." Siti memandang Mbak Dewi dengan menyesal, khawatir kalau wanita itu tersinggung. Mbak Dewi hanya mengangguk pasrah.
"Sudah, cepat sana masuk! " Perintah Pak Hamid.
Siti cepat-cepat masuk ke rumahnya. Namun saat sedang menutup pintu dia sempat mendengar Pak Hamid berbicara pada Mbak Dewi.
"Kamu jangan pernah menemui Siti lagi. Kamu juga tidak boleh menemui warga yang lain! " Pak Hamid terdengar mengancam.
"Apa-apaan sih, Pak Hamid itu? Seenaknya saja melarang orang berteman! " Gerutu Siti yang merasa kesal.
Baru saja Siti selesai mengunci pintu, tiba-tiba saat dia berbalik di depannya telah berdiri sosok yang ditakutinya sedang menatapnya garang.
"Ibu? "
"Darimana kamu? "
"Habis mengambil air. " Siti menunjuk kedua jerigen yang berada di lantai.
"Mengambil air? Memangnya kamu berangkat jam berapa?"
"Seperti biasa, Bu. "
"Seperti biasa apanya? Coba kamu lihat jam itu!"
"Hah?" Mata Siti terbelalak tak percaya ketika melihat jam yang tergantung di tembok baru menunjukkan pukul dua.
Pantas saja tidak ada yang mengantri air. Dan pantas saja azan subuh tidak kunjung berkumandang. Ternyata baru pukul dua. Kalau begitu, tadi dia berangkat jam berapa?
"Untung tadi di jalan Siti ketemu Mbak Dewi, Bu. Mbak Dewi yang menemani Siti mengambil air. "
"Mbak Dewi siapa? " Tanya ibu curiga.
"Halaah, Mbak Dewi itu lho.. kakaknya Hilman. "
"Jangan bercanda kamu, Siti! "
"Ngapain bercanda sih, Bu? Beneran tadi Siti ditemani Mbak Dewi. Malah pulangnya ketemu Pak Hamid. Tapi aneh banget tahu nggak sih, Bu. Pak Hamid itu ternyata galak. Masa Pak Hamid marah-marah sama Mbak Dewi? Katanya Mbak Dewi nggak boleh ketemu Siti sama warga sini? "
"Astaghfirullah! " Ibu mengurut dada, wajahnya tampak pucat.
"Kenapa, Bu? " Tanya Siti cemas.
"Mbak Dewi sudah meninggal tadi sore, Siti! "
"Ah, Ibu jangan nakut-nakutin Siti! " Siti berteriak ketakutan.
"Ibu tidak menakut-nakuti! Sewaktu kamu tidur ibu sempat melayat ke rumahnya." Kata ibu bersungguh-sungguh.
Tiba-tiba Siti merinding mengingat ucapan Mbak Dewi tadi.
"Kalau kamu mau, mbak akan menemani kamu mengambil air setiap malam. "
Suara Mbak Dewi terus terngiang di telinga Siti. Tiba-tiba pandangan mata Siti gelap dan tubuhnya kemudian ambruk tak sadarkan diri.