"Ndra! ...Peng! ...tunggu!" teriak Somad dengan nada terengah sembari berlari terbirit-birit, mengejar kedua teman yang sudah berada lumayan jauh di depannya.
Indra dan Pepeng spontan berhenti setelah mendengar teriakan tersebut, mereka serentak menoleh ke belakang untuk melihat Somad yang berangsur mendekat dari kejauhan. Sejurus kemudian mereka saling bertatap, dengan wajah yang tampak tengah menahan tawa di tenggorokan mereka, setelah melihat wajah aneh milik Somad.
"Katanya nggak percaya? kenapa kamu ikut juga?" tanya Indra.
"Paling kamu sebenarnya takut, Kan?" sahut Pepeng dengan wajah menghina.
"Kalian mending batalin acara konyol ini deh, Ndra, Peng ... Aku denger dari orang yang tinggal di sebelah penginapan katanya tidak ada satu orang pun yang berani masuk ke dalam bekas gudang tembakau itu," jawab Somad sembari terengah.
"Mad ... dipikir aja, Mad. kita sudah lebih dari dua puluh tahun sekarang, dan sejak lahir kita belum pernah lihat hantu, kan?" ketus Indra dengan nada sedikit tinggi, dibarengi anggukan kepala Pepeng.
"Tapi bagaimana kalau rumor itu benar?" tanya Somad dengan nafas yang sudah mulai teratur.
"Mad ... kamu tahu, kan? kalau cerita hantu dibuat untuk apa? nakutin orang, kan? Kamu harusnya mikir rasional, Mad. Disitu pasti ada benda berharga yang disimpan salah satu oknum, dan menyebar rumor biar orang-orang kampungan itu tidak berani maju buat memastikan kebenaran," jawab Pepeng dengan wajah yang sangat serius.
"Bener, Mad. coba bayangin disana ada tambang emas? atau mungkin tempat nyimpen narkoba? kita bisa dapet uang atau dapat nama kalau bisa menguak kebenaran di tempat itu, Mad," sambung Indra.
Setelah mendengar penjelasan kedua temannya, hati Somad pun ikut goyah. Meski sebenarnya dia berniat menghentikan kedua temannya karena dia takut sendirian di penginapan tua, namun tanpa dia sadari dia memilih untuk melangkah memasuki tempat yang mungkin bisa menjadi tempat yang jauh lebih menyeramkan, dari tempat tinggal sementara miliknya itu.
"Bener juga, ya? yasudah aku ikut kalau begitu ... tapi kalian jangan jauh-jauh, ya?" jawab Somad dengan wajah sedikit ragu.
Mendengar jawaban itu, Indra dan Pepeng langsung saling menatap satu sama lain, kemudian mereka terkekeh pelan, setelah melihat wajah Somad yang begitu ketakutan namun tampak begitu memaksa untuk melawan.
Setelah itu, mereka bertiga berjalan turun melalui jalan setapak yang membelah perkebunan teh. Tidak ada satupun pencahayaan selain cahaya senter yang mereka bawa di tangan masing-masing.
Setelah sekiranya lebih dari satu jam mereka turun membelah perkebunan teh yang berada di belakang penginapan, mereka akhirnya sampai di pinggiran kebun tembakau yang membentang luas ditengah kegelapan. Jauh di depan mereka berdiri sebuah pondok tua bertembok kayu lapuk yang sudah terkikis usia, dan terlihat sangat tidak terawat jika dilihat di siang hari.
"Sudah tidak jauh lagi, kalau di ingat-ingat pas kita lihat dari penginapan, sepertinya kita hanya butuh 5 menit lagi untuk sampai di gudang itu, Peng," ucap Indra sembari memegangi daun tembakau.
Mendengar itu, Pepeng dan Somad langsung mengangguk. Tanpa pikir panjang mereka terus mengikuti jalan setapak yang membelah perkebunan tembakau, hingga akhirnya tiba di sebuah rumah reot yang dikelilingi pohon rindang, dengan pagar yang terbuat dari jaring besi berkarat, yang memutari bangunan tersebut secara sempurna.
Rumah itu benar-benar tampak bisa rubuh sewaktu-waktu, namun keadaan itu sama sekali tidak membuat Indra dan Pepeng gentar sedikitpun, mereka langsung menendang pintu pagar, kemudian masuk setelah pintu itu terbuka lebar.
Berbeda dengan Somad, sedari dia melihat bentuk rumah tua itu, hatinya sudah merasa ganjil. Nafasnya terasa sesak, kepalanya terasa berat, dengan rambut kepala terasa begitu mekar mengiringi berdirinya bulu kuduk di sekujur tubuhnya.
Meski begitu takut, Somad tetap harus ikut Indra dan Pepeng yang sudah masuk terlebih dahulu. Dia benar-benar tidak berani berdiri sendiri di depan gudang tembakau, karena baginya lebih baik masuk ke tempat seram, asalkan ada temannya.
"Ketemu, Ndra!" teriak Pepeng dari arah samping gudang.
Mendengar teriakan Pepeng, Indra dan Somad yang sedang melihat isi gudang langsung keluar dan berlari menuju ke arah Pepeng.
"Kalian beneran mau ngelakuin itu?" tanya Somad sembari menelan ludah setelah berdiri tepat di samping Pepeng. Dia menunduk melihat kedalam lubang sumur tua yang dindingnya penuh lumut, dan terlihat sangat dalam hingga cahaya senter tidak bisa menyentuh dasarnya.
"Jelas lah Mad, lagian ngapain kita jauh-jauh ke sini. Coba kalau nama yang pemilik penginapan ceritain itu cuma kode? dan kalau kita ucapin nama dia, bakalan ada yg nyamperin kita buat ngasih sesuatu?"
Mendengat itu Somad tidak bisa mengelak, dia hanya bisa diam seribu kata, dengan bulir keringat yang mulai mengalir di pelipis wajahnya.
"Eh tadi siapa namanya? Sri sumarti? apa Sri Subakti?" tanya Indra sedikit bingung.
"Sri Safitri kali ya, duh! siapa ya? aku juga lupa Ndra," Jawab pepeng sembari mengangguk kepala.
"SRI SUNDAR AMEKTI" ucap Somad mencoba mengingatkan.
Tepat sesudah Somad mengucap nama tersebut, angin berangsur datang entah dari mana, pepohonan yang mengelilingi gudang secara serentak mulai melambaikan dahan besar miliknya, di iringi ratusan daun kering yang rontok memenuhi segala sisi halaman gudang tua tersebut.
Untuk sejenak tiga pemuda itu bungkam dan memperhatikan kondisi atap gudang. Mereka takut jiga kayu lapuk yang menyangga gudang rubuh terkena guncangan angin, namun beruntungnya itu tidak terjadi setelah angin berhenti bertiup dengan kasarnya.
"Coba ulang lagi, Mad ... kok nggak ada respon sama sekali," pinta Pepeng.
Somad hanya menggeleng sembari memegangi tengkuk leher miliknya yang sudah terasa begitu dingin dan berat.
Melihat Somad yang hanya menggeleng, Indra langsung mengintip ke arah sumur sembari berteriak cukup keras, "SRI SUNDAR AMEKTI!"
Sedetik setelah Indra berteriak, Angin yang lebih kencang menyapa tempat tersebut kembali. Atap gudang serta semua pintu benar-benar terhuyung hingga berderit, menandakan benda tersebut siap lepas kapanpun dari tempatnya.
Somad dan Indra yang merasa tidak aman berada di tempat itu seketika berlari ke arah lapang di dekatnya. namun tidak dengan Pepeng, dia masih terus mengamati sumur tua itu dengan wajah penasaran, sembari terus mengarahkan senter miliknya ke dalam lubang tersebut.
"Sri?" ucap Pepeng sembari memicingkan matanya, dia melihat sedikit pergerakan aneh yang begitu nyata, meski hanya sekelebat saja.
"Apa kamu beneran ada di sini? SRI SUNDAR AMEKTI?" tanya Pepeng kembali. kali ini angin tidak lagi datang ketika Pepeng menyebut nama Sri untuk ke tiga kalinya. Suasana benar-benar kembali hening, hanya ada suara jangkrik dan juga binatang malam yang bersautan satu sama lain.
"Ndra! Mad! kayaknya beneran ada orang di dalem sumur," ucap Pepeng sembari melambaikan tangan kepada Dua temannya.
Somad dan Indra benar-benar langsung berlari mendekat. mereka mengarahkan senter secara bersamaan ke dalam lubang sumur, kemudian mereka melihat satu benda aneh yang menyembul kemudian jatuh kembali ke dalam dasar sumur yang gelap tersebut.
"Itu apa?" tanya Somad penasaran sembari memperhatikan benda panjang yang terus melambung sebelum jatuh kembali.
"Itu tali, Mad! coba tangkap, Peng! Kamu paling deket sama tali itu," sahut Indra dengan wajah yakin, setelah matanya benar-benar menangkap bentuk dari benda yang terus coba dilempar oleh seseorang dari bawah sana.
Pepeng yang memang paling dekat dengan tali itu, langsung membungkuk dan menyodorkan salah satu tangannya kebawah untuk meraih seutas tali yang terus menyembul di depannya. Sedangkan Somad dan Indra memegangi baju Pepeng agar dia tidak terjatuh ketika menangkap tali yang terus menerus coba dilempar seseorang dari bawah sumur dalam tersebut.
Setelah tiga kali usaha gagal, Akhirnya tali yang terus menyembul itu benar-benar bisa Pepeng gapai menggunakan tangannya. Dia sampai rela membungkuk hingga hampir jatuh ke dalam sumur, namun beruntung Indra dan Somad benar-benar kuat memegangi pinggul serta jaket miliknya.
"Tarik Mad, Ndra!" ucap Pepeng meminta agar tubuhnya segera ditarik dari posisi bungkuknya.
Mereka benar-benar melepas senter mereka ketika menarik Pepeng, sedangkan senter milik Pepeng sudah terjatuh terlebih dahulu ketika dia menangkap seutas tali tersebut. Dan ketika Pepeng sudah berhasil berdiri dengan kokoh di atas tanah, dia pun langsung menarik sekencang mungkin tali yang sudah dia dapatkan di tangannya.
Somad dan indra yang penasaran dengan benda yang pepeng tarik langsung meraih senter yang semula tergeletak di atas tanah. Mereka langsung mengarahkan cahaya kedalam lubang sumur, dan betapa terkejutnya Indra serta Somad setelah mendapati benda apa yang tengah Pepeng tarik.
Tubuh wanita tanpa busana benar-benar tengah naik sedikit demi sedikit, semakin Pepeng menarik, semakin wanita itu naik. Pepeng yang belum sadar dengan kebisuan kedua temannya benar-benar masih berusaha sekuat tenaga menarik tali di tangannya.
Dia berusaha menarik hingga berkeringat, dan tersadar ketika tangan miliknya berusaha mengusap bulir yang ada di pelipisnya. Tangan Pepeng benar-benar terasa basah, bahkan bau amis dan anyir tercium begitu kentara dari cairan yang tengah memenuhi telapak tangannya.
untuk sesaat pepeng melihat tangan miliknya dengan rasa penasaran, sebelum akhirnya dia menyadari jika yang ditarik olehnya sebenarnya bukanlah sebuah tali. Melainkan usus manusia yang masih menempel pada tubuh yang tengah dia coba angkat ke atas.
Dia tersadar ketika sosok wanita yang dia tarik benar-benar sampai di atas sumur. dengan begitu takut dia melepas usus yang ada di tangannya sembari tersungkur dan berjalan mundur ketika posisi terduduk.
"Mayat!" ucap Indra yang mulai berhasil terlepas dari tubuh terkunci.
Somad yang juga ikut terpaku dan bisu di samping Indra juga mulai bisa bergerak, dia melompati mayat yang tengah tergeletak di sampingnya kemudian menyusul Indra yang sudah berlari terlebih dahulu.
Pepeng yang masih begitu kaget benar-benar tidak bisa berdiri, dia ingin berlari, namun setiap sendi di kakinya benar-benar terasa sangat lemas dan enggan untuk diluruskan.
Saat itu Pepeng benar-benar ditinggal oleh Somad dan Indra, Dia sendirian berhadapan dengan mayat tanpa busana, yang memiliki usus tercecer di sebelahnya.
Pepeng benar-benar kencing di celana kala itu, dia mengutuk kedua teman yabg sudah pergi terlebih dahulu, sembari terisak ketakutan dalam posisi duduknya.
Tidak lama setelah Pepeng mengutuk Indra dan Somad, dua temannya itu benar-benar datang dari arah berlawanan, dengan cara lari terbirit-birit.
Bukan hanya Pepeng. Indra dan Somad juga kebingungan ketika melihat Pepeng yang tengah tersungkur di depan mereka. mereka menghentikan langkah cepatnya kemudian saling bertatap dan meneguk ludah secara paksa.
Bagaimana bisa mereka tidak bingung? Indra dan Somad benar-benar berlari sekuat tenaga ke arah utara, namun mereka berhasil tiba di tempat yang sama dari arah selatan.
"Ndra ... Peng ... Aku nyesel ikut kalian," ucap Somad sembari mulai terisak kemudian duduk di samping tubuh Pepeng yang tengah tersungkur itu.
Mendengar rengekan Somad, Indra pun ikut duduk di samping Pepeng. Mereka mencoba menenangkan diri, dan mencoba mengatur nafas yang masih begitu memburu.
Sesekali mereka melihat ke arah mayat yang masih terdiam seribu bahasa di depan mata mereka. Berkali-kali mereka memuntahkan isi perut ketika melihat organ yang masih bersimbah darah segar, tercecer di samping mayat wanita tersebut.
Setelah cukup lama hanya duduk dan muntah, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan mayat tersebut bersama-sama.
Mereka kembali berjalan ke utara, namun setiap beberapa langkah kaki mereka melewati pintu gudang tembakau, mereka tersadar sudah berada di dalam pintu selatan gudang tersebut.
Sudah empat kali mereka mencoba keluar dari gerbang utara, namun selalu berakhir masuk dari gerbang selatan.
"Sepertinya kita tidak dibolehkan meninggalkan tempat ini, Ndra ... Peng," ucap Somad sendu dengan wajah pucat pasih.
"Mad, entah kenapa kali ini aku setuju sama ucapan kamu," Sahut Pepeng lemas.
"Sekali lagi, kita coba keluar sekali lagi Mad, Peng. Kalau memang masih kembali ke sini, kita cari jalan lain," sela Indra di tengah kebingungan.
Somad dan Pepeng hanya mengangguk, kemudian dengan langkah gontai mereka kembali berjalan, namun naas hal yang sama masih terjadi. Mereka benar-benar seperti terkurung, di tempat yang tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Hingga akhirnya, mau tidak mau mereka kembali duduk di seberang mayat wanita itu.
Dalam kebingungan, Indra menemukan sedikit petunjuk, sehingga dia langsung berkata "Mad, Peng coba kita kembali ke sumur. Kalian ingat, kan? ada yang melempar usus wanita itu dari bawah?"
Somad dan Pepeng langsung membulatkan mata ketika mendengar ucapan Indra. mereka bergegas bangun dan menuju sumur tempat asal mula keanehan itu terjadi.
Mereka berteriak meminta tolong secara serentak ke arah sumur, namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Siapapun yang ada di bawah sana! Saya mohon! Tolong kami!" kembali Somad berteriak sekuat tenaga. suaranya menggema--memantul diantara dinding sumur hingga ke bawah. namun sama saja tidak ada suara jawaban yang terdengar dari arah sebaliknya.
Mereka benar-benar berharap mendapat jawaban dari bawah sana. dua lampu senter yang tersisa terus mereka arahkan ke arah dasar yang tak tergapai cahaya. Dan ketika pandangan mereka tertuju ke arah yang sama, terdengar suara wanita yang begitu jelas menyapa telinga.
"Tolong! Keluarkan kami! Hi Hi Hi Hi!"
Bulu kuduk tiga lelaki itu seketika berdiri. Mereka menoleh ke arah yang sama, yaitu ke arah asal suara yang datang bukan dari bawah sumur, melainkan datang dari samping tubuh Indra.
Tiga pasang mata itu seketika membulat sempurna, mereka menyaksikan wanita tanpa busana yang sedang jongkok tepat di Samping Indra. Dia menatap mata Indra, Pepeng dan Somad secara bergantian, sembari memegangi usus yang terburai menggunakan kedua tangannya.
Melihat tiga pasang mata pria di depannya sudah membulat sempurna, wanita itu tersenyum begitu lebar, dia memiringkan kepala dengan senyum sumringah di wajahnya, sembari mengeluarkan darah segar yang mengucur dari sela bibir miliknya.
Somad, Indra dan Pepeng benar-benar terkejut melihat kejadian tersebut. Mereka spontan langsung melompat, kemudian berlari masuk ke dalam gudang tembakau tua yang tepat berada di samping mereka.
Mereka bergumul dan meringkuk di sudut ruangan, dengan tangan memeluk lutut sembari terus menyapu pandangan ke segala penjuru.
Satu menit ... Dua menit ... Tiga jam berlalu begitu lama, mereka benar-benar tidak beranjak sama sekali dari tempatnya meringkuk. Hanya berdoa yang bisa mereka lakukan disela kebisuan mereka.
Setelah cukup lama berdiam diri di sudut ruangan gelap, mata mereka mulai beradaptasi dan bisa melihat sesuatu yang berada jauh dari tubuh mereka, meski tanpa sedikitpun bantuan cahaya.
Mulai dari samar-samar terlihat bentuk siluet orang yang meringkuk, hingga jelas terlihat ada puluhan orang yang juga tengah melakukan kegiatan yang sama dengan Somad, Indra dan Pepeng.
Puluhan orang itu benar-benar meringkuk dengan wajah ketakutan, dan sama sekali tidak beranjak selangkah pun dari tempatnya berada.
Di sela kebingungan yang tengah Somad, Indra, dan Pepeng alami, Sri Sundar Amekti benar-benar muncul di samping Pepeng tanpa mereka sadari.
Dia duduk sembari memegangi usus terburai miliknya, sembari berkata, "Semoga betah di sini, hihihihihi ...."
Mendengar kalimat tersebut, Somad, Indra dan juga Pepeng langsung teringat petuah yang disampaikan oleh pemilik penginapan. Dia sempat melarang, namun larangannya benar-benar selalu berhasil membuat pendatang yang sok gagah dan sok berani untuk melanggarnya.
Dia berkata bahwa ada satu pantangan yang tidak boleh dilakukan di daerah gudang di belakang penginapan, dan dia juga berkata banyak yang pergi dan tidak kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
Saat Indra, Somad dan Pepeng selesai mendengar cerita itu, pemilik penginapan tiba-tiba mengajak mereka makan diatas meja yang sama, kemudian dengan wajah mencurigakan dia berkata, "Kalian percaya hantu? Jika tidak, coba panggil nama Sri Sundar Amekti tepat diatas sumur tua itu,"
Sejak hari itu, berita menghilangnya tiga pemuda langsung menggemparkan dusun yang jauh dari kata ramai tersebut. Para penduduk benar-benar terlihat sudah tidak terkejut dengan berita itu, namun berbeda dengan sanak saudara dari ketiga pemuda tersebut. Mereka benar-benar mengangkat tiga jenazah dari dalam sumur tua di dalam bekas gudang tembakau, dengan perasaan sedih yang terus berkecamuk di dalam hati mereka.
Tidak ada yang tau penyebab kematian mereka, tidak ada yang tau juga untuk apa mereka datang ke tempat tersebut. Tapi tidak untuk semua orang yang tahu tentang sebuah nama dari wanita pemuja iblis, yang mereka kenal sebagai Sri Sundar Amekti. Mereka tahu jika tiga lelaki itu sudah dijadikan sebuah persembahan, untuk kemakmuran seluruh petani tembakau di desa tersebut.
Kalian tidak percaya hantu? coba cari sumur yang ada di sekitar kalian, dan sebut nama tersebut tiga kali berturut-turut.
TAMAT.