Aku mempunyai impian saat sudah besar nanti, setelah lulus sekolah meski hanya sampai SMA, aku akan langsung bekerja untuk membantu meringankan beban pengeluaran ayah dan ibu, dengan aku ikut bekerja aku sudah bisa pastikan dengan gaji ku pasti bisa menambah pemasukan untuk ibu, bisa di gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah adik, uang sewa rumah atau apa pun itu, asal aku bisa membantu meringankan beban orang tua.
Saat aku pulang sekolah, aku melihat mobil hitam terparkir di halaman rumah kontrakan ku, "Mobil siapa ya? apa mungkin tamu ayah?" pikir ku.
Aku berdiri mematung menatap pria berjas sedang marah marah pada ayah.
"Saya tidak mau tahu, anda harus bertanggung jawab karena sudah menabrak orang tua saya hingga masuk rumah sakit." ucap pria berjas dengan usia yang seperti nya tidak beda jauh dengan ayah.
"Maaf tuan, saya akan berusaha mencicil untuk biaya perawatan ibu anda." ucap ayah dengan mengatup kan kedua tangan nya.
"Assalamualaikum, ayah, ibu." ucap ku membuat mereka yang ada di dalam jadi menoleh ke arah ku.
"Kamu siapa?" ucap pria berjas yang tidak aku kenal.
Aku mencium punggung tangan ayah, ibu dan orang asing itu.
Anak ini sangat sopan, usia nya juga masih muda, cocok lah jika di sandingkan dengan Tomi putra tertua ku. batin Nugroho, pria berjas.
"Sini nak, duduk dekat ayah." ucap Bima mengarah kan putri nya Luna untuk duduk di antara Bima dan Nana, orang tua Luna.
"Apa dia putri, mu?" tanya Nugroho.
"Benar, tuan.. Luna ini putri tertua kami." ucap Bima.
"Kalo begitu, anggap kalian tidak perlu membayar biaya perawatan ibu saya, tapi sebagai ganti nya... Luna harus menikah dengan putri tertua saya Tomi." ucap Nugroho.
"Tapi, tuan... ini tidak adil untuk putri saya, dia masih sekolah tuan dan lagi kami juga tidak mengenal putra anda, kami akan tetap menyicil untuk biaya perawatan ibu anda di rumah sakit." Bima menolak tawaran yang di berikan Nugroho.
Aku bingung, tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi meminta ku menikah dengan putra dari bapak asing ini, itu tidak mungkin, aku belum ingin menikah.
"Anda tidak punya pilihan, pak... atau anda mau saya melaporkan anda ke polisi dan membuat anda berada di penjara seumur hidup anda atas kecelakaan ibu saya!" Nugroho mengancam Bima.
"Tidak, tuan.. jangan laporan kan ayah saya ke polisi... saya akan menuruti permintaan tuan, tapi saya minta tunggu sampai saya lulus sekolah." ucap ku dengan berat hati, asal ayah tidak di penjara, aku akan melakukan apa pun.
"Tidak bisa, saya mau kamu menikah dengan putra saya Tomi besok, nikah sirih saja dulu, semuanya saya akan urus... kalian hanya perlu bersiap." ujar Nugroho lalu berdiri dan pergi.
"Bagaimana ini nak, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Bima menatap putri tertua nya.
"Aku tidak apa ayah, asal ayah tidak di penjara, asal keluarga kita bisa tetap bersama, apa pun akan aku lakukan ayah, aku akan berusaha untuk ikhlas menerima nya.." ucap ku.
"Maaf kan ayah, nak." Bima membawa Luna dalam pelukan nya.
"Maaf kan ibu, nak.. tidak bisa berbuat apa apa." Nana juga ikut memeluk Luna, kami bertiga menangis bersama menumpahkan rasa sesak, kenapa musibah ini menimpa keluarga kami.
Ke esokannya.
Aku menatap diri ku lewat pantulan cermin, tidak pernah terbayang kan saat ini aku menatap diri ku yang sudah di rias dengan berbalut kebaya putih, beberapa saat lagi aku akan menjadi istri dari seseorang yang sama sekali tidak aku kenal.
Aku di paksa menikah dengan pria yang usianya terpaut 7 tahun dengan ku, aku juga tidak tahu bagaimana pria itu akan memperlakukan ku, aku hanya berharap pernikahan ini akan membawa kebahagiaan untuk ku, untuk orang tua ku dan untuk pria yang akan menjadi suami ku.
Sah
Saat kata sah terdengar di telinga ku, aku meniti kan air mata, di saat aku masih berstatus pelajar tapi aku juga sekarang berstatus seorang istri, menikah dengan cara seperti ini, di paksa menikah, sakit hati ku.
Aku meraih dan mencium punggung tangan kanan suami ku, imam ku, aku harap ia bisa membawa ku ke dalam surga nya Allah.
Meski hanya nikah sirih, tapi pak Nugroho terlihat begitu matang dalam menyiapkan segala nya untuk pernikahan ku dan anak nya Tomi.
Setelah pak penghulu di antar pulang, kini di ruang tamu tinggal aku, Tomi, ayah, ibu, adik ku dan pak Nugroho.
"Setelah kamu lulus sekolah, papa akan menikah kan kalian secara negara." ujar Nugroho dengan bijak.
"Maaf, tuan.. kami merepotkan anda." ucap Bima pada besan nya.
"Tidak usah formal begitu, pak Bima.. kita sekarang sudah menjadi besan... sekarang bapak tidak perlu lagi membayar sewa rumah yang bapak tempati."
"Iya, pak... tapi kenapa kami tidak perlu membayar sewa, pak? kami kan tinggal di rumah itu dengan mengontrak." ucap Bima.
"Rumah itu sudah saya beli, sebagai ucapan terima kasih saya karena pak Bima sudah mau menikah kan putri anda dengan putra saya." ujar Nugroho.
"Kami tidak menjual putri kami, tuan..saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk menikahi nya meski usia nya masih sangat muda dan masih berstatus pelajar."
"Maaf pak, saya tidak ada maksud untuk membeli putri bapak, saya hanya kagum dengan cara bapak mendidik Luna hingga memiliki hati yang sangat luar biasa, rendah hati, ketulusan untuk menerima pernikahan ini."
"Saya harap, besok bapak dan ibu sekeluarga berkenan untuk menghadiri acara pelantikan Tomi sebagai CEO di Corp Max... untuk urusan pakaian, saya sudah menjadwalkan nya pada diseiner keluarga untuk mencocokkan pakaian yang pas dengan ukuran bapak sekeluarga, dan untuk Luna, gaun yang akan kamu kenakan sudah di siaokan oleh Tomi."
Di kamar ini hanya ada aku dan Tomi.
Sambil duduk di depan meja rias, aku berusaha melepaskan hiasan yang ada di kepala ku.
Sedangkan Tomi sedang membersihkan badannya di kamar mandi, suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi.
Ada rasa gugup saat ia akan ke luar nanti, aku harus apa? aku menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan nanti di atas tempat tidur.
Aku masih belum tahu apa Tomi menerima pernikahan ini dengan hati yang ikhlas sama seperti ku atau dengan keterpaksaan.
Tomi menyeringai saat melihat baju yang aku siapkan untuk nya di atas kasur.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir nya.
Aku gantian masuk ke dalam kamar mandi dengan setengah berlari.
Jantung ku hampir copot saat membuka pintu kamar mandi yang aku lihat adalah Tomi yang sedang berdiri di depan pintu, seolah menunggu ku membuka pintu kamar mandi.
"A- apa yang anda lakukan, tuan?" aku langsung menyilangkan ke dua tangan ku di dada, menutup aset kembar ku dari tatapan mata Tomi, pria yang berstatus suami ku.
Grap.
Tomi menggendong ku dengan ke dua tangan nya.
"Mau kamu memakai apa pun, kau itu tampak menggoda, apa lagi saat ini kau hanya mengenakan handuk." ucap Tomi dengan suara yang begitu lembut dengan tatapan teduh.
Dari caranya bicara, dari caranya menatap ku, aku tahu dia adalah pria baik dan aku berharap kali ini aku tidak salah. Aku berharap pernikahan ini akan membawa ku pada kebahagiaan.