Pada suatu malam yang hangat di musim panas, Renatta duduk melamun di tepi sebuah sungai yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Permukaan sungai terlihat tenang. Pantulan rembulan di permukaan air kelihatan begitu sempurna. Renatta makin larut dalam lamunannya. Ia merenungi perjalanan hidupnya yang terasa monoton, tidak ada kemajuan sama sekali.
Renatta merasa dirinya hanyalah makhluk hidup yang tak berguna. Sejak dikhianati oleh kekasihnya beberapa tahun yang lalu, Renatta memilih mengasingkan diri di sebuah desa pedalaman ini. Ia mencoba bertahan hidup dari keinginannya yang konyol dulu. Ya, keinginan untuk bunuh diri!
Bukankah itu adalah sebuah keinginan yang super duper konyol?! Bagi manusia yang masih sehat mental, tentu itu kedengaran konyol. Namun bagi seorang Renatta yang sedang diuji kesehatan mentalnya, itu seolah sebuah solusi terbaik.
Bangkit dari keterpurukan, bukanlah hal yang mudah. Renatta sepatutnya perlu berbangga hati karena kini dia telah berhasil melewati masa-masa sulit itu. Berjuang sendirian.
Namun tak bisa dipungkiri, ia tetap merasa sepi. Sunyi. Sesunyi suasana di tepi sungai ini. Bahkan suara jangkrik terdengar begitu jelas di telinga Renatta.
Perhatian Renatta tiba-tiba terusik oleh riak-riak air sungai yang tidak biasa. Bunyi kecipak air semakin dekat. Ia menjadi sedikit panik. Bulu kuduknya ikut meremang.
"Hiiiiiyyy... Apa ini?" Renatta bergidik.
Renatta refleks bangkit dari duduknya dan berdiri dengan siaga tepat ketika ia melihat sebuah siluet bayangan yang bergerak cepat di tengah sungai.
"Kyaaa!!!" Jerit Renatta ketika sesuatu bergerak cepat di tengah-tengah sungai.
Renatta berbalik badan dan bermaksud lari menjauh dari tepi sungai. Tapi apa daya, kakinya malah terjerembab akar pohon yang besar.
"Aduhhh! Ahhh..." Rintih Renatta.
"Tolong! Tolong!" Sebuah suara yang berat terdengar dari arah sungai.
Sambil membetulkan duduknya, Renatta memperhatikan ke arah sungai. Terlihat seorang laki-laki sedang berenang dengan susah payah, berusaha mencapai tepian sungai. Namun sepertinya dia tidak mampu. Gerakannya terlihat melemah.
"Oh... Tuhan... Kukira hantu!" Renatta berteriak di dalam hati.
Setelah meyakini itu bukanlah hantu, Renatta memutuskan menolong laki-laki tersebut. Dia terjun ke sungai dan membantu laki-laki misterius itu berenang ke tepi sungai.
Beruntung bagi Renatta, arus sungai yang tenang memudahkan dirinya membawa laki-laki itu ke tepi sungai.
"Hoshhh... Hoshhh... Hoshhh..." Renata terduduk di samping tubuh laki-laki itu dengan nafas ngos-ngosan.
"Terima kasih..." Ucap laki-laki misterius itu lirih sebelum akhirnya dia memejamkan matanya.
Renatta kaget setengah mati melihat laki-laki asing itu menutup kedua matanya.
"Tidak! Apa dia mati?" Renatta bertanya pada dirinya sendiri.
Renatta mengguncang-guncangkan tubuh laki-laki itu dengan panik. Tidak ada gerakan balasan sama sekali. Namun sayup-sayup Renatta masih bisa mendengar deru nafas lemah laki-laki itu.
"Sepertinya dia pingsan..." Batin Renatta.
Renatta berusaha sekuat tenaga menolong. Dia berhasil menggotong tubuh laki-laki itu sampai ke rumahnya.
Renatta terkejut melihat luka-luka yang terdapat di sekujur wajah laki-laki asing itu. Ia berusaha membersihkan luka, merawat dengan peralatan P3K yang seadanya.
"Mana ada lagi dokter jam segini!" Batin Renatta.
Dua jam berlalu, laki-laki itu tersadar dan membuka matanya. Renatta segera menghampiri dan menatap laki-laki itu dengan tatapan waspada.
"Kamu siapa?!" Tanya Renatta dengan suara tegas.
Laki-laki misterius itu menatap Renatta namun tidak menjawab sepatah kata pun. Ia merasa begitu lemah, bahkan hanya sekedar untuk bicara saja rasanya belum mampu. Entah sudah berapa mil dia berenang tadi malam, lebih tepat jika dikatakan hanyut dan mengikuti arah aliran sungai. Dia bersyukur masih bisa bernafas saat ini.
Renatta menyodorkan sebuah minuman. Ia meracik jamu khusus dengan bahan seadanya.
"Minum ini! Setidaknya ini bisa membuatmu lebih baik." Perintah Renatta.
Laki-laki misterius itu tidak membantah. Ia melakukan apa yang diperintahkan Renatta lalu kembali memejamkan matanya. Ia tertidur pulas sampai pagi.
***
Mentari pagi bersinar cerah sekali di musim panas. Renatta sedang melakukan olah raga ringan di halaman depan ketika laki-laki yang pingsan tadi malam tiba-tiba sudah duduk di teras.
Laki-laki itu memperhatikan Renatta yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya dengan lincah.
"Eh... Kamu! Sudah sadar?" Sapa Renatta ketika menyadari kehadiran laki-laki itu.
"Hemmm..." Laki-laki itu menggumam pelan.
"Kemarilah! Sinar matahari pagi ini baik untuk tubuhmu!" Seru Renatta.
Laki-laki itu menimbang sejenak, lalu dia memutuskan mengikuti kata-kata Renatta.
"Good!" Seru Renatta.
Sinar mentari menyinari wajah laki-laki itu. Renatta terhenyak sesaat melihat paras wajah sang laki-laki yang penuh luka itu.
"Hemmm... Kasihan... Padahal cakep, tapi penuh luka memar gitu..." Batin Renatta.
Setelah merasa cukup, Renatta mengajak laki-laki itu duduk dan menikmati salad buah yang telah disiapkannya.
"Siapa kamu?" Tanya Renatta tanpa basa-basi.
"Hemmm... Aku Jimmy." Jawab laki-laki itu.
"OK, Jimmy. Aku ga kenal kamu, tapi aku kira kamu butuh bantuan. Makanlah dan pulihkan dirimu." Ujar Renatta cuek.
"Atau jika kau membutuhkan bantuan dokter, aku bisa membantumu menghubungi dokter terdekat." Saran Renatta.
"Tidak! Aku tidak butuh dokter!" Sahut Jimmy.
"Oh... OK..." Gumam Renatta.
"Tapi kau tidak bisa lama-lama di sini. Warga bisa curiga jika mereka tahu ada laki-laki menginap lama di rumahku." Tutur Renatta.
"Hemmm... Iya, terima kasih." Ucap Jimmy.
Setelah meneguk segelas jus apel segar, Renatta menatap Jimmy. Renatta merasakan sesuatu di hatinya ketika tatapan mata mereka bertemu.
"Hemmm... Ceritakan bagaimana kau bisa hanyut di sungai itu. Kau betul-betul mengagetkanku!" Ujar Renatta sambil berusaha menghindari tatapan mata Jimmy yang tajam.
"Matanya indah sekali..." Jimmy memuji di dalam hati.
Renatta memiliki mata yang bundar dan lebar. Bulu matanya yang lentik membuat matanya terlihat begitu menawan. Sangat sesuai dengan parasnya yang manis. Jimmy terkesima sesaat melihat wajah Renatta yang apa adanya, polos tanpa make up berlebihan seperti kebanyakan gadis yang ditemuinya.
Jimmy lalu menceritakan bahwa dirinya dikejar oleh sekelompok penjahat, dia lalu terjebak dan memilih melompat ke sungai untuk menyelamatkan diri. Ternyata arus sungai sangat deras dan menghanyutkan dirinya sampai ke situ.
"Hemmm... Kejahatan sekarang memang semakin mengerikan. Kau seharusnya tidak kelayapan malam-malam sendirian!" Ujar Renatta sok tahu.
Jimmy tersenyum tipis. Tentu saja Jimmy tidak jujur menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Ia memilih menutupi identitasnya agar semuanya tetap aman.
Berada di rumah Renatta untuk sementara waktu bisa membuat dirinya selamat sesaat. Sebelum kelompok "Bayangan Hitam" menemukannya.
Jimmy sesungguhnya adalah salah satu ketua geng mafia paling berpengaruh di negara itu. Kekuasaannya bahkan secara diam-diam telah masuk ke beberapa benua di dunia.
Nyaris tidak ada seorang pun yang mengenali Jimmy dalam bentuk wajahnya yang asli. Ia selalu tampil dengan penyamaran yang sempurna di depan musuh-musuhnya ataupun di depan anak buahnya.
Renatta adalah orang yang beruntung bisa melihat wajah asli Jimmy yang tampan. Jimmy selalu menggunakan topeng silikon khusus untuk menutupi wajah aslinya jika harus tampil di depan anak buahnya. Ia selalu melakukan penyamaran agar tidak mudah dikenali.
Pertempuran hebatnya tadi malam dengan geng "Bayangan Hitam" telah mencederai wajahnya. Untung saja ia memakai topeng silikon berkualitas tinggi, yang berhasil meminimalisir luka-luka di wajah aslinya yang mulus dan bersih.
"Kau... Mengapa tinggal sendirian di sini? Dimana keluargamu?" Tanya Jimmy penasaran.
"Aku yatim piatu. Apa salahnya aku tinggal sendiri di rumah ini? Di sini cukup nyaman." Ujar Renatta.
"Ya... Ya... Aku tidak menyalahkanmu sama sekali. Dasar!" Jimmy menggerutu di dalam hati.
"Aku punya beberapa kemeja besar. Aku pikir cocok untukmu." Renatta berkata sambil memperhatikan Jimmy.
"Tapi celana... Hemmm... Ada beberapa celana training sih... Kalau kau beruntung, kau bisa menggunakannya." Sambung Renatta.
Renatta masuk ke dalam dan mulai mengeluarkan beberapa pakaian yang mungkin bisa dipakai oleh Jimmy.
Jimmy masih duduk di teras. Salad buah dan segelas jus apel yang diberikan Renatta membuat tubuhnya terasa lebih segar.
Jimmy menyadari ia harus pulih secepatnya. Anak buahnya bisa kelimpungan jika ia menghilang terlalu lama. Ia tidak bisa menghubungi mereka karena satu-satunya alat komunikasi yang melingkar di pergelangan tangannya kini rusak parah akibat pertempurannya tadi malam.
"Aku harus bisa memperbaiki ini..." Gumam Jimmy sambil memperhatikan arlojinya.
***BERSAMBUNG***