Ini hari kedua Jimmy menginap di rumah Renatta. Dia sudah berhasil memperbaiki arlojinya. Untung saja alat komunikasi rahasianya itu bisa aktif kembali.
Jimmy memperhatikan sekeliling rumah yang sepi. Renatta sudah pergi berbelanja tadi pagi. Jimmy memutuskan ia harus pergi secepatnya meninggalkan rumah Renatta agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya di situ.
"Hemmm... Aku harus gerak cepat sebelum mereka tahu aku di sini..." Gumam Jimmy.
Jimmy melihat secangkir minuman hangat berwarna hijau muda di atas meja makan. Ia paham, itu adalah ramuan yang dibuat oleh Renatta untuknya. Meskipun Jimmy tidak tahu komposisi ramuan itu, namun dalam hatinya ia memuji kemampuan Renatta dalam meracik jamu. Jamu itu mampu mengembalikan staminanya dengan cepat.
Renatta masuk ke rumah tepat ketika Jimmy sedang berkaca di depan sebuah cermin hias besar di ruang tamu.
"Heiii... Kamu sudah minum jamunya?" Tanya Renatta sambil melirik ke arah meja makan. Ia tidak melihat lagi cangkir berisikan jamu di sana.
"Hemmm... Aku sudah menghabiskannya. Cangkir ada di westafel." Ujar Jimmy.
"Ohhh... OK!" Sahut Renatta.
"Terima kasih. Aku akan mengingat kebaikanmu!" Ucap Jimmy setelah memperhatikan kondisi memar di wajahnya yang sudah mulai membaik.
"Santai saja." Ujar Renatta cuek.
"Aku harus pergi..." Suara Jimmy terdengar lirih.
"Ya, pergilah. Kau tidak boleh lama-lama di sini!" Potong Renatta.
"Kau mengusirku?" Tanya Jimmy.
"Heiii... Tuan yang bodoh! Ini rumahku, aku berhak melakukan apapun padamu." Ujar Renatta tanpa rasa bersalah.
"Aku ga mau dianggap kumpul kebo di sini!" Tukas Renatta galak.
Jimmy terkesiap. Belum pernah ada orang yang berani berbicara seperti itu pada dirinya. Terlebih lagi ini adalah seorang gadis biasa.
"Dasar aneh..." Batin Jimmy.
Seandainya Renatta tahu dengan siapa sesungguhnya dia sedang berhadapan, mungkin dia akan mati berdiri karena ketakutan.
Jimmy adalah seorang boss mafia yang kejam. Dia adalah pembunuh berdarah dingin. Siapapun yang menghalangi urusannya, Jimmy tidak akan segan-segan menghabisi orang tersebut.
Keberanian dan kelihaian Jimmy dalam menaklukkan setiap musuhnya membuat Jimmy dan kelompoknya sangat ditakuti. Banyak kelompok mafia lain yang ingin membinasakan Jimmy dan kelompoknya. Namun mereka selalu gagal.
Ketua gengster "Bayangan Hitam" berhasil menjebak Jimmy dan beberapa anak buahnya pada suatu transaksi di malam itu. Kelompok itu berhasil membekuk dan melumpuhkan semua anak buah Jimmy yang mengikutinya saat itu.
Beruntung bagi Jimmy, penyamarannya tidak terbongkar walaupun dia nyaris mati dalam duel maut dengan ketua gengster itu.
Diam-diam Jimmy menatap Renatta yang sedang sibuk di dapur. Gadis aneh itu terlihat menarik di matanya.
"Ini, sarapan dulu. Lebih baik kau pergi dari sini dalam keadaan perut yang tidak kosong." Renatta menyodorkan sepiring nasi goreng untuk Jimmy.
Jimmy melirik piring itu dengan penuh minat. Nasi gorengnya kelihatan lezat.
"Gimana rasanya?" Tanya Renatta ketika melihat Jimmy menyantap masakannya dengan lahap.
"Enak!" Puji Jimmy.
"Hahaha... Tentu saja! Kau tahu, gini-gini aku lulusan tata boga di Amerika." Ujar Renatta bangga.
"Hemmm..." Jimmy hanya membalas dengan gumaman.
Dalam hatinya, Jimmy mengakui bahwa masakan yang dibuat oleh Renatta memang berbeda. Baik dari segi tampilan maupun kualitas rasanya. Dua hari berada di rumah Renatta, Jimmy merasa seperti menikmati masakan di resto hotel bintang lima.
"Terima kasih, Renatta. Jangan pernah katakan pada siapun tentang keberadaaanku di sini." Pesan Jimmy ketika dia berpamitan untuk pergi.
"Hemmm... Ya, tentu saja!" Sahut Renatta.
Renatta menatap sosok Jimmy yang semakin menjauh dari rumahnya.
"Huhhh... Untung aja dia ga hilang ingatan. Kalau ga, aku bisa lebih repot jadinya!" Ujar Renatta lega.
Renatta sebenarnya tidak ingin bersikap baik lagi kepada laki-laki manapun. Baginya semua lelaki sama! Semua laki-laki tidak tahu balas budi.
Oleh karena itu, dia tidak mau lagi bersikap sok manis di depan laki-laki, termasuk di depan Jimmy. Seorang laki-laki asing yang ditolongnya tanpa sengaja.
***BERSAMBUNG***