Pagi menjelang saat seorang pemuda yang biasa dipanggil dengan nama Arya mulai menjerang air untuk membuat segelas susu hangat. Arya, ialah pemuda yang hidup dengan sejuta impian di dalam sebuah rumah berdinding tinggi.
Arya merupakan pemuda yang tumbuh di dalam keluarga berkecukupan, bahkan bisa dibilang sangat kaya. Namun sayangnya arya tidak bisa menopang tubuhnya sendiri tanpa menggunakan bantuan kursi roda, sehingga merasa diacuhkan bahkan saat berada di istana mewah tersebut.
Kedua orang tua Arya selalu mengacuhkannya karena merasa tidak ada yang bisa diharapkan dari pemuda dengan kursi roda tersebut. Sementara kakaknya mungkin saja malu mempunyai adik dengan kondisi seperti Arya.
Setiap hari Arya hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar dan sesekali mengarahkan kursi rodanya menuju arah taman. pemuda yang berusia 18 tahun tersebut sangat senang untuk menggambar di taman guna menghilangkan pikiran buruknya yang menyesali keadaannya.
Suatu pagi Arya jatuh dari kursi rodanya, namun tidak ada seorangpun di dalam rumah tersebut mendekat untuk menolongnya. Rasa kecewanya terhadap hal tersebut membuat arya memiliki kekuatan untuk menggerakan kursi rodanya ke arah taman kompleks, berniat menenangkan diri.
Saat sedang sedih di taman, tiba-tiba Arya dihampiri oleh seorang pemuda seusianya dengan kondisi yang sama. pemuda tersebut mengulurkan tangan untuk arya dan mulai menyebutkan namanya, yaitu Ilham. mereka berdua mudah sekali akrab, mungkin karena keduanya saling mengerti kondisi masing-masing.
Tiba-tiba Ilham Berkata, “ Arya, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak layaknya manusia lain. Tapi, kita masih punya hak untuk merasakan bahagia. Cobalah untuk menerima dirimu sendiri, Arya.” lalu, akhirnya pemuda itu berpamitan pada Arya.
Semenjak pertemuannya di taman dengan Ilham, Arya mulai merenungi kata-kata yang diucapkan oleh pemuda tersebut. Arya berpikir bagaimana ia bisa seutuhnya menerima dirinya ketika orang di dekatnya tidak mendukungnya sama sekali.
Arya mencoba mencerna perkataan dari Ilham secara perlahan, meskipun seringkali ia sedih ketika teringat kenyataan bahwa ia hanyalah seorang pemuda yang diacuhkan. Hal yang dipikirkan oleh Arya adalah bagaimana ia bisa mewujudkan impiannya dengan kondisi tersebut.
Impian arya adalah menjadi seorang pelukis yang karyanya bisa dipajang di dalam pameran besar. Hal yang dilakukan arya untuk memulainya adalah rajin membuat lukisan. Kesibukan tersebut juga dilakukan Arya untuk tidak memikirkan mengenai dirinya yang selalu diacuhkan dan mulai memahami perkataan Ilham.
Perlahan impian arya mulai terwujud saat diam-diam ia sering memposting lukisannya melalui medsos. Hingga suatu hari ada seseorang datang ke rumah arya untuk menemui pemuda itu guna mengajaknya untuk bergabung di dalam sebuah pameran lukisan.
Kedua orang tua Arya terperangah mendengar ucapan pria tersebut, sebab tidak menyangka bahwa si pemuda kursi roda bisa menghasilkan karya lukisan yang indah. Arya hanya tersenyum melihat respon kedua orang tuanya dan memilih menerima tawaran pameran tersebut.
Berbagai lukisan indah dipajang dalam pameran yang diberi tema impian si arya. Orang tua Arya menghadiri pameran tersebut dan merasa terharu atas pencapaian putra nya yang selama ini diacuhkannya. Sementara Arya merasa lega bisa menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkan apa yang dimiliki