Minggu.
Hari ini adalah hari ulang tahunku.
Lebih tepatnya ulang tahunku yang ke 17 tahun.
Namun walau begitu tak ada satu pun orang yang merayakan atau bahkan mengucapkan selamat untuk diriku.
Tidak dari teman-temanku maupun dari keluargaku.
Tidak ada kado dan hadiah, atau bahkan perayaan.
Sungguh hari ulang tahun yang sepi.
Yah bukannya aku merasa menginginkan hal semacam itu atau apa, toh aku juga tahu kalau diriku sudah besar. Namun saja, bukankah itu sedikit kejam…?
Bahkan untuk teman dekatku, jika aku mengatakan kalau hari ini aku ulang tahun mereka hanya akan menanggapi dengan “Oh, kau ulang tahun, traktir dong”.
Dan mulai menarik uang dariku untuk hal yang bahkan bukan rasa syukur…
Dan apa yang kau pikir respons dari keluargaku…?
Mereka (ayah dan ibuku) menanggapi dengan “Karena kau sudah besar uang jajanmu akan sedikit kami potong untuk keperluan adikmu, jadi mulailah mencari pekerjaan sambilan di luar sana!”
Bukankah itu tidak adil!?
Adik perempuanku bahkan hanya memiliki selisih umur satu tahun di bawah dari milikku!
Dan yah, inilah hari Mingguku. Hari ulang tahunku.
Mengembalikan pikiranku pada kenyataan, aku kembali melihat layar TV di depanku.
Kembali memfokuskan jari-jariku pada kontroler di lenganku
Karakter yang di depan layar yang menjadi avatar yangku pilih melakukan gerakan tendangan terbang pada karakter musuh di depannya.
Darah musuh (HP) yang sudah tipis perlahan menurun menjadi nol. Lalu gambar di layar menunjukkan Tulisan “You win!” dengan font yang mencolok, menandakan kemenanganku.
“Hah, rasakan!”
—
Sekitar jam dua belas sing, mataku mulai merasa mengantuk setelah memainkan permain online semalaman.
Aku berpikir itu bagus untuk melampiaskan kekesalanku yang tak beralasan… namun sepertinya aku telah berlebihan dalam melakukannya.
Sementara rasa kantuk menyerang diriku yang lelah, perutku mengeram mengeluarkan suara pemberontakan yang keras.
Kalau dipikir kembali, aku belum makan apa pun dari semalam.
Mengingat jika di rumah tak memiliki makanan apa pun karena aku belum membeli persediaan makanan (kecuali air putih).
Aku berniat menggerakkan kakiku untuk pergi ke luar, ke supermarket terdekat. Namun sepertinya rasa kantuk telah mendominasi tubuhku sehingga sangat malas untuk bergerak.
Walau perutku terus menggeram, aku lebih memilih merangkak ke tempat tidur dari pada pergi ke supermarket.
Aku berpikir untuk menahannya hari ini, dan akan memesan pizza atau apa pun secara online setelah bangun dari tidurku.
Aku mulai membungkus tubuhku dengan selimut dan terus tertidur.
Ping-pong!
Terdengar di telingaku sebuah bunyi yang tak asing.
Ping-pong! Ping-pong!
Itu adalah suara dari bel pintu rumahku.
Apa ada seseorang di luar sana…?
Jujur, rasanya malas untuk keluar dari selimutku saat ini. Jadi aku berpikir untuk mengabaikannya saja, membuat siapa pun Itu orang yang berada di balik pintu menganggap bahwa di dalam rumah sedang tidak ada orang.
Ya, mari lakukan itu.
Aku kemudian memejamkan mataku untuk yang kedua kali, lalu tertidur.
Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong! Ping-pong—!
“Gah, berisik!”
Aku secara spontan berteriak. Dan bersamaan dengan itu suara bel yang mengganggu itu berhenti.
Namun bagaimana selanjutnya? Karena aku telah mengeluarkan suara yang cukup besar aku yakin jika siapa pun itu yang berada di balik pintu telah menyadari keberadaanku.
Kepura-puraanku telah menjadi tak berarti.
Mau tak mau aku harus menurut dan pergi ke luar menyambut siapa pun itu yang ada di balik pintu.
“Tunggu sebentar, aku datang.”
Siapa pun itu aku harap itu akan menjadi penting, atau usahaku untuk bangun akan menjadi percuma.
—
Aku sampai di depan pintu setalah merapikan penampilanku.
“Aku akan membukanya.”
Mengatakannya, aku memegang gagang pintu lalu membukanya.
Caya yang menyilaukan dari matahari pagi terlalu terang untuk mataku yang semalaman terlah terbiasa oleh kegelapan dan cahaya yang minim.
Perlu beberapa waktu untuk membiasakan mataku pada tingkat cahaya saat ini.
“Apa… kau tidak apa…?”
Terdengar suara khawatir dari siapa pun seseorang di depanku. Suaranya terdengar lebih feminin di banding dengan milik seorang peria. Jadiku pikir itu adalah milik seorang wanita.
Tapi siapa…?
Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di pikiranku, namun aku membiarkannya lewat begitu saja. Toh nanti juga tahu…. Adalah apa yang kupikirkan.
“Tidak, saya tidak apa.”
Mencoba mengedipkan mataku beberapa kali, aku mencoba untuk mempercepat kemampuan adaptasi mataku.
Tak lama, penglihatanku kembali seperti semua dan aku kembali dapat melihat dengan jelas.
Aku menatap ke depan, pada wanita pemilik suara yang berdiri di depanku.
Apa yang aku perhatikan untuk pertama kali adalah warna rambutnya yang berwarna pirang ke putih-putihan dengan mata biru yang indah, yang kalau di sekitar sini sangat jarang terlihat atau mungkin tidak ada yang memilikinya sama sekali.
Wanita itu terlihat membawa sebuah koper besar jenis lama yang ia letakkan di lantai di sisi kiri tubuhnya.
Ia terlihat memiliki tinggi yang sama denganku atau bahkan lebih pendek sedikit. Selain itu ia terlihat sangat muda, jika untuk menganggapnya berusia di atas dua puluh mungkin akan salah.
Kalau di sebut seorang wanita dewasa mungkin sedikit salah, karena ia bagaimanapun juga terlihat seperti seorang gadis di mataku.
Dan apa yang menjadi tempat mataku beralih selanjutnya adalah pakaiannya. Yang, bagaimana mengatakannya? Itu cukup mencolok.
Gadis itu terlihat dengan normalnya memaki pakaian pelayan (Maid) lengkap dengan hiasan kepala.
“Ada yang bisa saya bantu…?”
Berhasil memulihkan diri dari pembekuan sementara dari dampak yang di dapat oleh kesan gadis itu, aku menggerakkan bibirku.
“Ya. Maaf, tapi biarkan saya bertanya terlebih dahulu. Apa ini rumah kediaman dari tuan Yamada Yuuto?
Tuan………?
“A-ah… ya. Benar, saya sendiri Yamada Yuuto.”
“Begitu. Syukurlah.”
Terlihat merasa lega? Oleh jawabanku gadis itu seperti mengingat sesuatu dan menyuguhkan sebuah surat dari sakunya padaku.
“Maaf terlambat untuk memulai. Nama saya Anastasia Romanov, saya di titis oleh tuan Yamada Ryosuke— kakek anda untuk datang sebagai pembantu pribadi milik anda.”
“Huh……?”
Apa yang di katakan gadis ini……?
“Informasi lebih jelasnya berada dalam surat ini, yang beliau tulis sendiri untuk di serahkan pada anda, tuan.”
Dengan linglung aku mengambil surat yang ia suguhkan padaku.
—
Aku mengajak Anastasia masuk, dan membawanya ke ruang tamu.
Setelah menyiapkan beberapa teh dan kue aku duduk di kursi di depannya dan mulai membaca surat itu dengan diam.
Surat itu berisi seperti ini;
[ Halo, cucuku yang manis.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali kita bertemu? Saat melihat ke arah pepohonan cemara yang semakin lama semakin tinggi kekekmu ini jadi merasa kesepian saat teringat sudah sangat lama sejak cucu-cucunya yang lucu tidak datang untuk berkunjung.
Jadi jangan lupa luangkan waktumu untuk berkunjung ke Rusia ini.
Kakek dengar kau tak lama lagi akan mencapai umur 17 dari orang tuamu. Kakek ucapkan selamat untuk itu. Namun tak terasa cucuku yang beberapa waktu lalu suka mengompol di pangkuanku sekarang telah tumbuh cukup besar.
Kakek juga mendengar jika kau sekarang sedang hidup seorang diri. Itu bagus, namun kakek jadi khawatir akan kesehatanmu di sana. Tolong jangan memaksakan diri dan makan dengan teratur.
Kembali ke topik.
Karena tak lama lagi adalah hari ulang tahunmu, kakak berencana membuat sebuah hadiah kejutan khusus hanya untuk cucu kakek tercinta. Saat kau membaca surat ini mungkin hadiah itu sedang datang.
Dan ya! Itu adalah sebuah Maid yang selalu kau inginkan!! ]
“Siapa yang mengikatnya!?”
Secara spontan aku berteriak.
“Tuan……?”
“Ah, maaf.”
“Apa kau tidak apa-apa?”
“Ya. Aku baik saja.”
Mencoba berdeham untuk menghilangkan kecanggungan yang meresap di udara, aku kembali membaca.
[ Apa kau terkejut? ]
Sangat kakek… di dalam hati aku menjawab.
[ Kakek juga akan memberikan semacam hadiah untuk adikmu nanti saat ulang tahunnya. Namun kakek merasa bermasalah untuk menentukan pilihan.
Kakek bingung untuk memberinya seorang pelayan pribadi yang sumuran seperti dirimu atau pelayan pribadi magang yang masih berumur satuan. Jika kau ada ide tolong beritahu kakek melalui surat. ]
Aku pikir jika kau memberikan adikku seorang pelayan dia akan menanyakan kewarasanmu, kakek…. Jawabku dalam hati.
[ Lagi pula dia masih belum genap 17, jadi kakek pikir seorang anak kecil yang muda dan mulus mungkin lebih cocok untuknya di banding seorang peria tampan yang seumur. Dia juga memiliki kehidupannya sebagai pelajar dan dia hidup bersama dengan orang tuamu, jika kakek memberikan seorang peria tampan untuknya itu akan merusak kehidupan sekolahnya dan lagi orang tuamu bahkan mungkin akan menatap kakek dengan mata yang aneh, jadi kakek rasa tidak bukan? ]
Aku rasa bukan itu masalahnya…
[ Sekarang kita telah mencapai akhir dari surat, tak terasa ternyata sudah di penghujung percakapan. Kakek padahal ingin lebih banyak mengobrol denganmu (walau sepihak).
Sekarang, apa yang ingin kakek sampaikan di akhir. Anastasia adalah pelayan muda yang melayani kakek sejak dia masih kecil, dia seumur denganmu dan dia memiliki sifat yang tangguh dan baik hati. Dia memiliki lengan yang cakap, dia juga tak pernah mengeluh tentang perintah apa pun yang kau suruh padanya, dan di sangat penurut.
Oh, kakek tahu kau sedang dalam masa-masa puber, tapi tolong jangan memberinya perintah yang aneh-aneh atau bahkan sesuatu yang mesum, ok. ]
“Siapa yang akan!?”
“Tu-tuan……?”
“Ah.”
“Apa kau benar-benar tidak apa-apa?”
“Y-ya, tentu. Biarkan aku membaca surat ini sampai akhir.”
“Jika tuan berkata seperti itu.”
[ Kakek rasa sampai di sini. Sekali lagi selamat untuk ulang tahunmu. ]
…………
……
…
Sebenarnya aku sangat merasa bersyukur karena kakekku mengucapkan selamat padaku, dan bahkan memberiku sebuah hadiah.
Hanya mengetahui perasaannya yang tulus saja aku sudah merasa senang.
Namun, kakek….
Apa sih yang kau hadiahkan padaku ini…?
—
Mengalihkan pandanganku dari kertas surat, aku menatap dada Anastasia yang duduk di depanku.
“Apa kau diberitahu tentang, kau tahu? Masalah Maid ini?”
“Ya.”
Anggunnya kecil.
“Baik. Jadi… apa yang akan kau lakukan mulai sekarang?”
Aku takut-takut bertanya padanya.
“Seperti yang tertera pada surat, saya mulai sekarang akan melayanimu sebagai seorang Maid, tuan.”
“Tidak. Tidak. Tidak. Coba pikir kembali, tak ada kebutuhan untukmu untuk menuruti setiap perintah ambigu dari kakekku.”
“Tidak, saya pikir itu sudah cukup jelas. Karena yang saya lakukan adalah hanya harus melayanimu di sisimu, tuan.”
“Tidak. Tidak. Tidak. Lagi pula, saya hidup seorang diri, dan kau tahu? Bukankah akan sulit dan bermasalah (bagimu) dalam berbagai hal untuk hidup bersama?”
“Saya tak melihat di mana masalahnya. Mengapa tidak?”
Aku hanya menatap gadis itu — Anastasia dengan tercengang.
Apa yang dia maksud, ‘tak melihat di mana masalahnya' jelas-jelas akan ada masalah kan…!?
“Oh, dan tuan. Tolong jangan bersikap formal pada saya, cukup menanggapi saya seperti biasa.”
“Eh, tapi…”
“Tidak apa.”
Walaupun kau mengatakan itu….
“Itu sulit. Ah, namun aku pikir aku akan mencoba jika kau menghilangkan panggilan ‘tuan' itu….”
Apa boleh…? Seraya mengatakan itu aku melihatnya.
“Baik. Maka saya akan memanggilmu dengan namamu.”
Aku merasa lega. Yah, bagaimana tidak? Di sebut sebagai 'tuan' membuatku merinding di setiap saat.
“Jika sudah di putuskan, tuan Yuuto. Mohon rawat diriku untuk ke depannya.”
“Tu-tunggu! Aku bahkan belum menyebutkan jika aku menerimanya!? Dan bukankah kau hanya menambahkan nama depanku di akhir kalimat 'tuan'!?”
“Itu hanya firasatmu saja.”
Tidak mungkin!
“Kau tahu, aku bahkan tak memiliki uang untuk menggajimu! Karena keuangan harianku telah di potong mulai sekang jadi dompetku saat ini sangat kosong!”
“Tidak masalah. Karena saya ingin melayani anda bukan oleh sebab uang.”
“Ba-bagaimana dengan kehidupanmu kalau tak ada uang?”
“Saya dapat beririt dan membatasi pengeluaran yang tidak perlu, saya juga dapat menabung uang yang lebih, atau jika memang sangat dibutuhkan saya bisa melakukan pekerjaan sambilan.”
Gah, gadis ini tangguh.
“……… Bagaimana jika aku menolak?”
“Jika itu memang keputusan tuan Yuuto, saya tak dapat berbuat apa-apa lagi. Saya akan mundur.”
Oh, dengan mudahnya?
Aku merasa sedikit lega oleh jawabannya, namun itu hanya untuk sesaat sebelum aku mendengar kelanjutan dari kalimatnya.
“Namun, ini akan menjadi sangat merepotkan. Karena saya sudah tidak dapat kembali ke sisi tuan Ryosuke dan hanya memiliki sedikit uang, saya pikir saya mungkin harus tidur di luar malam ini…….”
Huh?
“Tunggu. Tunggu sebentar. Kau tak dapat tidur di luar.”
“Anda benar. Saya mungkin akan terkena masuk angin dengan pakaian seperti ini….”
“Bukan itu maksudku!!”
“?”
Apa dia benar-benar tidak tahu…?
“Kau tahu, kau juga wanita jadi, aku pikir akan buruk untuk seorang wanita remaja tidur di luar tanpa pertahanan. Yah, walaupun dengan pertahanan diri itu juga akan buruk untuk tidur di luar….”
“…?”
“Intinya, tidur di luar di larang!”
“Begitu…. Namun ini buruk. Di mana saya tidur malam ini?”
Gah… ada apa dengan rasa bersalah ini!?
Aku ingin sekali mengatakan 'tidur sana di sini' namun bagaimana selanjutnya?
Apa yang dia lakukan esok hari…?
………
……
…
“Gah! Baik, baiklah! Kau menang! Aku menerimamu sebagai pembantuku jadi tinggallah di sini mulai sekarang!!”
“Apakah tidak apa…?”
“Ya.”
“Jika itu yang kau inginkan, tuan Yuuto.”
Dengan senyum di wajahnya yang indah Anastasia menatapku.
—
Minggu.
Pada hari ulang tahunku.
Aku mendapatkan seorang Maid sebagai hadiah ulangtahunku.
BERSAMBUNG……!!