Mentari pagi begitu enggan menunjukan sinarnya hanya rinai hujan yang menemani di pagi hari
"wooy bangun yaelaahh masih tidur ajah banguun iihh" ucap marsha yang langsung masuk menindih tubuh fabian
"aduuh wooy beratt beraat woyy" ucap febian ia merasa sesak karena postur tubuh marsha yang lumayan besar
Marsha dan Fabian adalah sahabat sejak kecil
"feb, ayoo dong bangun"
"ini hari libur sha,masih ngantuukkk"
"anterin gue ketemuan dong" ucap Marsha sembari merengek
"heumm, pasti ma cowok lagi yaa kan"
"hahaah iyaa kok tau" ucap Marsha sembari menggelitik pinggang febian dan ia pun merasa kegelian
"oke..okee.ayoo ayooo gue anter" ucap Fabian
"asiikkk" ucap Marsha ia terlihat bahagia.
Sesampainya di tempat tujuan Fabian segera memilih tempat agak jauh dari Marsha agar ia tetap bisa mantau Marsha dengan pria yang baru ia kenal
"hah ..itu kan alvino" ucap Fabian, seketika hatinya memanas ia ingin sekali menarik lengan Marsha dan membawanya pulang tapi Fabian tahu itu akan membuat Marsha marah dan kecewa
Fabian hanya diam ia terus melihat keadaan Marsha dan Alvino, di perjalanan setelah pertemuan itu Marsha terlihat bahagia sekali ia merasa sangat cocok dengan alvino tapi Fabian hanya diam dia tak menyahuti atas perasaan Marsha pada alvino
Malam itu sudah beberapa hari Marsha sedang menjalin hubungan dengan alvino ia tak menyangka hubungannya dengan alvino sudah berjalan satu bulan namun Fabian tidak mengatakan apapun pada Marsha tentang alvino yang ia tahu.
Hari itu Marsha mendatangi kediaman Fabian ia bercerita cerita yang sangat menarik bahkan menurutnya itu cerita yang bahagia Fabian seorang teman hanya bisa mendengarkan seluruh cerita Marsha lalu tiba-tiba
"feb gua mau diajak healing loh sama dia"
"ke mana"
"ke puncak"
"oh berangkat pagi pulang sore bawa motor sama dia"udah Fabian seraya menegaskan
"enggak, kita nginep"
"apa nggak deh nggak usah berangkat lu, gua nggak setuju ya,lu nginep nginep sama cowok udah nggak usah mending lu di rumah aja kalau lu mau pergi berangkat pagi pulang sore"tegas Fabian pada Marsha
"eh lu siapa sih ngatur-ngatur gue terserah gue dong dia cowok gue dia juga baik kok sama gue"
"kalau kata gue nggak ya nggak"
"ya udah alasannya apa gue nggak boleh healing sama dia terus nginep sama dia kita juga mesen kamarnya beda kok dia ngomong kok sama gue"
"duh Marsha Marsha umur berapa sih masih nggak paham soal beginian gue tahu alvino tau nggak asal lu tahu gua tahu si alvino gua kenal sama dia"
"udah deh semua cowok lu bilang Lu kenal lo tahu heran gue semua-mua lu larang gue gimana gue mau punya pacar kalau apa-apa lu larang, lagian juga lu bukan siapa-siapa gue kok cuma temen gue cuma sahabat gue jadi terserah gue dong mau jalan sama siapa aja jadiiii, udah deh cukup sampai sini aja lu ngurusin hidup gue dengan pacaran sama siapapun,"kesal Marsha yang memarahi Fabian karena ia merasa Fabian terlalu ikut campur akan urusan percintaannya
Marsha meninggalkan kediaman Fabian dengan rasa kesal ia merasa akhir-akhir ini Fabian overprotektif pada dirinya bahkan kemanapun ia pergi bersama alvino Fabian selalu menelepon atau mengirim pesan padanya untuk segera pulang entah kenapa dengan fabian, Fabian mengekang Marsha bahkan ia sangat overprotektif pada dirinya.
Malam itu fabian menghampiri kediaman marsha, ia terlihat berbeda dari biasanya marsha terlihat acuh tak acuh pada fabian
"lo masih ma vino?" tanya fabian
"masih lah,kenapa, mau ngelarang gue, mau nyuruh gue putus?"
"gue cuma mau bilang semoga dia baik buat lo. semoga dia pilihan yang tepat buat lo"
"yaa iyalah dia tepat buat gue, dia baik pengertian, sayang sama gue, orang tua gue" ucap marsha.
"ohh ya, apa lu tahu status nya dia,apa lo tau dia udah punya anak istri yg selama ini dia telantarkan lu tau gak hah..!!?" bentak fabian pada marsha
marsha terdiam ia tak menjawab ucapan fabian,
"udah feb udah, lo mending pulang ajah, gue pusing" ucap marsha dengan mata mulai sembab.
fabian terdiam iapun meninggalkan kediaman marsha malam itu ia melangkah kan kakinya dengan lemas
"yaa ga seharusnya gue se overprotektif gini sama marsha dia juga berhak bahagia tapi ...,ahh udah lah selagi Marsha bahagia gue cuma bisa mendukung nya tapi kenapa harus alvino," ucap fabian ia terus memikirkan marsha
malam itu fabian belum juga bisa terpejam ia terbangun dari tidurnya dan duduk melihat PC di hadapannya betapa terkejutnya ia, ia berhasil di terima dan bekerja di perusahaan yang selama ini ia idam idamkan.
"Alhamdulillah, tapi kenapa harus di kalimantan,gue harus jauh dari keluarga gue, dari marsha, lohh kenapa gue masih mikirin marsha rasanya ga rela kalo gue ingat dia cinta banget sama vino" ucap fabian
Malam itu fabian tak bisa memejamkan matanya sudah hampir 3 hari, ia tak berkabar pada marsha ia sedikit merasa bersalah lalu ia pun berniat mengunjungi marsha dan meminta maaf atas ucapan nya 3 hari yang lalu.
fabian membuka pintu gerbangnya perlahan tiba tiba
"BOUGGGHHT..." seseorang memukul wajah fabian hingga ia jatuh tersungkur.
"WOOOY... APAA APAAN LO!!" ucap fabian sembari berteriak minta
"JANGAN IKUT CAMPUR BANGSATT!!" ucap pria itu ia adalan alvino, ia memukul fabian secara membabi buta ia tak memberikan jeda untuk fabian melawan, fabian tahu vino adalah seorang yang jago bela diri.
Dia terus memukul tanpa henti hingga fabian terkapar lalu ia pun meninggalkan fabian sendiri.
Sejak pemukulan itu fabian merahasiakan pada marsha karena ia melihat marsha semakin hari semakin mesra dengan alvino ia tak ingin merusak kebahagiaan marsha ia pun larut dalam pekerjaannya hanya dengan menyibukkan diri ia bisa melupakan marsha dan segala permasalahannya
sepulang dari kantor fabian duduk di teras rumahnya seorang diri
"bian..,nih ada undangan" ucap ibu fabian
"undangan dari siapa bu"
"kamu lihat sendiri yaa"
dengan hati hati fabian membuka undangan itu bagai di sambar petir di siang bolong ia melihat nama marsha dan alvino tertera di undangan berwarna jingga itu hatinya berdegup tak karuan ia merasa kan hancur. ia berfikir bahwa ia benar benar kehilangan marsha.
ia tak bisa membayangkan bagaimana perlakuan vino nanti pada Marsha namun disisi lain fabian berfikir positif mungkin saja alvino sudah merubah tabiat buruknya.
Dua hari menjelang keberangkatan dirinya ke Kalimantan ia sibuk memasukan pakaian ke dalam koper dan segala kebutuhan miliknya, ia melihat undangan itu, tanggal pernikahan marsha bertepatan tanggal keberangkatan dirinya ke Kalimantan pukul 4 sore fabian sudah harus bertolak menuju Kalimantan
hari pernikahan marsha pun tiba ia melihat dirinya di cermin ia berfikir apakah ia siap melihat marsha menikaha dengan vino, namun fabian memiliki hati yang sangat besar ia ikhlas merelakan Marsha teman masa kecilnya hingga kini.
di kejauhan ia melihat marsha yag sudah cantik dengan gaun putih setelah ijab kabul selesai ia berjalan perlahan menaiki panggung pengantin di sandingkan
keluarga marsha menyambut baik kedatangan fabian ia berjalan ia melihat marsha dengan tatapan sendu marsha terkejut akan kehadiran fabian akibat keras kepalanya ia harus kehilangan sahabat nya itu bahkan fabian tak hadir dalam akad nikah marsha
"fabian.." ucap marsha ia memeluk fabian erat ia menangis sejadi jadinya fabian hanya diam memeluk erat marsha ia tak peduli vino memandangi fabian dengan sinis
"maafin gue feb, maaf...maaf" ucap marsha
"gak apa-apa gua yang salah selamat yaa. semoga laggeng, gue pamit yaa gue akan menetap di Kalimantan" bisik fabian ke telinga Marsha,ia masih terus menangis tak ingin melepaskan pelukannya
"gak, lo ga boleh pergi"
"ini kerjaan yang gue mau sha, gak apa-apa ada vino kok yang jagain lo,tapi sebelom gue pergi gue mau jujur sama lo"
"hiks..hiks...apaa!" ucap marsha dengan lembut sembari berderai air mata
"lo cinta pertama gue sha, gua ga bisa cuma anggap lo temen sahabat, gua sayang gue cinta banget sama lo sha tapi sayang kita ga di takdir kan bersama yaa" ucap Fabian dengan berbisik seraya tersenyum
"kenapa lo ga jujur feb,"
"gak apa-apa gue udah cukup bahagia bisa bantu lo di setiap lo ada masalah, selamat yaa. gue pamit" fabian mencoba melepaskan pelukan marsha
dengan berat hati marsha melepaskan pelukan itu ia terus memanggil fabian ia tak menyanga fabian adalah lelaki yang sangat mencintai dirinya selama berpuluh puluh tahun ia bersama selama itu pula fabian menyembunyikan perasaannya pada Marsha
3 TAHUN KEMUDIAN
Fabian memutuskan untuk kembali ke kampung halaman ia rindu dengan keluarga namun ia juga tak menampik bahwa ia ingin bertemu marhsa, entah mengapa rasa cinta itu tetap ada untuk marsha walaupun ia tahu marsha mungkin saat ini telah memilii anak.
sesampainya di rumah semua keluarga menyambut bahagia kedatangan fabian
"bu,itu anak siapa" tanya fabian ketika ia melihat ibunya menggendong gadis kecil berusia dua tahun
"anaknya marsha,cantik yaa" ucap ibu
"oh yaa ayoo sini oom gendong" ucap fabian iapun menurut dam jatuh di pelukan fabian ia menciumi gadis kecil itu tanpa henti.
"mama ada di rumah ga" tanya fabian pada gadis kecil itu
"namanya shanum" ucap ibu fabian
"ohh shanum, shanum mama sama papa ada gak"
tanya fabian tiba tiba shanum menangis keras ia menangis tanpa henti
"aduh aduhh sayang sayang" ibu fabian meraih tubuh kecil shanum
"jangan tanya ayah ibu nya"
"loh kenapa bu"
"heumm, nanti yaa ibu anter shanum dulu" ucap ibu Fabian
"ada apa,jangan jangan mereka sudah berpisah" ucap fabian
menunggu satu jam ibu fabian datang
"ayoo ikut ibu" ajak ibu fabian
ia terkejut mengapa ibunya membawa ia ke tempat seperti ini
"bu...tunggu jangan bilang kalo"
"yaa,ini makam marsha, dia meninggal dua bulan yang lalu, ibu mau menghubungi kamu namun sulit sinyal di tempatmu kan"
tubuh fabian seketika lemas ia duduk terkulai di hadapannya terdapat makam dengan nama marsha
"sha.. kenapa bisa gini sha..." tangisnya pecah seketika, ibu fabian pun ikut menangis
"dia meninggal akibat di aniaya oleh vino, dan tubuhnya di tikam oleh vino di hadapan shanum, hingga saat ini shanum masih trauma karena saat itu marsha hanya tinggal di kontrakan tiga petak, dan vino sekarang di penjara" ucap ibu fabian
tangis fabian makin pecah ia menangis meraung memeluk makan marsha yang masih berupa gundukan
"marsha...maafin aku sha... seharusnya aku perjuangkan kamu sha.. maafin aku sha.."
fabian terus menangis meminta maaf,
semenjak hari itu hampir setiap hari fabian mengunjungi makam marsha
"hai sha,lo sehat kan, maafin gue sha gue datangnya sore, sha..sampe lo di timbun tanah merah pun gue Masih cinta sha gue masih sayang sha.." ucap fabian dengan suara bergetar ia sangat rindu pada marsha
perasaan nya yang sangat besar untuk marsha entah sampai kapan bisa hilang sedangkan ia belum mendapatkan seseorang yang mengisi hatinya hingga saat ini.