Suasana perkantoran terlihat sibuk, Archi memijit kepalanya yang sakit. Beberapa map menumpuk di mejanya, dia berusaha menyelesaikan pekerjaannya demi bisa cuti minggu depan. Seorang pria menaruh secangkir kopi di mejanya. Dia tersenyum manis sambil melangkah ke mejanya.
"Thank." ucap Archi pendek.
Archi sangat mengenal pria itu. Siapa yang tidak mengenal Brama. Pria tampan dengan karir bagus di perusahaannya. Tapi Archi sudah memasukkan Brama dalam daftar hitam karena pria itu terkenal playboy yang suka mempermainkan perempuan yang terjerat pada kebaikannya.
"Jangan tanggapi berlebihan! Dia baik pada semua perempuan." batin Archi.
Archi kembali bekerja tanpa mengindahkan pandangan Brama dari meja kerjanya. Pria itu menatap intens ke arah Archi. Sepertinya dia mulai tertarik pada perempuan muda itu.
Archi menghentikan aktivitasnya saat suasana sudah sepi dan dia hanya melihat ob yang sedang berbenah kantor. Dia tersenyum pada dirinya sendiri karena lupa waktu.
Dia menunggu bus menuju tempat tinggalnya. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca mobil terbuka, Archi dapat melihat jelas ada wajah Brama di depannya.
"Ayo masuk Chi!"
"Thank Pak. Aku pagi nunggu taksi online." jawabnya bohong.
"Ayo naik! Jam segini susah nyari taksi online."
Brama terus memaksa Archi, hingga perempuan itu merasa tidak enak hati. Dia masuk ke dalam mobil dengan perasaan canggung. Brama melajukan mobilnya ke arah depan.
"Kenapa pulang malam?"
"Banyak kerjaan Pak."
"Kamu mau ngambil cuti?"
"Ya pak. Saya mau ngambil cuti untuk liburan Pak."
Archi menutup mulutnya karena dia merasa terlalu terbuka menyampaikan kehidupan pribadinya. Brama tersenyum melihat tanggapan Archi.
"Santai saja denganku. Mungkin kamu takut berdekatan denganku karena aku terkenal playboy di kantor."
"Gak kok Pak. Sekarang buktinya Bapak sopan dan tidak berlaku berlebihan. Saya menepis dengan cepat kabar itu ."
Mereka tertawa bersama sambil menatap jalanan yang mulai sepi. Waktu menunjukkan pukul 23.07 malam, itu wajar saja membuat suasana jalanan menjadi sepi.
"Kamu haus Chi?"
"Gak Pak."
Brama mengeluarkan botol mineral dari dalam wadah. Dia memberikannya pada Archi karena Archi tidak enak menolak pemberian Brama. Lalu dia meminumnya sekali tegukan, banyaknya aktivitas hari ini itu membuat Archi lupa akan kesehatannya. Seingatnya dia hanya minum segelas kopi tadi pagi tanpa sarapan. Mereka mengobrol tentang pekerjaan, Archi yakin pria itu bukan pria brengsek apalagi perkataannya yang sopan dan ramah.
Archi terbangun dari tidurnya sambil memijit kepalanya yang berat. Dia mencoba mengenali kamar yang dia tiduri sekarang. Itu terlihat asing untuknya, dia terlonjak kaget melihat dirinya tanpa sehelai pakaian. Dia dengan terburu mengganti pakaiannya tanpa dia sadari ada bercak darah di ranjang dengan sprei warna putih itu.
"Apa yang bapak lakukan pada saya?"
Pria yang sedang menyeduh kopi itu tersenyum penuh kemenangan. Dia membalikan tubuhnya menghadap Archi. Senyuman pria b*jin*an terpancar dari wajahnya. Archi merasa terlalu lugu karena masuk dalam perangkap pria ini.
"Semalam kita tidur bersama, kamu tidak menolaknya."
"Bapak yang dengan tega memberi obat jahat dalam air mineral tadi malam." teriak Archi.
"Bapak dengan tega memperkosa saya. Saya terlalu bodoh percaya dengan manusia bre*gs*k macam kamu!!!" seru Archi.
"Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Makanya kamu jangan mudah termakan dengan kebaikan pria." sahutnya santai.
"Jika ada yang ditumbuh di rahimmu maka kamu harus menggugurkannya!" seru Brama sambil membelai lembut perut Archi.
Perempuan itu menjauh karena dia merasa jijik dengan pria di depannya.
"Kalo itu sampai terjadi saya akan melaporkan kamu ke kantor polisi dan akan memenjarakan kamu!!!"
"Sebelum kamu sampai ke kantor polisi aku akan menculik dan mengurung mu menjadi budak ku."
"Dasar psik*pat!!!!" teriak Archi sambil berlari ke arah pintu keluar.
Tapi pria breng*s*k itu masih mengunci rapat pintunya dan dia menyembunyikan kunci ya entah di mana. Archi berteriak saat pria itu mulai mendekatinya. Dia duduk di pojok pintu ke luar sambil menyembunyikan wajahnya.
"Mau ke mana gadis cantik!"
"Lepaskan aku! Aku mohon!" ucap Archi memelas.
"Jangan buru-buru untuk pergi! Kamu bahkan belum sarapan dan minum kopi pagi ini."
"Tolong Pak lepaskan saya! Aku gak akan mengatakan pada siapa pun tapi ku mohon biarkan aku pergi." ujar Archi sambil merapatkan tangannya di depan dada tanda memohon.
"Ayo bermain kembali sayang!"
Brama mengendong Archi paksa dan perempuan itu menjerit memohon. Brama menutup pintu kamar dengan kasar. Dia tidak peduli dengan tangisan Archi yang memohon untuk di lepaskan. Jiwanya mengebu saat dia melihat Archi yang akan pergi dari apartemennya. Dari balik pintu terdengar suara tangisan meminta ampun tapi pria itu sudah dibutakan hawa nafsu yang menguasainya.
Perempuan itu menangis di pojok kamarnya. Dia sudah tidak bekerja lagi bahkan untuknya pergi ke dunia luar pun dia tidak sanggup. Dia begitu malu untuk menampakkan dirinya. Dia meratapi nasibnya yang kelam dan buruk sambil menangis.
"Pergilah dari ku!"
"Kenapa kamu berada di sini!"
"Aku membencimu!"
"Aku gak menginginkanmu!" teriaknya sambil memukul perutnya yang membesar.
Setelah kejadian Brama memperkosanya Archi menghilang dari kehidupan. Bahkan dia merasa setiap gerakannya dipantau oleh seseorang karena saking takutnya dia. Beberapa bulan dia mulai merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Sesuatu bergerak lembut di perutnya, dia sangat menyakini kalau ada yang tumbuh di perutnya.
"Tuhan, ampuni aku yang berdosa ini!" isaknya pedih.
Archie mengambil sweater hitam untuk menutup perutnya yang membesar. Dia sudah membelitkan banyak kain di perutnya agar tidak begitu terlihat. Hidup sebagai wanita karir, maka dia akan mendapat banyak cibiran kalau hamil tanpa suami. Dia melangkah ke luar dari apartemennya. Dia menelpon seseorang sambil menghapus air matanya.
"Kamu terima saja konsekuensinya. Aku akan melaporkanmu ke polisi karena kasus pemerkosaan dan pengancaman! Membusuk kamu di penjara breng**sek!" maki Archi.
"Kalo kamu berani melakukannya aku akan membunuhmu!"
"Aku gak takut lagi padamu! Biar semua orang tahu kelakuan b*jatmu yang sebenarnya!"
"Hei, di mana kamu permpuan j*lang?"
Archi terburu-buru hingga dia tidak melihat jalan. Seorang polisi membantunya berdiri karena Archi terlihat kesulitan berdiri.
"Maaf Pak."
"Gak papa Mba. Lain kali hati-hati ya."
"Pak boleh bantu saya. Saya takut pak ada seseorang mengancam saya."
"Mba baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Pak, saya korban pemerkosaan dan saya sedang hamil sekarang. Bantu saya pak."
"Ayo masuk ke mobil patroli saya mba!"
Polisi itu melajukan mobilnya di jalanan yang sepi. Tadinya dia berencana berkeliling kota untuk mengecek kondisi sekitar. Tapi saat dia melihat perempuan penuh ketakutan ini minta tolong dia langsung membatalkan niatnya. Dia sangat iba melihat penampilan Archi yang tidak terurus. Tapi sayang niat baik polisi itu berakhir saat sebuah mobil menabraknya keras dari arah belakang hingga mobil mereka terguling di jalan.
"Tuhan, jika hidupku akan berakhir menyedihkan ini. Berikan lah aku kesempatan untuk balas dendam walaupun hanya sekali!"
Bum, ledakan keras terdengar dari arah mobil yang ditumpangi Archi. Walaupun dia mati hari ini, maka besok dia akan bangkit untuk membalas perbuatan Brama yang sudah menghancurkan mimpi dan hidupnya.