"Tidak mungkin, dok..." Ferry berkata dengan suara parau.
Dokter yang menangani Anna mengangguk pelan.
"Kita sudah mencoba melakukan yang terbaik, Pak. Tapi Tuhan berkehendak lain." Ujar sang dokter.
"Apakah ingatan istri saya bisa kembali normal?" Tanya Ferry penuh harap.
"Secara medis, sulit pak. Namun kuasa Tuhan bisa melakukan apapun..." Ucap sang dokter bijak.
"Tapi besar harapan saya, kita bisa melakukan terapi secara rutin. Semoga bisa membantu proses penyembuhan Ibu Anna." Sambung sang dokter.
"Baik, dok. Terima kasih." Ucap Ferry.
"Mari kita menemui Ibu Anna. Seharusnya sekarang beliau sudah siuman." Ajak sang dokter.
Kedua pria itu masuk ke ruang rawat inap pasca operasi. Anna terbaring lemah di atas tempat tidur. Dua orang perawat yang bertugas melaporkan kondisi terakhir pasien berbicara dengan dokter. Sang dokter mengangguk-angguk dan mencatat sesuatu.
Ferry mendekati Anna. Dia mengelus lembut rambut istrinya. Anna merespon. Anna membuka matanya. Perlahan ia melihat ke sekeliling ruangan.
"Dimana ini?" Tanya Anna dengan suara lemah.
"Di rumah sakit, sayang." Jawab Ferry sambil tersenyum.
"Rumah sakit?" Anna mengernyitkan dahinya.
"Iya..." Jawab Ferry.
Anna merasa pusing dan mual. Dia ingin menegakkan badan namun tubuhnya tidak mampu bergerak.
"Kamu siapa? Mengapa ada di sini?" Tanya Anna.
Wajah Anna yang pucat terlihat panik. Ferry merasa sedih mendapat pertanyaan seperti itu.
Benar kata dokter. Anna mengalami amnesia setelah benturan yang dialaminya di bagian kepala dalam kecelakaan itu.
Kedua orang tua Anna telah tiba di rumah sakit. Mereka diizinkan masuk oleh sang dokter.
Anna menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Siapa kalian?" Tanya Anna dengan wajah bingung.
Kedua orang tua Anna saling pandang. Ferry menjelaskan kejadian yang dialami oleh Anna dan laporan hasil pemeriksaan dokter pada kedua orang tua Anna.
"Dia melupakan semua orang, termasuk aku..." Ucap Ferry lirih.
***TAMAT***