Hai nama aku Cantika, aku masih sekolah menengah pertama, aku berusia 15 tahun. Nama sekolahku adalah SMPN Satu Bangsa.
Hari ini adalah hari Senin pasti tahulah hari Senin, Yap Senin biasanya melaksanakan upacara bendera. Aku sangat malas mengikuti upacara karena panas nanti kulitku gosong.
"Haaa... Kenapa hari Senin sangat menyebalkan." Kataku kesal.
"Aku enggak suka upacara, aku benci!!." Rengek ku.
"Gue setuju ucapan lo nanti kulit kita gelap dan enggak populer lagi huwaaa." Ucap sahabatku yang bernama Aira.
Aku menghela nafas berkata. "Sudah lah terima nasib apalagi guru kepala sekolah kita sangat menyeramkan kalau sampai kita ketahuan tidak mengikuti upacara maka kita di skor."
Aira bergidik ngeri membayangkan kalau dia ketahuan, "sudah lah ayo ke lapangan Oya topi, dasi dan sabuk beres?" Tanya Aira.
"Aman." Jawabku mantap.
Aku dan sahabatku ke lapangan tak lama bel berbunyi, semua satu sekolah berkumpul di lapangan dan mulai lah upacara bendera. Saat amanat guru, salah satu teman kami pingsan. Akibat panas matahari, guru yang melihat itu mengangkat siswa pingsan tadi ke UKS.
"Aduh tangan aku mau gelap." Kataku keluh.
"Yaelah gampang pakai skincare kan bisa? Gitu doang aja keluh." Ucap Aira.
"Hahaha iya ya aku lupa." Aku terkekeh kecil.
"Herem siapa di sana yang bicara?." Tanya guru di situ.
Semua siswa menoleh ke arahku dan sahabatku, aku dan sahabatku menelan air liur susah payah.
"Kamu saya hukum berjemur di lapangan sampai jam istirahat." Ucap guru.
"I..iya Bu." Jawab kami pasrah.
*****
Upacara pun selesai semua siswa segera bubar dan menuju ke kelas tinggallah aku dan sahabatku karena kami harus di hukum. Ini juga salah kami bicara saat upacara.
"Kalian berdua berjemur di sini sambil tangan hormat paham!!" Tegas guru.
"Paham Bu." Ucap kami berbarengan.
"Bagus...makanya jangan bicara saat upacara." Setelah mengucapkan kalimat terakhir guru pergi untuk mengajar.
Masih di tempat yang sama kami di hukum, setelah beberapa lama kami mulai kehausan sahabatku berkata.
"Cantika." Panggilnya.
"Iya?" Aku menoleh.
"Gue haus nih." Keluhnya.
Aku tersenyum tipis. "Sama tapi mau gimana lagi nanti kalau guru mencari kita malahan kitanya dapat hukuman Doodle." Ujar ku.
"Iya juga ya masuk akal." Aira menganggukkan kepalanya.
Aku tersenyum dan kembali menatap bendera merah putih. Pandangan ku mulai kabur, sahabatku yang melihatku dengan tatapan khawatir lalu berkata.
"Cantika kalau enggak kuat istirahat saja." Khawatir Aira.
"Enggak p-papa kok." Ucapku lemah.
"Tapi...." Aira menatapku saat aku mau menjawab aku pingsan duluan sahabatku panik.
"Aduh Cantika." Panik Aira, menepuk-nepuk pipiku yang sudah basah akibat keringat ku.
"Gue harus cari pertolongan." Aira mencari bantuan.
*****
Di UKS aku terbaring lemah, sahabatku masih setia menemani ku, aku membuka mata ku lalu menatap Aira.
"Aku...di mana?" Tanyaku setengah sadar.
"Akhirnya Lo sadar juga, ini minum dulu." Aira mengambil segelas air putih sebelum memberikan aku, aku di bantu oleh Aira untuk duduk lalu minum air.
*Glok
*Glok
*Glok
"Ah....segarnya." aku menghela nafas lega.
"Hmm..."
"Omong-omong siapa yang bawa aku di sini? Enggak mungkin kan kamu." Tanyaku pada Aira.
"Lo di gendong sama Reo." Ujar Aira.
Aku menatap bingung pada Aira. "Siapa Reo?" Tanyaku lagi.
"Itu si cupu kelas IX A."
"Eh enggak boleh gitu, nanti di dengar oleh orangnya gimana?"
"Biarin." Ucap Aira malas.
Aku menggeleng kan kepalaku dengan kelakuan Aira, sungguh buat aku berfikir darimana aku mendapatkan sahabat seperti Aira.
"Eh ayo antar aku yuk ke kelas Reo." Ajakku.
"Emang Lo sudah baikan?" Tanya Aira heran.
"Sudah kok, nih lihat tubuhku sehat 5 sempurna." Aku terkekeh.
"Ada-ada aja, yuk." Aku dan sahabatku menuju ke kelas Reo.
*****
Sampailah di mana kelas Reo, aku menatap kelas ini. "Ini beneran kelas nya?" Tanyaku.
"Iya benar, sudah ayo masuk." Saat Aira menarik tanganku, aku teralih seorang cowok berkacamata sedang di bully oleh siswa.
"Eh Aira kita tolong dia dulu yuk kasihan." Ucapku merasa kasihan.
"Loh itukan sih Reo, lebih baik kita tolong." Kami mendekati Reo yang sedang di bully lalu segera memberhentikannya.
"Berhenti!" Teriakku, aku menatap siswa itu sangat tajam.
"Eh Cantika? Kenapa kamu menghentikan aku sayang?" Ucapnya genit.
"Genit banget sih Lo mending Lo enggak usah bully orang deh! Gue benci nama nya bullying!!" Bentakku.
Siswa itu takut, lalu meninggalkan kami, aku mendekati Reo yang sudah babak belur akibat di pukul tadi.
"Ayo ikut aku di UKS luka kamu parah tuh." Tawarku.
"Enggak usah terima kasih." Ucap Reo dengan nada dingin dan engga menatapku sama sekali.
"Gue pergi dulu. Terima kasih Lo bantu gue tadi, permisi." Setelah mengucapkan itu dia pergi entah kemana.
Aira kesal dengan sifat Reo sudah di tolongin malah dingin sungguh pria kutub es.
"Ka ayo pergi."
"Sekarang aku sudah menemukan tipeku." Ucapku tanpa sadar.
Aira kaget dan rasa penasarannya kini sudah kambuh. "Siapa? Siapa dia? Apakah dia ganteng, atau kaya atau-" aku memotong pertanyaan Aira.
"Dia adalah Reo." Jawabku dengan tersenyum manis.
"What!! Sungguh selera mu sangat tidak masuk akal, kok Reo sih sudah cupu, dingin, cuek lagi bukan tipe gue banget deh." Ujarnya.
"Biarin itukan kau bukan aku, aku kan menerima apa adanya tanpa fisik yang penting itu sifatnya." Ucapku mulai kesal.
"Tapi masa tipemu dingin sih Can?"
Aku tersenyum dan mulai menjawab. "Karena aku suka penuh tantangan dan cinta harus perjuangan, pokoknya Mr cupu is mine."
Tanpa mereka sedari ternyata si Reo diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua ya sebenarnya Reo belum pergi. Reo tersenyum simpul berlalu pergi.
Tamat...
Author : maaf kalau cerita saya tidak seru dan banyak typo.