Pernahkah kamu mendengar sebuah mitos tentang bulan?
Tentang sang bidadari dan kucing dipangkuannya.
Cerita itu menghiasi masa kecilku.
Saat berjalan di malam hari, aku akan berhenti sejenak hanya untuk memandangi bulan. Mataku akan berkedip-kedip setelah menangkap sosok yang kucari. Walaupun sebenarnya sudah tahu kalau itu hanyalah sebuah dataran yang tak mulus.
Kini aku tak perlu lagi menunggu malam untuk melihatnya. Tidak lagi harus mendongak ke atas langit menatap bulan. Karena sang bidadari dan kucingnya telah turun ke bumi.
Dia menyambut kehadiranku dengan sumringah. lesung di pipi kirinya menghiasi senyumannya. Tangannya yang membelai makhluk berbulu dipangkuannya dengan cekatan beralih ke kedua roda kursi yang di dudukinya. Aku menghampirinya sebelum dia lebih jauh menjalankan kursi rodanya.
"Kakak mendapatkannya?"
"Tentu saja!"
Aku menyodorkan Bungkusan plastik yang berisi makanan kucing dan barang kebutuhan kucing lainnya sesuai yang diharapkan oleh adik kesayanganku ini.
Dia membuka bungkus plastik dengan antusias lalu mengambil sebuah kalung berwarna kuning cerah.
"Sini aku bantu pakaikan!"
"Ok!"
"Bulan, pakai kalung dulu ya.."
Dia memegang kucingnya sedangkan aku memakaikan kalung ke leher si kucing yang ia beri nama Bulan.
"Aduh, imutnya... Kucing siapa ini? Kucing mommi Aira.."
Aira dengan bangganya menyebut dirinya mommi, padahal umurnya baru 15 tahun. Aku tersenyum senang melihatnya menguyel-uyel Bulan, kucingnya.
"Kakak beliin mainan tikus-tikusan lho buat Bulan. Ayo dicoba!"
"Iya?"
Aira kembali mengorek isi bungkusan plastik dan menemukan sebuah box bergambar tikus. Aku membantunya membuka box tersebut. Terdapat mainan tikus kecil dan remotnya. Akupun mengajari Aira cara kerjanya. Bulan langsung melompat dari pangkuan Aira saat mainan itu mulai bergerak. Bulan mengejar mainan tikus yang berlari.
Aira terlihat antusias melihat tingkah Bulan yang mengejar mainan tikus. Aku memberikan remot kontrolnya pada Aira.
"Wih... kejar terus, Bulan!"
"Ih, Bulan pinter."
"Tikusnya jangan digigit, Nanti kesetrum! Ini pakai baterai bukan tikus beneran!"
Aku ikut tersenyum melihat keceriaan di wajah Aira. Aku berharap hari-hari berikutnya akan tetap seperti ini.
Jika mengingat Beberapa bulan yang lalu, Saat air mata terus keluar dari kedua mata Aira. Raut kekecewaan menghiasi wajahnya. Meratapi nasib yang telah terjadi pada dirinya.
Entah bagaimana itu terjadi. Saat tersadar Tidak ada luka yang terlihat menggores kulitnya. Namun kenapa kedua kakinya kehilangan fungsi?
Aira menangis sejadi-jadinya mengetahui kenyataan dirinya lumpuh. Kecelakaan yang terlihat tidak fatal ternyata malah fatal untuk masa depannya.
Sejak itu, Aira tak pernah mau tersenyum. Dia menolak untuk bahagia apalagi tertawa. Justru tangisan yang menghiasi wajahnya.
Hingga suatu hari saat kita makan sekeluarga di luar, seekor anak kucing tanpa induknya yang kurus kering mengeong di bawah kursi roda Aira. Anak kucing itu terus mengeong sampai sebuah paha ayam goreng utuh terletak di bawah. Anak kucing itu terdiam karena segera memakannya. Ternyata Aira yang memberikannya.
Setelah kenyang, anak kucing itu pergi menjauh dari meja kami dan merebahkan diri di tempat yang tak begitu banyak manusia. Makhluk sekecil itu seharusnya tidur dalam pelukan induknya. Namun bagaimana bisa dia seorang diri sudah harus mencari makan sendiri untuk bertahan hidup.
Aira terlihat mengamati anak kucing itu dari kejauhan lalu ia juga menatapku dan kedua orang tua kami. Entah kenapa ia tiba-tiba menangis lagi.
Padahal kami pikir, keadaannya sudah mulai membaik sehingga memutuskan untuk mengajak Aira makan diluar.
Kami berusaha menenangkan Aira, tapi kami dibuat terkejut saat Aira tiba-tiba menghapus air matanya dan tersenyum. Ia mengungkapkan ingin membawa pulang anak kucing tadi. Kamipun menyetujuinya.
Yahh anak kucing itu adalah Bulan yang sekarang sedang mengejar mainan tikus. Seekor kucing yang sudah semakin cantik di tangan Aira.
Entah apa alasan Aira mengadopsi Bulan. Tapi semenjak ada Bulan, Aira mulai menerima nasibnya. Ia kembali mau tersenyum dan menjalankan aktivitas seperti sedia kala. Meskipun keadaannya sudah tak lagi sama.
"Kak Raka.."
"Hmmm"
"Terima kasih, tikusnya. Aku bisa main-main sama bulan tanpa dia harus duduk di pangkuanku."
Aku tersenyum melihat bidadari yang tak lagi memangku kucingnya.
@tosca_mocca_