"Aku tidak ingin gagal lagi. Kehidupanku sebelumnya kacau sekali. Aku tidak ingin mengalami hal yang sama sekarang! Yang benar saja, ini kesempatan kedua. Aku akan sukses! Aku harus sukses! Harus!" Batin Desy.
Seorang wanita muda berusia 20-an berjalan dengan langkah gemulai memasuki ruang rapat. Dia adalah Desy, kepala bagian sarana dan prasarana.
Dalam usia yang terbilang muda, karir Desy berkembang pesat. Semuanya seolah berjalan mulus di kehidupan keduanya ini.
"Selamat pagi, Bu Desy..." Seorang pegawai menyapa dengan sopan.
"Selamat pagi!" Seru Desy bersemangat.
"Hemmm... Pegawai yang lain belum hadir?" Tanya Desy sambil memandang berkeliling.
Terlihat masih banyak kursi kosong di ruangan. Beberapa pegawai yang sudah hadir saling pandang. Namun belum ada yang berani mengatakan sesuatu.
"Kita akan menunggu 5 menit lagi..." Kata Desy pada notulen rapat.
"Baik, bu." Sahut pegawai yang bertugas sebagai notulen tersebut.
Sambil menunggu waktu berjalan, Desy membuka file map yang ada di hadapannya. Dia membaca beberapa laporan yang telah dirangkum dengan rapi dan sistematis itu.
Desy menyipitkan kedua matanya ketika melihat barisan kalimat di paragraf kedua.
"Hemmm... Sudah ada pegawai baru ya?" Tanya Desy pada notulen rapat yang duduk di sebelahnya.
"Iya, benar bu. Rekrutmen dilakukan minggu lalu. Divisi HRD sudah menemukan orang yang tepat menurut mereka." Jelas sang notulen.
"Ohh... Good..." Sahut Desy.
Desy bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa divisi HRD memutuskan proses rekrutmen pegawai baru secepat itu. Biasanya dibutuhkan waktu paling cepat dua minggu untuk finalisasi keputusan hasil akhir tes seluruh kandidat.
Desy mulai mencium adanya permainan orang dalam di kantornya ini. Sudah menjadi rahasia umum, permainan titipan orang dalam kerap kali terjadi di kantor tempat dia bekerja sekarang.
"Hemmm... Semoga saja dia memang layak untuk posisi ini." Desy berdo'a dalam hati.
Lima menit telah berlalu. Para karyawan sudah hadir semua. Begitulah kondisi di negeri ini. Kedisiplinan masih minim di sana-sini. Kerap kali atasan menunggu bawahan.
Jika atasan bersikap tegas, bawahan akan membenci. Jika atasan sering memberi toleransi, bawahan semakin tidak tahu diri. Mengenaskan memang!
"Selamat pagi, rekan kerja semua! Salam sejahtera. Terima kasih sudah berhadir di ruang meeting ini." Desy menyampaikan beberapa kalimat pembuka.
"Selamat pagi, Bu Desy..." Semua karyawan membalas serentak.
Desy melemparkan senyum terbaiknya dan melanjutkan kalimatnya, "Sepertinya ada pegawai baru ya.. Boleh tolong memperkenalkan diri?"
Seorang pria berwajah innocent bangkit dari kursinya dan mulai memperkenalkan diri.
Desy shock ketika melihat wajah pria tersebut. Dia mengenalinya! Ya, tentu saja!
"Apakah dia juga bereinkarnasi?" Desy bertanya dalam hati.
Pria itu adalah Bima. Kekasihnya di kehidupan masa lalu.Tetapi mengapa sepertinya Bima tidak mengenalinya?
Bima telah menghancurkan cintanya dulu. Menghancurkan hatinya. Desy kecewa karena cinta palsu dari pria itu.
"Kenapa dia harus hidup lagi sih??" Desy menggerutu dalam hati.
"Demikian, Bu Desy..." Ternyata pegawai baru itu sudah sampai di kalimat penutupnya.
"Oh... Okay. Selamat bergabung, Bi... Ummm... Pak Gery..." Ujar Desy.
Desy nyaris saja keceplosan menyebut nama Bima. Padahal sebelumnya dia telah mengetahui nama pegawai baru itu dari biodatanya.
"Semoga kau tidak membuat hidupku hancur untuk kedua kalinya..." Sebuah do'a terselip di hati Desy.
Rapat kembali dilanjutkan. Desy memaparkan perkembangan sarana dan prasarana yang telah dipersiapkan kantor untuk mendukung kinerja para pegawai dan memberikan arahan-arahan strategis untuk segera dilaksanakan oleh para bawahannya. Semua karyawan menyimak dengan antusias.
Gery menatap Desy dengan tatapan penuh kekaguman. Dia benar-benar kagum dengan atasannya itu. Dia sudah kagum pada pandangan pertama.
"Wanita yang menarik..." Gumam Gery.
***TAMAT***