Hai, nama ku Indria aku saat ini tengah duduk di balkon kamarku, dengan segelas susu hangat yang dibuatkan oleh ibu ku sebelum berangkat ke luar kota bersama ayah untuk keperluan bisnis.
“Nona, bibi pulang ke rumah dulu.”
Dari luar ku dengar bibi berpamitan, seperti biasanya pada pukul sembilan bibi akan pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari daerah itu. Bibi ditemani oleh putranya yang juga berkerja sebagai supir ku.
Aku berjalan keluar dan mendapati bibi berdiri di depan pintu kamarku, aku tersenyum padanya. “hati-hati, ya bi.”
“iya non, tapi non Indri tidak apa-apa sendiri di rumah?”
“nggak apa-apa bi, aku akan baik-baik saja.” Ujarku berusaha meyakinkan bibi.
“bagaimana kalau ibu minta Bagas untuk menjaga rumah saja? untuk menemani non Indri?”
Aku berusaha menolak, tapi apa yang dikatakan bibi ada benarnya. Dirumah sendirian memang berbahaya apalagi aku adalah seorang wanita. Aku menyetujui saran bibi. Dan kami sepakat setelah Bagus mengantar bibi, dia akan kembali untuk menjaga rumah.
Aku kembali ke kamar ku, dan kembali mmeneguk susu putih yang sudah hampir mendingin karena ku biarkan di udara terbuka, meraih ponsel yang kusimpan di atas meja, lalu mendapati chat dari pacarku Reza.
*Reza*
Kamu di mana?
Aku dan Reza sudah berpacaran sejak duduk di SMA kelas tiga, hingga saat kami berkuliah saat ini. Reza awalnya pria yang dingin, dan cuek, tapi pada akhirnya si es batu itululuh karena keceriaan ku.
Aku membalas pesan Reza yang menanyakan kberadaan ku. Hm... agak aneh juga, karena akhir-akhir ini hubungan kai memang sedang tidak baik. Sikapnya terkadang kembali seperti dulu.
*Aku di rumah.*
Balasku singkat dengan kening sedikit berkerut. Tidak biasanya Reza menanyakan keberadaan ku di jam segini. Biasanya dia akan bertanya apakah sudah tidur, dan beberapa pertanyaan yang lebih wajar.
Aku menunggu balasan Reza, tapi pria itu sama sekali tidak membalas pesan ku, yang ada hanya dua centang biru menyebalkan itu.
Karena kesal, aku meletakkan kembali ponselku dengan acuh dan kembali meneguk susu putih yang sudah mendingin.
Baru saja meneguk susu tiba-tiba ponselku berdering, alisku mengerut seteah melihat layar ponselku yang otomatis menyala, panggilan tanpa nama. Dengan ragu-ragu, ku raih ponsel ku dan menggeser tombol berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.
“Halo?” Aku mencoba menyapa karena orang di seberang tidak kunjung bicara.
“Siapa?” tanyaku yang berusaha sopan, takutnya itu adalah rekan kerja ayahku, atau ibu.
Tidak ada suara sama sekali, hanya hening, dan sebuah suara aneh yang sepertinya akrab di telinga ku tapi entah apa itu.
“Halo? Maaf jika tidak ingin bicara akan kumatikan ponselnya.” Ujarku sudah mulai kesal.
Eh... tiba-tiba panggilan itu berakhir. Aku menatap ponselku dengan bingung, lalu ponselku kembali bergetar, sebuah pesan masuk.
*08218*******
[Kami sedang bersenang-senang, datanglah dan saksikan betapa Reza mencintaiku lebih dari pada mu! DANDELYAN KLUB, malam ini.]
Aku spontan berdiri. Tanpa sadar kujatuhkan segelas susu di tangan ku dan tidak sengaja menginjak belingnya.
“Siapa kamu? Jangan sembarangan kalo ngomong! Reza bukan pria seperti itu!!! Buktikan kalau kata-kata mu benar!!” aku membalas pesan itu dengan kesal. Oh Tuhan, yang benar saja? Aku tidak akan percaya wanita ini begitu saja.
Aku menunggu balasan orang itu, tapi sampai dua menit berlalu tidak ada balasan saa sekali. Dengan marah aku kembali menghubungi nomor itu, tapi nihil nomornya sudah berada di luar jangkauan.
Marah? Itulah yang kurasakan, bukannya aku tidak percaya pada Reza, sikapnya akhir-akhir inilah yang mebuatku mulai bimbang.
Aku berjalan mondar mandir di dalam kamar ku, berusaha memutuskan apa yang sebaiknya ku lakukan. Kulirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Perasaan ku erkata bahwa itu tidak mungkin tapi otak ku ini terus saja berkata lain.
“Huh...! Oke, baiklah. Aku akan pergi dan membuktikan bahwa wanita itu salah.” Dengan keputusan bulat, segera kuganti piyama tidurku dengan baju kaos dan juga celana panjang. Kuraih ponselku lagi dan turun ke bawah.
Aku tiba di depan bertepatan dengan Bagas yang baru saja kembali setelah mengantar bibi.
“Indri? mau kemana malam-malam begini?” Tanya bagus. Aku memang meminta Bagas untuk memanggil nama ku saja karena kami seumuran.
“Aku mau kesuatu tempat, tolong anterin.” Tanpa menunggu jawaban Bagas, aku lalu memasuki moil dan duduk di samping kursi pengemudi.
Bagus masuk dan menjalankan mobil. Dia bertanya kenapa aku pergi ke Dandelyn Klub di jam segini, dan meminta ku untuk kembali saja, tapi rasa penasaranku ini benar-benar mencekikku, sampai-sampai aku tidak bisa menghentikan nya.
*
*
*
Kami tiba di Klub itu, seluruh kaki dan tangan ku gemetar, semua tayangan-tayangan film pelakor yang pernah ku tonton bergentayangan di kepalaku.
“Apa kita kembali saja, nona?” Bagas bertanya, tapi aku hanya bisa menggeleng.
“Aku takut.” Jawab ku pelan. Ya, aku cemas, bagaimana jika itu benar?
“Kalau begitu kita kembali!” pungkas Bagas dan langsung menyalakan mobil.
“No! Aku harus masuk, jika tidak aku tidak akan bisa tidur tenang malam ini.”
Aku lalu membuka pintu, dan berjalan masuk. Bagus yang sepertinya khawatir berlari mengikutiku.
“Aku akan menemanimu.” Ujar Bagas setelah berada sejajar di samping ku.
Semakin masuk, tanganku semakin bergetar hebat, Bagus yang berada di sampingku menggenggam erat tangan ku.
“Apa kamu baik-baik saja?
”
Aku hanya bisa mengangguk, karena aku sendiri tidak mengerti dengan perasaan ku saat ini. Aku melepaskan genggaman Bagas, lalu berbalik hendak menilik lebih dalam, tapi tubuhku seketika membeku ketika melihatsiapa yang tengah berdiri di hadapan kami.
Disana Reza tengah memandangku dengan tatapan dingin yang biasa ia tujukan pada orang lain. Tatapan dingin yang membuat hatikuikut membeku dibuatnya. Dari belakang Reza muncul seorang wanita yang juga ku kenal. Dia Diva, sahabat kecil Reza, seketika hatiku sakit apa mungkin wanita yang menelfonku itu adalah Diva?
“Reza? Apa yang kau lakukan di sini? Apa yang kau dan Diva lakukan disini? Apakah selama ini kalian berkencan?” aku berteriak kencang agar Reza dapat mendengarnya, tapi Reza tidak menjawabku, dia meraih tangan Diva, menariknya untuk pergi dari sana, dan melewatiku dengan wajah datar dan dingin.
Tidak ada penjeasan, dan tidak ada sepatah katapun. Dia melewatiku begitu saja tanpa penjelasan apa pun. Tanpa sadar air mataku mengalir, rasa sakit, kecewa dan marah bermunculan bagaikan pisau tajam yang tengah menusuk hatiku.
Apakah selama ini Reza menyimpan rasa pada Diva?
Apakah aku ini hanya tempat persinggahan nya?
Apa beberapa tahun hubungan kami, tidak ada artinya?
Semua pertanyaan itu muncul di benak ku, aku menangis sejadinya di tengah bisingnya suara musik yang berpadu dengan kebisingan manusia-manusia malam yang tengah berjoget ria, di dalam ruang temaram itu. Rasannya sangat sakit, benar-benar sakit.
Ditinggal tanpa penjelasan itu sangat sakit everybody!!!
Bagas yang ada di sampingku hanya bisa berdiri menemaniku membuang semua sakit di hati ku.
*
*
*
Puas menangis, dengan langkah gontai aku berjaan keluar. Wajah ku pasti sangat kacau saat ini. Aku berjalan lebih dulu dan masuk di mobil juga lebih dulu. Aku duduk diam selama perjalanan ke rumah. Bagas juga tidak bicara, dia mungkin ingin memberiku ruang sendiri.
Sesampai di rumah, aku turun lebih dulu, aku berjalan gontai. Tiba-tiba Bagus menghentikanku, dia meraih tangan ku dan dengan panik membawaku untuk duduk di sofa tanpa penjelasan apapun.
“Kakimu berdarah.” Ungkap Bagus setelah mengambi kotak P3K yang berada di laci meja. Padahal aku sendiri tidak menyadari bahwa dari tadi darah segar terus mengalir dari telapak kaki ku.
“Oh, ini? Tidak masalah, aku akan baik-baik saja.” Uajrku ingin menghentikan Bagus tapi pria itu memaksa ingin melanjutkannya.
“Baik-baik saja bagaiman? Kamu terluka! Menangislah jika itu sakit, jangan ditahan dan jangan berpura-pura!”
Aku terkejut mendengar bentakan Bagus. Seketika air mata kembali mengalir di pipiku, tidak kusangka yang kuperlukan saat ini adaah sebuah bentakkan, dibandingkan sikap diam dari sseorang.
“Ya! Kau benar, aku terluka dan rasanya sangat sakit! Hiksss...”
“Kakiku benar-benar sakit!” aku menngis sejadinya, padahal luka di kakiku itu tidak seberapa, aku sering mengalami nya tapi kenapa kali ini rasanya sangat sakit?
“Rasanya sangat sakit, kakiku....kakiku sangat sakit.... hikkksss....”
Aku kembali menumpahkan air mata ku, sementara bagus kembali mengobati kaki ku. Biar sudah, saat ini imeg tidak penting, yang penting adalah bagaimana caraku menghentikan rasa sakit ini.
*
*
*
Keesokkan harinya aku bangun dengan perasaan campur aduk. Hari ini aku dan Reza ada kelas yang sama, aku tidak ingin berteu dengan nya, dia pria yang jahat. Selama ini bahkan sebelum aku dan Reza pacaran tidak pernah aku merasakan sekesal ini padanya.
Aku memutuskan untuk bersiap-siap dan untuk sementara melupakan kejadian tadi malam. Seperti biasa, aku akan sarapan dan berangkat dengan diantar Bagas.
Didalam mobil kami berdua sama-sama diam, aku masih merasa canggung karena kejadian semalam, dan sepertinya Bagus pun begitu, dia membuka pembicaraan lebih dulu tanpa ada pembahasan yang mengarah ke kejadian semalam.
Astaga, selama ini aku bahkan tidak prnah melihatnya, menurutku bagus itu pria yang baik, dia juga sopan, dan selalu bersikap lembut padaku
Astaga! Apa yang kupikirkan?
Aku segera menggeleng dan kembali melanjutkan percakapan ku dengan Bagus, yang ternyata mampu membuat perasaan ku sedikit membaik.
Tidak lama aku sampai, aku turun tidak lupa berpamitan pada Bagus, hal yang tidak pernah ku lakukan sebelumnya, lalu berjalan menuju ruang kelas dengan perasaan yang sedikit lebih baik ketimbang datang tadi.
Sampai di kelas, mataku langsung tertuju menatap Reza, seketika hatiku kembali sakit lagi, mata ini tiba-tiba memanas lagi. Tidak ingin ambil pusing, aku segera duduk di salah satu bangku paling belakang dan paling pojok. Aku tidak ingin semuanya jadi lebih buruk lagi untukku, apalagi ketika melihat kehadiran Diva.
Gadis sialan itu mengambil tempat tepat di samping ku, aku menatapnya dengan pandangan tidak suka, dan memilih fokus kedepan karena dosen yang baru saja memasuki ruangan.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, dan perkuliahan selesai. Aku keuar dari ruangan lebih duu tanpa menyapa Reza, dan menuju ke taman kampus yang selalu jarang di datangi oleh mahasiswa. Disana air mataku kembali mengalir dan segera kuhapus dengan egois. Tidak sepantasnya aku menangis seperti ini.
“Indri.”
Sebuah suara mengejutkan ku, dan setelah berbalik ternyata ituadlah Diva, si gadis impian.
Aku tidak menyahut, hatiku terlalu sakit untuk meladeni gadis itu. Gadis yang kukira adalah gadis baik yang suatu saat nanti mungkin bisa menjadi seorang teman.
“Indri, aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuat mu salah paham.”
“Memaafkan mu? Apa kau waras? Apa kau masih punya malu? Beraninya kau berkata seperti itu setelah apa yang terjadi padaku dan juga Reza?” benar-benar memalukan. Aku tidak pernah ingin bertengkar hanya karena pria, tapi wanita ini sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya.
“Aku tidak sengaja saat . . .”
Plak....!
Satu tamparan kulayangkan tepat di pipi gadis itu. Mendengar suaranya semakin membuatku murka.
“Indria...!”
Suara bariton dari belakang ku seketika mengejutkan kami, aku berpaling dan mendapati Reza berjalan ke arah kami, Hatiku seketika kembali sakit, apakah dia marah karena aku menampar kekasihnya?
“Apa yang kau lakukan disini? Ini urusan ku dengan wanita sialan ini.”
“Kamu ini kenapa? Diva tidak bersalah.”
Mendengar Reza membela Diva, rasanya semua ego yang kupertahankan sejak tadi runtuh seketika, aku sangat benci melihat Reza membela wanita lain.
“Dia yang salah Reza, dia lah yang mengirim pesan sialan itu padaku, dan membongkar hubungan kalian.”
“Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengirim pesan apapun pada mu. Justru akulah yang mendapat pesan misterius itu.”
“Bohong! jelas-jelas saat itu kalian bersama.” Ungkap ku tidak mau mengalah.
“Diva tidak mungkin melakukannya, saat itu aku datang sendiri karena mendapatkan sebuh pesan misterius.”
Aku hanya bisa tertawa hambar, “Ohya? Jadi siapa yang mungkin melakukan nya? Aku? Begitu?” sakit rasanya mendengar pria yang kau cintai lebih mempercayai wanita lain.
“Bukan begitu, sayang. Aku rasa ada seseorang yang sengaja ingin menghancurkan hubungan kita.”
“Cukup! Disaat seperti ini pun kamu masih membelanya. Apakah hubungan kalian memang sudah sejauh itu? Apakah aku ini hanya lelucon untuk mu?” Reza sama sekali tidak menjawab ku, dan mebiarkan semua pikiran buruk tentangnya terus bertambah.
“Kau bilang kamu sangat benci perselingkuhan karena ayah mu yang berselingkuh. Tapi ternyata kau tidaklah jauh berbeda dengan nya.”
Wajah Reza seketika berubah marah, selama kami bersama aku tidak pernah melihat Reza semarah ini. Dia mendekatiku dengan wajah merah padam.
“Lalu bagaimana dengan supirmu itu?”
“supir apa?” aku benar-benar bingung dengan pertanyaan Reza, apa yang dia maksud Bagas?
“Supir mu yang juga datang malam itu. Bukankah kau berselingkuh dengan nya?”
“Bagas tidak mungkin melakukan nya, yang melakukan hal itu adalah seorang wanita.”
“See? Kaupun membelanya. Dan dari mana kamu tahu bahwa yang mengirim pesan itu seorang wanita? Bisa saja di seorang pria.”
Aku terdiam, apa yang dikatakan Reza benar-benar tidak masuk akal.
“kau mungkin tidak percaya padaku, tapi apa yang Reza katakan ada benarnya, Reza pun mendapat pesan dari nomor tidak di kenal beberapa hari sebelumnya.” Diva menatap Reza dengan raut meminta maaf, “Maaf Rez, aku malam sehari sebelum mengikutimu ke klub, tidak sengaja membuka ponselmu dan membaca percakapan mu dengan nomor tidak di kena itu.”
Aku kebingungan dengan semua yang dikatakan oleh Diva.
“Apa maksudmu? Percakapan apa?”
“Dalam percakapan itu ada beberapa potretmu yang hanya mengenakan kimono, dan pria itu mengatakan bahwa kalian telah berselingkuh.”
Aku sangat ingin percaya pada Reza tapi sikapnya yang tidak bertanya dan tidak menjelaskan apapu padaku membuat semuanya semakin sulit. Kenapa juga aku harus mendengarkan semuanya dari wanita lain. Aku menunggu Reza untuk menjelaskan semuanya padaku, tapi seperti yang ku duga, dia hanya diam.
“kenapa kamu tidak menjelaskannya?” aku maju mendekati Reza yang hanya menatapku dengan diam. Apakah mungkin ini hanya rencana mereka karena sudah ketahuan.
“Bukan aku yang harus menjelaskan,”
Aku menutup mataku yang memanas, bahkan Reza tidak berusaha meyakinkan ku.
“Baiklah jika itu yang kau inginkan.” Aku memutuskan untuk pergi, hatiku teruka karena diam ny Reza.
“Ya, pergilah, dan biarkan orang yang melakukan semua ini bersenang-senang karena berhasil memisahkan kalian.” Seru Diva, tapi kata-kata Diva tidak akan bisa mencegat ku, aku terlalu keewa pada sikap Reza.
Aku pergi dan memutuskan untuk pulang. Aku menghubungi Bagus, dan tidak lama pria itu datang dan menjemputku. Sebenarnya ada rasa tidak nyaman saat kedatangan Bagus. Semua kata-kata dan kalimat yang diucapkan Diva seolah menghantuiku.
“Kenapa?”
Aku hanya menggeleng dan meminta Bagas untuk mengantarku pulang, dan segera menyingkirkan perasaan konyol tentangnya.
*
*
*
Dalam perjalanan berbagai hal berkecamuk di benak ku, sehingga baru sadar ternyata kami tidak bukan berada dijalur rumah. Tiba-tiba perasaan panik menyerang ku, kata-kata Diva kembai terngiang-ngiang di kepala ku.
“Kamu mau bawa aku ke mana?” aku panik dan hampir melompat dari mobil, tapi Bagas malah mengungci mobilnya dan tidak berkata apapun.
“Turunkan aku Bagas!!! Apa yang kamu lakukan?” Aku panik dan mulai memukul Bagas secara brutal. Kuraih ponsel dan menghubungi Reza, tapi belum sempat ditelfon, Bagas meraih ponselku dan meletakkan nya di bangku belakang, lalu menghentikan mobil.
Seketika aku berusaha berteriak meminta tolong, Bagas mulai mendekatiku, tapi dengan kekuatan penuh, aku pun memukul perutnya tapi ternyata bersamaan dengan itu pintu mobilpun terbuka.
Ya, Bagas membuka pintu mobil, dan dengan cepat aku berlari keluar menyelamatkan diri namun, betapa terkejutnya aku ketika mendapati dimana aku berada.
Saat ini aku berada di pantai, pantai yang selalu menjadi tempat yang sangat ingin ku kunjungi.
“Maaf kaarena malah membawa mu kesini.”
Aku berbalik menatap Bagas dengan mata memicing, “Bagaimana kamu tahu?”
“apa?”
“Tentang pantai ini dan diriku.”
“entahlah.” Jawab Bagas dengan mengedikkan bahunya. Dia tersenyum dan berjalan mendahuluiku.
*
*
*
Kami tiba di rumah sudah larut malam, seharian ini aku bisa baik-baik saja karena Bagas, pria yang sama sekali tidak pernah ku pandang itu berhasil membuat hari menyakitkan ini menjadi lebih baik.
Bagas sudah turun lebih dulu dan membawa masuk semua barang-barang piknik kami tadi. Aku lalu turun ke bangku belakang dan mencari ponselku yang ternyata jatuh di bawa kursi mobil. Tapi sesuatu tiba-tiba menghentikanku, aku meraih benda kecil itu, dan ternyata itu adalah sebuah kartu SIM.
Aku mengambil benda itu dan juga ponselku, lalu menyalakan senter ponsel dan menilik SIM card itu dengan saksama dan betapa terkejutnya aku saat melihat nomor yang tertera di kartu itu. Dengan panik dan tangan yang gemetar aku kembali melihat nomor dari penenlpon misterius itu, seketika tangan ku gemetar,nomor itu cocok dengan nomor pemanggil misterius itu.
“Indri?”
Aku sontak terkejut ketika mendapati Bagas berdiri di depan pintu mobil. “Ya?” Jawab ku kaku.
“Kenapa? Kenapa wajah mu pucat?” Bagas hendak menyentuh dahiku, tapi segera ku tepis. Entah mengapa kalimat yang dia keluarkan bagaikan sebuah kalimat ancaman.
“Aku baik-baik saja.”
“Bagaimana kalau kamu mengantar bibi pulang?” aku mulai ketakutan, cemas walaupun tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku sudah meminta ibu untuk pulang llebih dulu, karena kita akan terlambat. Apakah aku harus memanggil ibu lagi?”
“Tolong belikan aku makanan.” Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku terlalu takut untuk berada di dekat Bagas.
“ Tapi bukankah tadi kita sudah makan?”
“Aku lapar.” Aku tidak ingin berlama-lama lagi.
Bagas mengangguk dan akupun turun dari mobil, aku lalu berjalan cepat untuk masuk, lalu dengan cepat mengunci pintu rumah.
Aku segera berlari menuju kamar Bagas yang berada tepat di samping kamarnya bibi, ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamar Bagas. Dengan tangan gemetar aku membuka perlahan pintu.
“HAH...!!!”
Seketika tanganku gemetar, aku menangis sejadinya didinding kamar Bagas terpampang bergamai macam foto dengan model yang sama yaitu aku, bahkan pria itu memiliki foto saat diriku yang hanya mengenakan handuk dan juga baju mandi. Air mata sudah tidak bisa lagi ku bendung, bagaimana bisa Bagas melakukan hal menjijikan seperti ini, tidak pernah terpikirkan oleh ku, pria yang pendiam dan selalu bersikap lembut padaku ini tidak lebih dari seorang psiko!
Dering ponsel menghentikan tangisan ku, disana tertera nama Reza, dengan cepat ku jawab panggilan nya.
[Indria...? Sekarang juga pergi dari rumah kamu.]
“Za? Aku takut...” dengan suara tersendat, aku berusaha berbicara dan meminta tolong pada Reza.
[kamu harus keluar dari rumah sekarang juga, bagas seorang penderita penyakit psikologi yang parah, dia sangat terobsesi denganmu Indri.]
Aku lalu berlari keluar dari kamar Bagas bertepatan dengan pria itu yang sudah berada di depa pintu.
“Kenapa pintuny di kunci?” tanya Bagas
Aku berlari menaiki tangga, menuju kamarku dan dapat ku rasakan Bagas yang sedang mengejarku. Bagaimana bisa Bagas melakukan hal semenjijikan itu? Aku berlari cepat sembari mengunci kamarku. Bagas memang memiliki kunci rumah tapi tidak dengan kamar ku.
“Pergi kamu! Jika tidak aku akan menghubungi polisi.”teriakku setelah berhasil mmengunci kamar.
Di luar Bagas masih terus menggedor-gedor pintu kamar ku, tapi tidak ku pedulikan. Aku menangis dan menghubungi ibu dn ayah. Aku juga menghubungi Reza.
“Maafkan aku Za, karena aku tidak percaya pada mu.”
“Sudahlah sayang, tidak ada yang perlu di sesali. Sebentar lagi aku dan polisi akan tiba di sana. Kamu harus tetap di dalam.”
Sementara di luar sana, Bagas masih tetap mengetuk dan berusaha memintaku untuk membuka pintu.
*
*
*
Semua tetangga sudah berdatangan di rumah ku, bahkan polisi pun sudah mengamankan Bagas dan semua bukti yang ada, termasuk foto-foto menjijikan yang di ambil pria itu. Dan yang bisa ku lakukan hanya menangis sambil memeluk Reza, kedua orang tuaku masih dalam perjalanan. Reza menggenggam tangan ku yang masih gemetar, dia memeluk ku dengan hangat, rasanya sangat menenangkan.
Aku menyembunyikan wajah ku dibalik tubuh Reza saat polisi membawa Bagas melewati kami.
“Aku tidak melakukan nya Indria.”
Walau pelan, samar-samar aku mendengar apa yang Bagas katakan. Aku ingin percaya, tapi apa yang telah ku lihat bukanlah sesuatu yang sepele, karena secara tidak langsung Bagas telah melecehkan ku.
Tak lama, bibi juga datang. Beliau memohon padaku untuk membebaskan Bagas, tapi sakit hatiku tidak bisa menolerir lagi perbuatan Bagas.
“Maaf bi, tapi apa yang di lakukan putra bibi sudah keterlaluan.” Ujar Reza menggantikan ku yang tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku juga ikut merasakan luka yang bibi rasakan. Kebahagiaan yang aku rasakan saat tidak seorang pun berada di sisiku, di isi oleh Bagas.
“Aku ingin pergi dari sini Reza, tolong bawa aku pergi.”
“Baiklah, ayo. Aku akan mengantarmu ke rumah ku.”
*
*
*
Dan pada akhirnya semua pun berakhir, aku tidak menyangka bahwa Bagas akan menjadi dalang dari semua kejadian ini.
Aku dan Reza akhirnya pergi ke rumah pria itu, dalam perjalanan Reza selalu berusaha menenangkan ku. Aku duduk diam dan menatap boneka per dashboard yang tengah bergoyang, sangat lucu.
Tapi, tiba-tiba tubuhku membeku, suara dari boneka dashboard itu tidak asing, aku berusaha mengingat-ingat dimana aku pernah mendengarnya, kenapa suaranga sangat mengganggu perasaan ku? Dan di detik berikut, seluruh tubuhku membeku, itu adalah bunyi yang sama dengan bunyi yang ku dengar dalam panggilan misterius hari itu.
Aku menatap berpaling menatap wajah Reza dengan cemas. Astaga, apa yabg kupikirkan ini? Bagus adalah pelakunya, tapi kenapa perasaan ku tidak tenang begini.
“Za? Bisa tolong berhenti sebentar? Aku lapar, tolong belikan nasi goreng di sana untukku.” Kata ku asal ketika melihat abang nasi goreng yang berada di seberang jalan.
Kening Reza mengerut, tapi dia akhirnya setuju dan turun untuk membeli apa yang ku inginkan.
Reza pergi dan meninggalkan ponselnya. Dengan perasaan cemas, aku mengambil ponsel itu dan membukanya, sialnya ponsel Reza menggunakan sandi. Aku menebak-nebak apa sandi yang cocok dimulai dengan tanggal lahir Reza, lalu tanggal lahir ku, dan entah angin gila apa, aku memasukkan tanggal lahir Diva ternyata bekerja. Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaanku saat ini, sakit dan sangat sakit.
Dengan tangan gemetar aku menyalakan ponsel itu, mencari sesuatu di sana, tapi tidak ada apa-apa yang bisa ku temukan hingga sebuah pesan masuk dari Diva.
*Diva*
[Selamat sayang kamu berhasil menyingkirkan bagus. Selanjutnya kita bisa memikirkan cara untuk menghancurkan hidup Indria, putri dari wanita pelakor itu!]
Glek…
Jadi ternyata....