Aina adalah seorang mahasiswi yang mengakhiri masa lajangnya karena dipinang oleh seseorang yang dijodohkan oleh orang tuanya. Aina yang anak rumahan tak memiliki banyak teman, hanya seorang sahabat sejatinya yang selalu menemani nya di kampus. Ia adalah seorang mahasiswi yang kesehariannya berpakaian Syar'i.
Disaat hari pernikahannya tinggal hitungan hari. Aina yang sedang rebahan di kamarnya mendapatkan telpon dari nomor yang tak dikenal. Aina tak biasa mendapatkan telepon selain dari keluarga atau sahabat nya itu.
Ia dengan ragu namun memberanikan diri mengangkat telpon tersebut, siapa tahu penting.
"Hai Aina!" Terdengar sapaan dari seberang telepon setelah Aina menekan tombol hijau tanda menerima telepon.
"Halo, Assalamu'alaikum, iya.. ni siapa ya..?" Aina membalas sapaan orang itu.
"Eh, wa'alaikumussalam Aina, maaf kelupaan baca salam." Jawaban dari seberang telepon.
"Aina, kamu tahu gak..? Aku sudah lama mengagumi mu, semenjak awal bertemu kamu di kampus, aku langsung jatuh hati, kamu harus tahu itu Aina." Ucapnya dengan suara lembut.
"Kampus, siapa ya?" Aina bertanya kembali, karena ia belum bisa sepenuhnya mengingat siapa saja laki-laki yang mengagumi nya itu di Kampus.
Tadi di awal ia pikir Andi calon suaminya yang menelpon, bisa jadi ia tidak memiliki pulsa telpon lalu meminjam ponsel teman atau saudaranya. Tapi si penelpon bicara ia adalah teman sekampus sedangkan Andi sudah bekerja dan dari kampus yang berbeda dengan Aina.
Namun mendengar ucapan dan ungkapan perasaan laki-laki yang menelpon itu, Aina jadi penasaran; "Siapa dia? Kenapa baru sekarang ia mengungkapkan?" Bathin Aina.
"Aina, masih ingat gak? saat dirimu sakit pada saat acara kemah bakti Mahasiswa baru, Abang sangat khawatir padamu Ai.."
"Astaghfirullah, Abang...?" gumam Aina, ia hanya bisa bicara dalam hatinya, berpikir siapa orang itu.
"Apa mungkin ia yang memberikan senyum dan anggukan padaku melepas kepergian ku saat aku dibawa pulang dengan mobil bersama beberapa senior dan teman-teman perempuan lain yang juga sakit waktu itu?" Pikir Aina lagi. Ia diam membisu bermain dengan pikiran nya sendiri.
"Aina, apa kamu masih mendengar suara Abang?"
"Eh, iya bang...Abang Yu..di bukan ya?" Aliesha langsung menebak siapa orang itu dengan gugup. Karena dari suaranya yang pernah ia dengar sebelumnya Aina jadi yakin.
"Aina, setiap melihat dirimu di kampus, bagaikan cahaya dan motivasi bagi Abang, Abang yang orang berandal ini membayangkan bila bisa berdampingan dengan mu nanti tentu hidup Abang akan bahagia, karena terpancar sosok seorang ibu buat anak-anak kita nantinya dan istri Sholehah buat Abang ada dalam dirimu Aina."
Seketika pipi Aina berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. Ia jadi tersanjung mendengar ungkapan laki-laki itu, keringat kecil-kecil mulai membasahi pipinya yang memerah itu, ia sangat gugup.
"Aina, apa kamu tak sadar selama ini, Abang selalu mencuri pandang padamu, karena Abang tahu pasti kamu gak mau diajak pacaran, makanya Abang bersabar dan berniat setelah Abang lulus kuliah nanti Abang akan langsung melamar mu Aina. Tapi..." Ucapnya menggantung.
"Eh, iya bang, maaf." Aina gak tahu harus berkata apa-apa. Ia masih shock dengan untaian kejujuran dari laki-laki itu.
"Apa Rani tak pernah cerita padamu Ai?" Tanyanya tiba-tiba. Rani adalah sahabat sejati Aina.
"Ooh, bicara apa ya bang?"
"Tentang perasaan Abang ini?"
"Ooh, jadi pesan itu...? Gumam Aina. Tiba-tiba ia teringat waktu si Abang Senior menghampiri mereka waktu lagi menunggu Bus Kampus.
"Abang dulu pernah menghampiri kalian, Abang sudah berpesan pada Rani, bahwa Abang akan melamar mu nanti setelah lulus. Jadi Abang berharap kamu bisa menunggu Abang... Tapi Abang tak sangka, kamu malah akan menikah dalam waktu cepat ini Ai..." Ucapnya dengan suara bergetar menahan perasaan nya yang pastinya sangat kecewa, hatinya seperti patah berkeping-keping setelah mendengar orang yang diharapkan nya untuk dijadikan pendamping dalam hidupnya, malah sudah mau menikah dengan orang lain.
Aina diam membisu... ia bingung mau bicara apa lagi. Ia juga tak kuat mendengar ungkapan dari Abang Senior itu, matanya mulai berkaca-kaca. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Pikirannya beralih pada sahabatnya itu.
"Kenapa Rani gak pernah bercerita ya?" Apa jangan-jangan..? Ah sudahlah gak usah dipikirkan, ini sudah jadi jalan takdirku dan takdir Abang itu. Karena jodoh adalah rahasia Ilahi." Gumam Aima, ia nggak sadar ternyata telpon dari seberang sudah terputus dari tadi.
Tapi Aina malah dibuat ragu akan pernikahannya setelah mendapatkan telepon dari lelaki misterius yang selama ini diam-diam mengaguminya itu. Apa nanti Andi bisa mencintainya juga seperti Yudi?
Yudi yang sudah jelas-jelas menyatakan ia sudah menyukai nya semenjak lama sedangkan Andi seseorang yang baru ia kenal karena perjodohan.
Akhirnya Aina hanya bisa mengadu pada Rabb nya. Hatinya jadi tiba-tiba galau, karena dulu ia juga sempat mengagumi Yudi namun hanya ia simpan perasaan itu sendiri karena takut cintanya malah bertepuk sebelah tangan.
Yang suka ceritanya, Ayuk tinggalkan love and koment nya...! 🤗