Lily, seorang mahasiswi cantik jurusan komputer yang berusia 22 tahun. Dia sangat baik dan ramah kepada semua orang. Suatu hari ia sedang duduk melamun di bangku halaman kampusnya. Ia sedang memikirkan kemana perginya Tara sahabatnya yang sudah hampir tiga hari tidak masuk kuliah.
"Sebenarnya dia kemana beberapa hari ini? Apa dia sakit?" gumam Lily. "Lalu ... Hal penting apa yang ia ingin bicarakan kepadaku?"
"Lovely" kata seorang pemuda yang tiba-tiba duduk di samping Lily.
"Akh, kamu mengagetkanku Zi" ucap Lily sambil memukul kecil lengan Zian.
"Kenapa kamu melamun di sini sih babe? Gak takut kesambet apa?"
"Mana ada setan di sing bolong begini"
"Huh, siapa bilang ke sambet setan" gumam Zian lalu menaruh kepalanya di bahu Lily.
"Lah terus?"
"Kesambet orang gila"
"Pfft, kata-kata dari mana tuh? Mana ada kesambet orang gila" ucap Lily sambil tertawa kecil.
"Ya ada lah. Tau ah, hari ini aku tuh capek banget tau babe. Sebel sama pak tua itu"
"Dosen pembimbing kamu?"
"Hem ... Cerewet banget mulutnya"
"Ya sabar dong, kalau mau lulus kan harus dengerin apa kata dia"
"Tau ah, pusing. Kamu lagi mikirin apa sih babe, lagi mikirin pacar baru ya? Awas aja kalau kamu selingkuh dari aku" kata Zian sambil memanyunkan bibirnya.
"Apaan sih, aku tuh lagi mikirin Tara tau. Dia udah beberapa hari gak keliatan. Aku jadi khawatir sama dia"
"Mungkin aja dia lagi sibuk babe"
"Hemm, tapi aku masih kepikiran. Sebelumnya dia bilang mau bicara sesuatu yang penting sama aku. Dan itu berhubungan dengan ku, jadi aku penasaran apa yang mau dia omongin sebenarnya. Mana di telepon suara dia kayak cemas gitu, aku kan jadi khawatir"
Zian pun terdiam sejenak.
"Kalau begitu ..." ucapnya menggantung. "Ayo pergi jalan-jalan"
"Dih, aku kira kamu mau bilang apa. Malah ngajak jalan-jalan"
"Ya biar kamu gak kepikiran dong babe. Jangan terlalu khawatir kenapa sih, Tara kan sudah besar dia juga punya privasi"
"Huh, ya udah deh. Memangnya kamu mau mengajakku ke mana?"
"Rahasia~" ucap Zian menggoda Lily.
Seperti biasa, Zian adalah tempat ternyaman bagi Lily. Hampir dua tahun berpacaran dengannya, Zian selalu menjadi tempat berkeluh kesah. Pemuda berusia 24 tahun yang selalu melucu itu selalu membuat Lily tertawa dan melupakan kepenatan hidupnya.
Malam hari, Zian pun mengantar Lily pulang ke apartemennya setelah pergi bermain ke pasar malam.
"Maaf ya babe, kamu jadi kurang puas mainnya" kata Zian.
"Gak papa, lagian kamu juga ada urusan mendadak. Cepat pergi sana gih"
"Janji deh, besok aku ajak kamu ke tempat yang lebih seru lagi"
"Iya iya, cepat pulang sana"
"Hadiahnya mana?" kata Zian sambil menunjuk pipinya.
"Apaan sih" gumam Lily terkekeh sambil meninju kecil pipi Zian dan berlari keluar dari mobil.
"Dasar kucing nakal"
Lily pun masuk ke dalam apartemennya dan Zian melajukan mobilnya pergi dari sana. Jam dinding menunjukkan pukul 22.00, Lily baru saja selesai membersihkan diri hendak pergi tidur. Ia pun melirik ponselnya melihat apakah ada orang yang meneleponnya.
"Kenapa tuh anak gak nelpon hari ini? Biasanya selalu menelepon hanya untuk mengucapkan selamat malam" gumamnya lirih lalu menaruh ponselnya di atas ranjang.
Malam itu terasa dingin, tiba-tiba hujan deras dan petir menyambar-nyambar. Lily merasa sangat gelisah, tak tau apa yang ia rasakan.
"Huh, pergi minum dulu kali ya"
Lily pun berjalan ke dapurnya dan mengambil segelas air putih. Saat ia hendak menenggak minumannya tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Lily bergegas kembali ke kamarnya sambil membawa gelas berisi air putih tersebut. Ia terburu-buru mengambil ponselnya hendak mengangkat telepon namun sudah di matikan.
"Bukan Zian ya?" ucapnya saat melihat nomor yang tertera di layar ponselnya.
Ia kira panggilan tadi berasal dari Zian pacarnya. Sesaat kemudian, ponselnya pun berdering. Lily melihat siapa yang meneleponnya malam-malam itu, tidak ada nama yang tertera. Sebuah panggilan dari nomor tak di kenal.
"Haish, pasti orang iseng" gumamnya lalu menaruh kembali ponselnya tanpa mengangkat panggilan tersebut.
Tak berselang lama, nomor itu pun kembali menelepon Lily. Lagi-lagi Lily tak menghiraukannya. Namun nomor tak di kenal itu tak menyerah, ia terus menerus menelepon Lily hingga membuatnya kesal.
"Dih, siapa sih" gumamnya geram. "Halo!" bentak Lily sesaat setelah mengangkat telepon tersebut.
Tidak ada suara dari balik telepon itu, sangat sepi.
"Tuh kan, pasti orang iseng"
Saat Lily hendak mengakhiri sambungan teleponnya, tiba-tiba terdengar suara gemersak dari balik telepon itu. Sebuah suara deruan nafas. Lily mendengarkannya dengan seksama, tanpa sadar ia merasa merinding mendengarnya.
"Iihh"
"To ... Long ... Li ... Ly ... To ... Long ... A ... Ku"
Suara itu tidak jelas, seperti sebuah bisikan tapi suara itu juga tidak asing baginya. Seseorang seperti sedang bersembunyi dan berbisik kepadanya. Panggilan itu pun di akhiri, dan Lily masih tertegun di tempatnya. Ia bingung sekaligus merasa takut.
Ia pun bergegas mencari nomor Zian untuk meneleponnya, namun nomor Zian tidak bisa di hubungi. Saat Lily sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba sebuah pesan masuk mengejutkannya. Ia pun terdiam sejenak setelah membaca pesan tersebut.
Dengan cepat Lily bangun dari tempatnya dan menyambar blazer warna hitamnya. Ia pun keluar dari apartemennya menuju ke tempat parkir.
"Halo Ren, aku butuh bantuan kamu nih" ucapnya sambil berbicara denger seseorang di balik telepon. "Oke, setelah selesai hubungi aku segera ya" kata Lily lalu mengemudikan mobilnya menerjang hujan deras malam itu.
Setelah beberapa menit melajukan mobilnya, Lily pun sampai di sebuah hutan.
"Ini tempat yang di maksud Reno?" gumamnya lalu mengambil payung warna hitam dan turun dari mobil.
Ia pun berjalan menelusuri hutan tersebut sambil menyalakan ponselnya. Tak berapa lama, ia pun berhenti di sebuah jalan setapak kecil. Matanya melihat ke tanah dan mendapatkan sebuah ponsel di sana.
Ia pun memungut ponsel tersebut, lalu membuka isinya. Benar saja, dalam riwayat panggilan di sana tertera nomor Lily, tapi kenapa ada nomor yang tak asing lagi?
"Reno benar-benar pintar" gumamnya lalu menaruh ponsel tersebut ke dalam kantungnya.
Saat ia hendak berbalik, ada sebuah benda yang menyita perhatiannya. Ia pun menyibak sebuah rumput liar dan mendapati sebuah gelang dengan manik kupu-kupu tergeletak di sana.
Lily tercengang tak percaya. Pasalnya gelang itu adalah milk sahabatnya Tara. Mereka baru saja membelinya beberapa bulan yang lalu, dan Tara tidak pernah melepaskan gelang itu.
Jadi benar, orang yang meneleponnya tadi adalah Tara? Pikirnya.
Ia pun bergegas mencari Tara, takut terjadi sesuatu kepadanya. Lalu Lily pun menemukan bekas darah yang masih segar di atas rerumputan. Pikirannya pun mulai kacau. Apa yang terjadi kepada sahabatnya tersebut?
Dengan berani, Lily pun mengikuti jejak darah itu di kegelapan hingga ia pun sampai di sebuah gudang terbengkalai di sana.
Lily pun mengedarkan pandangannya ke sana kemari namun tidak ada satu orang pun. Ia pun masuk ke dalam gudang itu, dan di dalam sangat gelap.
Lily mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan apa-apa. Hingga saat itu, terdengar sebuah langkah kaki yang berat masuk ke dalam gudang tersebut. Lily pun reflek bersembunyi di balik tumpukan kayu yang berada di sana lalu mematikan ponselnya.
Tak berselang lama, langkah kaki itu pun semakin dekat. Lily pun menyipitkan matanya melihat orang tersebut. Terlihat seorang pria memakai jas hujan warna hitam sedang menyeret seseorang ke dalam sana.
Lily pun membekap mulutnya tak percaya. Ia merasa ketakutan, ia baru saja masuk ke sarang pembunuh, batinnya.
Orang yang di seret pria itupun seperti berlumuran darah, hingga membuat bercak-bercak darah di sepanjang jalan.
"Astaga, jangan-jangan..." batin Lily.
Benar saja, orang yang di seret pria itu adalah Tara sahabatnya. Pria itu pun melemparkan Tara ke lantai.
"Tara ... Tara ..." batin Lily merasa takut. Ia pun menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara.
Habislah, jika pembunuh itu tau dia bersembunyi di sana Lily pun akan di seretnya. Dengan cepat Lily mengirimkan alamatnya ke Reno untuk meminta bantuan.
"Berani-beraninya kamu kabur dari sini" kata pria itu sambil berjalan mengambil sesuatu di sana. "Kamu juga sudah lancang mengambil ponselku dan meminta bantuan. Jadi ... Tidak ada kata ampun lagi bagimu" lanjutnya sambil menyeret tongkat baseball ke arah Tara.
"Am-ampuni aku. Aku mohon" pinta Tara dengan tubuh yang berlinangan darah.
"Tara ... Sebenarnya masalah apa yang kamu hadapi sampai terkena masalah dengan psikopat seperti ini" batin Lily tak terasa berderai air mata.
Ia ingin menolong sahabatnya itu, namun ia merasa takut. Wajah pria itu tertutupi mantel hujan sehingga Lily tak bisa melihatnya dengan jelas namun ada yang tak asing dengannya.
"Reno, cepatlah datang kemari"
"Oh, jadi kau memohon sekarang" kata pria itu sambil berjongkok dan memegangi dagu Tara. "Sayangnya, kau harus membuatku percaya kalau kau tidak akan membocorkan rahasia ku"
"A-aku janji. Aku berjanji tidak akan membocorkan identitas mu kepada Lily. Aku tidak akan memberitahunya" ucap Tara.
"Apa? Aku?" batin Lily terkejut. Rahasia apa yang berhubungan dengannya?
"Aku pasti menutup mulut ku. Aku tidak akan membocorkan rahasia mu kepada Lily. Jadi tolong jangan bunuh aku. Aku mohon lepaskan aku"
"Hem ... Sayangnya, aku akan percaya saat kamu sudah mati"
Buaghhh
"Aakkkhh" teriak Tara menjerit-jerit saat pria itu dengan sekuat tenaga memukulinya dengan tongkat baseball.
Tubuh Lily gemetar hebat menyaksikan pemandangan itu. Jeritan dan tangisan Tara begitu melengking memenuhi ruangan itu. Darah Tara menyiprat kemana-mana membuat jas hujan pria itu berlumuran darah.
Satu pukulan keras di kepala Tara membuat ia berhenti bergerak dan berhenti menjerit.
Lily pun mendelik tak percaya. Sahabatnya itu sudah tergeletak tak bernyawa.
"Huh, akhirnya mati juga" ucap pria itu sambil menyibakkan kerudung jas hujannya.
"Zian?" gumam Lily tak percaya.
Jantungnya bergemuruh begitu hebat. Tubuhnya bergetar, lidahnya kelu. Ia tak menyangka pria keji yang membunuh sahabatnya itu adalah Zian pacarnya. Orang yang sangat ia percaya dan ia cintai ternyata adalah seorang psikopat.
"Sebenarnya apa yang telah ia sembunyikan dariku? Kenapa harus membunuh Tara?" Lily hendak keluar dari sana namun ia merasa ketakutan sampai tubuhnya lemas.
"Astaga, merepotkan sekali. Jika kamu tidak kabur, malam ini pasti aku sudah bersenang-senang dengan my lovely ku. Kalian ini membuatku repot saja" ucap Zian.
Zian pun menarik kaki Tara dan mengikatnya dengan tali. Tak berselang lama, tubuh Tara pun sudah di gantung dengan kepala di bawah.
"Kejam sekali ..." batin Lily tak berdaya.
Seharusnya ia tak pergi kesana sendirian. Seharusnya ia menerima tawaran Reno untuk pergi bersama. Seharusnya tadi ia menghentikan Zian membunuh Tara.
Di luar sana, hujan pun semakin deras. Petir menyambar membuat sebuah cahaya di dalam sana. Lily semakin terkejut. Pasalnya bukan hanya Tara yang menggantung di sana. Ada banyak lagi korban yang sudah di bunuh oleh Zian.
"Psikopat" batin Lily.
Ia pun teringat pesan Tara yang ia kirim lewat nomor tak di kenal tadi.
"Lily tolong aku. Dia akan membunuhku. Dia itu gila"
Ternyata Tara ingin mengingatkan Lily bahwa kekasih tercintanya ini adalah seorang psikopat. Tara menghilang beberapa hari juga adalah perbuatan Zian.
"Kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Huh, coba lihat. Sekarang sudah jam dua belas malam. My lovely ku pasti sudah tidur. Gara-gara kamu aku jadi tidak mengucapkan selamat malam untuknya"
Zian pun mengambil ponselnya dan menelepon Lily. Seketika dering ponsel Lily menggema di ruangan itu. Lily terkejut dan segera mematikan ponselnya.
Zian pun menoleh ke sumber suara, ia menyipitkan matanya melihat ke arah tumpukan balok kayu yang sedang manjadi tempat bersembunyi Lily.
"Tidak, tidak. Jangan kemari"
Zian pun berjalan ke arah Lily dengan perlahan. Suasana begitu mencekam membuat Lily ketakutan setengah mati. Noda darah di wajah Zian terlihat jelas ketika cahaya kilat mengenai wajahnya.
Zian pun menghentikan langkahnya sambil mendesah panjang.
"Baby, kamu sedang bersembunyi ya? Kenapa tidak tidur di rumah malah berkeliaran di sini? Ah sudah tidak asik lagi jika kamu sudah tahu siapa aku" ucapnya sambil tersenyum.