Siapapun yang mencabutnya, maka dia siap untuk mengganggu ketenangan para arwah. Siapapun yang memakannya, maka dia siap untuk menjemput ajalnya. Dan siapapun yang melindunginya, maka dia siap untuk menerima hadiah dari dewa kematian.
Setidaknya, begitulah yang aku dengar dari orang-orang disini. Mereka benar-benar mempercayai dan membenarkan hal tersebut. Sampai, tak ada satupun yang berani menyentuhnya kecuali para shogun- petinggi pemerintahan, juga para ninja- pasukan rahasia.
Bukan karena itu suci, namun karena itu selalu membawa kesialan bagi siapapun. 100-200 orang meninggal setiap tahunnya dan ribuan orang mengalami kerugian dalam bentuk yang lain setelah mereka memetiknya. Bahkan, para pendeta buddha sering memperingatkan semuanya jika itu akan merusak kehidupan mereka, baik secara langsung maupun tak langsung.
Karenanya, aku pun datang kemari untuk menginvestigasi itu, dengan memakai setelan jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih beserta dasi berwarna biru, dan topeng besi berwarna hitam dengan sedikit garis biru pada pinggirannya.
Aku hanya membawa peralatan yang diperlukan- sebuah pistol laser, sebilah pedang plasma, sebuah perisai plasma, dan sebuah tas yang berisi nano-bot serta beberapa lembar plastik untuk mengobservasi tumbuhan.
Dan, aku datang ditempat entah berantah....
Semuanya terlihat hijau, baik rumput maupun tumbuhan lainnya. Suara mereka ketika digerakkan oleh sang angin terdengar begitu menenangkan. Terdengar suara aliran air pula, namun cukup jauh dari tempatku saat ini.
Aku, disebuah lapangan hijau yang miring ini, memutuskan untuk bergerak ke arah depanku. Potensi untukku bertemu dengan perkampungan jauh lebih tinggi dibanding menuju ke belakangku, karena memang hanya ada hutan saja. Selain itu, akan jauh lebih aman jika aku tau dimana tempat untuk beristirahat dan membeli makanan.
Selama aku berjalan, sama sekali tak terlihat adanya orang, baik yang bergerak maupun yang sedang diam. Hanya bunga, rerumputan, dan beberapa jenis hewan saja yang aku temui. Hal ini membuatku tak perlu untuk terlalu bersiaga.
Karena memang, takkan mungkin aku bisa diserang....
Setelah 3 jam berjalan tanpa minum dan makan, akhirnya aku melihat suatu perkampungan. Aku pun melihat ke atas- berhubung aku tak ingin terlihat mencurigakan, untuk mengecek jam. Terlihat, matahari pun sudah mencapai puncaknya dan sinarnya cukup terik bagiku, yang memang mengenakan pakaian yang sangat tertutup.
Sesudah mengecek jam, aku langsung berjalan menuju kampung tersebut dan ingin mencoba melihat-lihat kondisinya. Meski dari jauh, aku masih bisa melihat jelas jika warga disana melakukan aktivitas seperti biasanya. Aku cukup tenang melihatnya, karena aku yakin jika mereka tak memiliki masalah yang parah- kecuali pada lingkungannya yang memang terlihat sangat sederhana.
Akan tetapi, semakin aku mendekati kampung tersebut- yang terdiri dari 10 hingga 20 bangunan dari kayu dan rerumputan kering, semakin mereka berhenti beraktivitas dan menatapku. Beberapa diantara mereka bahkan saling berkumpul di jalan utama dari kampung tersebut. Namun, itu tak menjadikanku untuk tak mendatangi mereka.
Setelah sampai, semua mata tertuju padaku saja. Ada yang dari dalam bangunan, di balik tembok pada gang-gang sempit, maupun berkumpul di pinggiran jalan. Tetapi, aku mengabaikan mereka dan segera mendatangi kerumunan yang paling ramai.
Aku langsung menghampiri seorang kakek tertua di kampung ini. Aku yakin, seorang yang tertua pasti menjadi pemimpin dari perkampungan seperti ini. Karena memang, tradisi sepuh yang memimpin perkampungan masih terasa sangat erat disini.
“Apakah anda pemimpin dari kampung ini, Oji-sama?” tanyaku dengan badan masih ditegakkan.
“Bukan aku Samurai-sama. Aku sudah menyerahkan kepemimpinan ini kepada putraku,” jawabnya dengan ramah.
Aku sedikit kebingungan dan segera menanyakan kepada kakek tua itu.
“Oji-sama, mengapa anda mengatakan saya seorang samurai?”
“Fufufu..., meski kau ramah dan sopan, ternyata kau cukup bodoh juga...!” jawab sang kakek dengan senyuman yang hangat.
Aku hanya bisa terdiam saja. Aku sama sekali tak mengerti, karena memang sedari awal aku memakai setelan jas ketika aku datang ke mari- ke zaman Sengoku. Kemudian, seseorang menunjuk ke arahku dan menjelaskan mengapa aku dikatakan seperti itu.
“Kau cukup bodoh, Samurai-sama! Ahahahaha..., kau kan memakai pakaian yang hanya biasa dipakai oleh para samurai,” ujar orang itu, yang berdiri dibelakang sang kakek.
Berkaca dari perkataannya, aku mencoba melihat ke pakaianku sendiri. Perkataannya sangatlah akurat, hingga membuatku heran. Pasalnya, aku tak yakin kapan aku mengganti pakaianku sedikitpun.
Sebuah hakama- pakaian formal yang dipakai para lelaki di zaman modern, berwarna hitam pada bagian atasnya dan putih pada bagian bawahnya sudah terpakai begitu saja. Lalu, sebuah katana dengan sarungnya pun sudah ada pada pinggang kiriku- yang diikat dengan suatu kain melingkar bagaikan sebuah sabuk kulit. Selain itu, topeng hitamku sekarang memiliki motif telinga rubah.
Yang mana, membuat orang yang memberitahuku akan keadaanku bertanya-tanya.
“Samurai-sama, mengapa kau mengenakan topeng rubah?”
Aku hanya bisa menjawabnya dengan jujur, sebagaimana aku menginginkan untuk jujur serta ramah kepada semua orang yang memang ramah kepadaku.
“Aku hanya tak ingin kalian mengetahui wajahku. Karena wajahku bagai Higanbana- bunga kematian, selalu membawa sial.”
Aku pun mencoba melihat sekelilingku dengan memutarkan badanku. Semuanya hanya saling menatap satu sama lain dengan heran hingga sedikit memercik perasaan takut. Dan memang, itu tak mengejutkan, bahkan sesuai dengan ekspetasiku.
Aku ingin semua orang di zaman ini tak menceritakan tentang diriku. Memang, orang-orang modern takkan percaya dengan diriku. Namun, efeknya bisa saja menjadi serius.
“Kalau begitu, kenapa kau tak memberitahukan namamu, Samurai-sama?” tanya lelaki yang sama dengan santai.
Dengan pertanyaannya itu, aku langsung melihat ke arahnya.
“Mungkin, namaku sedikit aneh....”
Kembali, semua saling menatap satu sama lain. Namun, mereka kali ini tak merasa takut. Malahan, semuanya sangatlah heran dan penasaran dengan maksudku.
“Namaku Fukusutoroto Arukaito,” ucapku dengan nada seramah mungkin.
Semua semakin keheranan denganku. Semua tak begitu mengerti dengan namaku. Dan..., aku merasa sangatlah aneh ketika menyebutkan namaku sendiri.
Padahal..., aku telah bilang kepada diriku jika hal itu- menyebutkan namaku pada semua orang di zaman ini, merupakan hal buruk....
“Panggil saja aku dengan Arukaito,” ujarku sembari menggarukkan kepalaku.
Semua langsung saling berbisik. Mungkin saja, mereka menanyakan apakah aku orang baik atau tidak. Tetapi, aku pun tak mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Bukan tak terdengar jika mereka semua sedang berbicara, hanya aku tak bisa mendengar perkataan mereka dengan sangat jelas.
Suara tepukkan tangan pun terdengar lantang dan bergema. Semua menjadi terdiam dan melihat ke arah tepukkan itu, begitu pula aku. Setelah seluruh perhatian ke arah orang itu, dia langsung mengatakan sesuatu dengan senyum hangat.
“Arukaito-sama, selamat datang di kampung kami!!!” sambutnya dengan sangat meriah.
Semua pun langsung bersorak-sorai mendengarnya. Sorakan ini terdengar begitu meriah, seolah-olah aku memanglah orang spesial. Aku sendiri kebingungan hingga aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Apa aku harus senang, atau harus sedih???
“Biar kami layani anda, Arukaito-sama...,” ucap salah satu wanita yang mendekatiku, lalu menarikku untuk dibawa berkeliling desa.
Dengan begitu, seharian penuh aku berkeliling desa ditemani bunga desa yang sangat wangi juga sang kakek juga orang yang menyambutku dengan sangat meriah itu.
Malam pun tiba, semuanya berkumpul di tengah jalanan untuk menikmati pesta kedatanganku. Semua memakan sashimi dari ikan yang mereka beli dari kota atau juga dari pedagang keliling bersama dengan kecap asin yang juga sama seperti ikannya, dibeli dari kota maupun pedagang keliling. Tak ada sake karena mereka tak mampu untuk membelinya.
Semua merayakan dengan penuh suka cita. Aku sangatlah senang memandangi dan merasakan suasana desa yang aku sebut dengan perkampungan sebelumnya ini. Tawa, nyanyian, dan tarian memenuhi seluruh desa ini.
Keesokan harinya, tepatnya pada pukul 3 pagi, aku terbangun diatas futon jerami yang menghadap langsung ke langit.
Bintang-bintang masih terlihat begitu jelas. Begitu jelas..., hingga aku benar-benar melupakan jika ini adalah zaman sebelum permesinan yang menghasilkan limbah gas masuk ke Jepang. Sangat disayangkan memang....
Aku berdiri, meninggalkan beberapa batang emas 24 karat beserta selembar surat kepada siapapun yang menemukanya, dan berjalan dengan sembunyi-sembunyi meninggalkan kampung ini untuk melanjutkan pencarianku. Misiku memang tak diwaktu. Akan tetapi, lebih baik jika aku menyelesaikannya lebih cepat.
Semakin lama aku tinggal disini, semakin aku memengaruhi dunia ini. Tentunya, aku semakin berpotensi untuk menggeser, bahkan mengganti, susunan sejarah yang sudah terjadi. Selain itu, kepribadianku akan berganti nantinya, yang mana itu bukanlah kabar baik sama sekali.
Untuk alasannya, aku takkan menceritakannya....
Namun, seseorang memanggilku tepat sebelum aku pergi dari desa ini. Aku melihat ke belakangku- karena memang suaranya terdengar dari belakangku, dan melihat orang santai itu mendatangiku. Tentunya, dia terlihat terburu-buru.
Aku terpaksa menunggunya....
“Arukaito-sama!!!! Tunggu!!!!”
Setelah sampai padaku, aku hanya terdiam saja sembari melihatinya untuk mengatur nafas. Aku membiarkannya terlebih dahulu. Itu karena, akan tidak sangat tidak sopan jika lawan bicaramu tak siap untuk berbicara dan kau langsung berbicara, hanya pikirku.
“Arukaito-sama, kau ingin kemana?” tanyanya sembari mengatur nafas.
“Aku..., akan pergi mencari Higanbana....”
Dia terdiam sementara sembari menundukkan kepalanya. Dia juga mengepal tangannya dengan kuat. Selanjutnya, dia pun mulai berbicara dengan pelan.
“Jadi..., kau sama seperti para orang-orang rakus itu..., Arukaito-sama?”
Aku menghela nafas, kemudian mulai menjawab pertanyaannya.
“Aku kesana bukan untuk mengambil bunga itu, melainkan untuk memeriksa nisan yang mungkin dikelilingi oleh higanbana.”
Dari wajahnya, aku bisa bilang jika dia masih tak mempercayai perkataanku. Sepertinya, kebenciannya terhadap para orang yang menginkan kekuasaan sudah mengakar kuat pada dirinya. Dan..., aku tak bisa menyalahkannya....
Sebagian dari orang-orang rakus itu mungkin telah membuatnya menderita dari waktu yang sangat lama, yang aku sendiri tak berani menebaknya. Harta, tahta, wanita, selalu menjadi penyebab kebutaan pada hati mereka. Bahkan, amarah dari beberapa orang berhasil membuat hati yang buta itu menjadi semakin gelap.
Karenanya, aku hanya mencoba meyakinkan diriku sendiri....
Namun, aku mengucapkannya secara langsung dari mulutku dibanding hanya disimpan saja di kepalaku....
“Aku hanya ingin melihat bunga itu, tetapi orang-orang itu seolah-olah sengaja tak membiarkanku untuk melihatnya secara langsung...!”
“Arukaito-sama....”
Aku melihati wajahnya. Dia masih mengekspresikan jika dia masih kesal akan orang-orang itu pada wajahnya. Namun, aku merasakan jika dia merasa iba kepadaku.
Mungkin..., aku memang harus menjelaskan tugasku secara lugas....
“Gourou, aku ditugaskan kemari untuk mengawasi bunga tersebut dari jauh sebenarnya. Namun, aku terpaksa turun tangan untuk mengawasinya secara langsung karena gawatnya situasi yang sebenarnya terjadi saat ini. Aku benar-benar percaya dengan perkataan semua pendeta yang ada disini akan kesialan yang dibawa bunga itu.”
Matanya melebar, yang membuatku yakin jika dirinya terkejut ataupun tersadar akan perkataan diriku.
Aku hanya tersenyum lalu berbalik badan dan berjalan menjauhi desa.
Akan tetapi, aku kembali menghentikan langkahku karena pria yang menjadi orang kedua yang berbicara padaku pertama kali itu memanggilku.
“Arukaito-sama!”
Untung saja, dia memberhentikanku. Aku benar-benar lupa untuk memberikan impresiku kepadanya. Alhasil, aku tersenyum saja sembari mengatakannya.
“Gourou-san..., aku percaya kau bisa menjadi pemimpin yang hebat jika kau tak mengubah kebaikan yang ada dalam dirimu....”
Aku pun berjalan menjauhinya beserta desa yang hangat itu. Sudah saatnya aku mengobservasi bunga pembawa sial itu. Selain itu, sudah tak ada waktu lagi bagiku untuk berlama-lama disini....
***
Satu hari terlewat begitu saja, akhirnya aku menemukan nisan di tengah-tengah hutan. Selain itu, nisan itu tersoroti cahaya dan dikelilingi oleh bunga-bunga berwarna merah. Tak banyak hewan disekitar nisan itu, mungkin karena udaranya cukup beracun.
Entahlah....
Aku pun mendekati nisan itu, yang anehnya terbuat dari kayu daripada dari batu layaknya prasasti maupun nisan di zaman klasik eropa, untuk mencoba membaca tulisan yang terukir disana. Aku pun tak merasa heran dengan kedua kakiku ketika aku melewati bunga-bunga kematian itu. Aku merasa jika mereka terasa lembut.
Bagai seseorang yang sedang menyapaku....
Setelah sampai di depan nisannya, aku jongkok dan membaca tulisannya serta menyebarkan seluruh nano-bot. Akan tetapi, aku tak mengetahui siapa yang dikubur disini karena tak ada tulisan yang diukir pada nisannya. Namun pula, aku tak begitu percaya jika ini adalah makam fiktif, mengingat aku masih di zaman Sengoku.
Aku hanya bisa terdiam. Aku ingin mengambil sampelnya sekarang. Tetapi, aku pun penasaran dengan apa yang terkubur disini.
Selagi aku berpikir, ada beberapa belas kuda menghampiriku. Satu mendekatiku, sisanya memutari tempat ini. Dan memang, aku rasa ini cukup wajar jika kau tak begitu mempercayai orang asing.
Aku mendengar semua orang turun setelah salah satu orang turun dari kudanya. Bagaimana tidak, hanya satu orang saja yang tak mengenakan zirah. Benar-benar berusaha menunjukkan arogansinya kepadaku.
Orang tanpa zirah itu berjalan mendekatiku. Aku langsung berdiri dan mencoba melihat ke arahnya. Setelah itu, mataku dengan matanya saling bertemu.
Dia langsung mencoba bertanya duluan dengan sombong.
“Hey, kenapa kau kemari?! Apa kedua orang tuamu tak mengajarkanmu tentang aturan sederhana ini?!!”
Aku hanya mencoba menanyakan balik hal tersebut berhubung aku tak begitu mengetahui apa yang dia maksud serta aku cukup penasaran akan reaksinya.
“Lalu, bukannya kau pun sama-sama melanggar aturan itu dengan menginjakkan kakimu disini? Untuk apa kau menanyakanku jika kau bersikap arogan seperti ini?”
“DIAMLAH!!!!!!! KAU TIDAK ADA SOPAN SANTUNNYA KEPADAKU!!!!!!!!”
Sejujurnya, aku tersenyum puas melihat juga mendengar reaksinya itu. Wajahnya penuh dengan kemurkaan yang bisa aku duga dari orang-orang bodoh sepertinya. Bahkan harusnya, aku tak begitu terkejut ketika dia bereaksi pada pertanyaan dan sikapku.
“Hey, hey..., bukannya kau masih seorang manusia? Tak pantas bagimu untuk menyebut dirimu sendiri lebih agung dibanding seluruh manusia yang pernah kau temui sebelum kau memang memiliki prestasi yang sangat luar biasa. Tapi aku bisa menebak jika kau tak punya satupun hal yang bisa kau banggakan....”
Aku berkata seperti itu sembari berganti-ganti bahasa tubuh.
Pada kalimat tanya, aku mengangkat kedua tanganku sembari menggelengkan kepala dengan pelan juga tersenyum menahan tawa. Berlanjut pada kalimat kedua, aku pun menatapnya dengan tatapan merendahkannya sembari tangan kananku memegang pinggang kananku dan tangan kiriku masih di angkat. Lalu di kalimat terakhir, aku menatapnya dengan sangat serius juga menurunkan kedua tanganku.
Sejujurnya, aku tak memedulikannya. Karenanya, aku berbalik badan ketika dia sedang merespon ucapanku. Namun, dia tak sadar jika aku masih mendengarkannya dengan jelas.
“Boleh juga kau, bocah kemaren sore!!! Touya yang agung ini, takkan membiarkanmu hidup!!!!”
Ketika dia berhenti sejenak di kalimat kedua, aku dapat mendengar jika dia mengeluarkan katana miliknya dan segera berlari ke arahku. Karenanya, aku segera mengeluarkan katanaku dan berbalik badan untuk menahan serangannya. Tentunya, aku masih memosisikan pedangku sejajar dengan bilahnya.
Dia terkejut, takkan menyangka jika aku memang cukup cepat. Mungkin juga, dia terkejut melihat betapa tak biasanya gaya berpedangku, yang mana kedua telapak tanganku mengarah ke arah yang sama daripada saling berlawanan arah. Bukan aku tak menginginkannya, namun aku terpaksa memegang gagang pedangku seperti itu karena akan berbahaya bagiku jika aku tak mengeluarkan pedangku dengan cepat.
Aku pun mencoba untuk menghempaskan pedangnya supaya aku bisa untuk membenarkan tangan kiriku pada pedangku. Dia terhempas serta mundur beberapa langkah dan aku segera mengganti posisi tanganku dengan cepat. Meski begitu, aku tak menyerangnya dengan langsung, berhubung aku ingin merendahkannya.
“Tch, kau cukup berpengalaman untuk berpedang...!”
“Dengan senang hati aku bisa mempersembahkan gaya bertarungmu padamu, Touya-dono.”
Dia termakan emosi dan segera melompat untuk menyerangku dengan mengandalkan gravitasi supaya ayunan pedangnya menjadi lebih kuat. Aku sendiri langsung mengayunkan pedangku ke kiri dengan kencang untuk menghancurkan pedangnya. Namun, pedangku yang hancur ketika kedua katana saling beradu.
Dengan cepat, aku langsung bergerak kebelakangnya dan segera menusuk bagian tulang punggungnya menggunakan pedangku yang sudah terbelah. Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberontak dan membalikkan badannya ke arahku. Aku pun refleks untuk mengambil jarak ketika dia memberontak dan membalikan badan karena dia juga melakukannya sambil mengayunkan pedangnya dengan sangat kencang.
“Cih..., sudah kuduga, katana milikku hanyalah sebuah pajangan semata saja. Dia tak bisa membunuh targetku.”
Aku pun mengambil kuda-kuda dengan posisi kaki membentuk huruf L. Tangan kiriku hanya aku posisikan ke depan badanku dan posisinya lebih rendah dari badanku. Lalu, tangan kananku berada di belakang untuk mengambil momentum sebelum aku melakukan serangan pertamaku menggunakan senjata asliku dan berada di posisi sejajar dengan hidungku sembari mengepalkan tangan.
Tentunya, semua dilakukan secara bersamaan dengan menundukkan badanku. Hanya sedikit saja. Namun, itu memberikanku kenyamanan untuk melesat kepada musuhku.
Setelah itu, sebuah cahaya muncul di punggung tanganku dari pergelangan tanganku. Dia membentuk sebuah ujung kunai dengan panjang sekitar 20 cm dari ujung kepalan jari tengahku. Dan aku bisa pastikan jika itu adalah pedang plasmaku yang sedari awal sudah aku pasang pada lengan bawah kananku.
Disaat yang bersamaan, tiga orang pengawalnya langsung mendekatinya dan menahan badannya. Jelas, darah menetes dari pedang yang aku tancapkan. Kemudian, salah satu pengawalnya, yang menahan tubuh tuan arogan itu maju untuk menggantikan posisinya.
“Kisama!!! Beraninya kau menyakiti tuanku!!!!!”
“Kalian tak pantas untuk melayani orang bodoh sepertinya.”
Dia langsung berlari dan hendak mengayunkan pedangnya dari atas kebawah. Tetapi, aku melesat disaat dia sudah menempatkan pedangnya setinggi mungkin dan menusuk uluhatinya juga meninju perutnya yang tertutup zirah samurai dengan kencang dan cepat. Dia pun tak sempat menyerangku dan berjalan mundur sembari masih mencoba untuk menebasku.
Aku pun mencabut pedangku dan melesat menuju kedua orang yang sedang menahan Touya. Bagaikan sebuah guntur, kedua kepada pengawalnya seketika lepas dari tempatnya dan tergeletak begitu saja dihamparan bunga berwarna merah itu. Karenanya, mereka langsung mendekatiku secara bersamaan untuk menyerangku.
10 lawan 1 bukanlah masalah. Apalagi, mereka takkan mungkin menyerangku secara bersamaan mengingat pedang mereka bisa saja mengenai teman mereka sendiri. Karenanya, aku sambut mereka dengan cepat.
Dua orang langsung mencoba menusukkan pedang mereka pada tubuhku dari belakang, namun aku segera memutar badan sembari mengayunkan lenganku. Seketika, mereka menerima luka sayat yang cukup dalam di perut mereka.
Kemudian, tiga orang pun maju secara bergantian. Aku langsung menyerang orang yang datang dari depanku terlebih dahulu sebelum berbalik badan dan bersiap menyambut keduanya. Karenanya, aku menendang kepala bagian kiri orang yang ada didepanku dengan kencang, mengabaikan rasa sakit pada punggung kaki kananku, lalu langsung menusukkan pisauku pada lehernya- yang membuatnya seketika tumbang sembari melepaskan kepalanya.
Setelah berbalik badan, aku melihat keduanya sudah dekat denganku. Salah satu diantara mereka telah melompat dan mencoba menusukkan pedangnya pada diriku. Dan yang dibawah, dia mencoba mengayunkan pedangnya dari kanan ke kiri dengan kencang.
Akibatnya, aku terpaksa mengaktifkan perisai plasmaku. Hasilnya, sebuah cahaya kini menyinari lengan kiriku. Kemudian, aku menahan ayunan katana dari samurai yang menyerangku dari bawah.
Fisik tanganku masih ada, namun tanganku terasa seperti sudah terpisah. Sangat nyeri, tetapi aku sudah terbiasa dengan rasa sakitnya. Bahkan, aku merubah energiku yang seharusnya dipakai untukku berteriak dengan tinjuan secara kencang kepada wajah pemilik pedang itu.
Kemudian, aku menarik tangan kananku dan segera berbalik badan. Nampaknya, pedangnya menancap ke tanah dan memang mudah untuk mencabutnya, sekitar 2 detik saja untuknya mencabut pedangnya. Sayangnya, waktu tersebut kurang untuknya bisa menahan seranganku.
Sama seperti beberapa samurai di awal, aku langsung melesat dan menusuk uluhatinya dari belakang. Setelah itu, dia terpental beberapa meter dari posisi awalnya. Hingga, dia menabrak pohon dengan keras, namun tak menumbangkan pohonnya.
Sisa pasukan pengawalnya pun hanya mencoba mengintimidasiku dengan rasa takut. Aku pun tak ketakutan, bahkan intimidasi mereka membuatku semakin yakin jika aku perlu menghilangkan saksi atas kebrutalanku. Karenanya, aku langsung membunuh semua orang yang ada.
Darah pun telah bercampur dengan warna dari bunga tersebut, begitu pula baju dan topengku. Aku pun mendekati Touya yang sudah sekarat dan mendengar suara jeritan kematian dari pasukannya sendiri. Tak ada yang bisa dia lakukan selain melihat ke langit.
“Oh dewa..., aku tak membuat kesalahan sedikitpun..., namun mengapa engkau masih menghukumku...?”
Cukup menyedihkan melihatnya sekarat seperti ini. Dia sama sekali tak menyadari kesalahannya sendiri. Meskipun begitu, dia hanya memanggil dewa-nya tepat ketika dia sekarat.
Pemandangan ini..., sebenarnya..., cukup menyayat hatiku....
“Setiap hari..., aku selalu menyembahmu. Aku selalu mengawasi rakyatku. Akan tetapi..., mengapa engkau masih menghukumi aku sebagai penyembah yang setia...?”
Dia sempat-sempatnya berbohong pada dirinya sendiri. Aku sangat yakin jika dia seorang diktator yang cukup kejam. Mungkin, aku percaya jika dia seorang penyembah yang setia, namun..., aku sama sekali percaya jika dia hanya sekedar mengawasi rakyatnya.
Aku yakin, banyak dari rakyatnya yang menderita. Tetapi, dia menutup matanya dari fakta tersebut. Bahkan, dia memanfaatkan hal tersebut untuk kepuasannya sendiri.
Hanya spekulasi saja..., namun membayangkannya saja..., sudah seperti menusuki uluhatiku dengan pedang plasmaku sendiri.
Dia pun menutup usianya. Aku langsung memejamkan matanya dan membiarkannya berbaring dihamparan bunga kematian. Kemudian, aku pun melanjutkan tugasku.
Tak perlu mencoba menggali siapa yang terkubur dibawah nisan kayu tersebut. Aku tak punya waktu untuk memenuhi rasa penasaranku. Selain itu, aku tak begitu peduli dengan makam ini.
Cukup mengambil beberapa bunga beserta akarnya. Lalu, aku menyimpannya ke dalam selembar plastik. Kemudian, aku menyimpannya pada tasku, yang tanpa aku sadari telah menghilang seperti bunglon yang berkamuflase.
Setelah itu, semua nano-bot mendekati nisan kayunya. Aku pun menatapinya dengan heran. Dan, nano-bot mengeluarkan sebuah proyeksi hologram.
Aku pun melepaskan topengku dan menatap hologramnya karena pada dasarnya aku sedang menghadiri sebuah pemakaman seseorang jika ada proyeksi dari sebuah nisan.
Terdapat empat orang yang sedang menggotong jenazah dua pasangan. Keempatnya terlihat seperti orang dari zaman sebelum ini. Akan tetapi, kedua jenazah itu terlihat seperti orang blasteran Eropa-Jepang.
Keduanya memiliki rambut hitam yang sama seperti diriku. Kemudian, fisik sang lelaki tak begitu tinggi maupun pendek, seperti diriku. Juga, kedua mataku begitu mirip dengan sang wanita, yang mana berwarna biru.
Aku sangat terkejut melihatnya. Keduanya merupakan orang dari masa depan. Selain itu, mereka dimakamkan tepat dihamparan bunga ini.
Kemudian, sebuah panggilan wanita dari dalam pikiranku muncul.
“Arkite-nii-san? Apa kau dengar?” tanyanya dengan nada yang begitu khawatir.
“Ada apa, Lotty-chan?” responku dengan nada orang lemas.
“Aku menemukan petunjuk selanjutnya tentang racun Higanbana. Aku bisa mengonfirmasi jika racun dari bunga tersebut yang membunuh-”
“Bisa kau diam dahulu..., aku mohon....”
Dia pun terdiam, terkejut dan merasa bersalah karena menghubungiku di waktu yang salah. Aku tak bisa menyalahkannya karena memang ini hanya kebetulan saja. Namun tetap, aku lebih bisa mengapresiasinya jika dia memanggilku disaat yang tepat.
“Lotty-chan..., aku menemukan makam mereka....”
Aku mengatakan itu dengan sangat lemas. Bukan karena apa-apa, aku syok dengan fakta yang baru terungkap olehku sendiri. Adikku pun juga syok, yang hasilnya dia bertanya kepada dirinya sendiri.
“Nii-san..., aku..., apakah aku boleh kepada dirimu...?”
Aku menjawabnya hanya dengan anggukkanku. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Bahkan, aku tak kuat untuk berdiri hingga duduk diatas kedua kakiku.
Tak tahu seberapa lama aku duduk disini dengan wajah syok, namun aku bisa mendengar Lotty datang sambil berlari menuju diriku dari arah belakangku.
“Nii-san...!”
Suaraku sangatlah sulit untuk dikeluarkan. Begitu pula dengan seluruh tubuhku yang sulit untuk digerakkan. Karenanya, aku hanya terdiam saja.
Dia pun langsung memelukku sembari menangis dari belakang. Seketika, hatiku luluh mendengarkan isak tangisnya. Lalu, aku menunduk sembari menahan suara tangisanku.
“Lotty, duduklah disampingku.... Mari kita lihat proses pemakamannya....”
Dia menurutiku dan segera duduk di sampingku. Dia pun menatap hologramnya sembari menangis dan memelukku. Aku sendiri mencoba untuk memeluknya balik sembari membiarkan kedua mataku mengalirkan air yang berisi akan kesedihanku.
Mereka, keempat orang yang ada di hologram tersebut, menaruh keduanya ditanah. Lalu, mereka menggali tanahnya dengan lebar yang cukup untuk kedua pasangan itu berbaring dengan nyaman. Setelahnya, mereka menguburnya dan menyebarkan benih Higanbana keseluruh area dimana keduanya dikuburkan.
Selesai melihat proses penguburan jenazahnya, aku menghadapkan badanku kepada adikku dan langsung memeluknya dengan tangisan yang sudah tak bisa aku bendung.
“Lotty-chan!!!!!”
Kami pun langsung menangis dihamparan bunga merah tersebut. Kami tak peduli seberapa kencang tangisan kami. Juga, kami tak peduli seberapa lama kami terdiam disana.
***
Setelah menjadi tenang, kami berdiri dengan perlahan dan mendekati nisan tersebut sembari berpegangan tangan. Lalu, seluruh nano-bot kembali masuk kedalam tasku seraya kami berjalan. Begitu dekat dengan nisan tersebut, kami langsung duduk dan menyampaikan pikiran kami kepada kedua pasangan itu, meski kami tak yakin jika mereka mendengarkan perkataan kami.
“Otou-san, okaa-san..., maaf..., kami tak bisa menjenguk kalian selama kami hidup...,” ucapku dengan sedih.
“Kita..., selama ini..., mencari keberadaan kalian...,” ucap sedih Lotty dengan hampir menangis kembali.
Kami pun menahan ucapan kami. Kami tak ingin menangis lagi. Karenanya, aku langsung melanjutkan perkataan kami.
“Maafkan kami..., kami menerima nama bukan dari kalian.... Akan tetapi..., kami masih menggunakan nama keluarga yang sama...,” tuturku sembari berusaha tersenyum sembari masih menahan tangisan.
“Bagaimana pun juga kami adalah keluarga Foxtrot, keluarga pengikat benang kebenaran yang terkubur di masa lalu...,” lanjut Lotty dengan senyum hangat kepada mereka.
Aku..., sejujurnya..., takkan menyangka jika adikku lebih tabah dibanding diriku. Aku sendiri masih merasa sedih sebenarnya. Tetapi, akan sangat memalukan jika aku tak bersikap lebih dewasa dibandingkan dirinya.
“Lotty-chan, mau pulang sekarang?” tanyaku sembari menguatkan hatiku.
Dia melihat ke arahku dengan senyuman penuh kehangatan.
“Ya.... Lebih baik kita pulang sekarang..., seperti yang kau selalu bilang kepadaku....”
Kami pun langsung mengaktifkan time warp dan kembali ke masa depan, yang mana disanalah kami hidup. Tempat tersebut masih penuh dengan polusi peradaban yang ditinggalkan manusia di zaman modern. Namun, perlahan tapi pasti, semua polusi tersebut bisa kami olah kembali ataupun kurangi dengan bantuan banyaknya nano-bot dan tumbuhan yang mulai beranjak dewasa.
***
Hari-hari berlalu, hanya kami berdua yang tinggal di bumi masa depan sebagai makhluk hidup. Tumbuhan yang tertanam dibalik kulit, beberapa alat elektronik dipasang tepat di organ tubuh, dan exoskeleton yang terpaksa kami pasang akibat sebegitu pentingnya hidup kami saat ini. Bahkan rasanya, kami hanyalah sebagai tes subjek saja untuk semua robot yang ada disini.
Karenanya, kami selalu merasa kesepian meski seluruh robot bersikap ramah kepada kami. Tak ada satupun manusia yang bisa kami ajak bicara. Bahkan, kami malah menjadi paranoid kepada manusia- yang lebih normal hidupnya dibanding kami.
Apa boleh buat..., kami merupakan penyintas satu-satunya di dunia ini. Dan bunga-bunga yang aku bawa dari masa lalu telah ditanam di ruangan khusus untuk mengembangbiakkan tumbuhan. Dan hebatnya, mereka tumbuh dengan baik sejauh ini.
Semoga..., mereka menjadi penjaga kedamaian bagi jiwa-jiwa yang telah tiada....