Umurku baru delapan tahun, aku merasakan sakit yang amat tak tertahankan diantara kedua pahaku, dia seperti sedang menyiksaku tapi bukan dengan tangan ataupun kakinya, aku terus meronta kesakitan dan menangis sejadi-jadinya.
"Jangan pukul aku ! Abang tolong jangan pukul aku, aku janji tidak akan nakal lagi, hiks,, hiks,, hiks." Aku merasa sangat sakit, rasanya seperti ada kayu yang dimasukkan kebagian bawahku, terasa seperti kayu yang besar dan keras yang dipaksa masukkan.
"Diam, kalau masih menjerit nanti aku gantung kamu dibawah pohon nangka waktu malam hari biar di ambil sama dedemit" Tangan kirinya terus saja menekan tubuhku dengan kuat sambil memegang kedua tanganku dalam satu genggamannya.
"Jangan abg aku takut dedemit, tapi aku tidak tahan rasanya sakit sekali." Tangisan ku tidak di indahkan oleh abg tiriku itu, dia terus saja menyiksaku dengan dengan benda yang terasa keras.
Kini aku melihat dia memagang shampoo ditangannya dan digigitnya kertas shampoo itu untuk membukanya, anehnya shampoo itu bukan untuk di letakkan di kepala untuk cuci rambut, malah ia melumurinya disana, ditempat dimana benda keras itu menekan-nekan tubuhku dari tadi.
" Abang sakit ! " Rasanya sakit sekali setelah benda keras itu bisa masuk ke tubuhku karena bantuan dari shampoo itu.
" Diam! " Abang tiriku itu hanya tersenyum melihat tangisanku, aku melihat wajahnya yang tepat berada diatas wajahku seperti sedang menikmati sesuatu.
Entah apa yang dinikmatinya sedangkan aku merasa sangat sakit seperti sedang disiksa dengan benda keras dan besar, Aku tidak tau itu benda apa karena aku tidak bisa melihatnya kebawah, yang aku tau tadi Abang tiriku sempat membuka celananya, aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat hingga sudah sebesar ini, aku tidak percaya kalau Abang selama ini membuang air kecilnya lewat anggota tubuhnya yang besar panjang dan sedikit bengkok itu.
Aku terus merasakan sakit yang di berikannya, kini tubuhku sudah tidak berdaya, untuk menjerit pun tidak mampu, aku merasa sangat pusing, terakhir aku melihat abangku menyudahi siksaannya itu, dia bangun dan berdiri tegak untuk memakaikan celananya kembali, sebelum akhirnya semua pandanganku terlihat gelap hingga akupun sudah tidak sadarkan diri lagi.
Mungkin sudah lama aku tertidur, pemandangan di sekitarku sudah mulai gelap saat aku membuka mata, dengan tubuhku yang lemah dan terasa sakit, aku mencoba untuk berdiri.
"Auw ! sakit sekali,, kenapa celana ku berdarah, apakah aku terluka karena benda keras itu? " Aku bahkan sangat sulit membukakan langkah kakiku untuk berjalan, untuk bisa pulang kerumah saja terpaksa aku terus berjalan dengan menahan rasa sakit diantara kakiku itu.
" Ibu,, ayah,, ibu? tolong aku ! " Aku terus memanggil keduanya untuk keluar rumah.
" Kenapa Aya, kamu kenapa nak? " Ibuku sangat khawatir melihat keadaanku yang sudah tidak berdaya.
"Aya kamu pulang dari mana sudah hampir magrib begini hah?" Ayah membentakku dengan kasar, mungkin karena dia belum tau apa yang sudah terjadi padaku.
" Bu, bang Jaka bu, dia menyiksaku dengan benda keras, rasanya sangat sakit, hiks,,hiks,,hiks,, " Aku terus menangis sambil menunjukkan darah di celana pendekku itu.
" Apa? apa yang sudah dia lakukan ? " Tanya ayahku sangat terkejut.
" Apa yang dilakukan sama kamu Aya, anakku yang malang." Ibuku memeriksa kedalam celanaku Sambil ia menangis melihat keadaanku.
" Yah ! lihat apa yang dilakukan Jaka sama anakku, dia sudah merusak masa depan anak kita yah? sudah aku bilang pulangkan saja dia sama emaknya istri kamu yang sombong itu." Ibuku membentak ayah dengan begitu marah sambil terus menangis.
Ayahku yang terlihat sangat marah langsung kedapur mengambil parang.
" Kamu mau kemana yah?" Tanya ibu pada ayahku.
" Mau cari si Jaka , akan kukubur dia hidup-hidup." ketus ayahku dengan nada yang sangat Marah.
" Sudahlah yah besok saja kamu cari dia, sekarang kita bawa Aya kerumah sakit dulu" Ibuku belum bisa menghentikan tangisannya.
" Aku benar-benar tidak menyangka bisa punya anak sebejat itu dari juwaida." Ayahku menyebutkan nama istrinya yang lain yang sudah melahirkan bang Jaka.
Aku dan bang Jaka memiliki satu ayah tapi lain ibu, bang Jaka hampir dua tahun tinggal bersama kami, umurnya sudah dewasa, bahkan dia juga sudah punya istri yang tinggal bersama kami juga.
"Aya kenapa Bu?" Tanya mbak Rini istrinya bang Jaka.
" Itu ulah suami kamu Rini, apa kamu tidak bisa memuaskannya hingga dia melampiaskan nafsu pada adiknya sendiri ! " Bentak ibuku dengan suara yang sangat keras sambil menunjuk wajah Mbak Rini.
" Apa? " Tanya kak Rini sebelum akhirnya tubuh kurusnya itu jatuh tersungkur duduk ke lantai karena shok mendengar ulah suaminya.
Setelah itu aku tidak melihat kak Rini lagi karena ayah sudah mengangkat tubuhku dan dibawakannya masuk kedalam mobil.
Selang beberapa menit aku sudah sampai dirumah sakit, Mereka merawat lukaku yang sudah tidak tertahankan itu, tapi rasanya semakin lama sakitnya semakin berkurang, mungkin karena aku sudah diinfus dengan obat anti nyeri.
Hanya satu hari menginap di rumah sakit dan akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang, walaupun lukanya belum sepenuhnya sembuh dan aku masih sangat sulit untuk berjalan dengan rasa sakit yang masih membekas di antara kedua pahaku.
Hampir sebulan aku beristirahat dirumah tanpa melakukan aktivitas lain selain Tidur, nonton tv, kekamar mandi, dan makan, sebelum akhirnya aku diperbolehkan keluar karena tubuhku sudah sehat kembali, aku sudah bisa berjalan seperti semula tanpa harus menahan sakit di kedua pahaku lagi.
Aku langsung berlari dengan girangnya menuju kerumah teman, kulihat disana teman-temanku dan ibunya sedang duduk santai dibawah pohon besar, kini mereka melihat kearahku.
"Aya, kemari nak cepat" Panggil ibu dari temanku itu dengan senyuman di wajahnya.
" Aku terus berlari menghampiri mereka dengan hati yang sangat senang, karena mereka masih sangat mengingatku, awalnya kupikir mereka sudah melupakan ku."
" Aya kemari nak ! duduk disamping ibu. " Menyodorkan tangannya memintaku untuk duduk disampingnya.
" Iya ! " Jawabku girang sambil duduk disampingnya.
" Kamu sudah sembuh Aya? " Tanya dia kepadaku.
" Sudah " Jawabku singkat sambil menunjukkan senyum di bibirku.
" Benar ya Aya kalau abang kamu sendiri yang sudah memperkosa kamu "
" Apa itu perkosa? " Aku tidak paham maksud dari kalimat perkosa.
" Dia membuat kamu terluka di bagian ini." Ibu temanku itu memang celana pendekku.
" Iya, rasanya sangat sakit." Aku mengiyakan pertanyaannya setelah paham arti dari perkosa itu.
" Aya, bagaimana itu bisa terjadi coba ceritakan sama ibu dari awal" Tanya ibu dari temanku itu dengan wajah bersemangat.
"Saat aku berjalan menuju ke kebun ayah untuk memetik jambu disana aku bertemu dengan bang Jaka, tanpa tau apa salahku bang Jaka langsung mengejarku, karena panik aku langsung lari masuk ke dalam kebun, kupikir ada ayah disana ternyata tidak, dan tiba-tiba aku melihat bang Jaka sudah didepanku setelah itu dia mendorong tubuhku hingga jatuh ketanah, dia terus menyiksaku dengan benda keras hingga aku terluka."
" Iya kah? kamu ada lihat kan waktu dia membuka celana "
" Ada! Aku melihat bang Jaka memperlihatkan semuanya padaku. "
" Bagaimana penampakannya? "
" Besar dan panjang, agak sedikit bengkok warnanya hitam. "
" Ha ha ha enak tuh " Jawab ibu temanku tanpa aku tau apa maksud dari perkataannya.
" Kamu tau tidak Aya? bang Jaka melukai kamu disini memakaikan itu yang kamu lihat bentuknya besar dan panjang, bukan memakaikan kayu. "
" Tapi rasanya sangat keras. "
" Memang keras kalau tidak keras ya nggak enak ha ha ha " Dia terus tertawa tanpa aku tau maksudnya.
" Tidak enak bu kalau keras rasanya sangat sakit, hingga aku tidak bisa berjalan dan mengeluarkan darah " Jawabku dengan polos.
" Iyakah? coba ceritakan lagi semuanya pada ibu."
Aku langsung menceritakan semuanya pada mereka, hingga membuat wajah mereka tersenyum bahkan tertawa tanpa merasakan sedih seperti yang kurasa.
Kini umurku sudah 17 tahun, aku menjalani hidupku dengan normal, sekolah dan mengaji, kecuali satu perlakuan orang disekitarku yang sudah berbeda, semenjak aku menceritakan semuanya pada mereka, aku terus saja ditertawakan dan di ejek, apakah mereka memang merasakan senang atas kejadian itu, apa yang mereka nikmati dari cerita sedihku?, sampai sekarang aku masih bertanya-tanya sambil melamun.
Satu lagi, banyak teman-temanku yang tidak menyukaiku terus saja memanggilku dengan sebutan janda.
...KISAH NYATA....