Gladis Noera Putri adalah seorang wanita pekerja keras, pendiam dan tidak memiliki banyak teman. Hidupnya hanya untuk sebuah perjuangan. Entah apa yang mesti gladis lakukan atas hidupnya, dia hanya mengikuti alur yang akan membawanya meski harus terombang-ambing dikehidupan yang lepas. Lepas dari semua jerat yang menyakiti batinnya.
Dia sibuk untuk bekerja tanpa mengenal lelah, sekalipun dia pasti merasakan rasa itu tetap saja tidak semelelahkan hatinya yang sudah tidak terbentuk sempurna.
Gladis dikenal cuek oleh orang sekitar tempat tinggalnya, maupun tempatnya bekerja. Dia hanya melayani pengunjung yang membeli produk dagangannya, suaranya baru terdengar ketika dia melayani tapi tidak setelahnya.
Dia banting tulang untuk menghidupi anaknya tanpa ada suami maupun keluarga yang membantunya. Dia memilih hanya hidup berdua dengan anaknya, karena untuk alasan apa yang pantas jika suaminya sudah lebih memilih wanita lain dibanding mereka berdua.
Perlakuan kasar sudah sering dia dapatkan, entah itu secara fisik atau non fisik. Semua perlakuan yang tidak manusiawi dijalankan hanya untuk kata yang bertengger "Istri harus menjadi penurut", tidak ada kata bantahan didalamnya.
Belum lagi keikutsertaan sang mertua menambah sempurna siksaan hidupnya, Gladis harus bangun lebih pagi membereskan semuanya, menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci semua pakaian satu keluarga suaminya dan masih banyak lagi yang dia kerjakan setiap harinya. Jadwal kegiatan hariannya sudah sebagai cambukan keras bagi gladis.
Mertua, adik ipar, suami, saudara-saudara suaminya semua ikut menyiksanya. Mungkin kata yang lebih tepatnya adalah seorang pembantu bukan seorang menantu dirumah itu.
Setiap kali ada tamu yang berkunjung kerumah itu, dia disuruh segera masuk ke dalam kamar. Gladis disembunyikan tanpa dia tau maksud dari perlakuan tidak adil itu padanya, dia dan anak yang masih bayi saat itu. Seperti menumpang hidup tidak diizinkan protes, dari pagi sampai larut malam kerjaan yang diberikan mertuanya tidak akan ada habisnya. Semua berjalan dalam tangis sampai pada akhirnya dia menemukan kecurigaan bahwa suaminya telah mempunyai wanita lain.
Bodohnya setelah di mengadukan sikap suaminya, dan sudah memegang bukti yang menyatakan suaminya benar-benar selingkuh dari sebuah benda kecil yang di sebut flashdisk, tiba-tiba hatinya tergerak untuk menyentuh benda kecil itu dan naas isi yang didalamnya membuat bertambah remuk hatinya, semua seperti dicabik-cabik dengan brutal.
Respon yang didapatkannya hanya sebuah kalimat, "itu hanya foto" ucap sang mertua.
"makanya jadi istri itu harus cantik, nurut sama suami, bisa menyenangkan hati suami" lanjut sang mertua yang sedang memberikan pembelaan atas perbuatan anak kesayangannya.
Miris sekali hidupnya. Akhirnya dia memutuskan membicarakan hal ini ke suaminya.
"apa maksud dari semua foto-foto ini, apa kamu telah mengkhianati ku?" tanya gladis yang sudah jelas-jelas suaminya berkhianat masih saja bertanya dengan kalimat itu.
"bukan apa-apa, kembalikan flashdisk itu, jangan mengganggu kesenanganku. Kamu cukup berdiam diri dirumah dan menuruti semua ucapan dan perintah orang tuaku selama aku tidak ada dirumah. Aku bosan melihatmu yang terlihat menjijikan, coba kamu bercermin.. lihatlah dirimu sudah tidak secantik dulu, padahal hanya baru mempunyai anak satu usianya pun baru beberapa hari". ungka si suami.
"baiklah, dari semua ucapan yang kamu lontarkan sudah cukup untukku memahami tujuanmu" jawab gladis.
Suaminya memaksa merebut benda kecil itu, tapi gladis berusaha untuk mempertahankannya. Karena itu bisa menjadikan sebuah bukti dipengadilan nantinya.
Gladis pun pergi dengan membawa anaknya, hatinya sudah tidak sanggup menahannya untuk bertahan lebih lama lagi dirumah yang penuh dengan orang keji.
Dan sekaranglah kehidupan barunya, meski dia sudah melewati semua seorang diri yang didampingi anaknya itu, tidak menjadi masalah untuknya. Dia masih yakin bahwa Tuhan akan memberikan kebahagiaan setelahnya.
Bertahun-tahun dia menafkahi anaknya, dengan status yang belum dia bereskan.
Dan disinilah cerita baru dimulai.
Setelah dia sibuk dengan waktu yang dianggapnya adalah uang, semakin banyak waktu yang dia korbankan makin banyak juga uang yang dia dapatkan. Tiba-tiba seorang datang tanpa permisi mengejarnya dan meyakinkannya, bahwa dia bisa membahagiakan gladis dan anaknya. Gladis pun luluh dengan semua kebaikan si pria baru itu.
Dan si pria itu pun yang sudah membantu gladis mengurus berkas-berkas perceraiannya dengan sang suami, semua biaya di tanggung oleh sang pria. Pria yang dia pikir saat itu adalah malaikat.
Semua lancar tanpa hambatan, gladis menyandang status barunya lagi yaitu seorang janda beranak satu.
Tibalah sang pria itu mengajaknya berkenalan dengan keluarga si pria, semua terlihat baik-baik saja, mereka menyambut dengan bahagia atas kehadirannya di kehidupan anaknya.
Hari pernikahan pun sudah dibicarakan karena sang pria tidak mau menunggu terlalu lama lagi, dia tidak mau anak kecil yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri akan mengetahui kalau dia bukan papa kandungnya. Usia anak itu baru tiga tahun, jadi masih mudah untuknya membuat anak itu terus menganggapnya sebagai papa dari si bocah kecil itu.
Namun menjelang hari pernikahan, dia tidak bisa memilih semua yang dia mau di hari pernikahannya, semua seakan sudah diatur oleh keluarga kekasihnya. Dia cukup menerima saja, dari bentuk undangan, pesta, gaun semuanya di atur tanpa ada yang menanyakan pendapatnya. Tidak ada seserahan yang diterimanya, mungkin menganggap dia seorang janda jadi tidak diberikan hak seorang pengantin wanita, seperti wanita-wanita lainnya. Gladis menerima itu dan tidak mempermasalahkan nya.
Calon mertuanya menghampirinya dan berkata, "anak saya seharusnya mendapatkan yang lebih dari kamu, tapi anak saya telah memilihmu dan kami terpaksa harus menerima dengan legowo, anak saya pun sudah berbesar hati menerima seorang janda beranak satu dan kamu harus bersyukur akan itu" ucap sang calon mertua kepadanya, calon mertuanya mengatakan itu tidak di depan anaknya. Seharusnya itu dilakukan di depan anaknya sendiri, seharusnya bukan hanya dia yang mendengar kalimat menyakitkan itu.
Gladis pun berusaha menutupi keterkejutan dan sakit hatinya, dia baru tau semua tidak baik-baik saja. Perlakuan baik yang didapatnya jika ada anaknya saja.
"iya bu, maafkan saya seharusnya saya tidak menerima anak ibu, tidak mengizinkannya masuk dalam kehidupan saya. Sekali lagi saya meminta maaf, apa perlu kita batalkan semuanya" ucap gladis.
"tidak perlu, semua sudah terlanjur terjadi. Kamu hanya perlu menjaga anak saya dan merawatnya dengan baik" ucap lagi sang calon mertua.
Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Semua tamu telah hadir memenuhi acara tersebut, teman-teman kerja gladis pun hadir melengkapi kebahagiaan sang mempelai.
Sebelum berangkat ke kantor KUA, semua sibuk berfoto, termasuk teman-teman gladis. Namun hal menyakitkan terjadi lagi.
Teman-teman gladis sibuk mencari posisi yang bagus, dan salah satu temannya berkata ke calon mertua gladis "bu hayo berfoto bersama" dan di jawab anggukan kepala oleh sang calon mertua temannya.
"ibu, sebelah gladis saja biar saya dipinggir" ucap teman gladis lagi.
"tidak usah, saya dipinggir saja, masih calon belum resmi jadi menantu saya" tutur sang calon mertua.
Hati gladis sontak hancur mendengarnya. Namun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya.
Semua menaiki mobil yang sudah disediakan menuju kantor KUA setempat. Tidak butuh waktu yang panjang mereka pun telah sampai di depan gedung kantor itu.
"kamu tunggu didalam mobil ya, aku keluar sebentar nanti kamu ditemenin sama teman mamaku, dia seorang ustadzah" ucap lembut sang pria yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai suaminya.
Gladis menuruti sang pria.
Muncullah sosok ustadzah tersebut di hadapan gladis, "jadi kamu yang akan menjadi menantu dari keluarga itu" ucap sang ustadzah.
"iya bu" ucap singkat gladis, hawa-hawa tidak mengenakan seperti sudah dirasakan oleh gladis.
"ooh, kamu bagaimana rasanya akan menikah lagi, apalagi mendapatkan seorang bujang" tutur sang ustadzah.
Firasat gladis pun benar terjadi. Suasana yang sangat dia benci akan memulai lagi untuk menghancurkannya.
"tidak ada seorang ibu mana pun yang menginginkan anak lelaki satu-satunya menikah dengan seorang janda, apalagi membawa beserta anaknya. Kamu harus bersyukur dan berterimakasih dengan keluarga calon mertua mu sudah sudi dan sangat berbesar hati mau menerima kamu dan anakmu itu" ucap sang ustadzah yang merasa telah memberi dakwahnya.
Tanpa tau apa yang terkandung dari setiap kata yang telah diucapkannya, menyakiti hati pendengarnya atau tidak.
Gladis tidak dapat lagi membendung air matanya, semua lolos begitu saja, hatinya sudah tidak kuat lagi menahan rasa yang seakan-akan membuatnya ingin segera pergi berlari lalu membatalkan pernikahan ini.
"apakah aku sanggup memulai dengan kehancuran yang muncul secara bersamaan", sebecanda itu kah tuhan dengan hidupnya. Sungguh dia lagi tidak ingin dipermainkan, belum juga menyandang status seorang istri tapi sudah di tekan habis-habisan mentalnya.
"apa belum cukup penderitaan ku selama ini, bagi-Mu tuhan?!" ucap gladis masih dalam diam.
"jangan menangis, jalanin saja takdir yang sudah kamu pilih dengan menikahi bujangan" lanjut sang ustadzah tersebut.
Tidak ada rasa penyesalankah setelah mengucapkan hal itu.
Wajah gladis seperti tidak bersemangat menikmati acara pernikahannya sendiri, sang pria sudah bertanya apakah ada sesuatu yang membuatnya diam seperti orang menahan kecewa, tidak ada senyuman yang menghiasi wajah gladis. Semua begitu hambar dan menyakitkan.
Namun gladis memilih menyimpannya sendiri. Tuhan sedang membuatnya kembali mati dengan raga yang hidup tapi dilengkapi jiwa dan mental yang sudah hancur berantakan.
.
.
.
_Selesai_