Siang itu matahari bersinar terik. Membuat siapapun enggan beraktifitas keluar rumah. Adira mengurungkan niatnya untuk membeli jajanan kesukaannya dan memilih tetap berada di dalam rumah.
Dia membuka pintu lemari makanan dan mengeluarkan toples cemilan. Setoples kue coklat kesukaannya menjadi pilihannya untuk menemaninya membaca buku kesayangannya.
Telepon rumah berdering dan Adira tidak bereaksi. Tetap duduk manis di ruang keluarga mengharapkan ada yang menerima panggilan telepon yang terus berdering.
Tidak ada satupun ada yang muncul apalagi menerima telpon tersebut dan dengan enggan dia beringsut bangun dan berjalan menuju tempat telepon.
"Halo!" sahutnya malas.
"Halo! Ada Elena?"
"Elena siapa?"
"Ini 522-435 bukan?"
"Iya betul!"
"Bisa berbicara dengan Elena?"
"Elena siapa? Tidak ada yang bernama Elena disini!"
"Berapa nomor teleponnya?"
"522-435."
"Iya betul nomornya."
"Tapi tidak ada yang bernama Elena!"
"Boleh tahu ini siapa?"
"Untuk apa? Kalau salah sambung tetap salah sambung. Untuk apa tau nama? Anda tidak pura-pura salah sambung kan?"
"Astaga tentu tidak!"
"Ada keperluan apa anda mencari Elena?"
"Oh, jadi kamu tau Elena? Mengapa menyembunyikannya dariku?"
"Aku tidak tahu siapa Elena. Aku hanya bertanya untuk apa anda mencarinya?"
"Mungkin itu sama saja seperti untuk apa aku bertanya namamu padahal kita tidak saling kenal."
"Baiklah! Aku tidak akan mencampuri urusanmu. Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lebih baik kita sudahi pembicaraan kita. Aku mau baca buku lagi."
"Baca buku apa?"
"Novel."
"Tentang apa?"
"Alter ego."
"Alter ego?"
"Anak kembar, salah satu mengcopy kepribadian kembarannya."
"Sepertinya menarik."
"Sangat karena kematian saudara kembarnya, menjadi dua orang di dalam tubuhnya, dia mengcopy kepribadian kembarannya."
"Boleh aku pinjam bukunya?"
"Silahkan, aku minta alamatmu. Nanti kalau sudah selesai kubaca akan kukirim ke alamatmu, bagaimana?"
"Baiklah."
Adira mengirimkan buku yang sudah selesai dibacanya kepada penelpon salah sambung yang diketahui bernama Gavin.
Selang beberapa hari, telepon rumahnya kembali berdering.
"Terima kasih kiriman bukunya. Sangat menarik!"
"Syukurlah kalau kau menyukainya."
"Tidak hanya alter ego tapi juga ada semacam rival sibling."
"Bukunya memang sangat menarik."
"Aku sangat tegang!"
Adira tertawa renyah, "Memang ceritanya sangat menegangkan."
"Kembaran yang jahat cemburu dengan kembarannya yang baik dan membunuh serta mengcopy kepribadiannya."
"Ceritanya benar-benar sangat menegangkan."
"Dia terpaksa membunuh kembarannya yang baik untuk menutupi kejahatannya sehingga dia menukar identitasnya."
"Membebaskan diri dari hukuman dengan cara yang kejam."
"Disitulah serunya ceritanya!"
"Ya, kau benar!"
"Apakah kau sudah bertemu dengan Elena?"
"Tidak, dia menghilang seperti ditelan bumi."
"Darimana kau mendapatkan nomor teleponnya?"
"Dia sendiri yang memberikannya."
"Apakah kau menyukainya?"
"Begitulah! Dia gadis yang sangat menarik. Kami berbicara banyak hal. Kupikir aku akan menemukannya kembali jika aku menanyakan nomor teleponnya."
"Kalau nomor teleponnya benar tentu kau akan menemukannya kembali."
"Aku tidak menyangka, dia memberikanku nomor yang dipalsukan."
"Kau bertemu dengan dia dimana?"
"Di sebuah tempat makan."
"Bagaimana kalau kau datangi kembali?"
"Sudah dan dia tidak pernah datang ke sana lagi. Sepertinya bukan tempat makan langganannya dan hanya sekedar mampir."
Hubungan mereka semakin dekat. Mulai dari bertukar cerita. Berdiskusi. Mengobrol dan bercanda.
Tanpa terasa sudah enam bulan mereka saling mengenal dan merasa dekat satu sama lain.
Mereka juga sering pergi makan bersama dan mengobrol di tempat makan dimana Gavin bertemu Elena.
"Apa yang kau sukai dari Elena?"
" Entahlah! Sosok yang menarik dan sulit dilupakan."
"Kau ke sini berharap bertemu dengannya?"
"Begitulah kira-kira tetapi kupikir aku sudah mulai melupakannya."
"Benarkah?"
"Ada seseorang yang menarik perhatianku dan menggantikannya di hatiku."
"Siapa dia?"
"Nanti akan kuberi tahu kalau sudah waktunya."
"Baiklah."
Hubungan mereka semakin erat. Mereka kerap meluangkan waktu bersama.
Apalagi kesukaan mereka juga sama. Tempat makan yang awalnya untuk menunggu kemunculan Elena menjadi tempat makan favorite mereka berdua.
Mie goreng hot plate pedas dengan irisan bakso, dada ayam, tahu sutra, pok coy, wortel, kubis dan sawi hijau.
Es jeruknya juga sangat segar dan manis. Perasan jeruk medan asli dengan gula asli.
"Kau berjanji padaku akan menceritakan gadis yang bisa membuatmu melupakan Elena?"
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Ya."
"Aku mengenalnya tanpa sengaja."
"Cinta pada pandangan pertama?"
"Bukan. Aku menyukainya begitu aku semakin mengenalnya."
"Mungkin karena kau tidak pernah melihat Elena lagi?"
"Bisa jadi."
"Kalau kau bertemu Elena kembali bagaimana?"
"Tidak apa-apa. Aku kan menyukai keduanya. Kalau aku memacari keduanya. Baru bermasalah kan?"
"Maksudmu, kau menyukai dua orang sekaligus?"
"Aku tidak bermaksud demikian tetapi aku hampir tidak bisa memilih salah satunya."
"Kalau Elena muncul. Siapa yang akan kau pilih?"
"Aku tidak tahu!"
"Hatimu condong kepada siapa?"
"Mungkin Elena tapi sepertinya aku tidak akan pernah bertemu dengannya kembali."
Hari ini merupakan hari istimewa yaitu ulang tahunnya.
Mereka akan merayakannya di tempat makan favorite mereka.
"Selamat ulang tahun, ya?"
"Terima kasih."
Gavin mengangsurkan sebuah kotak hadiah dan kartu.
Adira membuka kotak hadiahnya. Sebuah buku terbaru yang ditulis oleh penulis kesayangannya dan sebuah kartu.
Dia membuka kartu dan membaca tulisan di dalamnya.
Apakah kau mau menjadi pacarku?
Adira menatap wajah Gavin dengan gugup.
"Bagaimana?"
"Baiklah."
"Terima kasih!" Gavin menggenggam erat tangan Adira.
Hubungan mereka berjalan dengan baik dan nyaman. Mereka jarang bertengkar atau berselisih.
Minat dan kesukaan mereka yang sama membuat mereka menjadi semakin cepat akrab dan dekat.
Hari ini, Adira menuju rumah Gavin. Ingin mengantarkan pesanan buku Gavin karena tidak bisa ikut ke toko buku.
Sesampai di rumah Gavin. Adira menunggu di ruang tamu rumah Gavin dan tergeletak sebuah buku telpon berukuran kecil.
Iseng, Adira membuka-buka buku telpon tersebut dan matanya tertumbuk pada sebuah tulisan tangan tertulis nama Elena.
"Sudah lama?"
"Sekitar dua puluh menitan."
"Aku ambilkan minum ya?"
"Tidak usah, aku baru saja minum sebelum ke sini. Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu."
"Apa?"
"Coba kau lihat ini. Ini nomor telpon Elena."
"Memang, buat apa kau membicarakan dia lagi?"
"Ini tulisan tangannya?"
"Iya, kenapa?"
"Coba kau lihat, ini bukan nomor telpon rumahku."
"Benarkah?"
"Rumahku 522-435 sedangkan ini tertulis 555-435."
"Ini bukan angka dua?"
"Bukan, lima?"
"Oh iya, ini bukumu."
"Terima kasih."
"Aku pulang dulu ya?"
"Kau hanya mengantarkan buku?"
"Iya."
"Aku antar ya?"
"Tidak usah, kau sendiri baru sampai. Kau pasti lelah. Aku bisa pulang sendiri."
"Baiklah!"
Setelah Adira berpamitan. Gavin tercenung menatap buku telpon tersebut.
Dia memberanikan diri menelpon nomor telepon yang dikatakan Adira kepadanya.
Tidak butuh waktu lama terdengar suara seorang gadis.
"Halo!"
"Ya, halo! Siapa ini?"
"Elena?"
"Iya, ini siapa?"
Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin menetes. Hatinya menjadi pilu.
Di seberang telepon terdengar suara, "Halo, ini siapa? Darimana kau bisa tau namaku? Siapa kau sebenarnya?"
Bibirnya kelu.