Ketika kita menginjak usia 17 tahun pasti akan merasa kalau perjalanan hidup akan segera dimulai. Usia dimana sangat rentan bagi orang tua khususnya yang memiliki anak perempuan. Anak laki-laki pun juga diperlakukan sama dimana mereka selalu ditegaskan untuk tidak melakukan hal yang berhubungan tentang seks sebelum menikah.
Namun tidak untuk Vira dan Verrel. Mereka sudah di jodohkan oleh orang tua mereka sejak masuk sekolah SD. Tidak heran mengapa mereka sudah biasa hidup seperti remaja pada umumnya saat usia mereka belum menginjak 17 tahun.
Perjodohan ini dilangsungkan karena kedua Orang Tua tahu jika ketika mereka remaja nanti anaknya pasti akan menjadi anak yang berandal dan mudah terhasut akan hal baru. Jadi mereka pikir perjodohan ini dibuat agar anak mereka saling mengingatkan dan tidak terjerumus ke hal yang negatif.
Mereka saat ini menempuh pendidikan di sekolah SMA yang sama. Tentu semua siswa yang melihat sudah mengira mereka sudah berpacaran sejak lama. Namun, pandangan itu di tepi seorang wanita yang sedari tadi melihat Vira dan Verrel berjalan berdua.
“Akan kupastikan pria itu menjadi milikku!” Ucap Tasya
Tak sampai disitu, orang tua mereka juga meminta pihak sekolah untuk memasukan mereka di kelas yang sama dan duduk di bangku yang sama. Sungguh memuakan bukan? Namun Vira dan Verrel mengiyakan saja apa yang dikatakan orang tua mereka untuk menghindari pertengkaran.
Sesampainya di kelas, sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi siswa yang ada dikelasnya. Karena rumor Vira dan Verrel sudah menyebar sejak menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa). Terkadang ada saja orang yang membicarakan mereka seperti :,
“Pasti mereka sudah pernah berhubungan! Lihat deh jalannya Vira pengkang gitu!”
“Verrel pasti udah muak tuh liat mukanya si Vira tiap hari! Mending sama gue deh”
“Hari gini masih jaman dijodohin ortu? Jaman sekarang bukan jaman siti nurbaya kali!”
“Gue yakin Vira bukan cewek baik-baik buktinya Verrel sering ninggalin dia kemana-mana”
Vira dan Verrel hanya pasang muka tebal buat mereka yang membicarakannya dibelakang. Mereka tidak merasa melakukan apa yang orang lain katakan jadi mereka tidak ambil pusing soal itu.
“Ver!”
“Ehm?”
“Kita udah 12 tahun seperti ini, apa kamu ga muak?” Tanya Vira
“Tentu saja muak! untuk bertemu teman-teman dimalam hari saja mereka selalu memberiku petuah yang panjang lebar. Sakit kuping lama-lama!” Jawab Verrel kesal
“Begitu-begitu orang tuamu sayang tau sama kamu! Kamu ga boleh membantah”
“Terserah kamu saja!” Ucap Verrel lalu pergi meninggalkan Vira.
Verrel seperti biasa nongkrong dengan teman-teman lelakinya dibelakang kelas yang jauh dari keramaian. Tentu mereka berkumpul untuk menyesap sebatang rokok sebelum pelajaran dimulai.
Tak lama bel sekolah pun berbunyi namun Verrel tak kunjung kembali ke kelas dan jam belajar akan dimulai 10 menit lagi. Vira lantas keluar kelas dan menyusuri sekolah dan di dapatinya Verrel tengah merokok di belakang kelas dengan teman-teman lainnya.
“Ver?”
“Kamu ga inget kata orang tuamu?”
“Ini tu ga baik buat kesehatan kamu! Kamu mau mati cepet?!” Ucap Vira geram sambil mengambil dan menginjak-injak rokok itu.
“Apaan sih! lo sok tau terus ganggu lagi!” Ucap Verrel kesal lalu menatap tajam Vira saat beranjak dari tempatnya.
“Huft, sabar. Aku harus inget pesan Mama Verrel.” Ucap Vira sambil mengelus dadanya.
Mama Verrel pernah berpesan Vira jikalau Verrel melakukan hal negatif nanti, selalu ingatkan dia dan awasi dia agar tidak larut dalam hal negatif itu. Ingin rasanya Vira melaporkan Verrel soal tadi kepada orang tuanya namun Vira tidak tega Verrel dimarahi habis-habisan.
Pembelajaran dimulai. Vira dan Verrel tengah fokus mendengarkan materi tang di terangkan gurunya di depan. Mendadak fokus Verrel terhenti setelah melihat Vira sejenak.
“Gue dari awal ga suka sama lo. Tapi kenapa lo selalu sabar sama gue?” Gumamnya sambil menatap Vira diam-diam. Tak lama Vira pun menoleh kearahnya. Tentu rasa canggung menyelimuti mereka berdua.
“Apa liat-liat? Gue cantik banget ya sampai segitunya?” Cibir Vira
“Sinting! Nih ada daun di kepala lu !” Jawab Verrel sambil mengambil sebuah daun kering kecil di atas rambutnya.
“Ohh, kirain“ jawab Vira lalu kembali fokus dengan pembelajarannya.
Pembelajaran telah usai dan seperti biasa Vira dan Verrel pulang dengan mobil sedan hitam yang dibawa Verrel. Namun kali ini, Verrel berencana pergi ke suatu club bersama teman-temannya.
“Vir! Lu pulang naik taksi ya!” Pinta Verrel sambil memberikan sejumlah uang kepada Vira.
“Tapi-“ Ucapan Vira terpotong karena Verrel lebih dulu melajukan mobilnya bersama teman-temannya.
“Bagaimana ini? Bagaimana nanti mama dan papa tanya?” Gumam Vira
“Vir! Pulang bareng aku aja yuk!” Ajak Mina dari jendela mobilnya.
“Boleh, makasih ya!” Balas Vira dengan senyuman.
20 menit berlalu. Vira lantas berpamitan dengan Mina. Mina langsung menancap gas mobilnya menyusuri jalanan. Sesampainya dirumah, tentu Vira di introgasi oleh Mama Papanya.
“Mana Verrel? Kenapa bukan dia yang mengantarmu?” Tanya papa
“Iya sayang, kenapa bukan Verrel? Yang tadi siapa?” Lanjut Mama bertanya.
“Yang tadi itu temen aku ma pa, Namanya Mina.”
“Verrel tadi langsung pergi futsal sama temen-temennya. Jadi Vira pulang sama Mina” Jawab Vira.
“Maafkan aku harus berbohong ma pa” gumamnya dalam hati.
“Ya sudah, kamu ganti baju ya terus makan.” Ucap mama sambil mengelus rambut Vira.
“Iya ma”
Sesampainya dikamar, Vira merebahkan tubuhnya dikasur dan sontak berpikir untuk menghubungi Verrel.
[Tut Tut Tut Tut]
“Ni anak hpnya malah ga aktif”
“Bagaimana kalau nanti mama papa tahu aku berbohong?” Ucap Vira gelisah.
Di sisi lain, Verrel sudah tiba disebuah bar bersama teman-temannya. Tentu Verrel yang mentraktir semua teman-temannya. Ini sudah kesekian kalinya dia datang. Teguk demi teguk minuman keras di minumnya hingga ia mabuk. Tak sadar ternyata Ayah Verrel yang tengah bertemu rekan bisnisnya di bar tak sengaja melihat anaknya yang tengah mabuk itu dan mendekatinya.
“Verrel!”
“Siapa sih lu?! Berani-beraninya teriak didepan gue!” Balas Verrel sampai berteriak di depan pria yang ia tidak tahu adalah Ayahnya sendiri.
“Berani-beraninya kau! Ayo pulang!” Ajak Ayah Verrel sambil menarik Verrel dari bar itu!
Sesampainya Ayah dan Verrel dirumah, Ayahnya enggan menghukum Verrel dalam keadaan mabuk. Ibu Verrel sontak kaget dengan keadaan anaknya yang mabuk dan tidak sadarkan diri.
“Yah?”
“Ada apa dengan Verrel? Bagaimana bisa dia seperti ini?” Tanya Ibu Verrel
“Sayang tau? Verrel tengah minum-minum dengan teman-temannya di club dan aku langsung menggeretnya kemari.” Jawab Ayah Verrel galak
“Astaga! Verrel!” Ucap Ibu Verrel sambil menangis
“Apakah Vira mengetahui ini?” Tanya Ibu Verrel
“Sepertinya tidak tapi akan kita tanyakan padanya besok.” Jawab Ayah Verrel lalu meninggalkan anaknya di ruang tamu.
Keesokan harinya, Verrel mengejapkan matanya dan sontak terbangun karena terkaget. Verrel mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya namun nihil.
“Kenapa aku bisa dirumah?”
“Dimana hpku?”
“Pasti Vira yang memberitahu Ayah dan Ibu!”
Ibunya yang menyadari anaknya sudah terbangun langsung menghampirinya.
“Sudah bangun nak?” Tanya Ibu Verrel yang melihat anaknya sudah terbangun diruang tamu.
“Buk, kenapa aku bisa dirumah?” Tanya Verrel penasaran.
“Jadi-“ Ucapan ibu terpotong karena panggilan keras dari Ayah Verrel.
“Verrel!”
PLAK
“Apa ayah pernah mengajari minum-minum dan merokok seperti kemarin?” Teriak Ayah
“Tt..ttidak Ayah! Aku tidak melakukannya!”
“Pasti Vira yang melaporkannya!” Gumam Verrel dalam hati.
PLAK
BUG
BUG
BUG
Pukulan di layangkan bertubi-tubi oleh Ayah Verrel kepada Verrel. Rasa tidak tega menyelimuti sang Ibu hingga berani untuk melerainya.
“Yah, sudah! Kasian Verrel” ucap Ibu Verrel sambil melerai mereka
“Camkan ini! Jika kau mengulangi kesalahan yang sama bahkan kesalahan lain yang lebih berat, Ayah akan mengusirmu dari sini!”
Lanjut ga? Wkwk