Ilham, mahasiswa jurusan Kimia, nilainya selalu A meskipun dia jarang belajar, dia juga salah satu mahasiswa populer di kampus. Banyak cewek yang mengejarnya tapi Ilham sosok laki-laki yang susah jatuh cinta.
Suatu hari, Ilham berjalan bersama temannya, matanya tertuju kepada sosok gadis yang berjalan didepannya yang sedang bercengkrama dengan temannya. Senyumnya sangat manis, rambutnya terurai indah tertiup angin. Ketika gadis itu melewati Ilham, hati Ilham bergetar, untuk sesaat Ilham merasa gadis itu telah menabrak hatinya, matanya tidak bisa berpaling.
" kamu menyukai gadis itu ham...?" tanya Rico menyadarkan Ilham
" hah.... memangnya siapa dia?"
Ilham itu mendengarkan ucapan Rico, dia hanya terus menatap sang gadis yang berjalan pergi semakin menjauh, Karna Ilham mengabaikan Rico, tanpa sadar Rico pergi berlalu begitu saja meninggalkan Ilham yang terus berada dalam lamunannya. Ilham tersadar, dia melihat kesamping tapi Rico sudah berjalan menjauh.
" Rico... tunggu..."
" sudah lupakan saja dia, Mala sosok gadis yang susah dideketin, apa lagi dipacari."
" Oh... jadi namanya Mala... Dia anak apa?" tanya Ilham semakin penasaran
" anak akuntansi, jangan berharap lebih." kata Rico tapi sepertinya Ilham kembali mengabaikan perkataan Rico.
Hari berikutnya Ilham pergi mencari tahu sosok Mala, kebiasaannya, dan apa pun yang Mala suka. Suatu hari Ilham pergi ke perpustakaan, dia tahu Mala akan berada disana. Ilham mencari-cari dimana Mala berada, tapi dia tidak menemukan Mala. Ilham tersenyum akhirnya melihat Mala yang berada disudut ruangan dekat jendela, dan yang lebih membuat Ilham tersenyum, dia melihat Mala sedang tertidur. Ilham diam-diam mendekat, duduk didepa Mala dan terus memadanginya.
" Dilihat dari mana pun dia memang cantik." gumam Ilham
Mala membuka matanya, sontak dia kaget melihat ada seseorang didepannya.
" siapa kamu? tanya Mala sambil berusaha menyadarkan dirinya
" aku Ilham..." jawab Ilham sambil mengulurkan tangannya.
Mala hanya melihat tangan itu, kemudian berdiri dan langsung meninggalkan Ilham.
" Tunggu Mala...!"
Mendengar namanya dipanggil Mala berhenti dan melihat sosok pria yang ada didepannya, dia mencoba mengingat-ingat siapa sosok yang ada didepannya itu, tapi dia tidak mengenal sosok pria itu.
" Jangan ganggu aku." kata Mala
" Siapa yang ingin mengganggumu, aku ingin berteman dengan mu."
Mala mengerutkan keningnya, sepertinya dia mengerti tujuan Ilham, Mala kembali melajutkan jalannya meninggalkan Ilham yang terus menatapnya pergi sambil tersenyum.
Hari berikutnya, Ilham kembali menemui Mala. Dia melihat Mala sedang duduk santai bersama teman-temannya. tanpa ragu Ilham segera duduk disamping Mala.
" hallo semuanya... hallo Mala?" kata Ilham
Tidak hanya Mala yang kaget, teman-temannya juga kaget melihat Ilham yang tiba-tiba menyapa mereka. teman-teman Mala menatap Mala, menunjukan rasa ingin tahu mereka tentang siapa sosok pria disampingnya itu.
" aku lapar kita kekantin yuk..." kata Mala sambil menarik tangan Silvi.
Silvi ingin terus berada disana, ingin tahu siapa sosok pria itu tapi Mala terus menariknya.
" Mala... pria tadi mencarimu kan?" tanya Silvi yang sangat penasaran. Mala hanya diam mengabaikannya dan terus berjalan.
" Mala tunggu... kenapa gak dijawab, jangan-jangan dia pacar kamu ya."
" hah... tentu saja bukan lah, aku aja gak kenal kok sama dia... udah ah... aku gak mau bahas dia." kata Mala.
Hari berganti hari, setiap hari Ilham menemui Mala, sekedar menyapa atau memberikan sebuah hadiah, tapi Mala tidak pernah menanggapi Ilham, dia turus saja cuek, padahal banyak yang suka kalau Ilham datang, terkecuali Mala. Setiap Ilham datang Mala selalu pergi meninggalkannya.
" Ham... sepertinya kamu harus menyerah." kata Silvi
" haruskah?" kata Ilham yang melihat Mala pergi meninggalkannya.
Silvi tersenyum sambil menepuk pundak Ilham, kemudia pergi menyusul Mala yang semakin menjauh.
Mereka duduk disebuah kursi yang berada di taman, disana Mala hanya terdiam sambil memejamkan matanya.
" Mala... kenapa kamu terus menghindar sih, kenapa kamu tidak suka sama Ilham?" tanya Silvi tapi Mala hanya diam mengabaikannya.
Beberapa hari berlalu, hari ini Mala tidak lagi melihat Ilham yang datang menganggunya. Mala tersenyum dan menghela nafas panjang.
" akhirnya dia menyerah." kata Mala
tapi setelah itu Mala terlihat sedih, Mala mulai merasa ada yang hilang dan berbeda dengan harinya.
Turun hujan yang sangat lebat dikampus, Mala selsai piket dia keluar dan melihat sekeliling tidak ada seorang pun disana, dia juga lupa membawa payung, hujan sangat deras tidak mungkin dia berlari ditengah-tengah hujan. Mala melihat ponselnya, tapi batrenya habis. Mala menghela nafas, sedikit kesal, dia hanya bisa menunggu sampai hujannya reda.
Hawa dingin mulai terasa, tapi hujan tidak kunjung reda, tiba-tiba dia melihat sosok pria yang berjalan mendekatinya dibawah payung, Mala melihat dengan jelas siapa sosok itu. Mala kaget ternyata dia Ilham.
" sedang apa kamu disini?" tanya Mala ketus
" kamu sendiri sedang apa?" tanya Ilham sambil tersenyum.
Mala tidak menjawab, Ilham memberikan payung itu kepada Mala, dan berlari dibawah hujan yang sangat lebat. Mala mencoba menghentikannya tapi Ilham berlari sangat kencang meninggalkan Mala. Mala tersenyum, dia juga merasa bersyukur akhirnya dia bisa pulang. Dirumah Mala terus memikirkan Ilham yang kehujanan.
Ilham sudah jarang menemui Mala, tapi jika mereka berpapasan Ilham masih bergetar melihat Mala. Entah Mala juga merasakannya atau tidak tapi Mala juga mulai tersenyum melihat Ilham.
Suatu hari Mala kembali ke kos-kosan sudah larut malam, dia berjalan disebuah gang sepi. Perasaannya tidak enak, dia melihat kebelakang berfikir ada seseorang yang sedang mengikutinya, tapi tidak ada siapa-siapa pun disana. Tapi perasaan Mala masih saja tidak enak, dia kembali melihat kebelakang. Ada seseorang berbaju hitam yang sedang menatapnya dengan tajam. Mala merasa takut, dia langsung berbalik dan berlari.
" tolooong.... toloooong..." teriak Mala.
pria itu terus mengejar Mala yang berlari, tapi tiba-tiba kaki mala tergelincir dan dia terjatuh. pria misterius itu selangkah demi selangkah mendekat.
" Siapa kamu.... pergiiiii...." teriak Mala
"tolooong....tolooong."
" Tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu," kita pria itu sampil menarik kaki Mala. Mala semakin histeris dia sangat takut. Pria itu mendekati Mala mencoba melecehkan Mala membuka jaket dan menarik paksa kemeja Mala, Mala terus meronta, berteriak sekeras mungkin berharap ada seseorang yang mendengarnya. Tenaga Mala sudah habis, entah apa yang dipikirkan Mala saat itu, hanya air mata yang jatuh dan suara isakan yang keluar dari mulut Mala.
Brrrukkkkk
Seseorang datang, menarik pria itu dan terus memukulinya. Mala membuka mata, mencoba melihat siapa sosok orang yang telah menolongnya.
" Ilham....." gumam Mala
Pria misterius itu telah terkapar tidak berdaya.
" kamu tidak apa-apa, apa yang sakit?" tanya Ilham yang terlihat sangat panik dan memeriksa kondisi Mala. Mala menggeleng, dan langsung memeluk Ilham.
" aku sangat takut..." kata Mala sambil terus menangis
" Jangan takut, sudah tidak apa-apa... ada aku disini!" kata Mala sambil mengelus kepala Ilham.
Setelah kejadian hari itu hubungan Mala dan Ilham membaik dan semakin dekat. Ilham berencana menembak Mala untuk menjadi pacarnya.
" Mala... ada yang ingin aku tanyakan." kata Ilham
" hemmm.... apa, katakan!" kata Mala tersenyum manis
Ilham masih ragu, sebenarnya dia masih takut kalau Mala akan menolaknya itu akan mempengaruhi hubungan mereka yang sudah membaik selama ini.
" aku ingin kamu jadi pacarku..!" kata Ilham sambil menutup matanya. melihat itu Mala tersenyum dan memegang pipi Ilham
" sebelumya, apa boleh aku bertanya? apa yang kamu suka dariku.? tanya Mala.
Ilham membuka matanya, dia menatap Mala yang ada didepannya, kembali membayangkan awal-awal dia bertemu Mala, merasakan rasa yang tumbuh semakin dalam.
" aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku suka darimu. yang jelas ini masalah hati, hanya hati yang tahu, dan dia telah memilihmu." kata Ilham
Mala tersenyum dan mengangguk. Betapa bahagianya Ilham mendapat jawaban dari Mala, dia memeluk Mala dengan erat dan berjanji akan menjadi yang terbaik, menjaga hubungan mereka dengan baik.
Hubungan mereka berjalan dengan harmonis, Mala terlihat sangat bahagia begitu juga dengan Ilham. Mala percaya kepada Ilham begitu juga Ilham yang setia dan menjaga hatinya hanya untuk Mala.
Liburan semester telah tiba, sudah lama Mala tidak pulang ke rumah orangtuanya. tahun ini dia berencana untuk pulang sebentar sekedar mengobati rindu kepada kampung halamannya. Mala dan Ilham sedang duduk saling bersandar ditaman. Mala memberitahu Ilham tentang rencananya.
" tentu saja boleh... asal jangan lama-lama, jangan lupa untuk kembali." kata Ilham sambil berbalik menatap Mala.
Mala tersenyum dan mengangguk.
" aku titip Percaya, titip hati ku sama kamu, jaga baik-baik sampai kamu mengembalikannya dengan utuh." tambah Ilham
Hari ini Mala kembali ke kampung halamannya. Ilham mengantar Mala sampai stasiun, terus menatap Mala yang pelan-pelan pergi.
Hari-hari berlalu, hubungan mereka baik-baik saja masih terjalin komunikasi yang baik, sampai ketika Mala susah dihubungi dan akhirnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Liburan sudah selesai, tapi Mala tidak kunjung kembali. Ilham sangat khawatir, Ilham mencari tahu alamat kampung Mala tapi tidak ada yang tahu. berhari-hari dan akhirnya berminggu-minggu setelah Mala tidak ada kabar akhirnya Ilham menemukan alamat rumah Mala.
Ilham berada di stasiun. Dia bersiap-siap untuk berangkat ke kampung halaman Mala. saat kereta api datang dan Ilham tidak sengaja melihat Mala.
" Mala..." gumam Ilham sambil terus mencari sosok gadis yang mirip dengan Mala itu. Dan benar itu Mala
" malaaaa.... maalaaaa..." teriak Ilham
Mala seperti mendengar suara Ilham, dia melihat kesekeliling mencari asal suara tersebut.
Air mata Mala menetes melihat Ilham yang berada di sebrang rel tepat dihadapannya. Akhirnya Mala dan Ilham bertemu, Mala memeluk Ilham dengan sangat kuat.
" Aku sangat merindukanmu..." kata Ilham
Mala mengangguk sambil terus menangis, ingin sekali dia bilang dia juga sangat merindukan Ilham tapi suaranya tidak dapat keluar, dia hanya terus menangis tanpa melepaskan pelukannya.
" ada apa.... apa yang terjadi? tanya Ilham sambil mencoba melepaskan pelukan Mala melihat wajah Mala, tapi Mala tidak membiarkan Ilham melepaskan pelukannya. Ilham semakin tidak mengerti apa yang terjadi kepada Mala selama dia berada dikampung, tubuh Mala terlihat semakin kurus, lesu tidak bersemangat. Ilham membiarkan Mala sampai tenang dan membuka percakapan.
Mala sudah mulai tenang, mereka duduk di cafe sambil memesan minuman Mala hanya diam.
" sudah bisa cerita?" tanya Ilham
Mala masih saja diam sambil memegang gelas minuman diatas meja.
" aku harus segera kembali lagi ke kampung halaman ku." hanya kata itu yang keluar Mala kembali terdiam.
" apa ada masalah disana?" tanya lagi Ilham
Mala tidak menjawab dia hanya dia, dan sesekali air matanya masih menetes.
" Ya udah gak papa... kan kita masih bisa komunikasi." kata Ilham lagi.
" Ku rasa hubungan kita harus selesai sampai disini." kata Mala sambil berdiri meninggalkan Ilham.
" apa... tunggu Mala....." kata Ilham sambil menahan tangan Mala.
Mala tidak berbalik, dia tidak bisa menahan air matanya yang terus jatuh membasahi pipinya. Tiba-tiba Ilham melihat cincin dijari manis tangan Mala. mungkin hanya sebuah cincin biasa pikir Ilham.
" Mala... jelaskan padaku apa yang terjadi, kita bisa mencari jalan keluar nya bersama nanti." kata Ilham yang terus menahan Mala.
Mala menghapus air mata nya dan berbalik melihat wajah Ilham dengan sendu. dengan suaranya yang pelan dia mencoba memberitahu Ilham
" kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita, aku harus kembali ke kampung. aku akan segera menikah." kata Mala
bagaikan petir disiang hari. hati Ilham hancur mendengar kata-kata Mala. tangamnya mulai lemas dan melepaskan tangan Mala. Ilham tidak tahu harus berbuat apa. cincin sudah melingkar di jari manis Mala.
Selangkah demi selangkah Mala meninggalkan Ilham. langkah kakinya memang berat tapi dia juga harus kembali pulang demi janjinya kepada orang tua Mala.
-------------