Halina Selene Magnesia, istri CEO terkenal yang wajahnya disembunyikan dari publik. Alasannya? Karna sang suami yang cemburuan. Tuan saga banget kan? Halina tau. Bedanya kalau Daniah itu pemilik toko online, maka Halina adalah pemilik kafe sekaligus penulis dengan nama pena phosphoros. Tak ada yang tau siapa orang dibalik phosphoros termasuk suaminya?
Kok bisa?
Karna Halina selalu menulis karyanya di kafe menggunakan laptop kafe. Yang diperiksa suaminya hanya HP dan laptop pribadinya, laptop kafe hanya pernah diperiksa sekali oleh suaminya saat mereka akan menikah. Itupun karna ada yang berusaha membobol laptop tersebut.
Untuk menghubungi penerbit?
Halina memiliki 2 HP. HP satu yang selalu di cek suaminya, HP satunya adalah HP yang ia beli dari gaji pertamanya saat bekerja diperusahaan ayahnya.
Saat ini Lina (panggilan Halina) sedang berada di kantor penerbit yang akan menerbitkan novel nya. Lina menutupi wajahnya dengan cadar (kayak yang di cover) dan pihak penerbit sudah sepakat untuk tidak mengungkapkan siapa phosphoros sebenarnya. Namun sial bagi Lina karna kepala penerbit sekarang adalah orang baru yang sayangnya mesum.
"Apa anda tidak membaca kontrak saya? Disana tertulis bahwa saya berhak tidak menunjukkan wajah saya." Ucap Lina dingin.
"Lantas bagaimana saya tahu bahwa anda adalah phosphoros yang asli?" Tantang orang itu.
"Phosphoros yang asli tak akan pernah memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya." Skakmat. Lina beranjak dari duduknya.
"Katakan kepada pemilik Global Media Pustaka (nama perusahaan penerbit) bahwa phosphoros membatalkan kontraknya." Ucap Lina lalu pergi. Namun saat akan mencapai pintu, tubuh Lina terhuyun karna ditarik kasar oleh kepala penerbit.
"KAU!!"
"Ini bayaran atas kesombongan mu di depanku." Seringai kepala penerbit membuat Lina takut. Bagaimanapun ia seorang wanita dan tidak dibekali ilmu beladiri. Bisa sih, tapi hanya dasar yang diajarkan disekolah.
"LEPASKAN AKU! TOLONG! SIAPAPUN TOLONG!" teriak Lina saat si kepala penerbit mencengkram tangannya. "Tidak akan ada yang bisa mendengarkan mu. Ruangan ini kedap suara, hahaha" Ucap si kepala penerbit sambil tertawa senang. Namun
Brak
Pintu didobrak, puluhan pria berpakaian serba hitam mengepung si kepala penerbit dan Lina. Lina menelan ludah gugup saat melihat logo bergambar burung elang berwarna emas di dada kanan seragam mereka.
Golden Eagle
Perusahaan milik Sebastian Mahendra Helios, orang yang sangat Lina cintai sekaligus suami nya. Si kepala penerbit tampak pucat melihat konglomerat yang sangat disegani kini berada di depannya.
Diambang pintu, suami Lina beserta sekertaris nya memandang dingin tangan si kepala penerbit yang masih menggenggam tangan Lina. Lina yang menyadari hal itu langsung menghempaskan tangan si kepala penerbit lalu berlari menuju suaminya.
"Sayang" Bastian merentangkan tangannya, memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
"Terima kasih sudah menolongku." Ucap Lina dengan nada tertahan. Ia sebenarnya tak ingin memantik amarah suaminya, namun ketakutan yang Lina rasakan mengalahkan keinginannya untuk tidak menyulut kemarahan suaminya.
Bastian mengusap rambut Lina sambil sesekali menciumi nya. Namun tatapan dingin pria itu tak hilang. Ia memerintahkan para bodyguard nya yang telah mengamankan si kepala penerbit untuk membuat pria itu berlutut dihadapan Bastian dan Lina.
"Yang kau usik ini adalah istriku, nyonya Helios." Ucapan Bastian membuat si kepala penerbit pucat. Kalau saja ia tahu bahwa phosphoros adalah nyonya Helios, ia pasti tak akan berbuat seperti tadi.
"Cabut kontrak phosphoros dengan Global Media Pustaka dan pastikan orang ini didepak dari sini. Pria yang tidak bisa menghormati wanita seperti dia tidak pantas mendapat posisi seperti ini." Tambah Bastian lalu membawa Lina pergi dari tempat itu. Keduanya pulang ke kediaman Helios bersama supir. Sedangkan sekertaris Bastian mengurus kontrak Lina.
Bastian menyeret Lina ke dalam mansion. Ibu Bastian, nyonya Ririn yang melihat sang putra menyeret menantunya pun mencegat keduanya (btw, cadar Lina udah dilepas waktu di mobil). Walaupun ia tak terlalu menyukai menantunya, tapi ia juga tak membenarkan jika putranya bertindak kasar.
"Bas, jangan bertindak seperti itu pada dia." Ucapan sang mama tidak menghentikan langkah Bastian menyeret Lina. Padahal biasanya Bastian akan marah jika mamanya berucap seperti itu.
"Bas..."
"Mama diam." Ucap Bastian dingin membuat Ririn membeku. Meski sering bertengkar, Bastian biasanya hanya menegurnya lembut. Namun hari ini, dua kata dari Bastian membuatnya terkejut. Lina yang mendengar hal itu tak kalah terkejut. Ia memberontak, cekalan Bastian pun terlepas.
Bastian menatap tajam Lina. Namun Lina balik menatap suaminya itu.
"Aku tidak masalah jika kamu nyeret aku. Tapi yang kamu ucapin ke mama itu nggak bener Sebastian." Ucap Lina lembut namun mengandung ketegasan. Jika Lina sudah memanggil namanya, berarti apa yang dilakukan Bastian pastilah salah. Itu kebiasaan Lina sejak pacaran.
Namun Bastian yang masih diliputi kemarahan malah melampiaskan amarahnya.
"HARUSNYA MAMA NGGAK NEGUR AKU SEPERTI BIASANYA! DAN INI JUGA SALAH KAMU YANG NYEMBUNYIIN RAHASIA SEBESAR INI!" bentak Bastian pada Lina. Nyonya Ririn, Nathan, Lio, dan Lia (adik-adik Bastian) beserta pelayan yang ada disana terkejut. Bastian dan Lina mungkin bertengkar, namun tak pernah didepan keluarga Bastian ataupun pelayan. Paling mereka hanya saling diam.
"Kalau istrimu salah, harusnya kamu memberitahu nya Bas, bukan malah membentaknya." Ucap seseorang yang baru datang. Dia adalah Alvian Helios, kepala keluarga Helios alias ayah Sebastian. Alvian bergegas pulang saat mendapat laporan bahwa putra sulungnya pulang dengan menyeret menantunya. Alvian yang mengetahui akar masalahnya bisa memprediksi bahwa akan terjadi pertengkaran hebat antara putra dan menantunya.
Semua orang terdiam. Ririn mendekati suaminya lalu mengambil tas kerja dan jas suaminya itu. Keduanya berjalan menuju ke arah Bastian dan Lina.
"Tapi pa, Lina menyembunyikan rahasia sebesar ini dari aku." Bantah Bastian.
"Bukankah dia sudah terbiasa seperti itu? Sejak menjadi kekasihmu di sudah menyembunyikan identitasnya." Ejek Alvian membuat Bastian diam. Sejak dulu tak banyak orang yang tahu tentang Lina. Bastian tak mau orang-orang melihat wajah cantik Lina.
"Benar kan Halina?" Tanya Alvian yang diangguki Lina. Dulu Lina pernah hampir melakukan face reveal phosphoros. Namun karna posisinya saat itu sudah menjadi kekasih Bastian, Lina akhirnya tidak jadi melakukan face reveal dan tetap menjadi phosphoros yang misterius.
"Sebentar pah, Lia mau tanya. Sebenernya ada masalah apa sih?" Tanya Aprilia, bungsu Helios.
"Tanyakan pada kakak iparmu." Ucap Alvian lalu duduk di sofa, menantikan kehebohan istri dan anak-anaknya terutama Nathan saat tahu identitas Lina. Istri dan anak-anaknya itu tidak tau bahwa menantu dan kakak ipar yang mereka tidak sukai sebenarnya adalah penulis idola mereka. Membayangkannya saja membuat sudut bibir Alvian berkedut.
"Jadi?"
"Em, Lia. Se-sebenarnya ka-kakak ini phosphoros." Cicit Lina lalu bersembunyi dibelakang Bastian. Ia takut diserbu mertua dan adik-adik iparnya. Ia tahu bahwa mereka adalah fansnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarga suaminya itu.
"BENERAN" teriak ibu dan adik-adik Bastian. Ririn langsung menarik lengan Lina dan memutar-mutar tubuh menantunya itu.
"Ma, istri aku pusing." Ucap Bastian menghentikan ibunya. Bastian lalu mendekap tubuh istrinya. Nathan mendekat ke arah kakaknya sembari membawa sapu tangannya, seperti hendak membekap seseorang.
"Mau apa kamu? Jangan dekat-dekat sama istri kakak." Ucap Bastian yang membuat Nathan memutar bola matanya. "Bentar kak, aku mau pastiin kata kakak ipar." Balas Nathan. Ia langsung menutup wajah Lina dan hanya menyisakan matanya saja, seperti ketika Lina memakai cadar.
Ririn, Nathan, Lio, dan Lia saling memandang
Mata Lina sangat mirip dengan mata phosphoros, idola mereka. Sebagai penggemar phosphoros, mereka sangat mengenali mata biru gelap phosphoros.
"Aaaa, akhirnya phosphoros beneran jadi mantu mama. Sini sayang, mama mau peluk." Ucap Ririn girang lalu menarik Lina dari dekapan Bastian. Lina yang ditarik hanya pasrah saat ibu mertuanya mencubit pipinya, sedangkan Bastian menatap tajam ibunya yang sepertinya akan memonopoli sang istri.
Tatapan Bastian makin menajam saat Nathan, Lia, dan Lio juga ikut memeluk Lina. Ia hendak mengambil lagi istrinya namun mama nya lebih dulu menarik Lina duduk ke sofa. Alvian lalu menyuruh putra sulungnya itu duduk. Ia tahu bahwa sang istri akan mulai memonopoli menantunya. Bastian hanya pasrah saat ayahnya menyuruhnya duduk.
"Papa udah tau tentang Lina?" Tanya Bastian. Diantara semua keluarganya, hanya papa nya itu yang tidak terkejut. "Dia idola mama mu. Jauh sebelum Lina menjadi kekasihmu, papa sudah tau." Jawaban sang ayah membuat Bastian cukup terkejut. Namun mengingat sifat ayahnya, ia cukup memaklumi.
"Kenapa ayah nggak bilang dari awal? Setidaknya Lina tidak akan dimusuhi mama dan yang lain."
"Memangnya kau rela istrimu dimonopoli seperti sekarang?" Ejekan Alvian menampar logika Bastian. Baru beberapa menit mamanya tau tentang Lina, tapi mereka sudah asyik membahas hal yang membuat kepala Bastian sakit. Iya sakit, karna istrinya dimonopoli sangat ibu.
"Tuan muda" Sekertaris Bastian datang dengan raut wajah yang membuat Bastian siaga. Lina, Ririn, Nathan, Lia, dan Lio ikut menatap orang kepercayaan Bastian itu. Sedangkan Alvian duduk santai sambil meminum teh yang disajikan pelayan.
"Kontrak nona Lina tidak bisa dicabut. Pihak penerbit berkata bahwa kejadian ini hanya rekayasa sehingga tidak memengaruhi kontrak nona." Ucapan Ricky, sekertaris Bastian itu membuat mereka saling menatap.
"Dan juga, pria itu adalah orang suruhan. Jabatan kepala penerbit masih milik tuan Jef." Tambahnya membuat semua orang semakin bingung. Itu artinya ada seseorang yang sengaja mengatur supaya Bastian tau siapa Lina yang sebenarnya.
"Oh ya Ric, bagaimana kamu tau tentang identitas ku yang sebenarnya? Aku sudah meminimalisir penggunaan identitas asli ku selama menjadi phosphoros." Tanya Lina membuat Bastian ikut berfikir.
"Minggu lalu aku mendapat email misterius yang mengirimkan fotomu dan phosphoros. Lalu hari ini, Ricky mendapat email tentang phosphoros." Ucap Bastian.
"Saya juga mendapat pesan tentang kepala penerbit itu. Saat saya melacak nomor ponsel Anda, ternyata anda sudah menuju ke kantor penerbit." Tambah Ricky membuat semua orang (minus Alvian) bertambah bingung. Lia dan Lio yang melihat papanya santai menjadi curiga.
"Jangan-jangan ini rencana papa." Ucap Lio yang diangguki Lia sontak membuat semua menatap Alvian. Alvian hanya memakan kue kering dengan santai. Ya, semua itu adalah rencana Alvian. Membocorkan identitas phosphoros, membayar pihak penerbit seolah kepala penerbit berganti, membayar pria agar menjadi kepala penerbit baru, dan mengirimkan pesan pada Ricky. Itu semua adalah rencana Alvian agar putra sulungnya segera memunculkan menantunya kepada publik.
"Mau sampai kapan kamu membiarkan Alice mengaku sebagai istrimu? Sampai orang tua Lina mendengar hal ini? Papa hanya ingin mempercepat keputusanmu untuk menunjukkan Lina pada media." Kata-kata Alvian menyentil lubuk hati Bastian. Alice adalah selebgram yang sangat terobsesi dengan Bastian. Ia mengaku pada orang banyak sebagai istri Bastian saat tau Bastian telah menikah. Beruntung mertua Bastian sekarang tinggal di pedesaan dan tidak terlalu mengupdate tentang publik figur.
"Papa sudah mengatur konferensi pers untuk kemunculan istrimu dan phosphoros. Lusa pukul 10 pagi." Ucap Alvian lalu beranjak pergi.
____________________________
Hari konferensi pers
Bastian sudah menyampaikan pembukaan. Lina yang masih diruang tunggu meremas tangannya gugup. Mertua dan adik iparnya berada di sampingnya untuk menenangkan wanita itu. Tak lama, seorang wanita dengan setelan formal menghampirinya.
"Lin, waktunya keluar." Ucap wanita itu yang tak lain adalah adik Alvian sekaligus sekertaris papa mertua nya itu.
"Bibi, aku gugup."
"Tenanglah Lin, kamu masih sebagai phosphoros. Ingat, kamu adalah si penulis misterius yang sangat terkenal. Anggap ini sebagai fan meet biasa." Ucap Bibi Bastian menenangkan. Setelah lebih tenang akhirnya Lina melangkah menuju ruang konferensi.
"Halo semua. Pho tau banyak sekali yang ingin kalian tanyakan sebelum pho membuka cadar ini. Jadi pho persilahkan teman-teman media untuk bertanya." Ucap Lina.
"Apa yang membuat pho akhirnya mau tampil di publik?"
"Apakah ada orang yang membuat pho membuka cadar?"
"Apa hubungan pho dengan tuan muda Bastian?"
"Bagaimana kami tau bahwa anda adalah phosphoros asli?"
"Pho jawab satu per satu ya. Teman-teman dan penggemar pasti tau kan kalau pho punya ciri khas yaitu alis yang terpotong karna bekas jahitan" Ucap Lina sambil menunjuk alisnya yang pernah dijahit karna kecelakaan.
"Dan juga tanda lahir berbentuk bulan sabit di tangan kanan." Lanjut Lina sambil menunjukkan tanda lahir di tangannya. Semua yang hadir pun mengangguk.
"Lalu dulu pho kan pernah akan face reveal, namun tidak jadi. Lantas apa yang menyebabkan pho sekarang melakukan face reveal?" Tanya salah satu wartawan.
"Dulu kekasih pho adalah orang yang posesif, dia tidak mengizinkan pho tampil di publik. Tapi dia sendiri tidak tau bahwa pho adalah penulis. Setelah kami menikah dan dia tau identitas pho serta ada beberapa kejadian kurang mengenakkan, jadi suami dan mertua pho meminta agar pho membuka identitas." Jawab Lina sambil melirik sekilas Bastian. Bastian yang disindir hanya acuh.
"Selain itu, pho juga kadang cemburu saat ada perempuan yang mengaku sebagai kekasih atau istri dari suami pho." Tambah Lina malu-malu membuat wartawan berdecak dan ada beberapa yang tertawa kecil.
"Satu lagi pho, apa kamu memiliki hubungan dengan tuan muda Sebastian Helios? Kenapa tuan muda repot-repot membuat konferensi pers ini?" Tanya wartawan lain membuat Lina menatap Bastian begitupun sebaliknya.
"Jadi konferensi pers ini diadakan selain untuk face reveal phosphoros juga untuk mengkonfirmasi hubungan saya dengan nona Alice." Ucap Bastian membuat wartawan berbinar. Inilah yang mereka tunggu sejak lama.
"Phosphoros, silahkan buka cadarmu dan perkenalkan dirimu." Ucap Bastian. Lina membuka cadarnya dan hal itu mengundang decak kagum semua orang. Bisa dibilang wajah Lina seperti wajah para tokoh dalam komik, cantik paripurna dan seperti tidak nyata.
"Semua, perkenalkan nama asli pho adalah Halina Selene Magnesia. Teman-teman bisa memanggil Halina atau tetap pho tidak papa." Ucap Lina memperkenalkan dirinya. Para hadirin bertepuk tangan.
"Baik, disini saya akan mengambil alih." Ucap Bastian membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Saya memang sudah menikah, pernikahan syaa sudah berjalan 5 bulan. Namun istri saya bukan nona Alice, dia hanya rekan kerja saya. Bahkan saya hanya bertemu dengannya sekali saat kami tanda tangan kontrak." Ucapan Bastian membuat semua berbisik. Itu artinya, selama ini Alice hanya bicara omong kosong.
"Lantas jika boleh tahu, siapa istri tuan muda sebenarnya?" Tanya seorang wartawan.
"Istri saya bernama Halina Selene Magnesia." Ucap Bastian sambil merangkul mesra Lina membuat para wartawan tersedak angin. Phosphoros benar-benar mengguncang media.
"Dialah orang dibalik face reveal yang pho lakukan." Tambah Lina membuat para wartawan terbengang. Seperti inikah rasanya menjadi pengikut idola yang misterius?
Konferensi pers berakhir dengan wajah para wartawan yang masih tidak percaya. Beberapa waktu kemudian, jagad maya dihebohkan dengan berita 'phosphoros yang misterius ternyata adalah istri tuan muda Helios'.
Ditambah dengan keluarga Bastian yang satu per satu mengunggah foto pernikahan Bastian dan Lina. Tambah ramai yang mendoakan agar keduanya langgeng.
_______________________
Halina : H Li Na (liat tabel periodik unsur)
Selene : bulan (bahasa Yunani), kata dasar dari selenium.
Magnesia : salah satu nama daerah di Yunani, kata dasar dari magnesium.
Helios : matahari (bahasa Yunani), kata dasar dari helium.
Phosphoros : pembawa cahaya (bahasa Yunani), kata dasar dari fosfor.
Beberapa nama tokoh dalam cerita ini terinspirasi dari nama unsur kimia. Silahkan cek google kalau tidak percaya. Btw, nama Aktis dysprositos juga berasal dari kata dasar nama unsur kimia. Nama tengah asli aktis adalah kata aktis dalam bahasa arab.
Story by:
Aktis Dysprositos