Minggu pagi itu, Andini terburu - buru berlari keluar dari rumahnya. Ia segera meraih sepeda keranjang pinknya dan mulai mengayuh. Ia punya janji untuk menemui seseorang di perpustakaan kota. Andini mengayuh dengan kecepatan sedang sembari menikmati mentari pagi yang bersinar lembut kepadanya. Jalanan pagi saat itu tidak terlalu padat oleh kendaraan, sehingga Andini leluasa mengayuh sepedanya tanpa ada kendala. Sembari mengayuh, Andini pun bertanya - tanya pada dirinya sendiri, mengapa Kenichi mengajaknya bertemu di perpustakaan kota? Apakah ini semacam kencan ala novel - novel remaja? Kencan anti mainstream? Andini tersenyum - senyum malu membayangkannya. Ia dan Kenichi saat ini adalah siswa SMA akhir tahun. Mereka sudah sekelas sejak SMA kelas pertama. Kenichi menurut Andini adalah sosok penyendiri. Ia jarang terlihat berkomunikasi maupun bersosialisasi dengan teman - teman kelasnya. Nilai akademisnya juga hanyalah rata - rata. Ia biasanya duduk di barisan paling belakang dan letaknya di ujung sudut kelas. Tak banyak teman - teman sekelas Andini yang tahu soal latar Kenichi, termasuk Andini sendiri. Yang mereka ketahui hanyalah, bahwa Kenichi adalah blasteran Jepang - Indonesia saat sesi perkenalan siswa dan siswi baru. Kenichi suka menghabiskan waktu istirahatnya dengan memakan bento nya. Setelah selesai makan, ia akan pergi ke perpustakaan hingga waktu istirahat usai. Hal itu diketahui Andini tak kala, Andini pernah tak sengaja berpapasan dengannya ketika Andini habis dari kantin sekolah dan kebetulan Kenichi sedang memasuki ruang perpustakaan. Sejak itu, setiap waktu istirahat, Andini sering melihat Kenichi berada di ruang perpustakaan sambil membaca buku.
Andini pun sering bertanya - tanya, walau Kenichi sangat rajin membaca, entah kenapa nilai akademisnya selalu berada di rata - rata. Hal itu membuat Andini menyimpulkan bahwa baca buku tidak berdampak pada kecerdasan seseorang. Andini masih terus mengayuh sepedanya melewati jalan - jalan yang mulai dipadati oleh kendaraan serta pejalan kaki yang hilir mudik. Sekitar 40 menit mengayuh, Andini pun tiba di perpustakaan kota. Ia segera berlari masuk ke dalam sesaat setelah memarkirkan sepedanya. Ia memicingkan matanya melihat ke segala penjuru dan setiap sudut ruangan. Di lantai pertama, begitu kita memasukinya. Kita akan menemukan bagian administrasi terlebih dahulu yang dijaga oleh 2 wanita paruh baya. Setelah Andini menyelesaikan pengisian data, barulah Andini melangkah masuk menuju sebuah ruangan yang sangat luas dengan banyaknya rak - rak buku yang berjejer. Rak - rak itu sangatlah penuh terisi oleh berbagai macam buku yang sudah dikelompokkan sesuai kategorinya. Andini masih belum menemukan keberadaan Kenichi. Ia pun menyusuri semua ruangan itu. Terdapat 3 meja besar di tengah ruangan itu yang sudah diisi oleh beberapa orang yang tengah membaca. Buku - buku yang dibaca mereka pun beragam judulnya. Pengunjungnya juga dari berbagai kalangan usia. Mulai dari mahasiswa sampai orang yang sudah berumur. Andini pun melihat ke arah tangga yang menuju ke lantai 2. Setelah dirasanya Kenichi tidak berada di lantai dasar, ia bergegas naik ke atas. Sesampainya di atas, ia mendapati Kenichi sedang berdiri memandangi jendela yang terletak di sudut ruangan. Lantai atas itu tidak jauh berbeda dengan lantai dibawahnya, berjejer juga banyak rak - rak buku dan susunan meja di tengah - tengahnya. Hanya saja, pengunjungnya tidak seramai di lantai bawah. Andini menghampiri Kenichi.
"Ken.. Ichi.", panggilnya.
Kenichi segera berbalik dan melihat kedatangan Andini.
"Andini.. kamu sudah datang rupanya.", ucap Kenichi.
Andini menganggukkan kepalanya dan menatap Kenichi. Kenichi pun mengajak Andini untuk duduk di meja besar tengah ruangan itu. Kenichi seperti biasa tidak terlalu menunjukkan ekspresi. Ia selalu terlihat dingin dan serius ditambah dengan kacamata putih bingkai tipis yang dipakainya, semakin menambah kesan seperti layaknya CEO suatu perusahaan atau pimpinan perusahaan. Mereka berdua pun sudah duduk dengan saling berhadapan. Kenichi kembali menatap Andini. Andini seketika merasa gugup dan mengalihkan pandangannya ke bawah sambil sesekali melihat ke arah Kenichi. Kenichi masih juga belum membuka suara. Andini semakin gugup tak karuan, karena ini baru pertama kali baginya ditatap oleh seorang cowok seperti begitu. Ia berusaha menarik nafas dengan tenang dan pelan, mengatasi kegugupannya.
"Andini....", Kenichi memanggilnya.
"Iya... Kenichi... hehe. A... ada apa ya? hehe", Andini sontak terkaget dan menjadi salah tingkah.
"Aku sudah lama mengawasimu."
("WHAT??!! Dia langsung to the point banget!"), ucap Andini dalam hati. "Ma.. maksudmu?", tanya Andini dengan hati - hati.
"Iya... aku sudah mengawasimu sejak lama.", ucap Kenichi.
"Sejak kapan?", tanya Andini.
"Seminggu yang lalu.", jawab Kenichi.
("Seminggu yang lalu ya... Apakah itu termasuk lama?) "Kenapa kamu mengawasiku?", tanya Andini yang groginya mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Karena kamu dalam bahaya!"
Seketika suasana sekitar mereka berdua menjadi hening. Pikiran Andini menjadi kosong berusaha mencerna perkataan yang terlontar barusan tadi. Ia menarik nafas perlahan, mengepalkan tangannya, perlahan berusaha menguasai dirinya kembali.
"Apa maksudmu Kenichi?", ia menatap Kenichi dengan raut wajah yang bergetar.
Kenichi meraih sebuah tas selempang ukuran sedang yang berada disampingnya, ia merogoh sesuatu dan mengeluarkan setumpuk kartu tarot di atas meja. Andini melihat penuh kebingungan. Kenichi mula mengacak - ngacak kartu itu dan menghamparkannya di atas meja. Semua kartu tarot itu dalam keadaan tertutup. Setelah selesai mengacaknya, Kenichi melihat Andini dengan ekspresi yang tak berubah, meminta Andini memilih satu kartu diantara hamparan kartu itu.
"Kamu hanya bisa mengambil satu kartu. Berkonsentrasilah dan pilih sesuai apa kata hatimu.", pinta Kenichi.
Andini masih terlihat kebingungan. Ia pun menuruti perkataan Kenichi. Ia memusatkan pikiran melihat ke arah hamparan kartu di depannya. Setelah cukup lama menimbang dan merasa yakin. Ia pun menunjuk sebuah kartu.
"Kartu yang kamu pilih ini adalah yang akan memberitahuku nasibmu beberapa hari ke depannya. Bukalah kartu itu begitu sudah ku beri aba - aba.", jelas Kenichi.
Andini hanya menganggukan kepalanya. Dalam hati kecilnya, ia terus bertanya - tanya maksud tindakan Kenichi.
"Bukalah..."
Andini membuka kartu yang dipilihnya. Seketika ia menangis dan langsung melemparkan kartu itu ke Kenichi.
"INI TIDAK LUCUU!!", teriak Andini sambil terisak - isak.
Andini segera beranjak pergi sambil menangis. Ia menuruni tangga dan berlari ke arah pintu keluar. Semua pengunjung yang berada di lantai atas melihat ke arah Kenichi. Kenichi bangkit berdiri dan memungut kartu yang dilempar tadi. Ia melihat kartu itu dengan ekspresi serius.
"Demi langit, bumi dan para dewa yang memberkati. Andini... aku sudah ditakdirkan untuk melindungimu sampai akhir.", ucap Kenichi sambil memegang kartu tarot yang bergambarkan tengkorak dan bertuliskan 'DEATH'.
Andini berlari menuju ke parkiran dan meraih sepedanya. Disaat dia akan mulai mengayuh sepedanya, sebuah klakson berbunyi nyaring disertai teriakan keras.
"Neng, awass!!!!"
Seorang pengemudi sepeda motor melaju sangat kencang ke arah Andini. Andini terperanjat kaget dan tak bisa menghindar. Kenichi dengan segera meraih tangan Andini dan menariknya, sehingga pengemudi itu menabrak sepeda Andini secara langsung. Pengemudi itu pun terjatuh. Andini terduduk lemas di pinggir jalan dengan nafas tersenggal - senggal. Wajahnya pucat dan sekujur tubuhnya berkeringat hebat. Kenichi menatap tajam ke arah sesuatu dan mulutnya bergerak - gerak seperti sedang merapal sesuatu. Ia merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan cermin 'Bagua' dan segera ia soroti ke arah yang ditatap tajamnya itu. Tak berapa lama kemudian, ia tampaknya sudah selesai dan memasukkan kembali cerminnya ke dalam tas selempang nya. Ia berjalan menuju ke Andini yang masih terduduk pucat itu. Ia segera meminta kepada petugas penjaga perpustakaan untuk dibawakan segelas air hangat.
"Makanlah ini Andini..."
Kenichi menyodorkan sebuah pil beserta segelas air hangat yang sudah dibawakan petugas kepadanya. Andini segera memakan pil itu sambil meminum segelas air hangat itu. Pucat di wajahnya berangsur hilang dan nafasnya mulai teratur. Dirasanya sudah cukup membaik, Kenichi segera bergegas menghampiri pengemudi motor yang sudah ditolong oleh orang - orang sekitar itu. Pengemudi itu segera merangkapkan tangan dan meminta maaf.
"Sudahlah Pak, Saya datang bukan untuk menghakimi. Saya ingin memeriksa kondisi Bapak. Syukurlah, Bapak hanya mengalami keseleo ringan di dekat pergelangan tangan kanan. Bapak hanya perlu diurut saja.", ucap Kenichi setelah memeriksa tangan si Bapak pengemudi.
"Terima kasih nak!"
"Tidak... tidak... berterima kasihlah pada Tuhan!", ucap Kenichi sambil menunjuk ke atas langit.
Kenichi segera berjalan menghampiri Andini. Roman wajah Andini sudah kembali cerah. Nafasnya juga sudah teratur.
"Bisa berdiri?", Kenichi mengulurkan tangannya.
Andini meraih tangan Kenichi dan perlahan - lahan berdiri.
("Sudah dimulai kah? Pembukaan yang cukup mengerikan!"), batin Kenichi.
"Kenichi, apa yang..."
"Sudah... Andini. Jangan bicara dulu! Mari ku antar kamu pulang ke rumah."
Kenichi segera melambaikan tangan memanggil sebuah taksi.
"Terima kasih atas bantuan semuanya!", Kenichi membungkuk kepada petugas beserta orang - orang yang ada disekitarnya.
Kenichi membukakan pintu taksi untuk Andini. Setelah mereka berdua sudah naik, taksi itu pun mulai melaju. Andini memberitahukan supir taksi alamat rumahnya. Kenichi sedang memikirkan sesuatu.
"Kenichi.. bisakah kau memberitahuku apa yang terjadi?", mohon Andini dengan raut wajah yang memelas.
Kenichi yang duduk disampingnya, menghela nafas dan mengatur posisi duduknya berhadapan dengan Andini.
"Kamu sedang diburu oleh arwah penasaran!"
Bak petir di siang bolong, Andini terperanjat kaget hingga tak bisa berkomentar apa - apa.
"Itulah sebabnya, aku mengawasimu. Kamu sudah melihat sendiri bukan, kartu tarot yang kamu pilih dengan kejadian barusan? Itu berhubungan!", tegas Kenichi.
"Tapi.. bisa saja itu sebuah kecelakaan biasa!", bantah Andini.
"Tidak... tidak... arwah itu yang melakukannya. Aku juga berada disana dan melihat kejadiannya. Arwah itu yang membuat pengemudi itu kehilangan kendali atas motornya dan arwah itu jugalah yang mengendalikan motor itu mengarah pada dirimu!", ucap Kenichi sambil menunjuk Andini.
Andini terpaku diam. Kenichi kembali melanjutkan.
"Auranya sangat negatif! Arwah itu dipenuhi rasa dendam yang amat kuat. Hitam begitu pekat!", jelas Kenichi.
"Kenichi...", panggil Andini lirih. "Kenapa kamu bisa melihatnya?"
Kenichi tidak menjawab pertanyaan itu. Ia segera merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebuah bola bening kaca seukuran bola ping-pong yang terdapat gambar boddhisatva di dinding bolanya.
"Untuk sementara... kamu harus mengantongi ini selalu, ini masih cukup mampu untuk menghalau arwah itu. Aku akan mencari tahu dan memikirkan cara penyelesaian terbaiknya."
Kenichi menyodorkan bola itu kepada Andini. Andini menerimanya sambil mengamati bola kaca itu.
"Ingat untuk selalu mengantonginya!"
"Kenichi... sosok arwah yang kamu lihat itu seperti apa rupanya?"
Kenichi terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu sembari tangan kanannya memegang dagunya. Andini menanti pertanyaannya dijawab oleh Kenichi.
"Baiklah... mungkin kamu juga harus tahu. Seorang anak perempuan berambut panjang lurus dengan pakaian yang lusuh. Bertubuh mungil dan terlihat lebih muda dari kita berdua, seperti murid SMP tahun akhir atau baru mau masuk SMA. Kurang lebih seperti begitu untuk penampilannya. Cuman, yang menonjol darinya ialah tubuhnya yang mungil itu penuh dengan luka sayatan. Di kedua tangannya, kakinya, hingga wajahnya. Ah... kasihan sekali! Arwah itu pasti tidak bisa beristirahat dengan tenang!", gumam Kenichi prihatin.
Andini termenung cukup lama setelah mendengarkan penuturan Kenichi. Kenichi mengamatinya.
"Andini...?"
"Eh... iya Kenichi?"
"Raut wajahmu memberitahukan aku satu hal."
"Apa itu?", Andini kebingungan.
Kenichi kembali mengeluarkan kartu tarotnya dari tas. Kali ini, ia memegangnya di antara 2 telapak tangannya. Sambil merapalkan sesuatu, tiba - tiba satu kartu tarot menonjol keluar dengan sendirinya dari tumpukan kartu di antara telapak tangan Kenichi.
"Tariklah kartu itu dan tunjukkan padaku!", pinta Kenichi.
Andini menarik kartu itu dan menunjukkan kartu itu pada Kenichi.
"Baiklah... 'The Fool'! Sungguh kabar yang sangat baik!"
"Kenapa begitu?", Andini mengamati kartu 'The Fool' itu sambil bertanya - tanya.
"Kartu 'The Fool' dalam tarot itu bermakna 'Sebuah Awal' atau 'Permulaan'. Jadi, aku sudah mendapatkan langkah pembukanya."
"Langkah pembukanya?", Andini masih bingung.
"Iya... langkah pembukanya itu adalah kamu!", Kenichi menunjuk ke arah Andini.
"A... a... apa? Aku? Kok bisa?", Andini terkejut.
"Iya... raut wajahmu memberitahukan aku sesuatu. Aku akan bertanya padamu secara rinci. Namun, hari ini kamu beristirahat saja dulu. Besok, aku akan menanyaimu. Temui aku di perpustakaan sekolah setelah pulang sekolah, oke?"
Andini mengiyakannya.
"Kantongi bola itu di sisimu selalu. Jangan menjauh dari bola itu! Itu sementara waktu akan melindungimu!"
Taksi itu akhirnya tiba di alamat tujuan. Andini segera keluar dari taksi dan berpamitan dengan Kenichi. Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
("Rumah yang sangat indah! Semoga Tuhan selalu melindungi keluarga Andini!"), batin Kenichi setelah melihat rumah Andini yang sederhana namun bagus serta bertingkat 2.
"Jalan Pak!"
Taksi itu mulai perlahan meninggalkan rumah Andini.
**************************
Keesokan harinya, sesuai janji yang sudah disepakati. Andini segera menuju perpustakaan setelah pelajaran sekolah usai. Sesampainya disana, alangkah terkejutnya Andini melihat buku - buku berserakan di lantai. Kenichi sedang memunguti buku itu satu per satu dan menyusunnya kembali ke rak buku.
"Ada apa ini, Kenichi? Kenapa berantakan sekali?"
"Oh.. tidak apa - apa, hanya sedikit konfrotasi. Tak perlu kau risaukan."
"Konfrotasi? Siapa dengan siapa?"
"Andini... maukah kau membantuku menyusun buku?"
Andini tak melanjutkan bertanya. Ia segera membantu Kenichi memungut buku - buku itu dan menyusunnya kembali ke rak sesuai kategorinya.
"Dimana Bu Nur?"
"Dia tidak mengurusi perpustakaan ini lagi. Kepengurusannya sekarang diserahkan padaku sampai kita lulus sekolah."
"Kenapa begitu?"
"Karena tidak ada yang tertarik mengunjungi perpustakaan sekolah. Dari tahun ke tahun, semakin berkurang jumlah murid yang mengunjungi perpustakaan sekolah. Pada umumnya, murid menghabiskan sebagian besar waktu istirahatnya di kantin dan dikelas bermain smartphone mereka. Tidak ada lagi yang menaruh perhatian pada buku - buku. Buku - buku itu hanya ada untuk terpajang di rak - rak buku. Andai kata mereka adalah benda hidup. Tentunya, mereka akan menangis karena kita - kita telah mengabaikan mereka. Tapi tak perlu khawatir, buku akan selalu tetap eksis walau sudah ada kehadiran ebook atau buku elektronik. Tapi tetap saja, tidak meningkatkan jumlah minat baca."
Andini merasa kagum setelah mendengarkan penuturannya.
"Kenichi... kau sangat menyukai buku?"
"Tentu saja... sejak kecil, aku selalu disuguhi oleh buku - buku bacaan. Bahkan orang tua ku juga sangat suka membaca. Orang - orang Jepang sana juga sangat suka membaca. Jika kau berkunjung kesana, tak heran kalau kamu akan menjumpai dimanapun, orang Jepang akan sibuk dengan buku ditangannya."
Andini mengangguk penuh semangat sembari menyusun buku - buku. Setelah menghabiskan waktu setengah jam, mereka sudah selesai dengan tugas menyusun buku - buku itu.
"Baiklah, kita langsung ke topik utama.", ajak Kenichi.
Mereka berdua segera duduk dengan saling berhadapan.
"Andini... Aku ingin kamu menceritakan padaku tanpa melewatkan satu hal sedikitpun. Karena, ini akan sangat membantuku. Kamu mengerti?"
Andini menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Kita mulai dari hari kemarin. Di saat aku sedang menjelaskan rupa arwah itu seperti apa, dari raut wajahmu menyiratkan bahwa sepertinya kamu tahu sosok arwah itu atau katakanlah yang hampir menyerupai. Jika aku boleh tahu, siapa yang terbayang dalam pikiranmu saat itu?"
"Aku sendiri... tidak merasa yakin ya, Kenichi. Namun saat itu juga, entah kenapa hanya Tiara Angelista yang terpikirkan olehku."
"Tiara Angelista?"
"Iya... dia teman SMP ku dulu. Namun, dia sudah meninggal."
"Wah... aku turut berduka untuk temanmu.", ucap Kenichi prihatin.
"Terima kasih, Kenichi. Tapi, itu sudah 3 tahun yang lalu."
"Berarti, pas Tiara masih siswi SMP tahun akhir?"
"Iya benar."
"Bagaimana dia bisa meninggal?"
"Jasadnya ditemukan hanyut di Kali Ciliwung. Aku mengetahuinya dari desas - desus yang beredar dari mulut ke mulut di kelasku. Awalnya, aku tidak ingin mempercayainya. Namun, peristiwa itu ternyata terpampang di halaman depan koran. Bahkan wali kelasku, Pak Ariandi, membacanya saat jam persiapan pelajaran. Lalu, aku mencoba meminjam koran itu dan benar, itu membahas kasus bunuh dirinya Tiara."
"Tiara bunuh diri?", tanya Kenichi.
"Begitulah yang kubaca dari koran dan hasil otopsinya mengatakan Tiara sempat disiksa dengan irisan benda tajam, hampir diseluruh badannya terdapat sayatan pisau maupun pisau silet, persis dengan penjabaranmu soal arwah itu. Apa benar itu arwah Tiara?", Andini merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ekspresi Kenichi berubah menjadi lebih serius daripada sebelumnya.
"Teruskan bercerita... ceritakan lebih banyak padaku tentangnya!", pinta Kenichi.
Andini kembali melanjutkan ceritanya,
"Tiara... begitulah biasanya ia dipanggil ya. Ia adalah siswi yang berprestasi dan sering aktif dalam berbagai kegiatan OSIS SMP. Tak hanya itu juga, ia termasuk siswi yang lumayan populer disekolah dan disayangi oleh guru - guru. Perawakannya yang mungil, suaranya yang halus lemah lembut dan juga, memiliki paras yang cantik. Itu semua semakin menambah kesan imut pada dirinya. Gak heran juga sih sebenarnya kalau banyak siswa - siswa yang tertarik padanya dan tak bisa berpaling ketika menatapnya.", cerita Andini sambil mengenang masa - masa SMP nya.
"Eh... murid - murid SMP ternyata sudah memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenis ya. Hmm...", gumam Kenichi.
Andini hanya tersenyum cengengesan sambil mengangkat bahunya tanda tak mengerti. Ia kembali melanjutkan.
"Begitu juga seperti koin yang mempunyai 2 sisi. Ada kepopuleran pasti ada kebencian. Kepopuleran Tiara gak hanya sebatas di SMP tempat ku bersekolah dulu. Tapi, hingga ke sekolah lainnya. Bahkan, ada senior yang berasal dari SMA elit, pernah menyambangi sekolah kami demi menemui Tiara."
Kenichi hanya diam menyimak, tidak memberikan komentar apapun.
"Senior SMA elit itu belakangan ku ketahui, ternyata adalah anak seorang konglomerat. Namanya kalau tidak salah ingat... Randy Jonathan. Aku juga mendengar desas - desus yang beredar waktu itu bahwa Randy adalah murid yang sangat bermasalah. Ia terlibat berbagai banyak hal yang tidak sepantasnya untuk seorang murid SMA. Seperti salah satu contohnya, Clubbing."
"Kamu tahu banyak juga ya, Andini."
"Bukan hanya dari desas - desus saja Kenichi. Ia pernah muncul juga di halaman depan surat kabar. Wajar semua orang pasti tahu dan mengenalnya, karena foto - foto wajah mereka terpampang jelas. Headline nya kalau tidak salah tentang pengeroyokkan seseorang di sebuah club. Randy beserta teman clubbingnya mengeroyok seseorang sampai koma. Mereka juga sempat ditahan sama polisi. Namun, tak berapa lama ia sudah dibebaskan dan berita mengenai pengeroyokkan itu lenyap begitu saja."
"Hukum di dunia bisa dihindari atau dibungkam. Tetapi, tidak dengan hukum di surgawi maupun neraka. Setiap perbuatan pasti ada KARMANYA.", ucap Kenichi.
"Lalu.... setelah kejadian itu, Randy mulai gencar mendekati Tiara. Ia juga sering membawa serta teman - teman clubbingnya ke sekolah. Waktu itu, kami sedang dalam masa persiapan untuk ujian akhir kelulusan sekolah. Suasana kelas tambahan kami menjadi tak nyaman karena ulahnya. Ia suka datang pada saat jam pelajaran tambahan dan memaksa untuk menemui Tiara. Walau sudah dicegat oleh satpam sekolah, itu tidak mengatasi permasalahan itu begitu saja. Randy bahkan sampai masuk kelas begitu saja dan langsung menarik Tiara pergi. Aku melihat Tiara menangis, memohon untuk dilepaskan namun itu tak digubris oleh Randy dan tetap membawanya pergi."
"Apakah Tiara melaporkan kejadian ini pada orang tuanya?", tanya Kenichi.
"Aku tidak tahu soal ini."
"Begitu ya.", Kenichi menghela nafas.
"Iya."
"Lantas apa yang terjadi pada Tiara sesudahnya?"
"Aku tidak akan menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir, aku melihat Tiara. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, hingga berita tentangnya muncul."
"Berapa lama Tiara dibawa sampai berita itu muncul?"
"Sekitar 2 hari."
"Harusnya orang tuanya sudah melaporkan hal ini pada polisi."
"Mungkin."
"Bagaimana dengan Randy dan teman - teman clubbingnya?"
"Polisi menutup perkara itu sebagai atas dasar bunuh diri. Walau, Randy dan teman - temannya sempat diperiksa. Tapi, mereka tidak dituntut pidana."
"Kenapa bisa begitu? Jelas - jelas mereka membawa Tiara pergi dan juga harusnya ditemukan semacam alat bukti seperti pisau atau silet?"
"Sayangnya, polisi tidak menemukan alat bukti apapun. Jadi, tidak bisa membuktikan Randy dan kawan - kawan yang melakukannya. Begitu yang kuketahui dari desas - desus yang beredar.", jelas Andini.
Kenichi menyenderkan diri pada kursinya sambil memikirkan sesuatu.
"Itu kasus 3 tahun yang lalu, Kenichi."
"Iya... aku tahu."
Andini bangkit mengambil 2 gelas kaca bening dan mengisi air ke dalamnya. Ia menyodorkan segelas kepada Kenichi.
"Kenichi... dulu SMP nya kamu dimana?"
"Di Jepang."
"Eh... kenapa kamu pindah kesini?", Andini terkejut mendengarnya.
"Itu karena kakek dari pihak ibuku yang memintanya. Jadi kami sekeluarga pindah kesini."
"Berarti Ibumu orang Indonesia?"
"Ya benar."
"Ayahmu orang Jepang?"
"Ya."
"Wow, hebat sekali! Tapi bagaimana mereka saling berkomunikasi? Kan bahasanya berbeda."
"Ibuku mahir kok bahasa Jepang. Tak hanya itu, ia juga mahir berbahasa Mandarin."
"Wah...", mulut Andini mengangga lebar.
"Ya begitulah."
Andini berdecak kagum. Ia jadi tak bisa berkata - kata.
"Bisa kita lanjutkan lagi topik utamanya?"
"Eh.. bisa kok! Bisa!", Andini tersadar dari kekagumannya.
"Baiklah..."
"Kenichi..."
"Iya?"
"Apa kamu seorang Indigo?"
"Ya... bisa dikatakan begitu. Aku tidak tahu apakah ini disebut berkah atau kutukan ya. Awalnya aku sangat tertekan oleh kondisi ini. Aku sempat mengira, aku sedang sakit jiwa atau gila. Gila... aku tak bisa membayangkannya waktu itu."
Kenichi berusaha mengenang ingatan - ingatan masa lalunya.
"Aku pertama kali mengetahuinya saat berusia 9 tahun. Awalnya aku masih tidak mengerti. Aku sering memberitahu ibuku, bahwa aku melihat seseorang atau sesuatu yang tak biasa sambil menunjuknya. Namun, ibuku tidak melihat apa-apa, walau sudah ku tunjuk jelas di hadapannya. Kemudian, ibuku bilang mungkin aku sedang berhalusinasi. Ya, awalnya aku juga sependapat dengannya. Tapi, yang mulai membuatku merasa tak nyaman ialah kemunculan hal - hal ganjil itu secara terus menerus. Bahkan, hampir di setiap waktu, setiap aku melakukan aktivitas, setiap saat dimanapun aku melangkahkan kaki. Aku merasa terganggu karena itu. Aku sudah mengadu pada ibuku. Namun, ibuku masih tidak menanggapinya dengan serius. Hingga tiba malam itu, waktu kakek datang berkunjung untuk makan malam bersama. Aku tiba - tiba berteriak dan melemparkan piringku yang berisi makanan ke arah tembok. Aku berteriak marah sambil menunjuk - nunjuk ke arah tembok itu. Keluargaku terkejut akan hal itu. Namun, kakek sepertinya tahu apa yang harus dilakukan. Tak berapa lama, datanglah teman kakek. Kakek bercerita kalau temannya ini berasal dari negara Cina sana dan tinggal di suatu provinsi yang bernama Fujian. Yang lebih mengejutkan lagi, teman kakek ku ini ternyata adalah seorang Exorcist. Ia langsung menghampiriku dan memelukku. Ia pelan - pelan membelai rambutku sambil mengucapkan 'Mei Shi... Mei Shi...' yang artinya tidak ada masalah. Lalu, dia melihatku, melihat telapak tanganku dan dari raut wajahnya seakan sudah mengerti sesuatu. Ia pun berbicara dengan kakek dalam bahasa mandarin yang kurang lebih seperti begini... "
Kenichi menarik nafas berusaha mengingat - ingat kembali percakapan kakek dengan temannya.
"Sungguh sebuah keberuntungan dan juga merupakan sebuah takdir Mr. Zhou, aku dipertemukan dengan cucumu ini. Aku akan menjelaskan padamu perlahan - lahan. Cucumu ini adalah anak yang diberkahi kemampuan yang luar biasa. Kemampuan yang diturunkan oleh langit kepadanya. Di masa depannya nanti, dia sudah digaris takdirkan akan menjadi penolong manusia. Dia memiliki takdir yang sama denganku. Dia akan menjadi seorang Exorcist yang sangat hebat. Mata batin cucumu ini sudah ditakdirkan terbuka dan tak bisa diubah lagi. Bawalah dia kepadaku ketika ia sudah menginjak usia 13 tahun."
"Ke Cina sana?"
"Iya... bawalah dia ke kuil tempatku berada. Nanti saya tuliskan alamatnya."
"Tetapi... cucuku akan masuk SMP saat usia segitu."
"Bawalah dia pada saat libur panjang. Itu tentunya, tidak akan menganggu proses pendidikannya. Saya harap anda mengerti Mr. Zhou."
"Tunggu Kenichi....", Andini tiba - tiba menyela.
"Iya?"
"Maaf, aku tiba - tiba menyela begini. Jika usiamu saat itu 9 tahun, itu berarti kamu masih SD kelas 3. Kamu SD nya ada dimana?"
"Baiklah... akan ku jelaskan. Semenjak ortuku menikah. Mereka memutuskan untuk menetap di Indonesia. Di situlah, aku memulai jenjang pendidikanku yang dimulai dari TK dan berakhir di SD. Lalu untuk SMP nya, aku bersekolah di Jepang. Untuk SMA nya, aku kembali kesini lagi, Indonesia."
"Oh... ternyata begitu! Aku paham sekarang.", Andini menganggukkan kepalanya.
"Kemudian... aku pun dibawa ke kuil di Cina selepas ujian akhir SD. Di sana, aku pun disambut oleh teman kakekku yang kuketahui belakangan bernama Mr. Ye. Ia awalnya mengajakku berkeliling melihat kuil itu. Kuil itu terletak di atas pegunungan dan sangat jauh dari keramaian pusat kota. Kuil itu memiliki aula yang sangat luas serta memiliki beberapa orang pengurus dan murid - murid. Kakek Ye menunjukkan kepadaku letak kamarku. Setelah puas berkeliling, aku dan ortuku diajak Kakek Ye duduk diatas sebuah meja batu dan kursi batu, yang disuguhi permandangan pegunungan yang dipenuhi hutan rimbun. Kami meminum teh bersama. Lalu, ibuku bertanya kepada Kakek Ye kapan aku bisa dibawa kembali? Kakek Ye memberitahu hingga waktu masuk SMP tiba. Jadi, alasan kenapa aku pindah ke Jepang ialah agar tidak menempuh perjalanan yang jauh ke Cina."
"Jadi, bagaimana kehidupanmu di kuil itu?", tanya Andini.
"Sangat disiplin dan sangat terjadwal. Aku harus bangun tidur pukul 5 pagi dan membereskan kamar tidurku. Jam 6 pagi, aku sudah harus mulai mandi dan mempersiapkan diri. Sebelum pukul 7 pagi, aku sudah harus berkumpul di ruang makan untuk sarapan yang dimulai tepat pukul 7. Waktu sarapan hanyalah 30 menit saja. Sarapan pertamaku waktu itu ialah bubur dan segelas air. Begitu sarapan usai, kami harus berkumpul di aula sebelum jam 8, untuk memulai acara sembahyang yang akan berlangsung selama 1 jam. Tepat pukul 9, aku memulai pelatihan exorcistku sendiri bersama Kakek Ye. Beragam latihan yang harus kujalani, dimulai dari latihan meditasi, pengenalan alat - alat exorcist, pelafalan mantra - mantra dan belajar menulis kaligrafi mantra. Aku harus menjalani latihan itu hingga pukul 5 sore, dipotong jeda istirahat makan selama 1 jam di pukul 12 siang. Itulah hari - hari yang terus kujalani selama masa liburku. Latihan, latihan dan latihan."
"Wah... hebat! Kamu sudah melalui proses latihan yang panjang dan penuh kedisplinan."
"Iya begitu. Waktu masuk SMP pun tiba, ortu ku datang ke kuil itu untuk membawaku. Kakek Ye menyambut kedatangan mereka dan berbincang sebentar dengan ibuku. Kakek Ye berkata, bahwa aku sudah menyelesaikan pelatihan dasar. Masih ada 3 tahap lagi yang harus diselesaikan. Datanglah kembali saat ada libur panjang lagi. Aku termasuk orang yang cepat belajar. Begitulah kata Kakek Ye kepada ibuku. Ibuku mengiyakan pesan Kakek Ye dan aku pun berpamitan dengan Kakek Ye untuk berangkat ke Jepang. Aku pun memulai kehidupanku bersekolah SMP di Jepang. Tak ada kendala bagiku dalam bahasa, karena sedari kecil juga aku sudah diajarkan oleh ortuku. Setiap libur panjang sekolah tiba atau biasa di Jepang dikenal sebagai liburan musim panas. Aku akan berangkat ke Cina untuk menyelesaikan pelatihanku. Pernah juga teman - teman sekelasku mengajakku pergi kala liburan musim panas tiba. Entah mau ke pantai, ke tempat - tempat bersejarah dan sebagainya. Aku selalu tak bisa memenuhi permintaan mereka. Akhirnya, aku menjalani kehidupan SMP ku tanpa memiliki seorang teman."
Andini memandang Kenichi dengan turut prihatin.
"Akhirnya, aku menyelesaikan pendidikan SMP ku. Disaat bersamaan, aku sudah hampir menyelesaikan pelatihanku yang terakhir. Aku kembali ke kuil tersebut dan mati - matian menyelesaikan pelatihan terakhir yang memang terlampau berat. Tapi pada akhirnya, aku berhasil menyelesaikannya dengan baik. Kakek Ye pun mengucapkan selamat kepadaku. Malam itu, aku pun di jamu dengan berbagai hidangan yang enak sebagai perayaan atas keberhasilanku. Jamuan itu juga merupakan acara pelepasan untuk ku sebelum keesokan harinya aku kembali ke Indonesia. Seusai perjamuan itu, Kakek Ye mengajakku berbincang. Ia memberiku nasehat untuk tetap selalu semangat membantu orang - orang yang membutuhkan. Setelah itu, Aku disuruhnya untuk beristirahat. Keesokan paginya, ortu ku sudah datang untuk menjemputku. Aku pun berpamitan pada Kakek Ye dan mengucapkan terima kasih atas bimbingannya selama ini. Kakek Ye terharu dan aku juga merasakan hal yang sama. Kami pun mengucapkan salam perpisahan. Setelahnya, kami berangkat kembali ke Indonesia. Jika ada kesempatan, aku akan kembali mengunjunginya. Begitulah ceritanya.", tutup Kenichi.
"Sebuah kisah yang berkesan ya, Kenichi.", tanggap Andini.
Kenichi merogoh isi tas nya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam yang terlihat seperti kotak kacamata.
"Ini adalah pemberian Kakek Ye kala itu. Sebuah kacamata yang dirapali dengan mantra, yang bisa menekan sementara mata batinku."
Kenichi memperlihatkan sebuah kacamata dengan bingkai hitam.
"Terlihat seperti kacamata baca biasa ya, Kenichi.", komentar Andini.
"Iya, supaya tidak mencolok aja."
"Oh...", gumam Andini.
"Tapi... kalau dipakai oleh orang biasa. Kacamata ini bisa bikin orang itu melihat hal - hal gaib atau menjadi seperti anak indigo.", jelas Kenichi.
"Wah... hebat!"
Kenichi menyimpan kembali kacamata itu ke kotaknya dan tiba - tiba, angin berhembus kencang didalam ruangan perpustakaan itu. Buku - buku yang tadi sudah tersusun rapi, kembali teracak - acak lagi.
"Mulai lagi...", gumam Kenichi.
"Apa?"
Kenichi segera berdiri dan menatap tajam ke arah sesuatu. Andini seperti biasa tidak bisa melihat apa - apa.
"Andini... kamu mau melihatnya?", tanya Kenichi.
"Melihat apa?"
"Arwah itu. Dia datang kembali!"
"Apa aku bisa melihatnya?"
"Kamu sudah siap mentalkah?"
Andini ragu sejenak. Ia terlihat menimbang - nimbang keputusan yang akan diambilnya. Setelah merasa siap, ia menyetujuinya. Kenichi menyodorkan kacamata pemberian Kakek Ye.
"Pakailah ini! Maka, kau dapat melihatnya!"
Andini segera memakai kacamata itu dan perlahan melihat ke arah tempat yang ditatap oleh Kenichi.
"KYYAAAHHHH!!!!"
Andini menjerit dan terjatuh. Ia kaget bukan kepalang. Ia bisa melihatnya kali ini, arwah seorang gadis yang tampak muda dengan rambut terurai berantakan serta berkulit putih pucat, seluruh badannya juga penuh luka sayatan seperti yang sudah dijelaskan oleh Kenichi sebelumnya. Arwah itu tampak mengenakan seragam sekolah yang sudah lusuh, spontan langsung dikenali oleh Andini.
"Itu seragam masa SMP ku dulu! Itu.... tidak!!! Tidak mungkin!!!", Andini mulai menangis.
Kenichi segera mendekatkan diri ke Andini berusaha menenangkannya. Kemudian, ia melihat ke arah arwah itu.
"Kenapa kamu mengincar Andini?"
"Ba.... las.... den.... dam!"
"Memangnya apa kesalahan Andini sehingga kau ingin balas dendam kepadanya?"
"Ba.... las.... den.... dam!"
"KOTAERO!! (Jawab aku sekarang!!)", Kenichi berteriak marah dalam aksen Jepangnya.
Arwah itu memekik sehingga menimbulkan angin yang lebih kencang lagi. Rak - rak buku mulai bergoyang hebat.
"Tch..."
Kenichi segera merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas kuning bertuliskan mantra. Ia merapalkan sesuatu, sehingga kertas itu terbakar sendirinya. Ia langsung melemparkan kertas mantra itu dan seketika kertas mantra itu berubah menjadi seperti jarum dan melaju kencang ke arah arwah itu. Arwah itu menjerit kesakitan dan segera menghilang dari sana. Keadaan menjadi tenang kembali. Andini masih menangis. Sementara, Kenichi memperhatikan ruangan perpustakaan yang berantakan itu.
"Andini... kita harus secepatnya membereskan masalah ini!"
"Hiks... hiks... Tiara.... itu tadi Tiara! Hiks... hiks..."
Kenichi menghela nafas dan segera membereskan ruangan perpustakaan yang berantakan itu.
*****************************
"Kamu baik - baik saja?", tanya Kenichi saat melihat Andini baru saja duduk di hadapannya.
Mereka berdua bertemu kembali pada keesokan sore harinya. Kenichi mengajak Andini untuk bertemu di sebuah kafe.
"Aku baik - baik saja, terima kasih."
"Mau pesan apa?"
Kenichi menyodorkan daftar menu kepada Andini.
Andini menerimanya dan memandangi menu itu dengan seksama.
"Chocolate Parfait Oreo, satu."
"Oke..."
Kenichi segera melambaikan tangannya memanggil pelayan kafe. Pelayan kafe segera menghampirinya.
"Chocolate Parfait Oreo nya satu ya, terima kasih.", ucap Kenichi sambil mengembalikan daftar menu itu ke pelayan.
Pelayan itu mengangguk pelan dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenichi... apa ada yang mau kau bicarakan?"
"Ada... aku sudah mendapatkan alamat rumah Tiara. Apa kau sudah pernah pergi kesana?"
Andini tampak terkejut. Kenichi memandanginya sambil menyeruput secangkir kopi yang di pesannya.
"Kenapa?", tanya Kenichi sambil meletakkan kembali cangkir kopinya.
"Aku... belum pernah kesana dan aku tidak pernah tahu rumah Tiara ada dimana."
"Wah... walau kalian sekelas, ternyata kalian gak saling mengetahui satu sama lain ya."
"Aku tidak begitu dekat dengannya."
"Oh begitu... ku pikir kalian berteman baik."
"Kami rival dan selalu bersaing satu sama lain."
"Wow...", Kenichi terkejut. "Dalam hal apa nih?"
"Biasa... persaingan ranking sekolah."
"Oh begitu.."
"Begitulah... Kenichi."
"Baiklah, mengenai kasusnya Tiara..."
"Masih mau membahas itu?", potong Andini tiba - tiba.
"Oh tidak... tidak... itu tidak perlu lagi kok. Karena, aku sudah hampir mengetahui sebagian besar ceritanya."
"Bagaimana bisa?", tanya Andini.
"Aku mencari tahu sendiri. Bahkan, disaat kita pulang sekolah pun, aku langsung mulai mengumpulkan informasi sebisaku."
Andini hanya diam tak memberikan komentar.
"Untuk itulah... aku mengajakmu hari ini di cafe ini, untuk memberitahumu sekaligus berdiskusi denganmu, hasil usahaku mengumpulkan informasi untuk penyelesaian masalah ini. Kamu siap untuk mendengarkan?"
Andini menganggukkan kepalanya, walau sebenarnya ia merasa enggan dan sebelum Kenichi mulai berbicara, seorang pelayan datang untuk menghidangkan pesanan Andini. Kenichi menganggukkan kepala dan berterima kasih pada pelayan itu. Setelah pelayan itu pergi, Kenichi pun memulai penjabarannya.
"Aku memulainya dari mencari tahu sekolah SMP mu dulu. Jadi, kemarin aku bertanya pada guru yang kebetulan kutanyai itu ialah bu Nur. Kebetulan juga, ia mengingatnya. Biasanya, guru - guru gak terlalu ingat sama nama SMP siswa - siswa nya dulu saat perkenalan. Terus, setelah dapat nama SMP mu, SMP 'Karya Bakti'. Aku langsung berangkat kesana dan...."
"Kapan kamu perginya?", potong Andini tiba - tiba.
"Tadi pagi, hehe. Aku izin dengan alasan ada urusan keluarga."
"Wah... gila!"
"Ya begitulah... hehe."
"Maaf.... aku sudah memotong penjabaranmu, silahkan lanjutkan lagi.", ucap Andini.
"Tidak apa - apa, Andini. Aku tahu kamu kaget mendengarnya. Oke, aku lanjut ya..."
"Silahkan."
"Dan aku pun bertemu dengan seorang guru disana. Namanya, Bu Rosni. Kamu kenal sama Bu Rosni?", tanya Kenichi.
"Iya... itu guru Sains ku."
"Oke... aku pun bertanya kepada beliau soal Tiara Angelista. Awalnya beliau kaget dan mencurigaiku. Aku beralasan, aku adalah saudara jauh yang jarang bertemu dengan Tiara. Beliau masih belum percaya pada perkataanku. Tentunya, aku harus memutar otak ku dong. Aku bersandiwara sedikit dengan berkata, 'aku sudah jauh - jauh kesini hanya untuk mengenal saudaraku yang jarang kutemui semasa hidupnya dan aku berpikir dengan bertanya kepada ibu lah, itu satu - satunya cara untuk mengenal Tiara semasa kehidupan sekolahnya. Namun, ibu terlihat keberatan untuk memberitahu saya. Tidak apa - apa.... saya akan pulang dan berkunjung ke rumah bibi saya, ibunya Tiara. Terima kasih untuk waktunya!' Begitulah yang kukatakan kepada bu Rosni. Seketika, bu Rosni menjadi salah tingkah dan menghentikan aku saat aku bersiap melangkah pergi. Beliau pun bercerita, Tiara adalah siswi yang cukup populer dikalangan siswa - siswi SMP 'Karya Bakti' dan juga sangat disayangi guru - guru. Ia selalu menjadi contoh siswi teladan. Nilai - nilai akademiknya, sangat memuaskan. Ia juga mengikuti berbagai ekstrakulikuler dan kepengurusan OSIS. Tak ada satupun catatan buruk tentang Tiara semasa sekolahnya. Tak hanya itu, Ia juga meraih beasiswa untuk kuliah di universitas yang bergengsi di Cina sana, selepas tamat SMA nantinya. Kemudian, uang SPP selama 3 tahun untuk SMAnya nanti juga sudah dibayarkan lunas oleh universitas bergengsi itu. Tiara juga sudah dijamin selepas lulus nanti akan dimasukkan ke perusahaan - perusahaan ternama di Cina sana. Luar biasa bukan? Aku pun menyetujui perkataan Bu Rosni. Di akhir pembicaraan kami, aku juga sempat menyodorkan sepotong headline berita koran yang memuat tentang kasus penggeroyokkan oleh Randy dan kawan - kawan clubbingnya kepada Bu Rosni. Bu Rosni mengatakan, ia tahu anak yang bernama Randy itu. Ia sering datang ke sekolah saat murid - murid sedang mempersiapkan diri menjelang ujian akhir SMP. Kata beliau, anak itu sangat rusuh dan suka menganggu proses belajar murid - murid kelas tambahan sore. Padahal sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini bahkan tahun - tahun sebelumnya. Beliau heran kenapa anak itu bisa datang ke sekolah ini, terlebih anak itu terus mencari Tiara dan suatu hari membawanya pergi entah kemana. Andai waktu itu ibu menahannya, mungkin tidak akan ada kejadian seperti itu. Ibu sangat menyesal. Ibu juga sering bertanya - tanya darimana ya Tiara bisa kenal dengan anak seperti itu ya? Beliau bercerita kepadaku sambil berusaha menahan kesedihannya. Kemudian, beliau bilang ia tahu tempat sekolah anak yang bernama Randy itu. Seragamnya sama persis dengan seragam anak temannya. 'Pelita Cinta International Highschool', salah satu sekolah elite yang terkenal di daerah Jakarta Selatan, begitu kata beliau. Aku berpamitan kepada bu Rosni, karena sebentar lagi beliau akan mengajar. Tanpa mengulur waktu lagi, aku segera berangkat ke 'Pelita Cinta International Highschool' dan ternyata, aku tak diizinkan masuk. Sudah jauh - jauh dari Jakarta Utara ke Selatan. Eh... malah kena tolak begitu tiba disana.", gerutu Kenichi sambil kembali menyeruput kopinya.
Andini juga menyeruput parfaitnya sembari mendengarkan penjabaran Kenichi.
"Tapi... aku beruntung. Ada seorang siswa datang menghampiriku dan bertanya, apa keperluanku. Aku pun menjelaskan bahwa aku mencari Randy, anak seorang konglomerat yang pernah terlibat kasus penggeroyokkan. Siswa itu terkejut dan sebaliknya bertanya kepadaku, apakah kamu tidak tahu kalau Randy yang kau sebutkan tadi sudah meninggal? Aku sangat terkejut mendengar kabar itu dan mengatakan bahwa aku benar - benar tidak tahu soal itu. Kemudian, aku bertanya kembali padanya, kapan Randy meninggal? Ia lalu bilang, apakah aku tidak bermain medsos? Kabar kematiannya termuat dalam berbagai platform medsos hingga koran, dia meninggal 2 minggu yang lalu, masa kau tidak tahu, begitu katanya. Lalu, aku bertanya kembali tentang penyebab kematiannya? Ia menjelaskan bahwa Randy terkena begal. Mayatnya ditemukan tergeletak di tengah jalan dengan sekujur badan penuh dengan luka bacokan. Selain itu, mayatnya juga susah dikenali waktu pertama kali ditemukan, sangat mengenaskan pokoknya. Ia geleng - geleng kepala dan bersiap melangkah pergi. Aku langsung menanyakan namanya, 'Henry' begitulah nama siswa itu. Aku pun menanyakan apakah ia tahu soal tempat club yang biasa ditongkrongi oleh Randy dan kawan - kawannya. Untungnya, ia tahu dan memberitahukan aku alamat club itu, sebelum ia melambaikan tangan dan melangkah pergi."
Kenichi memandangi Andini dan bertanya.
"Apa kau tahu soal kabar kematian Randy, Andini?"
"Tidak... aku benar - benar tidak mengetahuinya. Aku tidak pernah membuka berita lagi karena aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas."
"Oh... begitu. baiklah... aku segera pergi ke club itu berdasarkan alamat yang dikasih. Ternyata, club itu tidak terletak di jalan - jalan besar, melainkan jalan - jalan kecil yang tidak ramai. Pas aku tiba disana, para pekerja disana sedang membersihkan dan merapikan gelas - gelas. Club juga belum dibuka. Salah satu pekerjanya, bertanya kepadaku. Badannya penuh tatto dan itu sangat menyeramkan. Namanya Dexxon, nama yang unik. Aku tanpa basa - basi langsung menanyakan perihal Randy dan kawan - kawannya. Ia mengangkat alisnya dan memandangku dengan rasa penasaran. Aku menghela nafas sejenak."
Kenichi menghentikan penjabarannya dan menyeruput kembali kopinya. Dipandanginya Andini yang dihadapannya masih simak mendengarkan. Parfaitnya hanya tinggal setengah gelas. Kenichi melihat cangkir kopinya yang tinggal sedikit.
"Dexxon bertanya apa sebab aku mencari Randy dan kawan - kawannya. Aku beralasan bahwa aku ada urusan pribadi dengannya. Ia memandangiku cukup lama. Kemudian, menanyakan kepadaku apakah aku mengetahui soal kabar Randy yang terbaru? Aku bersikap seolah - olah aku tidak tahu apapun. Tiba - tiba saja pintu bar terbuka, seorang pemuda kurus memakai jaket sweater coklat dengan rambut ikal, masuk dan memandangiku serta Dexxon secara bergantian. Dexxon memberitahuku, pemuda itu juga merupakan salah satu teman tongkrongan Randy. Aku segera menghampirinya, namun ia segera menghindar dan berlari keluar dari Club. Aku mengejarnya. Larinya lumayan cepat tetapi itu tak masalah bagiku. Aku berhasil menyusulnya dan menangkapnya. Pemuda itu ketakutan dan terus memohon ampun kepadaku. Aku berusaha menenangkannya dan menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak bermaksud untuk menyakitinya. Segera saja pria itu menjadi agak tenang. Dari raut wajahnya yang kulihat, ia sedang mengalami tekanan mental yang luar biasa. Aku menanyakan ada masalah apa padanya. Ia menjawab bahwa beberapa hari ini, ia sedang diganggu oleh arwah seorang perempuan. Aku menanyakan namanya, ia menjawab Bones adalah namanya. Aku mendeskripsikan bentuk rupa sosok arwah itu kepadanya. Ia terperangah dan bertanya siapakah diriku. Aku berjanji padanya bahwa aku akan mengatasi masalah arwah tersebut dengan syarat, ia harus meluangkan waktunya dan menjawab beberapa pertanyaanku. Ia menyetujuinya dan darinya, aku mendapatkan informasi berupa berapa jumlah orang yang terlibat di dalamnya. Dimulai dari Randy, Jimmy, Husin, Robert, Toni dan terakhir, William. Mereka ber - enam lah yang melecehkan Tiara sekaligus menyiksanya. Bones mengatakan bahwa ia hanyalah pesuruh saja di kelompoknya Randy. Ia mengaku bahwa ia lah yang membakar barang bukti itu yang berupa pisau silet dan sarung tangan yang terbungkus plastik hitam. Ia juga turut menyaksikan bagaimana Randy dan kawan - kawannya membunuh Tiara dan membuang jasadnya ke Kali Ciliwung. Ia menegaskan sekali lagi kepadaku bahwa ia tidak terlibat di dalamnya dan hanya sebagai pesuruh saja bagi kelompok Randy dan kawan - kawannya."
"Apakah sampai disitu saja?", tanya Andini.
"Masih ada lanjutannya. Bones mengatakan bahwa, Randy dan kawan - kawannya sangatlah beringas dan tak berperikemanusiaan. Entah sudah berapa orang yang terluka bahkan hampir mati oleh ulah mereka. Namun, yang mengejutkanku ialah Bones bilang bahwa mereka satu per satu, meninggal dalam hari yang berdekatan dan dengan cara yang mengenaskan. Dimulai dari Toni, yang meninggal saat sedang menyeberang jalan, ia terlindas oleh truk yang remnya blong. Kemudian, Husin yang meninggal karena terjatuh dari lantai 4 saat sedang menyender di sebuah dinding kaca, yang tiba - tiba saja baut penahannya terlepas di sebuah mall. Lalu, Robert yang meninggal karena terpanggang oleh api saat sedang BBQ bersama keluarganya. Jimmy? Meninggal karena tenggelam di kolam renang. William? Meninggal karena terjatuh masuk ke mesin penggilingan raksasa saat sedang mengunjungi pabrik ayahnya. Barulah Randy, korban terakhir untuk saat ini."
Kenichi berhenti dan memandangi Andini untuk saat ini. Andini merasakan kegelisahan setelah mendengarkan kematian - kematian itu.
"Andini... kamu sudah tahu kan betapa seriusnya kasus ini? Jika kita mau berpikir sejenak. Harusnya sudah tidak ada masalah lagi bukan? Nyatanya para pelaku yang membunuh Tiara sudah meninggal semua. Menurut perhitunganku, itu memang sudah karmanya mereka semua. Jadi, aku tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Berbeda dengan dirimu dan Bones. Kalian berdua masih beruntung karena aku masih bisa menyelamatkan kalian. Hanya saja yang menjadi pertanyaanku saat ini ialah kenapa arwahnya Tiara mengincar kamu juga? Apa yang sudah kamu perbuat terhadap Tiara?"
Pertanyaan dari Kenichi itulah yang menghantam Andini hingga membuatnya diam membisu.
"Andini?", panggil Kenichi.
Andini masih diam membisu dan sekujur badannya diam membatu.
"Baiklah... jika kamu tidak ingin menjawabnya untuk saat ini. Penjabaranku juga sudah selesai kok. Besok malam pukul 7, temui aku di lapangan sekolah SMP Karya Bakti ya. Kita akan mengakhiri semuanya disitu."
Kenichi bangkit berdiri.
"Kenichi..."
"Iya?"
"A.... a... ku."
"Kenapa Andini?"
"Aku.. tidak akan mati kan?", Andini menatap lirih ke arah Kenichi.
"Tidak... aku sudah berjanji padamu kan? Aku akan melindungimu. Temui aku besok di tempat yang sudah ku tentukan!"
************************************
Andini telah tiba di lapangan SMP 'Karya Bakti' sesuai yang dijanjikan oleh Kenichi. Tepat di tengah lapangan sekolah itu, Kenichi sedang berdiri sambil menghadap bangunan sekolah itu. Andini ingin segera menyapanya namun, Kenichi tiba - tiba membalikkan badannya dan menyapa Andini.
"Sudah datang rupanya.", Kenichi tersenyum kepada Andini.
Andini hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Sudah bisa kita mulai?", tanya Kenichi.
"Baiklah"
"Oke, sebentar. Aku akan memanggil Bones."
Kenichi memanggil Bones. Bones berjalan keluar dari gedung sekolah menuju ke tempat Andini dan Kenichi berada. Bones pun melihat ke arah Andini. Seketika raut wajahnya terlihat sedang berusaha mengingat - ingat sesuatu.
"Oh, iya, Aku ingat sekarang!!! Kamu kan cewek yang bersama Randy dan kawan - kawannya waktu itu!", seru Bones sambil menunjuk ke arah Andini.
"Apaan sih! Jangan asal tunjuk - tunjuk deh! Kamu salah orang kali!", elak Andini.
"Tidak.... tidak.... aku ingat persis wajahmu itu. Mungkin kamu tidak terlalu memperhatikanku waktu itu. Tapi, dari kamu lah, Randy mengenal sosok Tiara.", ucap Bones dengan yakin.
Andini tak bisa berkata apa - apa.
"Andini... kamu harus ingat satu hal! Kamu sedang diburu oleh arwahnya Tiara. Jadi, mulai dari sekarang, sebaiknya kamu harus mengakui perbuatanmu. Konsekuensimu akan ditentukan dari pengakuanmu. Aku memang berjanji untuk melindungimu. Namun, aku punya batasannya juga. Pikirkanlah baik - baik.", nasehat Kenichi pada Andini.
Andini hanya terdiam. Baik Bones dan Kenichi, mereka terlihat sedang menanti keputusan Andini.
"Hmm... baiklah, aku mengaku. Mungkin ini lebih baik daripada aku akan terus dihantui. Memang aku lah yang mengenalkan Tiara pada Randy. Aku menunjukkan foto Tiara pada Randy dan kawan - kawannya."
"Bagus... poin pertama sudah terungkap dan itu valid!", ucap Kenichi.
"Maksudmu?", tanya Andini.
"Maaf sebelumnya Andini. Dari penjabaran ku kemarin itu, aku tidak menjabarkan semuanya padamu. Ada beberapa poin yang sengaja tidak ku ungkapkan padamu. Aku ingin mendengarkan pengakuanmu sendiri secara langsung!", ucap Kenichi.
"Jadi? Kamu sudah mengetahui semuanya?"
"Iya... sebenarnya waktu aku selesai berbincang dengan Henry saat di sekolahnya si Randy. Aku mengadakan eksperimen kecil untuk mengetes suatu kebenaran. Aku membawa foto Tiara bersama diriku yang ku potret atas izin Bu Rosni saat berkunjung ke SMP mu. Aku menunjukkan foto tersebut pada murid - murid di sekolahnya Randy yang kebetulan berpapasan denganku. Dari semua murid yang kutanyai, semuanya menjawab dengan jawaban yang sama 'Tidak kenal' dengan sosok Tiara. Sedangkan, kamu mengatakan bahwa Tiara populer hingga ke sekolah lain. Disini, aku mendapatkan kebohonganmu. Bahkan, aku sempat bertanya kepada Henry, yang juga ia mengaku cukup mengenal Randy walau tidak dekat dengannya. Ia juga memberikan jawaban yang sama. Ia tidak mengenal sosok Tiara. Tapi, aku teringat sesuatu. Foto bersama kelas 1 SMA dulu. Aku mencari di ponselku dan menemukannya. Aku menunjuk seseorang di foto itu pada Henry dan aku sangat terkejut dengan jawabannya. Ia tahu orang yang ku tunjuk itu dan ia berkata pernah melihat cewek itu bersama Randy dan kawan - kawannya, yang tak lain dan tak bukan adalah dirimu sendiri Andini waktu SMP dulu."
"Mustahil... itu mustahil... dia pasti salah orang!", bantah Andini.
"Awalnya aku juga sempat bertanya padanya apakah ia salah orang? Ia dengan yakin mengatakan, tidak salah orang. Bahkan, Henry bilang bahwa ia pernah berpapasan denganmu. Jadi, ia tahu wajahmu dengan sangat baik. Ditambah dengan pernyataan Bones, bukankah sudah ada 2 orang saksi mata?", jelas Kenichi.
Andini tak bisa berkata apa - apa lagi. Tiba - tiba saja, angin berhembus kencang dan sebuah suara pekikan keras terdengar oleh mereka bertiga.
"DASARRR KEJAM!!! ANDINI... ANDINI...!!! KENAPA KAU TEGA BERBUAT SEPERTI INI PADAKUUU!!!"
"Kyaaaaah!!"
Andini menjerit hingga jatuh berlutut. Ia memejamkan matanya sambil menutup kedua telinganya.
"Pergi dari sini!!! Pergi!!!", jerit Andini.
"TIARAAA, HENTIKAN!!!!", teriak Kenichi.
Seketika hembusan angin yang tadinya kuat menjadi reda.
"Andini... ceritakanlah semuanya!"
"Hiks... hiks.... maafkan aku... hiks... hiks... aku tidak menyangka akan melenceng jauh seperti ini. Aku hanya meminta Randy dan kawan - kawannya untuk menganggu Tiara, supaya ia tidak bisa bersekolah dengan tenang dan memutuskan pindah sekolah. Hiks... hiks..."
"Ada kaitannya dengan beasiswa itu?", tanya Kenichi.
Andini menganggukkan kepalanya.
"Yappari (Sudah kuduga)...."
"Kau sudah mengetahuinya juga, Kenichi? Hiks..."
"Tentu saja... aku sudah mendengarnya dari Bu Rosni. Bahwa, kamu adalah kandidat yang gagal dalam beasiswa itu, hanya karena selisih 1 poin dengan Tiara. Beasiswa itu hanya diperuntukkan untuk satu orang tiap satu sekolah. Jadi, kamu pun berusaha untuk mendapatkan beasiswa yang terkenal cukup bergengsi itu."
"Hiks... ia menghancurkan rencana masa depanku. Aku tidak bisa menerima kegagalan itu begitu saja. Hiks... aku harus mendapatkan beasiswa itu karena... hiks... aku harus membantu meringankan beban orang tuaku. Hiks... Hiks.... aku hampir tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA tahu! Perekonomian orang tua ku sedang berada di titik terendah. Jadi, aku berusaha belajar mati - matian demi beasiswa itu. Hiks... Tiara menghancurkan segalanya. Hiks... hiks...", Andini menangis sejadi - jadinya.
Kenichi dan Bones hanya berdiam saja.
"Hiks... aku yang frustasi karena itu... hiks... hiks... berusaha menenangkan diriku. Aku hanya mengikuti langkah kakiku saja tanpa mengetahui tujuan kemana aku akan pergi. Hiks... hiks... aku menaiki sebuah bus dan tanpa disadari olehku, aku sudah berada di area Jakarta Selatan. Aku terus berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya aku tiba disebuah club. Disitulah untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan Randy dan kawan - kawannya. Ketika aku memasuki club itu, semua pengunjung menatapku dengan tatapan aneh dan bingung. Namun, aku tak menghiraukan mereka dan segera mencari tempat duduk. Tiba - tiba ada yang menghampiriku, ternyata itu Randy. Ia menggodaku karena melihat ekspresi ku yang sedang bersedih. Awalnya, aku mengabaikannya supaya ia segera pergi. Namun, ia tidak beranjak pergi dan malah duduk disebelahku sambil terus menggodaku sambil sesekali melemparkan lelucon. Akhirnya, aku jadi terbuka kepadanya. Kami pun saling berkenalan dan disitulah aku menceritakan masalahku kepadanya."
Andini terdiam dan ia sudah mulai tenang.
"Terus?", tanya Kenichi.
"Aku diajaknya duduk bersama dengan teman - temannya sekaligus berkenalan dengan mereka. Randy kemudian memintaku untuk menjelaskan masalahku kepada teman - temannya. Sesuai dengan perkataan Bones, disitulah aku menceritakan soal Tiara dan menunjukkan fotonya sambil mengenalkannya pada mereka semua. Mata mereka berubah jadi liar setelah melihat foto Tiara. 'Mainan baru nih gengs!' begitulah tanggapan salah satu temannya Randy. Mereka semua mengangguk setuju. Aku pun memohon pada mereka, supaya mereka menganggunya agar belajarnya menjadi tidak tenang. Mereka semua menyetujui sambil tersenyum penuh maksud. Lalu, Randy menanyakan alamat sekolahku dan aku memberitahunya. Aku juga meminta mereka untuk merahasiakan bahwa aku lah yang mengenalkan Tiara pada mereka. Begitulah awal mula, Randy dan kawan - kawannya mendatangi sekolah dan mencari Tiara hingga kejadian itu terjadi."
Andini terdiam kali ini.
"Jadi... intinya kau menjual teman kelasmu pada Randy?", tanya Kenichi.
"Iya.... aku tidak menyangka akan menjadi seserius ini. Padahal, aku hanya meminta mereka untuk menganggunya saja."
"Tapi, bukannya kamu mengetahui kalau Randy dan teman - temannya masuk koran karena kasus penggeroyokkan?", tanya Kenichi.
"Aku tidak mengetahui itu awalnya. Hanya 2 hari setelah aku mengenalkan Tiara pada mereka. Aku gak sengaja melihat headline koran yang memberitakan tentang penggeroyokkan, serta memuat juga foto Randy dan kawan - kawannya, saat aku berangkat menuju sekolah. Aku menjadi takut saat itu dan ketakutan ku itu pun akhirnya menjadi kenyataan. Sejujurnya, aku sangat takut setelah kejadian Tiara itu. Aku selalu merasa was - was takut kalau tiba - tiba polisi mendatangiku kapan saja. Ternyata, kasus itu pun ditutup dengan bunuh diri. Aku bisa merasa lega sedikit. Aku berusaha melewati hari - hari sebiasa mungkin. 2 tahun berlalu, aku melewatkannya dengan aman - aman saja. Tapi siapa sangka, di tahun akhir SMA ku inilah, kejadian itu pun mulai. Terlebih setelah mendengarkan kabar kematian Randy dan teman - temannya, aku sudah tak bisa bertahan lagi. Sepertinya memang sudah direncanakan oleh Tiara ya. Mengulang persis pada kejadian 3 tahun lalu. Aku sudah menceritakan semuanya padamu Kenichi." Andini menyudahinya.
"Apa yang kamu dapat dari peristiwa ini?", tanya Kenichi.
"Walau ya... setelah Tiara meninggal. Beasiswa itu pada akhirnya diberikan padaku. Entah mengapa ya, aku tidak begitu menikmatinya. Iya... aku paham bahwa itu bukan hasil usahaku yang murni. Itu adalah hasil perbuatan kotorku sendiri. Kau bertanya padaku apa yang ku dapat dari peristiwa ini? Sebuah PENYESALAN."
Andini berdiri dan bersiap melangkah pergi meninggalkan Kenichi dan Bones.
"Andini...! Apa kau tidak mau bertemu Tiara dan meminta maaf langsung kepadanya?", tanya Kenichi.
"Aku sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengannya."
Andini melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bones...", panggil Kenichi sambil menyodorkan kacamata.
"Aku mengerti... aku akan mengakui perbuatanku ke kantor polisi."
Bones memakai kacamata itu dan akhirnya, ia bisa melihat arwah Tiara yang sekarang berdiri tepat di hadapannya. Seketika, Bones bersujud dan menangis setelah melihat luka - luka yang terdapat di tubuh Tiara. Ia meminta maaf sebesar - besarnya.
"Hiks... hiks... maafkan aku.... maafkan aku...hiks... hiks... aku tidak bisa menolongmu saat itu.... maafkan aku.....huaahhh!!", Bones menangis sekencang - kencangnya.
"Tiara...."
Tiara menoleh ke arah Kenichi.
"Ada seseorang yang ingin menemuimu. Ku berikan sedikit waktu lagi padamu. Pergilah kesana!"
Kenichi menunjuk ke arah seseorang yang berdiri disebelah pohon yang tak jauh dari mereka. Tiara menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kenichi. Seketika, Tiara menangis histeris dan berteriak.
"Ibuuu!!!"
"Tiara... anakku!"
Ibunya Tiara segera berlari menghampiri Tiara dan ingin memeluknya. Begitu juga dengan Tiara. Namun, mereka sudah tidak bisa lagi saling menyentuh satu sama lain. Mereka berdua akhirnya menangis pasrah. Kenichi menghela nafas dan memandangi bintang - bintang di langit.
*******************************
Keesokan paginya, di perpustakaan sekolah. Kenichi sedang sibuk menulis catatan di sebuah buku.
'Pada akhirnya, semuanya berakhir dengan baik. Bones pergi ke kantor polisi dan mengakui perbuatannya atas menghilangkan barang bukti. Arwahnya Tiara juga sudah didoakan oleh Ibunya dan aku, agar dapat terlahir kembali di alam bahagia. Randy dan teman - temannya sudah mendapatkan karma atas perbuatannya. Untuk Andini.... '
Kenichi menghentikan kegiatan menulisnya. Ia menghela nafas dan memandang ke arah luar jendela sejenak. Kemudian, ia melanjutkan tulisannya lagi.
'Untuk Andini.... aku sudah tidak melihatmu selama beberapa hari ini di sekolah. Kamu sudah absen hampir seminggu. Teman kelasmu pada mengkhawatirkan dirimu. Orang tuamu sendiri bahkan tidak tahu keberadaanmu. Mereka cemas memikirkanmu. Mereka hanya bisa menemukan sebuah pesan di atas meja belajarmu yang berisi bahwa kamu pamit untuk pergi ke sebuah tempat yang jauh. Hingga pada akhirnya, setelah beberapa hari kemudian, kami semua menemukan keberadaan mu. Kemunculanmu membuat semua orang terkejut, terutama orang tuamu. Kamu muncul di halaman depan koran dengan headline, Remaja putri ditemukan tewas gantung diri di sebuah bangunan tua.'
Kenichi menutup buku catatannya dan mengambil sebuah kartu tarot yang bergambarkan tengkorak dan bertulisan 'Death'.
"Aku melindungimu dari kematian. Namun pada akhirnya, kau yang memilih jalan itu.", gumam Kenichi.
Kenichi meletakkan kartu tarot itu dan menatap di hadapannya dengan tersenyum.
"Bukan begitu, Andini?"
***********************************
SELESAI
***********************************