Sore ini Mirna baru saja pulang mudik dari rumah orang tuanya. Mirna tampak istirahat sebentar di samping anaknya yang masih belum genap satu tahun.
"Ma, buatin Papa kopi dong!" Ucap Aris yang baru saja selesai mandi.
Tanpa menjawab, Mirna bergegas menuju dapur menyalakan kompor, lalu membuatkan kopi hitam untuk suaminya.
Sementara Nando, masih nyenyak dalam tidurnya. Mungkin bocah itu kecapekan setelah melakukan perjalanan jauh dari rumah kakek neneknya yang hanya menggunakan sepeda motor matic. Maklum saja, Mirna dan Aris hidupnya sederhana namun bekecukupan.
Saat berada di dapur yang tak jauh dari kamarnya, Mirna segera berlari masuk kamar saat telinganya mendengar Nando sedang menangis. Jantung Mirna sudah berdegup kencang, takut jika Nando jatuh dari ranjang.
"Loh, Nando masih pules tidurnya. Lalu siapa tadi yang nangis?" gumam Mirna.
Lalu Mirna kembali ke dapur untuk menuang air yang sudah ia rebus ke dalam gelas kopi yang sudah ia siapkan.
Kini Mirna mulai membereskan beberapa baju kotor yang baru saja ia pakai saat pulang dari rumah orang tuanya.
Kebiasaan Mirna jika mudik, dia selalu pergi ke pasar untuk membeli sesuatu yang terkadang tidak begitu penting.
Seperti halnya sekarang ini. Usia Nando masih belum genap 1 tahun namun sudah ia belikan sepatu. Padahal jalan saja belum bisa. Dan karena alasan lucu lah yang membuatnya ingin membeli sepatu itu.
Mirna meletakkan sepatu mungil Nando di sebelah lemari laci khusus pakaian Nando, agar kalau memcarinya tidak susah.
Malam harinya, saat tengah tidur, tiba-tiba Nando terbangun. Seperti biasa, jika Nando menangis, Mirna akan memberikannya ASI. Lalu bocah itu kembali tidur.
Saat Mirna akan tidur kembali menyusul Nando, tiba-tiba saja telinganya mendengar suara hentakan sepatu. Mirna mencoba untuk diam dan memilih tidur. Namun suara hentakan kaki yang memakai sepatu itu semakin mengganggunya. Bahkan terdengar seperti berlari-lari.
"Mas!!" panggil Mirna kepada suaminya.
Kebiasaan Aris yang selalu tertidur di ruang tengah sambil layar televisi dalam keadaan menyala. Namun malam ini, televisinya sudah off.
Tak mendapat sahutan dari sang suami, Mirna memejamkan matanya lagi. Dan lagi-lagi mendengar suara hentakan sepatu itu lagi.
"Heii... Tolong siapapun kamu, jangan ganggu orang sedang istirahat. Aku pun ga pernah ganggu kamu." batin Mirna dengan menahan rasa ketakutannya.
Tak lama kemudian Mirna bisa tidur dengan pulas.
Keesokan paginya, Mirna beraktivitas seperti biasa. Dan kebetulan hari ini suaminya ingin mengajak pergi ke rumah salah satu saudaranya.
"Mas!! Kamu tahu sepatu Nando nggak?" tanya Mirna pada Aris yang sedang mandi.
"Nggak. Sepatu yang mana? Aku nggak tahu." jawabnya.
Mirna diam namun masih berusaha mencari sepatu anaknya yang hanya tersisa satu. Yang satunya hilang.
Mirna pikir sepatu itu dibawa tikus atau nggak sengaja kesenggol dan jatuh. Dia sudah mencari ke tempat terdekat dimana menyimpan sepatu itu. Mulai dari kolong ranjang. Dan hasilnya sama.
"Tolong jagain Nando dulu, aku mau mandi." ucap Mirna pada sang suami yang baru saja mandi.
Sebelum mandi, Mirna membuka lemari laci tempat menyimpan baju Nando. Dan di bagian paling bawah Mirna gunakan untuk menyimpan dalamannya.
"Loh!!! Sepatu Nando kok bisa ada disini sih? Kamu ya Mas yang ngumpetin disini? Tuduh Mirna.
"Nggak lah. Kurang kerjaan aja." jawab Aris sambil lalu dan menggendong Nando.
Mirna pun meletakkan sepatu itu ke tempat semula.
Sesaat setelah mandi, Mirna hendak memakaikan sepatu tadi pada Nando, namun sepatu itu hilang lagi.
Mirna melihat suaminya ke depan yang tengah menggendong Nando. Dan bocah itu belum memakai sepatu.
Mirna masuk lagi ke kamar dan membuka lemari laci, siapa tahu sepatu tadi masuk kembali ke dalam lemari. Tidak ada.
Mirna membuka laci atasnya. Dan ternyata sepasang sepatu itu tersimpan rapi di atas tumpukan baju Nando.
Mirna mengambil sepatu itu dan tiba-tiba
Arggghhhhh
Pekiknya karena tiba-tiba tangannya terjepit lemari laci.