Keluarga Alexandra menjalani hidup dengan identitas lain. Nora dan Nira pun melanjutkan di sebuah sekolah biasa yang ada di dekat rumahnya. Ayah Sean sendiri bekerja sebagai staff biasa di perusahaan musuhnya Luca itu. Perlu di ketahui bahwa Luca selamat dari ledakan bom yang terjadi di rumah Sean itu.
Apakah Ayah Sean dikenali? Tentu saja tidak. Ayah Sean menjalani beberapa operasi di bagian wajahnya karena luka yang didapatnya dari kecelakaannya di jurang itu otomatis sang ayah harus menjalani operasi plastik.
Sedangkan Nora dan Nira di tugaskan oleh ayahnya untuk mendekati putra Luca yang bernama Leon itu. Tentu penampilan Nora dan Nira berbanding terbalik dengan kehidupannya dahulu yang mewah dan glamor itupun mereka lakukan demi membalaskan dendamnya kepada musuh terbesar ayahnya bernama Luca itu.
Tepat di sekolah, Nora dan Nira di perkenalkan sebagai siswa baru yang terlahir kembar. Ayah Sean sudah mempersiapkannya matang-matang agar musuhnya tidak mengenali keluarganya.
“Perkenalkan semua, kita kedatangan siswa baru bernama Nira dan Nora” ucap Bu Guru itu
“Halo semua! Salam kenal!” Ucap Nora dan Nira bergantian
“Baiklah kalian berdua bisa duduk di bangku kosong di pojok sana” Ucap Ibu Guru
“Baik bu” Jawab Nora dan Nita serempak.
Mereka berdua lalu duduk di tempat duduknya. Tatapan Nira tertuju pada pria yang sedang ditargetkannya itu. Nora pun yakin kalau pria itu adalah Leon yang merupakan anak dari Luca itu.
“Apa yang harus kita lakukan kak?” Tanya Nira.
“Tentu saja jadikan dia teman kita” jawab Nora sambil menyeringai.
“Serahkan itu padaku kak!” Ucap Nira dengan semangat.
“Ibu, aku akan membalaskan dendam keluarga kita” gumam Nora dalam hati.
Jam isirahat berbunyi, Nora dan Nira serempak ingin berkenalan dengan Leon. Tentu Leon menerima merea dan Leon sendiri memang terbuka kepada siapa saja.
“Ayah kalian kerja dimana?” Tanya Leon
“Hmm, hanya staff biasa di sebuah perusahaan.” Jawab Nira.
“Lalu ibu kalian?” Lanjut Leon bertanya
“Ibu kami sudah wafat” jawab Nora sambil tersenyum sedih
“Ow, maafkan aku” ucap Leon.
“Tidak masalah, hari ini kami akan mengadakan pesta. Apa kau bisa datang?” Tanya Nora.
“Iyaa! Ini pesta pertama kami masuk sekolah. Jadi datanglah!” Ajak Nira sambil merangkul Leon.
“Baiklah, mungkin aku akan mengajak ayahku” jawab Leon.
“Sempurna!” Gumam Nira dalam hati
“Baiklah, ini alamatku” ucap Nira sambil memberikan secarik kertas.
“Baiklah, sampai jumpa!” Ucap Leon.
Nora dan Nira lalu meninggalkan Leon. Mereka senang jika rencananya akan berjalan sesempurna ini.
“Apa lagi rencanamu kak?” Tanya Nira
“Mungkin aku akan menyuruh ayah untuk mengirim sekawanan perampok untuk merampok Leon” jawab Nora.
“Kita harus tahu seberapa tangguh Leon itu” ucap Nora sambil tersenyum jahat.
Nora lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ayahnya. Tak lupa juga memberi tahu kalau rencana yang telah di buatnya berhasil membawa Leon dan Luca datang kerumahnya. Nora juga meminta ayahnya untuk mengirim sekawanan perampok untuk mengetahui kemampuan si Leon itu.
Waktu pulang sekolah telah tiba. Leon yang berjalan menuju gerbang sambil mendengarkan musik itu tiba-tiba berteriak karena tasnya tengah di rampok. Tentu Leon berlari mengejar perampok itu. Nora dan Nira tentu ikut bersandiwara layaknya akan menolong Leon.
Di pertengahan jalan, Nora dan Nira melihat Leon tengah bertarung dengan sekawanan perampok itu. Tentu bagi mereka itu tontonan yang bagus dan tidak boleh di lewatkan. Mereka lalu melihat dari balik semak-semak yang tak jauh dari keberadaan Leon sekarang.
“Sebentar kak, kita tonton dulu” ucap Nita
“Baiklah” jawab Nora.
Di sisi Leon, dia merasa takut dan bingung kenapa bisa ada perampok di area sekolahnya. Leon sendiri masih belajar ilmu bela diri dan belum mahir seperti ayahnya Luca.
“Bagaimana bisa ada perampok disini! Cepat kembalikan tasku atau aku akan memanggil ayahku untuk menggeret kalian!” Ucap Leon
“Hahaha, ternyata cuma anak papa. Ayo serang dia!” Ucap kawanan perampok itu.
BUG BUG BUG BUG
“Kak, sepertinya dia tidak sekuat yang kita pikirkan.” Ucap Nira
“Ayo kita bantu dia” ucap Nora.
“Hei kalian!” Ucap Nora
“Dia anak boss kita kan?!” Gumam kawanan perampok itu.
“Cepat pergi dari sini! Polisi tengah menuju kesini untuk menangkap kalian!” Ucap Nira sambil menunjukkan panggilannya dengan kantor polisi.
“Gawat! Ayo kabur!” Ucap kawanan perampok itu lalu pergi dan meninggalkan tas yang dia rampok.
“Kamu gapapa leon?” Tanya Nora.
“Gapapa, terimakasih” ucap Leon
“Ayo kita pulang” ucap Nira yang mengajak Nora pulang.
“Sampai jumpa nanti malam!” Ucap Nora.
Tepat dimalam hari, Nora dan Nira telah menyiapkan pesta perayaan pertamanya di kota itu. Tentu ada banyak orang yang sebenarnya adalah orang Mafia milik Ayahnya.
Posisi Ayahnya disana sebagai pelayan yang sedari tadi memata-matai sekitar.
“Nora! Nira!” Teriak seorang pria muda dari kejauhan.
“Hai Leon! Kau datang dengan Ayahmu?” Tanya Nora.
“Ini diminum dulu” ucap Nira sambil menawarkan segelas wine.
“Terimakasih Nira! Ayahku sebentar lagi akan datang kemari” Jawab Leon.
“Leon!” Teriak seorang pria kekar dari kejauhan.
“Ayah! Ini teman yang ku ceritakan tadi, mereka telah menolongku.” Ucap Leon sambil menunjuk Nira dan Nora
“Apa kalian kembar? Salam kenal ya” ucap Ayah Leon.
“Sepertinya aku mengenali kedua orang ini” gumam Ayah Leon.
“Hohoho, tunggu sebentar lagi paman Luca! Kau akan pergi meninggalkan dunia ini~” gumam Nira dalam hati.
“Sekarang Yah!” Teriak Nira sebagai tanda untuk menyergap Luca dan Leon.
“Nira apa yang terjadi?” Tanya Leon bingung dan Panik.
“Sudahku duga ternyata kau adalah putri dari Sean Alexandra!” Ucap Luca dengan wajah kesal.
“Haha sekarang bagaimana Paman? Masih mengingatnya?” Tanya Nira tersenyum sinis
“Pergilah Leon!” Ucap Luca yang menyuruh anaknya untuk pergi keluar.
“Tentu saja tidak bisa-“ ucap Nora.
DOR
Peluru yang keluar dari pistol Sean itu yang seharusnya mengenai Leon seketika mengenai dada Luca saat menghalangi peluru itu menembus Leon. Luca Sang Ayah lalu tak sadarkan diri dan meninggal ditempat.
“Ayah!”
“Ayah bangun!”
“Ayah! Kalian siapa sebenarnya! Mengapa melakukan ini kepadaku?!” Tanya Leon yang terus membangunkan Ayahnya dan menangis.
“Nyawa harus dibalas dengan nyawa Leon. Pria ini telah membunuh ibu kami!” Jawab Nora.
“Bohong!” Teriak Leon kecewa
“Ayahku tidak pernah melakukan hal seperti itu!” Lanjut Leon sambil berteriak kearah Nora dan Nira.
“Ayah!
“Apa yang dikatakan kedua Anakku itu benar Leon” ucap Ayah Nora dan Nira.
Flashback On
7 tahun yang lalu.
Bermula dari hidupnya Keluarga Alexandra yang bahagia denga Istrinya Veera Angelina serta kedua putrinya Nora dan Nira. Tepat ulang tahun ke 10 tahun putri kembarnya, mereka melangsungkan sebuah pesta besar-besaran dirumahnya yang megah nan mewah.
Perlu diketahui kalau Keluarga Alexandra adalah keluarga mafia terbesar di kotanya serta memiliki beberapa perusahaan besar yang cukup populer di saat itu. Serangan tiba-tiba dari musuhnya selalu menjadi kegiatannya sehari-hari bersama istri dan anaknya. Disini Istri serta anak-anaknya telah terlatih menggunakan berbagai macam senjata. Tak perlu diragukan lagi kemampuannya jika terjadi serangan mendadak yang datang ke hidupnya nanti.
Di tengah pesta, ada sekawanan grup mafia datang dan mengacak-acak semua yang ada dirumahnya. Tentu saja Sean Alexandra mengenali pria itu. Ibu Veera dan Nora yang melihat itu dari kejauhan langsung turun ke ruang bawah tanah untuk merakit bom.
“Keluarlah kau Tuan Sean Alexandra!” Ucap pria kekar itu.
“Akh!” Teriak Nira putri kedua Sean Alexandra itu.
Melihat putri keduanya di sandera, Sean tentu tidak tinggal diam. Berbagai pistol telah ia sematkan di balik jasnya.
“Hai Luca” sapa Sean Alexandra.
“Mengapa kau harus menggunakan putriku untuk melawanku?” Tanya Sean dan menyunggingkan senyum jahatnya.
“Tentu saja! Jika kau kalah, aku akan menikahi putrimu untuk ku jadikan istri kedua~” ucap Pria kekar itu sambil mengusap pipi Nira.
“Singkirkan tangan busukmu itu Luca!” Teriak Sean Alexandra dan mengepal tangannya.
“Ayah~ Tolong aku!” Teriak Nira. Sebenarnya Nira dan Ayahnya Sean Alexandra ingin memperlambat waktu mereka karena Ibu Veera dan Nora tengah sibuk merakit sebuah bom di luar rumahnya dan memasangnya hingga selesai.
“Tenanglah sayang, aku akan menyelamatkanmu” ucap Ayah itu dengan raut wajah marah sekaligus takut putrinya terluka.
“Pengawal! Serang mereka!” Ucap Pria kekar bernama Luca itu.
“Kau! Ikut denganku dan puaskan diriku terlebih dahulu wanita jal*ang!” Lanjut pria kekar itu dan tidak ragu-ragu menyentuh pinggung Nira.
BUG!
Satu tendangan keras berhasil mengenai aset berharga milik Ketua Mafia bernama Luca itu.
“Argghh! Cc-cepat kejar dia!” Rintih Luca yang tengah kesakitan dan memegang asetnya itu.
“Ayah! Cepatlah keluar!” Teriak Nira.
“Sebentar lagi sayang! Kau carilah ibumu!” Ucap Sean yang tengah sibuk bertarung dengan banyaknya pengawal.
Nira lalu ingin berlari keluar rumah. Namun tepat di pintu keluar, terlihat banyak pengawal yang tengah mengepungnya.
“Hai manis~” goda salah satu pengawal itu.
“Ayo cepat tangkap dia!” Seru pengawal itu lalu mencoba mencengkram Nira.
“Hahaha! Tidak semudah itu ferguso!” Ucap Nira sambil mengeluarkan pistol dari pahanya.
DOR DOR DOR DOR DOR
Semua pengawal itu ditembaknya satu persatu. Nira memainkan pistolnya seperti ia tengah bermain disuatu permainan yang menyenangkan. Tentu saja, Nira memang sangat ahli dalam menggunakan pistol. Tak lama kemudian Ayahnya pun menghampirinya.
“Apa sudah selesai?” Tanya Ayahnya.
“Hosh, hosh, sudah ayah!” Jawab Nira.
“Sebentar! bagaimana dengan pria itu? Tanya Nira sambil menunjuk Luca yang masih lemas karena asetnya tengah kesakitan.
“Berikan padaku!” Jawab Ayah Sean sambil mengambil pistol milik Nita.
DOR!
Peluru itu berhasil mendarat tepat di jantung Luca dan Luca mati di tempat. Ayah Sean dan Nira kemudian berlari keluar untuk menyelamatkan diri sekaligus mencari Ibu Veera dan Nora kakaknya.
“Huh, huh.. dimana ibu? Dimana kak Nora?” Gumam Nira sambil berlari menghindari para pengawal Luca itu.
“Itu dia!” Ucap Ayah Sean sambil menunjuk keberadaan istri dan putrinya itu.
“Ibu! Kak Nora!” Teriak Nira dari kejauhan dan mendekati mereka berdua.
“Kalian berdua tidak apa-apa?” Tanya Ibu Veera cemas dan mengusap wajah suaminya.
“Ayo kita pergi dari sini” Ajak Ayah Sean.
“Kalian menjauhlah, aku akan meledakan rumah ini” ucap Nora sang Kakak.
Ayah Sean, Ibu Veera dan Nira menjauh dari lokasi dimana Nora berada dan bersembunyi di dekat semak-semak.
“Baiklah, selamat tinggal rumah penuh kenangan.” Ucap Nora sambil menitihkan air mata.
“Tiga, Dua, Satu”
BOOOMM!
Rumah yang megah nan mewah itu seketika menjadi rusak dan hancur. Nora sebenarnya sangat sedih karena hal ini terjadi tepat di pesta ulang tahunnya.
“Ayo sayang! Cepatlah!” Teriak Ibu Veera.
“Baik bu” teriak Nora dan berlari kearah keluarganya.
Mereka berjalan selama 15 menit hingga akhirnya tiba di sebuah gudang yang menyimpan mobil untuk sewaktu-waktu mereka gunakan saat dalam bahaya.
Mereka pun masuk ke mobil itu dan suasana menjadi sangat sunyi. Nora masih larut dalam kesedihannya. Nora lalu memberanikan diri untuk membuka percakapan.
“Ayah” panggil Nora
“Ada apa sayang” Jawab Ayah Sean sambil mengemudi.
“Tidak bisakah kita hidup normal seperti orang lain tanpa harus bertarung dan berpindah-pindah seperti ini?” Tanya Nora dengan nada sedih.
Mendengar perkataan itu sang Ayah Sean Alexandra itu terenyuh hatinya. Sang ibupun juga merasakan hal yang sama. Mereka kadang harus berpindah-pindah tempat dan selalu beradaptasi di tempat yang baru. Belum lagi rasa was-was yang selalu mengintai mereka.
“Jadi itukah keinginanmu di hari ulang tahunmu Nora?”
“Iya.. Apakah itu mungkin?” Tanya Nora penasaran.
“Ayah bisa kabulkan itu, namun kau harus tinggal seorang diri di sebuah kota besar.” Ucap Ayah.
“Seorang diri? Bagaimana jika ada musuh ayah yang datang menghampiriku?” Tanya Nora
“Mereka tidak akan mengenalimu, kami akan merubah identitasmu.” Ucap Ayah Sean.
“Bagaimana denganku ayah? Aku juga ingin hidup mandiri seperti Kak Nora” ucap Nira
“Apa kau mau menjaga adikmu Nora?” Tanya Ayah.
“Bagaimana ini? Jika Nira ikut denganku, itu akan merepotkan untukku.” Gumam Nora dalam hati.
“Baiklah ayah, aku bersedia tinggal dengan Nira” Jawab Nora Tegas.
“Halo Feiner! Sekarang buatkan 2 identitas palsu untuk kedua anakku, pastikan semua identitas itu lulus legalisir untuk meminimalisir kecurigaan orang yang melihatnya” ucap Ayah kepada sekretarisnya melalui telpon.
Panggilan lalu diakhiri sepihak oleh Ayah Reiner. Cuaca hujan yang cukup ekstrim menguyur jalan raya yang dilewati Keluarga Alexandra itu. Mendadak ada sebuah truk tronton besar yang datang dari lawan arah. Tentu sang Ayah panik karena Truk itu terus oleng kemana-mana hingga takdir berkata lain.
Mobil yang di kendarai Keluarga Sean itu terjun bebas ke jurang. Ibu Veera yang terjebak di mobil sudah tewas di tempat. Nora dan Nira yang melihat kejadian itu seketika menangis sejadi-jadinya. Ayahnya yang sebelum terjun bebas melompat keluar itu mengalami luka ringan dan mencari anak-anaknya yang ada di jurang itu.
“Maafkan aku Veera, aku berjanji akan menjaga anak kita dan hidup bahagia” ucap Ayah yang berhasil menemukan keberadaan keluarganya itu.
“Ayo! Kita harus keluar dari sini!” Ucap Ayah kepada anak-anaknya itu
“Tapi yah-!” Ucap Nora yang masih menangis melihat ibunya didalam mobil
“Ayo cepat! Jika tidak mobil itu akan meledak!” Ucap Ayah sambil menarik kedua anaknya.
“Ibu maafkan aku!” Ucap Nira.
“Ibu!!” Teriak Nora
Duuaaaarrrr!!
Mobil itu meledak saat ayah Sean dan anak-anaknya berada jauh dari ledakan itu. Mereka berhasil selamat dan Ayah Sean sudah meminta pertolongan pada sekretarisnya Feiner.
“Mulai sekarang kita akan menyembunyikan identitas kita sebagai keluarga Alexandra.” Ucap Ayah sambil menatap ledakan mobil dan menatap posisi istrinya meninggal.
“Kita akan hidup biasa-biasa saja dan ayah akan mencari tahu siapa dalang dibalik kejadian ini” ucap Ayah Sean sambil mengepalkan tangannya.
Flashback Off
Tamat