Hai hai semuanya. Kalian kenal sama aku ngga? Engga? Yowai. Hehe, canda kok.
Teruntuk yang belum kenal dan udah kenal tapi ngga tahu banyak, perkenalkan nama aku Raina, Rana Sari Xaira.
Aku punya nama marga, eumm dari keluarga ibu. Memang terkesan sangat sederhana, yaitu Xaira.
Jujur, aku ngga tau alasan dibalik nama itu. But, dari yang mama aku pernah cerita, nama marga itu udah turun menurun dari nenek, buyut, canggah, dan beberapa keturunan sebelumnya yang aku lupa bahkan sepertinya aku tidak tahu apa itu namanya.
Oh, iya, aku bekerja di salah satu kantor berita yang berada di ibu kota, aku memang tinggal di sana sejak dulu. Aku bekerja sebagai wartawan yang selalu meliput tentang kehidupan seorang artis.
Aku mau cerita tentang sebuah kisah yang pasti ngga bakalan percaya kalo ini kisah aku sendiri.
Oke, aku mulai ya.
Aku waktu itu lagi kerja di kantor, ngumpulin data-data yang dicari kemarin. Niatnya, aku akan menyelesaikan tugas dari bos yaitu membuat blog tentang seorang artis yang baru saja keluar dari penjara dan menelusuri alasan seorang artis keluar dari sebuah agensi tempat dia bekerja.
Padat, pekerjaanku memang terlalu padat. Namun, aku tak tega menolak permintaan teman-temanku yang menyuruhku untuk membantu mereka.
"Ra, tolong foto copy-in ini dong."
"Ra, foto copy materi gue udah selesai atau belum?"
"Ra, nanti kalo urusan lo udah kelar, bantuin gue foto copy-in berkas ini, ya."
"Ra, tolong bantu gue ngeprint ini, Ra."
"Rana yang cantik dan baik hati serta tidak sombong, fotocopy-in ini buat gue, ya."
Dan masih banyak lagi.
Mereka bahkan tak pernah sekalipun mengatakan terima kasih setelah aku membantu mereka. Tega! Namun, tak apa, aku juga ikhlas menolong mereka.
Aku punya julukan ketika di kantor, teman-teman kerjaku, kerap memanggilku dengan julukan si tukang fotokopi.
Kalau ditanya, kenapa begitu? Alasannya adalah aku adalah orang yang selalu memberikan jasa bantuan fotokopi untuk semua orang. Kurang lebih seperti itu.
Di suatu hari, bosku menyuruh kami semua untuk membuat laporan tentang sebuah agensi yang sedang mengadakan meet and great di sekitar daerahku.
Kebetulan, kameramen kami sedang sakit sehingga dia digantikan olehku.
Selain mengetik aku juga lumayan paham tentang dunia kameramen.
Aku pergi ke tempat m&g pada pukul 15.00, aku pergi bersama beberapa karyawan.
Ada Cia yang mencatat berita, beberapa karyawan yang membantu mencatat berita, dan aku serta Disa dan Sani yang menjadi kameramen.
"Ca, lo kalungin kameranya, nih. Biar nanti kalo ada artis yang lewat lo langsung dokumentasiin."
"Emang artisnya dari mana, mbak?" tanyaku pada mbak Sani.
"Thailand. Agensi GMM katanya. Liat tuh di depan!"
What! Oh my god! MasyaAllah, Allahuakbar, Lailahailallah, gue ngga mimpi kan?!!!
Seorang Bright Vachirawit Chiva-aree, datang ke Indonesia?!! Fix, gue kayaknya lagi mimpi nih!
"Mbak, coba cubit pipi saya."
Mbak sani mencubit pipiku....terasa sakit... berarti....ini bukan mimpi?!
Aku langsung joget-joget seperti orang gila.
Aku menggoyang-goyangkan badan mbak Sani, "MBAKK! AKU SENENG BANGET LOHH!"
"Jadi kamu ngefans sama dia, Ra?"
"Iya, mbak?"
Tanpa disadari mas Bright sudah berada di belakang kami sejak tadi.
"Kamu senang, ya, ketemu sama aku?"
Karena saking kagetnya, aku jadi pingsan, dan aku baru bangun ketika langit sudah sangat gelap.
"Sini aku bantuin, Ra." ucap mbaku—Kinara. "Minum, nih."
Dia memberiku segelas teh hangat.
"Kamu kenapa pingsan?"
"Ahh, padahal aku tadi ketemu sama mas suami eh malah aku pingsan. Damn. Harusnya aku minta foto sama dia."
"Kamu kenapa susah-susah kayak gitu, si? Tinggal minta ketemuan sama dia terus minta foto gitu, gampang kan?"
"Mudah kok. Chat aja sekarang."
"Ngarang. Mending mbak Kinara tidur aja sekarang. Mbak besok harus berangkat pagi kan?"
"Hehehe. Pengertian juga kamu, ya ternyata."
"Situ aja yang baru nyadar."
Kami tidur selama beberapa jam dan baru bangun pada pukul delapan ketika ada suara bel yang menggelegar di penjuru rumah.
"Permisi. Assalamualaikum. Ada orang atau tidak?"
Dengan langkah gontai aku berjalan ke arah depan, mungkin mbak Kinara sudah berangkat kerja sedangkan aku hari ini cuti.
"Ada apa, pak?" tanyaku sambil menguap.
"Ini ada paket dari mas Bright, mbak." ucap kurir itu. Dia memberikan sebuah kotak besar kepadaku. "Tanda tangan di sini ya mbak."
Dengan gerakan semangat empat lima aku langsung menanda tangani kertas itu. "Sudah, pak. Saya ambil paketnya ya. Terima kasih."
"Saya pamit pergi, mbak."
"Iya."
Aku berlari memasuki kamar untuk membuka paket itu. "Kira-kira isinya apa ya."
Dan wahhh isinya sebuah boneka panda lumayan besar dengan sepucuk surat kecil bertuliskan, "Rana, nama kamu kan? Kamu ngga ingat, ya aku siapa? Aku ini tunangan kamu sejak kecil, tapi maaf kamu jadi terpaksa ngelupain itu karena aku tak kunjung kembali setelah kepergianku pada saat kita berumur sembilan tahun. Namun, kamu harus tahu, kalau aku masih sangat sangat menyukaimu. I Love you Rana. Semoga kamu suka sama kado yang aku kasih ya. Boneka Panda favorit kamu."
"Jadi, diaa, orang yang selama ini aku idolakan, suka sama aku?" gumamku