"Wooow, thank's God," pekikku dan Max uamg langsung berpelukan saat membaca email yang menyatakan Max diterima bekerja di Kalimaya, perusahaan tambang terbesar di negeriku, bekerja di situ adalah impian Max sejak lama.
"Jadi kamu kapan berangkat ke Tembagapura, Max?" Tanyaku yang tiba-tiba sedih mengingat tidak lama lagi akan berpisah dengan kekasihku itu, tinggal sekota aja kami jarang ketemu karena aktivitas masing-masing, apalagi beda pulau nanti.
"Tepat 1 minggu lagi aku mulai ikut training selama 1 bulan setelah itu baru mulai bekerja. Hm ... itu berarti paling tidak 2 hari sebelumnya aku sudah tiba di sana biar gak terlalu capek pas mulai training."
"Oh," jawabku sambil menghitung jari, berapa hari lagi kami akan bersama.
"Aimee sayang, kamu kenapa?" Rupanya kekasihku itu menangkap sudut mataku yang basah.
"Aku, aku tidak tahu hari-hari ke depan tanpamu akan seperti apa, Max."
"Astaga, kalau memang kamu keberatan kutinggal, aku bisa mundur," sahut Max lirih.
"No Max, aku tahu ini cita-citamu sejak lama."
"Yah, kamu tahu sendiri aku selama ini gajihku pas-pasan, sampai tidak tahu harus nabung berapa lama buat modal kita menikah. Aimee ini demi kita juga. Aku janji akan segera kembali dan menikahimu saat aku cuti."
"Aku percaya kamu, Max tapi aku ... ."
"Kenapa dengan kamu, apa sudah ada rencana menggantiku, hm?" Maz menangkup kedua pipiku lalau mengecup keningku pelan.
"Bukan," sahutku saat kedua tangannya sudah tidak memyentuh pipiku. "Kalau kita menikah pun, sepertinya akan sulit bagi kita untuk terus bersama. Max kamu tahu, papa tidak mau aku jauh darinya bukan?"
"Bisakah kita bicarakan ini nanti saja, kita jalani dulu. Tapi sesungguhnya, aku juga gak mau jauh dari kamu baik sekarang atau pun nanti kalau kita sudah menikah. Kamu, maksudku kita harus bisa meyakini papamu agar mengizinkan kamu ikut denganku nanti," putus Max.
***
Sudah 3 bulan ini aku dan Max terpaksa cukup bahagia menuntaskan rindu hanya lewat chat dan video call.
"Max, kangen kamu," rengekku.
"Aku juga, sabar ya bulan depan aku akan pulang."
"Hm kamu serius gak nanti saat kamu pulang, kita akan menikah?"
"Serius tapi sepertinya tidak secepat itu Aimee sayang. Kamu tahu, aku masih junior di sini masih yang yang harus kupelajari. Lagi pula kebijakan perusahaan minimal kerja 6 bulan dulu baru boleh menikah dan perusahaan hanya menyediakan mess bagi karyawan yang lajang, jika sudah menikah harus keluar cari tempat tinggal sendiri dan di sinilah masalahnya."
"Apa itu?"
"Uangku belum cukup untuk menyediakan tempat tinggal bagi kita nanti, biaya kontraknya lumayan tinggi apalagi kalau mau beli bisa-bisa 1 atau 2 tahun lagi baru bisa kebeli terus, rata-rata pemukiman umum jaraknya lumayan jauh dengan kawasanku bekerja, sepertinya aku juga harus beli kendaraan. Kalau aku dahulukan pernikahan kita maka yang lainnya jadi tersisihkan, gimana sayang?"
"Jadi maksudmu pernikahan kita tidak usah jadi prioritas, begitu Max?"
"Ah, tidak. Bukan begitu hanya saja, kalau kita menikah aku harus memastikan kamu nyaman bersamaku."
"Baiklah, aku mengerti."
"Hei, kenapa jadi lesu begitu, sih?"
"Tidak, kamu putuskan saja mana yang bagus untukmu."
"Sayang, ah ... sudahlah, kalau memang kamubmau kita segera bersama, kamu ke sini saja. Kita menikah di sini dan nanti kamu akan mengerti apa yang kumaksud."
"Hm, sebenarnya aku juga bingung Max, papa mendesakku menikah tapi saat kubilang kita akan menikah dan aku akan ikut demganmu, papa jadi tidak setuju."
"Apa, papamu tidak setuju denganku?"
"Tepatnya papa tidak setuju aku ikut denganmu."
"Ya Tuhan, terus kita gimana dong?"
"Max, papa punya calon lain untukku, aku akan dijodohkan."
"Tidak bisa begitu, Aimee ... kita susah pacaran hampir 4 tahun rasanya lucu kalau putus hanya gara-gara ayahmu yang tidak bersedia kamu ikut denganku nanti. Fungsi istrikan mendampingi suami, mana bisa kita menikah terus kamu masih harus tinggal sama orangtuamu. Aku tidak mau begitu."
"Ya terus gimana dong Max? Aku terus didesak papa, nih."
"Hah, kalau begini sih ... mau 1 atau 6 bulan lagi menikah tetap saja kendalanya itu. Sudahlah, kalau memang kamunya juga mau, terima saja perjodohan itu atau ..."
"Atau apa?"
"Kutunggu di Tembagapura dan kita menikah di sini."
"Ngawur kamu, Max. Aku gak mau kita menikah tanpa dihadiri orang tua kita."
"Lha terus, baiknya gimana coba? Kalau kamu menikah dengan pria pilihan orangtuamu, kamu tentunya bisa terus di situ bersama mereka. Kalau nikahnya sama aku, kamu tahu konsekuensinya."
***
Buntu, tidak ada solusi sampai akhirnya aku bertemu lelaki yang akan dijodohkan denganku. Secara fisik memang ok, karirnya juga bagus, jika saja hatiku tidak terikat demgan Max, tentu aku tidak akan menolaknya.
"Hai sayang," sapa Max yang tahu-tahu sudah di depan pintu rumahku. Aku langsung menyeruak masuk ke pelukannya.
"I miss you so much, Max," ujarku sambil terisak.
"He-em," terdengar deheman papaku dari ruang tamu.
"Em ... maaf, om," Max melerai pelukan kami dan menyapa papaku dengan kikuk.
"Jangan nempel-nempel gitu dengan anak gadis orang," ucap papaku ketus.
"Maaf, om. Harap maklum, kami sudah lama tidak ketemu."
"Huh, siapa suruh kerja jauh-jauh?"
Aku dan Max saling berpandangan dengan jemari yang masih terpaut.
"Aimee, tolong jaga jarakmu ... tidak baik sebagai calon istri seseorang kamu masih dekat dengan pria lain," tegur papaku.
"Pa ... aku tidak mau menikah dengan Julian, aku maunya sama Maxwell, kami sudah sepakat untuk menikah," aku memberanikan diri berbicara dengan papaku.
"Hei, Maxwell ... kalau kamu menikahi putriku, kamu bersedia tidak hidup terpisah dengannya nanti? Soalnya kamu lihat sendiri, istriku sudah meninggal dan kakak-kakaknya Aimee tinggal di kota lain, kamu tega membiarkan aku sendirian di sini?" Tanya papa pada Max.
"Maaf om, apa om tega kami membina rumah tangga jarak jauh? Kami akan carikan orang yang bisa menemani om di sini, Aimee tetap harus ikut aku, om."
"Tidak bisa! Kalau kamu tidak setuju ya sudah, lupakan anakku. Selesai."
"Tapi, om ... ."
"Sudahlah, kamu tahu pintu keluar, kan?" Usir papa.
***
Masa cuti Max usai dan dia harus kembali ke Tembagapura. Sejak kejadian itu, walaupun tidak ada kata 'putus' komunikasi kami jadi semakin jarang selama beberapa bulan kemudian.
"Max, bulan depan aku akan menikah," laporku.
"Hm, jadi kamu menerima dia?"
"Tidak, tapi mereka sudah atur semuanya, aku harus gimana, Max?"
"Kamu maunya gimana? Kalau mau ya sudah menikah saja dengan dia, kalau tidak mau ... benahi barang-barangmu seperlunya dan pergilah ke sini," saran Max seolah mengujiku.
Aku lama berpikir, seandainyapun aku menikah dengan Julian, tidak hanya Max yang terluka, aku juga. Tapi jika aku menerima saran Max ... aku akan jadi anak yang pembangkang sekaligus durhaka karena membiarkan papa seorang diri."
"Baiklah." Aku menarik napas sebelum mengatakan keputusanku.
"Baiklah apa?"
"Aku akan ke situ."
"Yes! Kebetulan bulan ini aku sudah 6 bulan bekerja, dan itu berarti aku sudah boleh menikah. Aku akan urus semuanya di sini, nanti aku minta syarat-syaratnya biar kita segera menyiapkan berkas untuk menikah. Dan ... sebentar aku kirimkan uang untuk beli tiketmu, sayang." Duh, aku langsung terharu melihat Max yang tadinya malas-malasan menerima panggilanku kini jadi ceria dan bersemangat.
"Tunggu aku di Tembagapura, Max."
***
2 minggu kemudian, di pagi buta aku pergi meninggalkan rumah papaku dengan perasaan yang entahlah, yang pasti di sini aku belajar bahwa cinta kami harus diperjuangkan.
Sekarang aku sudah tiba di Tembagapura, sebuah distrik yang cukup modern di ketinggian 2300 meter di atas permukaan laut di dataran tinggi di punggung Pegunungan Sudirman. Tembagapura terletak tak begitu jauh dari puncak tertinggi di Indonesia bahkan Oceania, yakni Puncak Cartens yang di barat dikenal dengan nama Cartenz Pyramid yang tegak berdiri di atap Papua setinggi 4.884 mdpl.
Rasa sedihku segera berganti saat tiba di kota yang mempesona ini. Jalan dan bangunan yang tertata dan vertikal, seperti di luar negeri.
"Amole!" Max mengucapkan salam khas saat menjemputku di bandara. Aku langsung memeluknya, tidak ada lagi yang kupunya selain Max.
"Aimee, rumah yang akan kita tempati belum siap, jadi kamu terpaksa beristirahat di hotel saja, ya."
"Hm, kenapa tidak tinggal denganmu saja?"
"Ah, tidak. Aku tidak mau nanti terjadi hal-hal yang belum seharusnya. Sudah sejauh ini saling menjaga dan tinggal menghitung hari menuju pernikahan, aku tidak mau curang, Aimee."
Aku tersenyum mendengar penuturan Max.
"Ah, jadi tidak sabar menunggu lusa," sahutku. Sebelum aku ke sini, aku dan Max sudah menentukan tanggal pernikahan kami beserta konsepnya yang sangat sederhana, prinsipnya yang penting pernikahan kami syah secara agama dan negara.
"Maaf Aimee, pernikahan kita terpaksa diundur."
"Hah, kenapa lagi Max?"
"Saat kamu pergi, papamu ke rumah orangtuaku dan ... ah, intinya orangtuaku mau merestui dan memghadiri pernikahan kita, jadi terpaksa diundur menunggu kedatangan papa dan mamaku. Maaf ya, Aimee."
"Ok, tidak masalah. Kalau begitu, aku akan menunggu sambil mencari lowongan pekerjaan. Kamu tidak keberatan kan kalau aku tetap bekerja setelah kita bekerja?"
"Tentu. Aku tidak keberatan, biar kamu tidak bosan tapi kalau nanti kita punya anak, aku mau kamu berhenti dan carilah pekerjaan yang bisa kau lakukan dari rumah saja."
Aku senang sekali berada di sini, meskipun jauh dari mana-mana dan terpencil, Tembagapura mempunyai kelengkapan layaknya sebuah kota kecil modern.
Ada fasilitas olahraga, taman bermain, supermarket, rumah sakit, sekolah, rumah ibadah, dan lainnya.
***
Setelah 10 hari di Tembagapura, saat ini ku dan Max bersiap mengucapkan ikrar sehidup-semati. Sejak pagi aku berdandan dan mengenakan gaun putih berpotongan sederhana demikian juga Max yang terlihat sangat tampan dan gagah dengan jas abu-abu tuanya, wajahnya terus menyunggingkan senyum sumringah.
"Sayang, ada seseorang yang ingin menemuimu," bisik Max saat menjemputlu di kamar hotel.
"Astaga, tapi kita akan menikah 1 jam lagi Max, nanti saja."
"Tidak, orang itu sudah menunggumu sejak kemarin hanya saja, beliau tidak enak sama kamu."
"Siapa?"
Max lagi-lagi hanya tersenyum
"Surpriseee!" Ujarnya sambil membuka pintu kamarku lebar-lebar dan muncullah sesosok pria paruh baya yang akhir-akhir ini membuatku tiap malam menangis.
"Papaaaa, maafkan Aimee," kataku sambil memeluk papaku, sungguh aku tidak menyangka papaku mau jauh-jauh kemari.
"Papa juga minta maaf telah egois, Aimee."
"Oh iya, apa papa merestui pernikahan kami dan aku yang akan tinggal di sini dengan Max?"
"Tentu saja, bahkan papa berterima kasih atas kepergianmu pagi itu."
"Hah, kenapa bukannya papa sedih?"
"Awalnya iya. Papa sedih, marah dan kecewa sama kamu. Sampai papa memutuskan menemui orang tua Max dan di situlah papa bertemu seseorang yang akan menemani papa di saat kamu dengan Max di sini."
Tatapanku beralih pada Max, rupanya calon suamiku ini menyembunyikan sesuatu dariku.
"Papa bertemu Arin, adik mamanua Max yang merupakan mantan kekasih papa dulu, sebelum menikah dengan mamamu," jelas papa dengan senyum lebar.
Haih, pantas saja papaku jadi mudah membiarkan aku hidup dengan Max. Ah, terima kasih, Tuhan atas kejutan yang manis ini.