Aku Freyasha, seorang gadis remaja biasa yang tinggal di desa terpencil dekat dengan kerajaan Frosky. Aku berumur 16 tahun. Aku menjalankan hidup layaknya penduduk desa yang tinggal di desa. Aku tinggal bersama bibiku, ayahku meninggalkanku dan ibuku sendirian di desa ini dengan keadaan yang rumit, saat itu, ibuku juga mengandung adikku. Ibu meninggal karena melahirkan adikku, saat itu, hampir saja aku kehilangan kedua keluargaku satu satunya, karena tubuh ibu yang lemah dan janinnya juga lemah, ibu melahirkan adikku, tetapi ibu tidak selamat. Untung saja, ibu mempunyai kakak, dan kakaknya lah yang merawatku dan adikku. Adikku dilahirkan dengan keadaan tubuhnya lemah dan tak berdaya. Ibuku sudah meninggal, jadi aku memikirkan bagaimana caraku untuk memberi makan kepada adikku nanti. Saat itu, aku berumur 8 tahun, jadi aku tidak mempunyai ASI untuk adikku minum. Yah, walau saat ibu melahirkan, bibi belum mengunjungi kita. Setelah 1 hari setelah dilahirkannya adikku dan meninggalnya ibuku, bibi datang kepadaku dan berjanji untuk merawatku dan adikku. Ibuku meninggal dan aku juga adikku dirawat oleh bibi.
Nama adikku adalah Heirofi. Dia memiliki pemikiran yang cerdas dan cepat mengerti dalam situasi apapun. Dan dia saat ini berumur 10 tahun. Ia sangat menyayangiku, keluarga satu satunya yang aku dan ia punya. Dia disekolahkan di sekolah yang kecil, khusus di desa itu. Tetapi, sayangnya ia sering di bully dan sedikit yang ingin berteman dengannya. Mungkin karena dia pendiam? Karena, di rumah, ia jarang berbicara dan cukup pendiam.
Di desa, ada sebuah pertenakan yang sangat besar. Di sana, ada sekitar 35+ Sapi, 40+ kambing, 55+ domba dan 67+ ayam. Itu cukup untuk kami dan para penduduk desa yang bisa membeli telur, wol/bulu domba, daging sapi, daging kambing dan daging ayam. Untuk bertahan hidup, kami merawat hewan hewan tersebut sesuai dengan bagian masing". Bibiku mempunyai 12+ domba, 11+ sapi, 23+ ayam dan 16+ kambing. Semua hewan" itu bibiku sendiri yang merawatnya dengan baik, dibantu oleh kerabat dekat bibi. Hasil dari hewan" yang dirawat oleh bibi dibagikan kepada orang-orang atau kerabat dekat bibi yang membantu bibi merawatnya. Sisanya kami olah untuk dijual agar kami bisa membeli kebutuhan sehari-hari kami kecuali dengan hasil pertenakan tadi yang bisa dimasak dan di makan. Selain mengurus pertenakan, bibi bisa merajut dari bulu domba. Bibi kemudian mengajariku cara merajut. Dari ajaran bibi, aku bisa merajut tas, karpet, dan mainan anak anak yang mudah dan disukai. Adikku juga suka bermain dengan mainan bulu domba itu. Selain mengajariku cara merajut, bibi juga mengajari adikku untuk membantu bibi bertenak, memeras susu, mengambil bulu domba, telur, dan memberi hewan hewan tersebut makan juga minum.
Aku sangat senang. Dengan kehidupan yang sederhana tetapi rumah kami selalu diisi dengan tawa riang dan suasana gembira. Tetapi, pada suatu hari... kebahagiaan itu hancur seketika ketika aku mengetahui identitas ku yang sebenarnya.
"Pagi bibi" aku keluar dari kamar dan melihat bibi sedang menyiapkan makanan untuk sarapan ku dan adikku. Bibi pun membalasku "Pagi, Freya. Bangunkan adikmu ya! " dan menyuruhku untuk membangunkan Heirofi. Aku pun menjawab bibi "Baiklah" dan segera pergi ke kamar Heirofi.
Aku berjalan menuju kamar Heirofi kemudian membuka pintu kamarnya sambil berkata "Heiro, bangunlah. Bibi sudah menunggu kita! ayo ikut kakak pergi ke dapur! " kataku. Aku kaget melihat adikku duduk di kasurnya dan membaca buku. Sepertinya itu buku yang ia pinjam di perpus sekolah. Heirofi pun menoleh kepadaku dan berkata "Baiklah" kepadaku. Ia pun menutup dan menaruh bukunya ke dalam tasnya, lalu ia keluar dari kamar dan ke dapur bersamaku.
Kami pun menuju dapur dan duduk di kursi. Makanan yang bibi siapkan sudah ada di atas meja, tetapi bibi sudah menghilang entah kemana. Kami pun memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu kemudian mencari bibi di pertenakan. Mumpung Heirofi sedang libur, jadi aku tidak sendirian ke sana.
Setelah selesai memakan sarapan yang disiapkan bibi, kami pun mencuci piring dan merapikan nya kembali. Saat ingin mengambil piring piring kotor yang ada di atas meja, ada sebuah kertas, seperti sebuah surat. Aku pun menaruh piring piring kotor itu dan mengambil surat tadi yang aku lihat. Aku pun membukanya dan membaca isi surat tersebut.
Freyasha, bibi akan ke pertenakan sekarang. Maafkan bibi karena tidak bisa menemani kalian sarapan. Tetapi, jangan khawatir. Bibi sudah sarapan dulu, jadi jangan mencari bibi ya? Kau bekerjalah bersama Heirofi di rumah, sebentar lagi bibi akan pulang. Bibi tidak akan lama di pertenakan.
Dari Bibi.
Aku membaca suratnya. Ternyata itu dari bibi. Aku pun menyimpan surat itu kemudian mengambil piring kotor itu lagi dan mencucinya. Setelah aku mencucinya, aku memberikan surat yang tadi aku baca kepada Heirofi.
"Heirofi, kita bersih bersih saja di rumah ya? setelah itu, aku akan membantumu mengerjakan pr sekolahmu. " Ucapku kepada Heirofi.
"Baiklah kakak" Ucapnya kepadaku. Lalu, aku dan Heirofi pun mengambil alat alat pembersih dan mulai membersihkan rumah.
Selesai membersihkan, aku pun merapikan dan menaruh alat alat pembersih itu ke tempatnya, lalu aku menunggu adikku di ruang tengah karena sesuai janjiku, aku menemaninya mengerjakan PR nya. Sambil menemani adikku mengerjakan PR, aku pun merajut sesuatu.
Beberapa menit kemudian...
Aku hampir selesai mengerjakan hasil rajutan ku. Tetapi, aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu.
Tok... Tok... Tok
Ketukan pintu itu terdengar pelan tetapi bergema di dalam ruangan. Adikku yang tengah asik belajar mendengarnya pertama kali, lalu ia memberitahuku.
"Kakak... apa kau tidak mendengar suara ketukan pintu? " Tanya adikku kepadaku dengan wajah cemas dan sedikit takut. Aku pun menjawab "Iya." kepada adikku. Lalu, suara ketukan pintu itu terdengar kembali.
Tok.. Tok.. Tok
"Kakak... siapa itu? " Adikku mulai takut. Aku mencoba menenangkan dia, "Tidak apa, palingan itu bibi" jawabku. Aku pun berjalan menuju pintu, lalu adikku mengikutiku dari belakang sambil memegang bajuku dan bersembunyi di belakangku.
Dan.. aku pun membuka pintu. Betapa terkejutnya diriku saat melihat ada sebuah kereta kuda dan beberapa prajurit yang ada di sekeliling rumahku dan salah satunya ada di depanku.
Aku takut. Takut dan panik, itu yang aku rasakan saat itu. Aku pun mulai memberanikan diri untuk bertanya. "M-maaf, anda siapa ya? Mengapa ada banyak prajurit di rumahku? " Tanyaku dengan gugup kepada prajurit yang ada di depanku. Betapa terkejutnya aku saat aku melihat prajurit itu membungkuk hormat kepadaku layaknya seorang putri. Prajurit itu menyamping kan diri kemudian pintu kereta kuda yang awalnya tertutup menjadi terbuka. Aku pun melihat ke kereta kuda tersebut tepat di depan mataku. Seseorang keluar dari kereta kuda. Pria kekar berpakaian mewah layaknya Raja dan memakai mahkota. Pria itu melangkah maju mendekatiku. Awalnya, aku merasa aku mengenalinya, tetapi saat ia semakin mendekat, aku pun kaget. Ternyata... dia adalah ayahku yang meninggalkan Ibu, Adikku, dan aku!! Selama bertahun-tahun ia menghilang dan kembali kesini tanpa diketahui tujuannya apa. Ternyata... dia ingin menjemputku.
"Untuk apa kau kemari, hah?! " Tanyaku geram. Aku marah kepada ayah, karena tidak becus menjaga Aku dan Ibu juga adikku yang ada di dalam rahim ibu saat itu.
"Nak, Ayah ke sini untuk menjemputmu dan ibumu. Di mana ibumu?" Tanya Ayahku. Aku menunduk lalu berkata "Kau tidak tau keadaan ibu saat kau meninggalkan kami, kan? IBU SUDAH TIADA, AYAH! " Ucapku dengan suara keras. Ayah kaget dan syok. Dia tidak menyangka kalau ibu akan tiada, sepertinya.
Adikku yang tadinya bersembunyi di belakang ku menengok keluar. Ayah melihatnya saat itu, dan bertanya kepadaku "Apa... ini adikmu? " Tanya ayah sedikit kebingungan. Aku menjawab "Iya" dengan senyum tipis dan mengelus kepala Heirofi.
Tanpa ayah sadari, Ayah mengeluarkan air mata. Ia menangis. Ia menangis dan memelukku juga Heirofi secara tiba tiba. Tak lama kemudian, bibi datang. Dia kebingungan melihat keadaan di luar rumah. Lalu, bibi pun mendekatiku yang sedang dipeluk oleh ayah.
"Freyasha, ada apa ini? " Tanya bibi kebingungan. Ayah pun melepaskan pelukannya lalu menoleh ke bibi. Bibi terkejut. Lalu menyambut Ayah untuk masuk ke dalam rumah.
"Yang mulia Raja, silahkan masuk" Ucap bibi dengan lembut. Lalu, Ayah, aku, Heirofi, dan bibi pun masuk ke rumah. Ditemani oleh dua orang prajurit tentu.
Di dalam rumah, ayah melihat buku buku yang berserakan di meja dan hiasan rajut milikku. Lalu, bibi pun memandu Ayah untuk duduk di sofa. Ayah, aku dan adikku duduk di sofa. Bibi ke dapur terlebih dulu dan datang dengan empat cangkir berisi teh dan satu piring berisi camilan. Lalu bibi mulai bertanya kepada ayah.
"Yang mulia Raja, kalau hamba boleh tau, kedatangan anda kemari untuk apa ya? " Tanya bibi. Ayah kemudian mengambil secangkir teh dan mulai meminumnya, setelah itu menaruhnya kembali di meja. Ayah pun menjawab "Sudah waktunya Freyasha kembali ke kerajaan Frosky. Aku akan membawa Freyasha dan Heirofi kembali ke kerajaan, tempat yang seharusnya mereka tinggal. Terimakasih karena sudah merawat mereka dengan baik, kakak ipar. Dan, mulai sekarang, kau boleh memanggilku dengan namaku. " Ucap ayah panjang lebar. Aku terkejut seketika mendengar perkataan ayah. Adikku kebingungan. Bibi membalas ayah "Tidak apa Yang mulia, ini sudah menjadi tugas hamba sebagai bibi, bahkan sudah menjadi suatu kemuliaan bagi hamba. Hamba juga turut berduka cita atas tiadanya Yang mulia Ratu. Hamba jadi tidak enak kalau hamba memanggil nama anda."
Selesai mendengar pembicaraan bibi dan ayah sangat lama, aku dan adikku di ajak ke kereta kuda bersama dengan Ayah. Aku sempat sedih karena harus meninggalkan bibi dan hasil rajutan yang susah payah aku buat di rumah itu. Banyak kenangan bersama bibi di rumah itu. Aku menatap ke jendela dengan wajah sedikit kecewa. Ayah melihatku dan bertanya kepadaku, "Ada apa, Nak? " Tanya ayah. Aku menjawab "Tidak apa. Aku hanya rindu dengan rajutan milikku di rumah itu. " Adikku membalasku, "Tidak apa, kakak. Lagipula kita bisa kan mengunjungi rumah itu lagi! " dengan ceria. Aku tersenyum dan berkata "Mungkin saja". Canda tawa terdengar dari kereta kuda kami. Ayah hanya tersenyum mendengar dan melihatku dan adikku bercanda ria seperti ini sepanjang perjalanan.
Setelah sampai di kerajaan, aku disambut oleh beberapa pelayan di luar ataupun di dalam kerajaan. Aku dipandu oleh seorang pelayan ke ruang tidurku.
Beberapa hari kemudian, aku dinobatkan menjadi putri dari kerajaan Frosky dan adikku juga dinobatkan menjadi pangeran dari kerajaan Frosky. Sejak saat itu, kegiatanku menjadi putri pun dimulai.
Berhari hari telah berlalu setelah penobatan ku dan adikku menjadi putri dan pangeran. Kami sangat sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ayah. Hari demi hari, jadwal kami semakin padat. Tetapi, aku dan adikku tetap bahagia walau pekerjaan kami sebagai anggota kerajaan sangan banyak.
Kehidupan kami sama saja seperti di rumah bibi, namun ini lebih mewah. Kami hidup bahagia menjadi anggota kerajaan. Aku perlahan lahan mulai menerima ayah kembali dan menjadi keluarga yang bahagia walau tanpa seorang Ratu, seorang istri dan seorang ibu.