"Telah terjadi sebuah kecelakaan Bus Pariwisata masuk jurang, di perkirakan 11 orang tewas, 13 orang luka - luka dan 1 orang belum di temukan, saya Ari Kurnia mengabarkan."
"Nonton berita apa sih kamu ini, dit?"tanya Rei yang baru saja nongol dari dapur mengambil camilan yang berada di kulkas.
"Ini ada berita kecelakaan lagi di TV,"sahut Didit yang masih fokus dengan berita kecelakaan yang ada di televisi malam itu.
"Seneng bener sih nonton yang beginian kamu,"kata Rei sambil ikut bergabung dengan temannya yang sedang serius menonton berita.
"Ini masih mending ditonton daripada nonton drama yang tidak jelas kemana arahnya itu. Dan terkesan lebay itu lah,"kata Didit yang masih melihat siaran dengan serius.
"Iya, sih,"sahut Rei yang ikut menyimak pemberitaan di televisi.
"Wah, ada yang menghilang dan belum ditemukan, apa mau aku bantu nemukan neh,"sahut Rei dengan nada bercandanya yang membuat Didit menoleh ke arah sahabatnya itu kesal.
"Mulutmu itu dijaga Napa, Rei!"tegur Didit karena kawan baiknya itu bisa-bisanya bercanda dengan pemberitaan yang sebenarnya bukanlah sebuah kabar yang pantas untuk digunakan sebagai bahan becandaan.
"Hei, bro....kenapa kamu serius kali? Aku hanya bercanda saja kenapa kamu jadi sewot begini? Lagi dapet loe yak???"ujar si Rei sambil tertawa melihat ekspresi Didit yang kesal menatap ke arahnya.
"Loe tuh yang aneh! udah tahu ini berita duka malah dibuat bercandaan begitu, yang aneh itu justru ucapanmu itu,"kata Didit sambil mencomot pop corn yang dibawa Rei dari kulkasnya.
"Ya, kan aku ahli dalam mencari sesuatu yang hilang. Karena aku sudah sering melakukan itu jika kamu lupa kan?"ujar Rei sambil terkekeh.
"Tapi ini kan beda, Rei. Halah, nggak asik bener dah kamu ini,"ucap Didit kemudian mengganti saluran televisi nya ke acara yang lain. Tentu saja channel bola yang dia tuju.
"Wah, kamu tahu saja kalau seharusnya dari awal kita nonton saluran ini. Kamu kelamaan ganti channel nya, dit,"sahut Rei dengan nada antusias. Rei memang suka sama acara olahraga seperti sepak bola misalnya.
"Sudahlah, kamu nonton sendiri saja, aku mau tidur, ngantuk,"kata Didit yang sudah tidak berminat lagi menonton acara di televisi malam itu. Tiba-tiba mood nya sudah hancur begitu mendengar ucapan dari sahabatnya yang malam itu numpang menginap di apartemennya.
"Kamu mau telponan sama Nindy ya?"tanya Rei lagi.
"Dia sudah tidur dari tadi,"jawab Didit.
"Oh...."sahut Rei singkat.
"Aku mengantuk, kamu jangan lupa matikan lampunya ya kalau tidur,"pesan Rei sebelum masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Setelah seharian bekerja tentu saja Didit merasa begitu penat. Dan tidur adalah obat yang pas untuk melepaskan segala kepenatan dalam dirinya.
"Oke, siap pak bos,"jawab Rei sambil mengacungkan jempolnya ke arah Didit sebelum pemilik apartemen itu masuk ke dalam kamarnya.
Ya, malam itu si Rei menginap di tempat Didit, teman baiknya. Dia merasa gabut sendirian di tempat tinggalnya. Jadilah dia main ke apartemen Didit dan berakhir bermalam di sana juga.
Rei masih asyik menonton acara televisi yang menyiarkan pertandingan sepak bola. Dan tentunya dia akan betah berlama-lama di depan televisi kalau acaranya seperti itu. Rei menikmati acara di depannya sambil memakan pop corn yang dia dapatkan dari dalam brankas makanan milik Didit.
Tiba-tiba....
Drttt..... Drrtttt.... Drrtttt.....
Terdengar bunyi suara handphone nya. Rei segera beranjak dari tempat duduknya dan mencari dimana keberadaan handphonenya. Ternyata suara itu berasal dari arah dapur. Reis menepuk jidatnya dan mengambil handphonenya yang ternyata tertinggal di meja dapur tersebut.

Namun, alangkah terkejutnya Rei saat melihat bahwa ada sebuah panggilan dari nomor pribadi yang membuatnya mengernyitkan dahi.
"Siapa sih iseng-iseng begini menelepon dengan nomor pribadi,"gumam Rei penasaran.
Rei pun mencoba mengangkat panggilan tersebut. Akan tetapi....
Tut..... Tut..... Tut....
"Eh..."sahut Rei sambil mengecek handphonenya dan ternyata panggilan itu sudah berakhir.
"Ini, siapa yang usil sih? Tengah malam begini pula?"gerutu si Rei merasa kesal. Dia melihat jam di handphonenya menunjukkan pukul dua belas malam lewat lima belas menit.
Rei pun kembali ke tempat duduknya untuk melihat siaran pertandingan sepak bola di televisi.
Dan lagi-lagi.....
Drrrtt .... Drrtt..... Drtt.....
Kali ini Rei melihat handphonenya dengan tatapan yang kesal. Lagi-lagi sebuah panggilan nomor pribadi. Siapa yang seiseng ini ya kepada dirinya di tengah malam begini.
"Kurang kerjaan banget orang ini kayaknya ya,"ujar Rei sambil menahan kesal dan menekan tombol hijau di handphonenya.
"Astaga!!!!"ucap Rei kembali kesal karena sama dengan yang terjadi sebelumnya. Telepon itu dimatikan ketika dia baru saja mengangkat nya.
"Wah, ini niat ngerjain banget ya ne orang. Jadi bikin gemes dah,"ujar Rei sambil menahan amarahnya kembali.
"Lihat aja kalau sampai sekali lagi menghubungi ya!"ancam si Rei yang sudah bertekad untuk memaki-maki itu orang yang sudah dengan sangat iseng banget ngerjain dirinya yang sedang asyik dengan dunianya tersebut.
Rei kembali meletakkan handphonenya di atas meja di depannya. Rei melanjutkan acara menonton siaran bolanya. Tiba-tiba saja.....
Drrrtt .... Drrtt..... Drtt.....
Rei bergegas mengangkat teleponnya kali ini. Dia sudah bersiap untuk melancarkan serangan makiannya akan tetapi justru yang terjadi adalah....
"To..long... To....long......Tooo.... looong"
Rei terkejut sambil menjauhkan handphonenya dari telinga. Suara rintihan itu benar-benar membuatnya merasa merinding. Ditengah malam begini, siapa yang meminta pertolongan.
Dan saluran teleponnya pun terputus secara tiba-tiba. Rei semakin terdiam terpaku ditempatnya mencerna apa yang barusan saja terjadi padanya.
Suara rintihan itu kembali terdengar jelas dan kali ini Rei tidak bisa membiarkan suara itu begitu saja berlalu. Dia mencoba membuka matanya dan begitu dia membuka mata betapa terkejutnya dirinya.
"Astaga!!!"Rei tidak menyangka jika dirinya tadi tertidur di ruangan sambil nonton TV kenapa sekarang dia berada ditempat yang berbeda.
"Tidak!"teriak Rei kembali saat mengetahui bahwa dirinya sudah berada di tepi jurang. Rei pun yang terkejut dan juga syok akan apa yang sedang dia alami itu merasa tidak percaya dengan kejadian tersebut.
"Kenapa aku ada di sini????? Kenapa???"teriak Rei masih dengan ketidakpercayaan nya dengan apa yang telah menimpa nya.
"Tolong .. Tolongg....."suara rintihan itu semakin jelas terdengar. Rei memberanikan diri untuk melihat siapa yang ada di bawah jurang sana.
"Tolong... Tolong...."
Suara rintihan itu datang dari bawah jurang.
Rei melongok ke dasar jurang yang begitu curam dan betapa terkejutnya Rei ketika sebuah tangan menyentuh kakinya.
"Aaaarrrrrrkkkkkkkkkkhhhhhh!!!"teriak Rei yang berusaha untuk lari tetapi sebuah tangan itu mencengkeram kakinya dengan sangat kuat. Sehingga Rei pun jatuh terduduk dan begitu terkejut melihat sebuah kepala melongok dari arah jurang.
Lebih menakutkan lagi ketika kepala itu dalam kondisi penuh luka dan berdarah. Rei semakin ketakutan saja dibuatnya ketika sosok itu mampu naik ke dataran yang sama dengan Rei pijak saat ini.
"Tolong .... Tolong ....!"ucap sosok itu meminta bantuan kepada si Rei.
Dengan raut wajah yang sangat ketakutan. Rei tidak berani menatap wajah yang penuh dengan luka tersebut. Rei memalingkan wajahnya dengan menatap hal yang lain.
"Si.....si....siapa....ka...ka...mu...?"tanya si Rei dengan memberanikan dirinya. Sebenarnya Rei sangat ketakutan tetapi jika dia diam saja maka sosok itu akan semakin mendekati dirinya.
"Tolong aku.... selamatkan aku....,"ujar sosok itu meminta tolong.
"Ka...mu...sia...pa?"tanya balik Rei.
"Aku korban yang hilang itu,"ujar sosok itu semakin menekan kaki Rei dengan cengkeramannya yang kuat.
"Apaaa????"Rei tidak menyangka jika itu adalah korban kecelakaan di televisi yang dikabarkan menghilang tersebut.
"Apa....apa....maumu?"tanya Rei kembali dengan nada ketakutannya.
"Aku mau kamu beritahu mereka dimana posisi ku kini,"ujar sosok itu kepada Rei.
"Kenapa....harus aku?"tanya Rei balik. Kenapa harus dia yang memberitahukan semua ini. Padahal dia saja tidak berada di lokasi kejadian saat peristiwa itu berlangsung. Apakah orang lain akan percaya dengan apa yang dia katakan nantinya.
"Aku...ada di dasar sana. Di dekat sebuah pohon besar. Aku berada di sana,"ujar sosok itu menjelaskan keberadaan dirinya.
"Aku... aku...tidak janji bisa melakukannya,"ujar Rei berusaha menolak permintaan dari si sosok yang menyeramkan itu.
"Kamu sudah berjanji sendiri jika kamu akan mencarikan diriku, bukan, janjimu itu tidak bisa kamu ingkari, atau kamu akan ikut bersamaku ke alam sini,"ujar sosok itu dengan nada mengancam.
"Tidak! Kamu tidak bisa melakukan itu!"kata Rei.
"Kamu pikir aku tidak bisa!" ancam balik sosok itu. Kemudian dengan sekuat tenaga dia menarik kaki Rei dan membawanya ke dasar jurang.
"Aaaaaaaaaarrrrrkkkhhhhhhhhhh!!!! Tidakkkkk!"teriak Rei dengan nada sangat panik karena tubuhnya hampir separuh sudah berada di tepi jurang akibat tarikan dari sosok yang meminta pertolongan kepadanya.
Rei semakin gemetaran saat dia tahu dirinya benar-benar dibawa sosok itu jatuh ke dalam jurang yang dalam dan juga terjal.
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk!!!!!!!
................
"Rei!!!!! Reiiiii!!"teriakan Didit seketika membuat Rei membuka matanya. Rei menyentuh wajahnya dan melonjak dari tempat dia tertidur yaitu di sofa di depan televisi tempat tinggal Didit.
"Rei! Kamu kenapa?"tanya Didit bingung dengan sikap teman baiknya yang begitu panik dan sudah aneh begitu terbangun dari tidurnya.
"Ternyata aku masih hidup....."ucap Rei sambil menghela napas panjang menandakan kelegaan. Sedangkan Didit yang melihat hal itu justru bingung. Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan teman baiknya tersebut. Astaga.....!
Rei menceritakan kepada Didit apa yang semalam dia mimpikan. Dan Didit mendengarnya dengan rinci keterangan dari Rei tersebut. Tiba-tiba Rei menyalakan saluran televisi dan melihat channel yang menyiarkan berita tentang kecelakaan semalam. Dan benar saja korban yang menghilang itu masih dalam pencarian.
"Rei, coba kamu hubungi pihak televisi dan katakan dimana lokasi yang kamu dapatkan dari mimpimu itu,"ujar Didit kepada Rei.
"Hahhhh? maksudmu mereka akan percaya gitu dengan info yang aku berikan?"kata Rei merasa tidak yakin jika pihak televisi akan mau menyampaikan berita tersebut.
"Coba saja, daripada kamu dihantui oleh sosok itu lagi. Dia pasti akan meneror dirimu, Rei,"ucap Didit memperingatkan.
"Eh.... tidak! Tidak! Baiklah....aku akan menghubungi mereka,"ujar Rei kemudian dia mengatakan apa yang dia ketahui dari mimpinya semalam.
Ternyata laporan Rei pun ditanggapi dan dicarilah ke lokasi yang ditunjuk oleh Rei sebagai tempat jatuhnya korban kecelakaan. Dan benar saja, rupanya korban itu tubuhnya tersangkut di dahan pohon besar di dalam jurang tersebut. Berkat bantuan informasi dari Rei tersebut akhirnya korban kecelakaan yang semula dinyatakan hilang pun akhirnya bisa ditemukan.
Namun, sebuah pembelajaran di dapat oleh seorang Rei yang terkenal ceplas-ceplos. Dia tidak akan mengatakan sepatah kata yang sembarangan kembali. Atau dia akan dihantui oleh si korban seperti apa yang telah dialaminya meskipun itu dalam sebuah mimpi namun itu cukup menakutkan.
----------------
👻 TAMAT
...Berhati-hatilah dalam berucap. Mulutmu harimaumu ☺️...