Shera menerawang pikirannya ke masa lalu, tepat saat dia berusia 7 tahun.
Pada waktu itu...
Shera dan Agas adalah adik kakak, mereka berlibur ke rumah ayah mereka serta kakek nenek mereka yang ada di luar negeri saat liburan semester.
"Ayah, disini ada anak kecil selain Agas dan Shera?" Agas bertanya sembari melirik sekitar. Orang-orang disini terlihat berbeda karena ras yang beda.
Ayah mereka yang bernama Adam mengangguk, dia akan memperlakukan anaknya dengan baik hingga tidak akan terjadi keretakan lagi.
"Disini sedang musim salju, kalian lebih baik memakai jaket tebal jika ingin keluar. Dan ya jangan bermain terlalu jauh," tutur Adam diangguki oleh Agas sedangkan Shera mendengus tak suka.
Tak lama dari itu, ibu mereka berdua datang membawa jaket dan sarung tangan tebal. Diana, sang ibu melirik suami lalu mengangguk mengijinkan kedua anaknya bermain.
"Terima kasih ibu dan ayah," ucap Agas dan Shera kompak.
Mereka berdua keluar dari rumah lalu melirik sekitar. Pandangan mereka jatuh ke gadis kecil seumuran Shera sedang sendirian, gadis kecil itu adalah tetangga mereka.
Singkatnya, nama gadis itu adalah Crysta seumuran dengan Shera. Mereka menjadi teman baik dan selalu bermain bersama hingga 1 minggu berlalu. Meskipun bahasa mereka berbeda dan tidak mengenal bahasa satu sama lain, namun mereka tetap bermain bersama dan tertawa.
"Kak, menurut kak Agas... Crysta itu bagaimana?" Tanya Shera tiba-tiba saat berada di ruang tamu.
Agas berpikir sejenak, "Crysta itu baik dan ceria. Namun entah mengapa dia terlihat seperti orang sakit?"
"Shera juga berpikir seperti itu. Dia terlihat lemah, hari ini dia tidak keluar rumah."
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu kepadanya."
***
Keesokan harinya Crysta datang tiba-tiba ke rumah Agas dan Shera. Hal itu sontak membuat kedua saudara itu senang, mereka keluar bermain salju sampai siang sore.
Shera melirik Crysta yang tampak tersenyum sedangkan Agas melihat mata polos Crysta memancarkan sinar kesedihan.
Awalnya Agas tidak terlalu memperhatikan itu, namun ketika dia melirik ibu Crysta yang menangis memperhatikan anaknya entah kenapa tiba-tiba firasat Agas sedikit tidak enak. Dia memutuskan berdiri dan langkah lebarnya berjalan ke arah ibu Crysta.
Dengan bahasa inggrisnya yang sedikit kaku, Agas membuka percakapan.
"Ada apa dengan Crysta?"
Ibu Crysta menghapus air matanya, "Crysta... dia sakit."
"Apakah itu bisa sampai menyebabkan kamu menangis?"
"Jika masalah ini tidak besar, mungkin aku tidak akan menangis. Namun ini masalah cukup besar."
Agas diam mencerna kalimat ibu Crysta. Dia akan mengajukan pertanyaan lagi namun teriakan Shera menghentikannya.
"CRYSTA!"
Crysta kecelakaan.
***
Shera tersenyum hampa mengingat masa lalu itu. Salju putih menjadi merah karena terkena darah Crysta. Dia sedikit melirik Agas yang kini sedang fokus ke komputernya.
"Memikirkan dia lagi?" Tebak Agas tiba-tiba membuat Shera mendengus. "Itu sudah menjadi bagian masa lalu, dia juga sudah pergi dengan tenang disana."
"Ngga semudah itu," gumam Shera tetap didengar oleh Agas.
"Kalo kamu berpikir kepergian dia adalah karena mu, itu salah. Kepergian dia udah jadi takdir, kita ngga bisa ubah takdir seseorang. Lagipula keluarga dia juga ngga menyalahkan kamu," ucap Agas sudah menebak pikiran Shera.
Mereka terdiam lagi sebelum Agas membuka suara.
"Mau kakak kasih tau apa yang kakak bicarakan dengan ibunya pada hari itu?" Mata Shera melebar, dia dengan cepat mengangguk.
"Dia punya penyakit yang menimbulkan masalah besar. Dan beberapa hari setelah kematian dia, ayah diberitahu bahwa umur Crysta udah ngga lama lagi."
Mata Shera memerah, "kenapa? KENAPA BARU KASIH TAU SHERA SEKARANG TENTANG ITU?!"
Agas terdiam kaku. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Dengan segera dia memeluk Shera, memberi energi kepada adiknya.
"Tenang Shera, maafkan kakak ya. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf,"
Berulang kali kata maaf terucap, tetesan air mata mengalir deras. Kenyataan pahit terungkap, membuat rasa bersalah menghilang.
Hari itu...
Hari terakhir kalinya Shera berkurang rasa bersalah.
Di hari itu pula, Shera menemukan alasan kakaknya ingin sekali menyembuhkan orang lain.
Crysta Neraz. Gadis rambut cokelat bergelombang dengan tatapan memancarkan binar.
Selamat tinggal.