Suatu hari, terlihat sepasang kekasih sedang bertengkar hebat ditepi jalan...
"Aku nggak mau lihat wajahmu lagi. Pergi!" teriak perempuan yang bernama Hana histeris.
"Dengerin aku dulu. Elis membutuhkan bantuanku dan cuma aku temannya satu-satunya yang bisa membantunya." ucap pria bernama Boy.
"Kamu pilih aku atau temanmu itu?" tanya Hana meminta kepastian sang kekasih. Tapi Boy hanya terdiam, tak tahu harus menjawab bagaimana.
"Huh, sudah jelas siapa yang kamu pilih. Kalau gitu, kita putus aja deh." ucap Hana kecewa. Hana langsung pergi meninggalkan Boy tanpa menghiraukan teriakan dari Boy yang memanggilnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan sedari tadi.
"Hiks, Boy bodoh. Hiks, huhu... " Hana menangis tersedu-sedu dibangku taman sendirian.
"Kamu nggak papa?" tanya seorang pria yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran Hana dan Boy tiba-tiba sudah berdiri dihadapan Hana dan menyodorkan tisu padanya.
"Terima kasih. Aku nggak papa." ucap Hana, menyeka air matanya menggunakan tisu pemberian pria itu.
"Kamu kenapa sampai menangis begini?" tanya si pria yang ternyata bernama Dion, padahal dia sudah tahu masalahnya.
"A-aku habis putus dengan pacarku. Aku benci dia. Dia lebih memilih teman masa kecilnya dibandingkan aku, pacarnya." ucap Hana apa adanya.
"Apa yang dipikirkan pacarmu itu? Perempuan secantik kamu malah diperlakukan begitu olehnya." ucap Dion prihatin.
"Hiks, makanya aku mutusin dia. Aku nggak mau lihat mukanya lagi. Aku membencinya." Hana mulai menangis lagi.
Dion menatap Hana dengan tatapan yang mencurigakan dan samar-samar dirinya terlihat menyeringai.
"Apa kamu mau jadi pacarku?" tanya Dion tiba-tiba. Hana kaget sampai terbengong-bengong menatapnya.
"Tenang saja, aku pasti akan memperlakukanmu dengan baik." ucap Dion meyakinkan.
Mendengar kata-kata Dion yang serius, Hana mengiyakan untuk mau menjadi pacarnya.
"Heh, betapa polosnya perempuan ini." batin Dion menyeringai senang.
Dan semenjak itu, Hana dan Dion berpacaran. Dion sering mengajak Hana berkunjung kerumahnya. Ternyata Dion orang kaya dan rumahnya juga besar dengan banyak pajangan mahal yang menghiasi isi rumahnya.
"Hana! Hana...!!!" teriak seseorang didepan rumah Dion.
Hana yang sedang bertamu dirumah Dion bergegas keluar bersama Dion karena mendengar suara keributan itu.
"Boy?" kaget Hana.
"Ternyata kamu benar-benar disini. Setelah kita putus, mudah sekali kamu melupakanku dan punya pacar baru." ucap Boy muram.
"Ngapain kamu kesini? Hana sudah nggak ada hubungan lagi denganmu." ucal Dion tersenyum meremehkan.
Boy yang tak terima langsung menyerang Dion. Tapi sayang, Boy malah kalah dari Dion.
"Jangan pernah kamu datang lagi kesini. Kalau masih berani, aku nggak akan segan-segan menelepon polisi." ancam Dion sangar. Karena ketakutan, Boy langsung kabur dari sana tanpa menoleh kebelakang lagi.
"Pft, dasar bodoh. Diancam begitu saja, dia sudah lari ketakutan." batin Dion tersenyum menang.
"Kamu nggak papa?" tanya Hana khawatir.
"Iya, aku nggak papa." sahut Dion.
"Dasar orang-orang bodoh. Yang laki-laki sangat pengecut dan tak punya pendirian. Yang perempuan begitu polos. Dia langsung mau jadi pacarku setelah kena rayuanku ditambah lagi aku sering mengajaknya jalan-jalan dan belanja, dia jadi semakin lengket denganku. Heh, ternyata punya banyak uang itu semuanya jadi mudah, ya." batin Dion senang.
Keesokan paginya...
"Apa-apaan ini? Kenapa banyak isi rumahku hilang begini? Perampokan?" kaget Dion melihat seisi rumahnya banyak yang kosong, pajangan yang menghiasi rumahnya sudah tak ada lagi.
"Harta dan semua uangku habis dirampok. Kenapa aku bisa nggak sadar ada perampokan? Tunggu, kemarin aku minum kopi yang dibuat Hana, lalu setelahnya aku nggakvsadarkan diri. Apa jangan-jangan... "
Saat tengah berpikir, entah kenapa Dion melihat selembar kertas yang menempel di dinding.
-Terima kasih untuk semuanya, ya...-
"Hana... " geram Dion, diremasnya kertas itu sampai jadi gumpalan karena saking kesalnya.
Sementara itu, disuatu tempat disebuah kafe sederhana...
"...laki-laki dan perempuan. Mereka sering melakukan penipuan dan perampokan. Banyak yang sudah menjadi korban mereka. Ciri-ciri mereka..." ucap pembawa acara berita di televisi. Terdapat sketsa kasar wajah 2 orang tersangka di televisi itu juga.
"Hhh... sayang banget... Padahal aku suka banget sama wajah itu, tapi aku nggak bisa terus-terusan memakainya." ucap Hana (hanya nama samaran, entah siapa namanya sekarang dan saat ini menunjukkan wajah aslinya) manyun sambil memainkan sedotan dimulutnya.
"Mau gimana lagi, identitas kita kan nggak boleh sampai ketahuan." ucap Boy (hanya nama samaran, entah siapa namanya sekarang dan saat ini menunjukkan wajah aslinya) santai melirik 'Hana' dari balik kacamata hitamnya.
Sekilas info, mereka berdua sebenarnya adalah sepasang kekasih yang berprofesi sebagai penipu ulung dan perampok yang suka memakai topeng/wajah palsu saat beraksi menipu korban mereka. Mereka sangat lihai menyamar sampai polisipun tak bisa menangkap mereka sampai sekarang.
Selesai mengisi perut, merekapun pergi dari kafe itu sambil bergandengan tangan.
"Kamu selagi nggak bareng aku, kamu nggak macam-macam kan?"
"Nggak dong. Yang aku khawatirkan justru kamu. Banyak korban kita yang dekat-dekat denganmu karena kamu cantik." ucap 'Boy' cemberut.
"Ehehe... Tenang saja. Aku akan tetap setia kok sama kamu." ucap 'Hana' bergelanyut manja dilengan 'Boy'.
"Terus, kita mau kemana?"
"Hm... Kepantai mungkin?"
"Boleh juga. Yeey... "