Pagi sekali ia pergi. Ketika ayam jago belum juga berkokok. Ketika subuh azan belum juga berkumandang. Ketika dimana hari masih benar-benar terasa gelap, dingin, gerimis dan sunyi... Tas ransel hitam berwarna agak kusam tersandang di bahunya.Kemarin, di atas ranjang kamar, sesaat setelah menunaikan nafkah batin kepada istri yang mencintainya, ia telah meneguhkan tekad, kalau esok hari: ia akan keluar dari kampung terkutuk ini, hendak menciptakan takdirnya hidupnya sendiri, begitu ucapnya.
Sebulan lalu ia telah menikahi seorang perempuan asli kampung sini, yang tak ada lain adalah teman main sedari kanak, usia mereka cuma terpaut hitungan bulan, janda beranak satu, Siti, namanya.
Sungguh, keinginan tersebut telah ia pendam sejak dari beberapa bulan berselang: kala tanah tempatnya untuk mengais rezeki hidup kian hari kian membatu, pepohonan besar dan kekar tambah hari tambah meranggas, ketika buldozer milik perusahaan swasta itu sudah tidak ada bedanya dengan sesosok singa lapar yang galak mengaum dan seenak perutnya mencabik-cabik sungai lalu memindahkan dan mengalihkan aliran sungai tersebut menjauh dari tanah leluhur mereka.
Siti, sesungguhnya tak merestui. Di bawah temaram cahaya lilin yang ekornya melenggak-lenggok dihembusi angin malam, Siti bersyakwasangka, kalau itu cuma dalih semata; sambil ia tersedu dan menutupi ketelanjangan diri dengan selimut usang yang ia raih dari bawah ranjang, kukuh ia menuduh.
Dia marah, dengan tubuh tak berkain ia bangkit, mencari-cari sesuatu di bawah ranjang, gegas penutup tubuh bagian bawah ia kenakan, keluar dari kamar.
Tuduhan tersebut bukan sekali ini dituduhkan.
Siti menangis meraung di kamarnya; Anak di kamar sebelah tengah bermimpi indah: bergulat dengan para monster-monster berukuran raksasa yang hendak menculik kekasih hatinya, padahal ia belum genap berusia tujuh tahun.
Dia terus menyusuri jalan, ketika sampai di pertigaan jalan yang becek ia pun berbelok arah, ke kiri, dari situ ia berjalan dan terus berjalan. Di satu gundukan tanah ia berhenti berjalan, seperti sedang menunggu, berselang kemudian seseorang keluar dari gundukan tanah tersebut, memeluknya dari arah belakang, ia menoleh, tersenyum lalu bibir berpaut.
" Mbakmu lagi bermimpi indah..."