Plakh
Bram mehempaskan seplastik gepokan uang merah bergambar Soekarno Hatta, di atas sebuah nakas. Tempat di sebelah Fania yang masih meringkuk tanpa busana di balik selimut putih. Masih dengan rasa yang bermacam-macam berkecambuk di dalam hatinya.
Malunya sudah hilang, bersama dengan tembusnya selaput dara yang terkoyak semalam oleh ulah Bram. Yang tidak lain adalah anak majikan ibunya. Ya, Bram adalah orang pertama yang menembus pertahanan yang ia jaga selama kurang lebih 24 tahun ini. Bahkan bibirnya pun original. Bram semua yang berhasil mendapatkan semuanya.
Manik mata Fania berkaca, meraih uang yang baru di lempar di dekatnya. Hatinya meronta saat menerima uang itu. Harga dirinya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Namun, apa yang bisa ia lakukan selain pasrah. Sebab dengan menjual dirinyha pada Bram adalah satu satunya jalan pintas baginya untuk menyelesaikan masalah ekonominya.
Biaya wisudanya menanti, tagihan uang bangunan untuk adiknya masuk fakultas kedokteran juga terlanjur ia sanggupi. Belum lagi biaya operasi ibunya yang baru saja mengalami kecelakaan pun menjadi tanggungannya saat ini.
Hingga terlintas di benaknya untuk menggoda anak majikan ibunya tersebut. Seorang duda yang baru 3 bulan di tinggal mati sitrinya akibat pendarahan hebat saat melahirkan anak ke dua mereka. Sungguh Fania lah yang selama kurang lebih 2 minggu ini menggodanya dengan sengaja.
“Kamu siapa?” tanya Bram saat Fania masuk kedalam kamarnya di pagi hari.
“Saya Fania.”
“Kenapa masuk kamar saya?”
“Oh… saya anak bi Yunah.”
“Kenapa bi Yunah tidak masuk?”
“Beliau kecelakaan dan masih di rawat di rumah sakit untuk menunggu jadwal operasi kakinya.” Jawab Fania.
Bram hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan Fania sendiri dalam kamarnya.
Itu selalu terjadi berulang hampir setiap pagi. Hingga pada hari yang ke tujuh, saat Fania masuk dengan sengaja mengenakan celana pendek dan pakaian yang kancingnya terbuka dua di bagian depan, akhirnya Bram yang telah lama tidak meyalurkan hasratnya pun oleng.
Bram melangkah kearah pintu kamarnya, saat Fania sudah berada di dalam.
“Kamu mau menggodaku?” tanyanya tanpa basa basi.
“Tidak…!!!” Jawab tegas Fania.
“Lalu apa maksudmu berpakaian seperti ini, saat masuk ke kamarku.
“Hanya ingin bernegosiasi.”
“Nego apa?”
“Uang… saya membutuhkan banyak uang.” Jawab Fania tanpa ragu.
“Perlu berapa?”
“200 juta.” Jawabnya asal.
“Saya tunggu di hotel King nanti malam pukul 9 malam. Gunakan pakaian lebih tipis dan pendek lagi dari yang kamu kenakan sekarang.” Ucapnya dingin, kemudian lagi meninggalkan Fania yang termangu akan negosiasi yang di luar nalarnya sendiri.
Bram tampan lagi mapan, di jadikan istri pengganti atau ibu sambungpun Fania rela. Bahkan mungkin tanpa di bayarpun ia mau. Tapi, tentu saja itu tak mungkin. Mana Bram mau menikah lagi dengan wanita yang secara terang menjual diri tanpa tedeng aling aling.
Namun, batalpun tak mungkin. Sebab waktu terus berpacu. Jadwal operasi semakin dekat. Tentu saja uang harus telah siap. Sehingga akhirnya Fania dengan penuh kesadaran sungguh datang ke hotel yang sudah di booking oleh Bram untuk mereka berdua.
“Kamu masih perawan…?” ungkap Bram di sela kesibukannya mengompa tubuh yang sudahpolos di bawah kungkungannya.
Fania hanya menggigit bibrnya sendiri. Menahan rasa perih, geli juga niukmat yang bercampur menjadi satu malam itu.
“Jangan main hati. Ingatlah ini hanya One Night Stand. Paham…!!!” Bram mengingatkan Fania tepat saat ia menumpahkan bibit premium itu di atas pusat Fania. Sebab ia tak menggunakan pengaman sekaligus ingin bermain aman.
Tamat