"Sayang, tumben sudah bangun, mau ngapain?" Tanya Hera kepada Adi anaknya.
Karena tidak biasanya Adi bangun pukul empat pagi.
"Badanku kurang enak, Bun. Terasa pegal-pegal semua. Sepertinya panas begitu," jawab Adi sambil duduk dikursi meja makan di dapur.
Hera yang sedang menyiapkan air untuk direbus, setelah meletakkan di atas kompor, langsung mendekati tempat Adi. Dirabanya kening Adi.
"Iya, kamu panas, nak." Hera langsung bergegas mencari kotak obat. Biasanya selalu sedia paracetamol. Lalu diambilnya satu.
Hera mengambil air minum digelas,
"Ayo minum ini dulu, supaya panasnya turun!" Hera menyodorkan air minum dan paracetamol ke Adi.
Setelah minum, tidak lama Adi ke toilet, buang air kecil.
Adi kembali masuk ke kamarnya, untuk kembali tidur. Karena sejak pukul dua tadi dia nggak bisa tidur.
Pukul empat tiga puluh menit, Hera sholat sunat qobliyah subuh, dilanjut sholat subuh, terus berdzikir dan tidak lupa berdoa meminta kesembuhan untuk Adi anaknya.
Kebiasaan Hera, membaca Al-Quran di pagi hari sebelum sholat sunah dhuha. Baru sekitar pukul enam lewat, Hera keluar dari kamarnya.
Ia menuju ke kamar Adi. Dirabanya kening Adi. Sudah nggak panas. Adi berkeringat malah, sampai baju yang dipakai basah.
"Adi, ayo bangun dulu, ganti bajumu!"
Terpaksa Adi bangun walaupun dengan malas. Menuruti perintah ibunya.
"Bagaimana rasa badannya sekarang?" Tanya Hera.
"Iya, Bun. Sudah mending. Tapi aku masih ngantuk, Bun."
"Bangunlah! Sholat dulu, nak!" Perintah Hera. Tapi Adi malas untuk bangun, malah tidur sambil memeluk gulingnya.
"H...hh" Hera menghela napas.
Adi masih saja sulit dibangunkan untuk sholat. Apalagi saat ini lagi kurang enak badan. Sedangkan saat sehat saja Adi masih berat untuk melaksanakan sholat. Padahal tidak kurang-kurangnya Hera mengingatkan.
Karena dilihatnya Adi sudah nggak panas, Hera memutuskan untuk melakukan pekerjaan seperti hari-hari biasanya. Ia pergi ke tempat usahanya. Meskipun begitu, sebentar-sebentar ia memantau keadaan Adi.
"Adi, sudah makan, Nak?" Tanya Hera.
Adi yang sejak pagi hanya tiduran di kamarnya, merasa nggak memiliki selera untuk makan. Badannya berkeringat dan panasnya masih naik turun.
"Bun, aku mau makan bubur"
Hera nggak fokus dalam pekerjaannya. Pikirannya tertuju pada kesehatan Adi. Hera membuat bubur untuk Adi.
"Nak, makan buburnya, nih!" Hera menyodorkan bubur ke Adi.
Baru makan dua sendok, Adi langsung bergegas ke kamar mandi.
"Hoek hoek!" Adi Muntah! Bubur dan semua isi perutnya keluar.
Jadi lemas, deh!
Dua hari dua malam, keadaan Adi begitu terus. Setelah Minum! Muntah! Makan, juga muntah! Ketika badannya panas, minum obat pun nggak mempan. Hera selalu berjaga dan nggak tidur selama dua hari dua malam. Memantau temperatur suhu badan Adi. Takut kalau panas tinggi.
Tiba sore hari, Ayah pergi ke mantri desa, beli obat untuk Adi, setelah menerangkan semua gejala dan keluh kesah Adi, Mantri memberi obat penurun panas, obat anti nyeri, dan vitamin, diminum setelah makan. Dan obat supaya nggak muntah dan obat maag yang diminum sebelum makan.
Pukul tujuh malam, setelah makan, Adi minum obat dari mantri. Panaspun turun. Sampai pukul dua belas malam, panas Adi kembali tinggi.
"Bun, tolong kompres kepalaku! Kepalaku pusing, bun," Adi terasa dingin menggigil, kedua telapak kaki dan telapak tangannya dingin. Tapi badannya panas.
Hera mengambil sapu tangan yang dicelupkan di air, untuk mengompres kepala Adi.
Sampai pagi Hera nggak tidur. Ia berjaga terus di kamar Adi.
Adi minta dipijat terus-terusan setiap anggota badannya, bergantian.
Dengan sabar dan telaten Hera merawat Adi.
Karena sudah dua hari dua malam Adi panas dan terus menerus muntah, pagi ini Hera berniat membawanya ke rumah sakit.
"Adi, kita ke rumah sakit sekarang, ayo!" Hera sudah menyiapkan sesuatu yang sekiranya harus dibawa. Adi pun bersiap-siap.
"Bun, aku rasa badanku sekarang sudah enakan." Kata Adi yang merasakan badannya mungkin sudah lebih baik, karena habis sarapan bubur walaupun cuma dua sendok, terus minum obat.
"Nggak jadi ke rumah sakit?" Tanya Hera.
"Nggak, Bun. Aku hanya pengen tidur. Ngantuk banget rasanya." Setelah minum obat, Adi kembali tidur.
Hera melanjutkan pekerjaannya. Dalam hati terus berdoa minta supaya Adi lekas sembuh.
"Bun, Bunda!" Adi memanggil Hera dari kamar.
Hera datang, "Iya, Di. Ada apa?"
Dilihatnya Adi muntah lagi. Semua yang dimakan keluar.
"Nggak pake alasan, Di! Ayo sekarang ke rumah sakit! Kamu pesan GoCar sekarang!"
Hera menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa, sementara Adi memesan GoCar.
"Sudah, Bun."
"Ayo!"
Pukul dua belas tiga puluh Hera dan Adi berangkat ke rumah sakit. Dua puluh menit kemudian sampai di depan ruang IGD rumah sakit di kota kami tinggal saat ini.
Turun dari mobil, langsung disambut oleh petugas di depan pintu IGD. Hera mendaftarkan Adi, dengan menyerahkan kartu BPJS Mandiri. Ada satu dokter yang bertugas memeriksa Adi. Saat di termo, suhu badan normal 36,7.
Setelah Hera mendekati Adi yang sedang duduk dikursi, "Bun, kepalaku pusing. Aku mau tiduran, Bun."
"Sus, bisa minta tempat baring? Ini pasien nggak kuat duduk terus, minta tiduran," pinta Hera pada suster yang ada.
"Iya, Bu. Tunggu sebentar, kami carikan!" Jawab salah seorang suster.
Tidak lama kemudian ada dua brankar ditarik menuju depan IGD. lalu disemprot anti kuman. Satu brankar dipakai oleh seorang pasien tua yang duduk di kursi roda. Dan satunya untuk Adi. Kemudian Adi didorong masuk ruang IGD. Hera mengikuti di belakangnya.
Setelah beberapa saat berhenti di lorong IGD, Adi dibawa masuk ke satu ruangan yang masih kosong. Ruangan singgah namanya. Yaitu sebuah ruangan yang hanya sementara digunakan pasien untuk istirahat. Apa bila pasien cukup rawat jalan, bisa hari itu juga pasien keluar dari rumah sakit. Tapi apa bila pasien memerlukan tindakan lanjutan dan harus rawat inap, maka pasien harus mengikuti prosedur rumah sakit.
"Nak, ayo minum!" Hera menyuruh Adi untuk lebih sering minum.
"Hoek! Hoek!" Adi masih saja muntah walaupun hanya minum air putih.
Saat Hera pergi ke tempat sampah untuk membuang muntahan Adi, ada pasien satu masuk ke ruang sebelah Adi. Ada suster membawa tabung oksigen dibawa masuk ke ruang pasien tersebut.
Ketika suster datang dan memberikan obat, Hera berkonsultasi minta Adi untuk dirawat inap supaya mendapat asupan cairan.
"Baiklah, kalau begitu ambil darah dulu ya untuk di cek di lab." Suster mengambil sampel darah Adi dan dimasukkan kebotol kecil.
"Dan saya juga minta sampel urine, tolong ditaruh disini, tidak perlu banyak, kurang dari setengah botol ini saja" Suster memberikan botol kecil tempat urine.
"Sus, berapa lama hasil tes keluar?" Tanya Hera.
"Jika saya mengambil sampelnya jam satu siang, kemungkinan hasil akan keluar sore nanti, Bu. Sekitar jam lima. Mohon ditunggu ya, Bu!"
Hera mengangguk.
"Baiklah, bu. Kalau begitu mari sekarang ikut saya untuk foto rongsen."
"Lho, kenapa Sus?"
"Iya, Bu. Memang prosedurnya seperti itu jika ingin rawat inap. Pasien harus melalui dokter dalam dulu yaitu untuk foto rongsen."
'Kok baru tahu prosedur seperti ini ya." Batin Hera. Demi memperjuangkan kesehatan anaknya yang sudah lemas, Hera berusaha melakukan yang terbaik, selama itu halal. Semoga Allah ridho.
"Bagaimana, Bu?" Tanya Suster.
"Apakah semua pasien melakukan prosedur seperti ini?" Tanya Hera yang masih belum mengerti.
"Iya Bu, semua pasien. Tanpa kecuali."
"Baiklah." Hera membereskan semua barang-barang bawaannya.
Brankar Adi didorong oleh suster menuju ruang rongsen. Sampai di depan ruang rongsen, antri!
Setelah keluar ruang rongsen, brankar Adi
dibawa ke ruang IGD.
"Silakan tunggu hasil lab dan hasil rongsen di sini ya, bu,"
"Berapa lama hasil rongsen keluar, Sus?" Tanya Hera.
"Sore, Bu." Jawab Suster.
Ruang IGD sangat ramai. Pasien berjajar di atas brankar. Bahkan ada yang hanya duduk, karena tidak ada brankar yang kosong. Para suster, dokter semua sibuk. Semua berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari, seolah tengah dikejar. Mereka menangani pasien dengan terampil dan cekatan.
Ada pasien yang kakinya bengkak-bengkak sampai pecah. Sebelah kanan Adi ada pasien seorang bapak. Nampak tidak sabaran. Sejak Adi dan Hera datang bapak itu mengeluh terus dan sebentar-sebentar melihat hp yang dia letakkan di sampingnya. Sebelah kiri Adi ada seorang Oma yang berbadan kurus dipasang infus, ditunggu oleh seorang pria.
"Adi, pakai maskermu, nak!" Hera mengingatkan Adi yang maskernya hanya di dagu.
Adi membetulkan maskernya untuk menutup mulut dan hidung.
Lima menit Adi dan Hera di ruang IGD, seorang dokter datang.
"Selamat siang, apa benar ini pasien yang bernama Adi?"
"Iya." Hera menjawab.
"Saya Steven. Saya dokter bagian dalam yang menangani Adi, Bu. Jadi kalau ada perlu sesuatu bisa dikonsultasikan dengan saya. Dan untuk sekarang mohon menunggu hasil rongsen." Ucap dokter Steven dengan ramah.
"Iya, Dok."
"Kalau begitu saya permisi," Dokter Steven kembali ke tempatnya.
Kemudian datang petugas untuk rekam jantung Adi. Dipasangnya alat di dada, kedua tangan dan kaki dijepit.
Jam didinding menunjuk pukul enam. Alarm hp Hera berbunyi. Alarm saatnya sholat maghrib. Ya Allah, aku sampai meninggalkan kewajibanku, dari asar dan sekarang sudah maghrib aku blm kerjakan.
Hera mendatangi dokter Steven.
"Dok, bagaimana hasil lab atas nama Adi?" Tanya Hera dengan sopan.
Dokter Steven mencari berkas Adi.
"Bu, dari hasil seluruhnya, semua bagus. Hanya satu yang kurang, yaitu trombosit turun. Kami sarannya Adi untuk rawat inap, Bu. Dari trombosit turun kemungkinan ada virus yang masuk dalam tubuh. Kami takutnya demam dengu."
"Baiklah saya setuju untuk rawat inap. Apa bisa pasang infus sekarang, Dok? Soalnya Adi sudah tiga hari kurang makan dan muntah terus, takutnya kekurangan cairan."
"Baiklah, Bu. Tunggu sebentar, ya. Nanti ada suster yang akan memasangkan infus."
Dua jam menunggu! Adi sudah uring-uringan minta pulang saja.
"Atas nama Adi."
"Ya!"
Suster mendekat ke Hera.
"Dirawat inap ya, Bu?"
"Ya."
"Kalau begitu pasien akan di tes swab lebih dahulu. Anggota keluarga pasien silahkan menandatangi surat pernyataan dulu." Kata seorang dokter muda, dokter pembantu dokter Steven.
"Adi, bunda tinggal ke sana sebentar, ya."
Adi mengangguk.
Hera mengikuti dokter muda itu. Lalu menyodorkan surat pernyataan untuk rawat inap.
Hera perlahan membacanya.
Kemudian dokter muda itu menjelaskan.
"Ibu, disini menjelaskan,
1. Jika hasil dari swab pasien positif, maka pihak keluarga setuju jika pasien akan dirawat di ruang isolasi.
2. Jika selama rawat inap terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap pasien, atau pasien meninggal dunia, maka pihak keluarga setuju jika proses pemakaman akan dilakukan sesuai protokol kesehatan."
Terdiam sejenak!
"Ya Allah kok mengerikan dan menakutkan seperti ini. Aku pasrah pada-Mu ya Allah. Semampuku aku berusaha dan berdoa meminta tolong pada Mu ya Rabb. Lindungilah anakku! Sehatkanlah anakku!" Teriak batin Hera.
"Bagaimana, Bu?" Tanya dokter muda.
"Apakah semua pasien juga menandatangi ini?"
"Iya, Bu. Semua. Tanpa kecuali."
Akhirnya Hera tanda tangan. Bahkan suaminya tidak mau tanda tangan. Mama mertuanya yang tadi datang pun menunjukkan wajah menakutkan dan ragu untuk tanda tangan.
Niat Hera adalah berusaha semampunya ingin anaknya sembuh kembali.
Setelah Hera tanda tangan, tes swab dilakukan.
Setengah jam kemudian, " Bu, hasilnya negatif, ya," Kata suster.
"Iya, Sus. Terima kasih." Jawab Hera.
Sekarang menunggu masuk kamar. Setelah melakukan beberapa proses, pada tengah malam pukul non nol tiga puluh, Adi bersama tiga orang pasien lainnya diantar menuju ke kamar.
"Ayo sekarang kita beriringan menuju ke ruang Irine C2!" Kata suster sambil mendorong brankar pasien yang paling depan.
Adi masuk di Irine C2 kamar no 211. Di sana ada 4 ranjang, dua sudah ada penghuninya. Adi masuk bareng dengan pasien bernama pak Markus. Kain gorden sebagai pembatas ruangan setiap pasien. Setelah kain seprei dipasang dengan yang baru, Adi pindah ke ranjang.
"Dingin, Bun. Tolong tutup kain gordennya!"
Hera menarik kain gorden untuk menutup tempat Adi.
"Ngantuk sekali, aku mau tidur sekarang." Kata Adi.
Disaat Adi sudah terlelap, Hera keluar mencari letak toilet. Nanti sewaktu-waktu Adi minta diantar ke toilet, biar nggak bingung. Dari kamar berjalan ke kanan berjarak lima meter, Hera langsung menemukan toilet.
Hera segera kembali ke kamar. Tidak lama ada suster yang piket malam datang akan memeriksa tensi dan menermo badan Adi. Hasilnya, panas sudah normal, namun tensinya yang masih rendah.
Pagi harinya suster mengambil darah Adi untuk cek di lab lagi.
"Jam berapa hasilnya akan keluar, Sus?" Tanya Hera.
"Sore, Bu."
Kebetulan tadi malam Ayah datang.
"Ayah, tolong beli air minum, ya. Ini persediaan minum sudah tipis. Sama beli sarapan, ya. Adi kepingin apa? Biar dibelikan ayah."
"Aku nggak kepingin apa-apa. Cuma ingin tidur saja. Ngantuk sekali rasanya, Bun."
"Selamat pagi," Dokter dan dua orang Suster datang memeriksa. Setelah mengetahui hasil Adi, dokter bertanya, "Apa ada bintik merah di kulit?"
"Tidak ada, dok."
"Baiklah. Bu, dari hasil beberapa kali lab, ini trombosit Adi masih turun. Tolong dijaga, jangan sampai keluar darah, ya. Saya sarankan gosok giginya pelan-pelan, ya. Untuk mencegah jangan sampai terjadi pendarahan. Dan banyak minum air putih, untuk saat ini minimal tiga liter air, ya. Oh ya, Jus jambu merah itu bisa membantu menaikkan trombosit. Ibu bisa berikan itu pada Adi."
Setiap hari Adi diambil darahnya untuk di lab.
Cairan di botol infus sehari ganti empat kali. Setiap saat Bunda berdoa mohon kesembuhan untuk Adi. Hari kedua, Bunda minta Ayah bawakan mukena dan Al-Quran. Tiap malam Bunda membaca surat Al-Fatihah(1), Al-Isra(17) dan Al-Anbiya(21) di depan ranjang Adi.
Alhamdulillah, di hari ke lima opname, trombosit Adi mulai naik. Adi sudah mau makan dan nggak muntah lagi.
"Jika trombosit naik dua kali berturut-turut, dokter sudah nggak menahan Adi lagi. Adi boleh pulang ke rumah!" Kata dokter sambil tersenyum kepada Adi.
"Berarti kapan boleh keluar, Dok?
"Jadi, kita tunggu hasil lab yang hari ini! Jika hari ini trombosit naik, berarti paling cepat besok boleh pulang."
"Terima kasih, Dok. Horeee … sebentar lagi boleh pulang!" Girang Adi sambil memeluk lengan Bunda.
Semua orang di ruangan itu tersenyum melihat Adi.
"Banyaki dulu makan, Adi. Tuh wajah masih pucat." Kata Kak Ester, anak Om Markus, pasien sebelah Adi.
"Heeeheee," Adi menanggapi dengan tersenyum.
"Kuingatkan ya, nanti kalau kamu sudah keluar, banyaki istirahat dulu, makan yang teratur! Jangan main hp terus! Justru main hp itu membuat pikiranmu nggak istirahat Adi!" Kata Kak Ester.
"Tuh dengerin Kak Ester bicara!" Kata Bunda Hera.
"Iya Kak Ester, iya Bunda," Adi memeluk Bunda yang duduk di tepi ranjang.
Hari ini semangat makan Adi berlipat-lipat dari pada hari-hari sebelumnya. Setiap ada pedagang makanan keliling, Adi selalu minta untuk dibelikan. Nasi kuning, ayam lalapan, sudah masuk di perut Adi. Selama bukan makanan pedas.
Malam hari, sekitar pukul dua puluh nol nol, Suster melihat tangan Adi yang pas tempat masuknya jarum infus, bengkak, jadi terasa agak sakit.
"Ini harus saya lepas dulu, ya, kalau nggak dilepas tangannya bisa tambah bengkak dan sakit" kata Suster.
"Iya, dilepas saja, Sus. Aku sudah nggak nyaman pakai infus terus. Sulit mau bergerak bebas." Jawab Adi ketika Suster mulai melepas jarum infus di tangannya.
"Ganti dipasang di tangan sebelahnya." Kata Suster yang sudah siap dengan peralatan.
"Aku nggak mau, Suster!"
"Bunda, aku nggak mau dipasang infus lagi," Adi melihat Bunda Hera dengan wajah memelas, seolah minta tolong.
"Lho, ini pesan dari dokter, pasien Adi masih menjalani terapi cairan." Jawab Suster.
"Suster, bagaimana ini? Anaknya sudah nggak mau," Hera minta pertimbangan dengan Suster. Hera merasa Adi ada benarnya. Hera lihat keadaan Adi sudah lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Panas sudah normal, tensi bagus, juga sudah nggak muntah, nafsu makanpun sudah meningkat.
"Kami tidak bisa memaksa, Bu. Tapi kalau memang pasien nggak mau, ibu bisa menanda tangani surat pernyataan, bahwa pasien tidak mau menjalani terapi cairan." Suster menjelaskan.
"Baiklah. Saya tanda tangan. O ya, Suster, bagaimana hasil lab Adi hari ini?"
"Mari ikut saya ke ruangan, bu. Saya cek hasil lab terakhir sekalian ibu tanda tangan."
Hera mengikuti Suster menuju ke ruangan.
Suster membuka komputer, dan membacakan hasil lab Adi. Semua hasil sudah bagus. Trambosit pun naik, sudah mendekati normal.
"Suster, kalau begitu minta pulang sekarang apa bisa?"
"Saya tanya ke dokter dulu ya, bu, ibu bisa menunggu di ruang pasien."
Hera kembali ke ruangan Adi dirawat. "Bagaimana Bun, boleh keluar sekarang, kan? Aku sudah banyak ketinggalan di sekolah lho, Bun. Hari Kamis ada undangan pertemuan ROHIS, ini penting, aku harus hadir, Bun," Adi mengeluarkan semua alasan supaya bisa keluar.
"Masih nunggu jawaban dari Dokter. Makanya, jaga tuh kesehatan. Kalau sudah sehat, syukuri tuh sehat yang Tuhan beri, jalankan perintahnya dan jauhi larangannya! Perbaiki sholatmu yang amburadul itu!"
"Iya, Bun. Adi usahakan."
Hera dan Adi menunggu sampai pukul dua belas malam, belum ada jawaban dari Suster. Hera pergi lagi mendatangi ruangan Suster.
"Selamat malam, Sus, bagaimana Sus? Sudah lama menunggu lho, sampai tengah malam!" Sedikit tidak sabar.
"Selamat malam, Bu. Jadi begini, Bu. Harus tanda tangan surat pernyataan, Bu. Apa bisa menyanggupi?"
"Lha, sejak tadi saya menunggu itu, Sus?"
"Kalau begitu Ibu bisa menunggu di ruang pasien."
"Saya menunggu di sini saja." Hera bergeming di tempatnya berdiri.
"Kalau begitu, ibu duduk dulu di kursi sini. Saya akan print yang akan ibu tanda tangani." Suster mengambil sebuah kursi untuk Hera duduk. Hera akan menunggu sampai surat itu selesai dibuat.
Nggak sampai lima menit, surat pertanyaan sudah tercetak. Suster menjelaskan semuanya. Dan juga memberitahu jadwal kontrol Adi.
"Apa Ibu jadi pulang malam ini? Ini sudah sangat malam, Bu? Apa nggak sebaiknya besok pagi saja?"
"Iya, malam ini kami pulang. Terima kasih untuk semuanya, Sus. Permisi, Selamat Malam."
"Iya, Bu. Selamat Malam." Suster bernafas lega. "Sehat selalu buat Adi!" Ucapnya sumringah. Satu pasien ngeyel telah sembuh dan keluar dari rumah sakit.
Pukul nol nol tiga puluh, Adi dan Hera keluar gerbang rumah sakit. Gelang sebagai identitas pasien di tangan Adi dilepas oleh Saptam yang jaga gerbang. Lima menit setelah Adi memesan GoCar pun datang untuk mengantar Adi dan Hera pulang ke rumah.
***