Jam di layar ponsel menunjuk ke pukul satu dini hari! Dan mata belum juga terpejam. Akh, aku belum juga tidur hingga larut malam begini, jujur, ini kali pertama.
Bangkit berdiri, apakah aku bisa?!
Di sekelilingku, dihembusi angin sepoi-sepoi basah, orang-orang sudah terbuai dalam mimpi, sejak kapan!? Semestinya aku menolak ikut, tapi... Kalau bukan karena dia... Bodohnya aku, kenapa juga aku harus peduli!
Mata masih juga membelalak! Dan aku tak tahu harus berbuat apa, suntuk! Pandangan mata lurus tegak menatap angkasa raya, sekian menit. Di situ mata tertuju kepada semesta bintang-bintang yang berkeriapan.
Entah kekuatan yang berasal dari mana, bisa-bisanya sebelah tanganku teracung ke atas, telunjuk menuding ke langit malam, mulutpun serentak berkomat-kamit, sepertinya aku mencoba untuk menghitung bintang-bintang yang berkeriapan di langit itu, begitu banyak: ada puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, bahkan miliaran.
Aku bisa menghitung bintang sebanyak itu!? Kok bisa!? Dan sialnya aku... apakah itu rumah bagi jiwa-jiwa yang abadi!?
Dari yang sekedar titik, kini mereka terbang rendah di sekitar kami. Seelok burung merpati, berkeriapan mereka, terdapat kemilau di sekujur tubuh mereka.
Perlahan, bak lembaran daun-daun yang jatuh dihembusi angin musim gugur, satu persatu kemilau itu pun jatuh, pecah berkeping-keping di angkasa, berserakan ketika menyentuh persada. Dan itu tak kunjung berhenti, terus dan terus, hingga tubuh kami tertimbun di dalam kemilau itu.
Sukma pun seolah lepas dari jasad, setidaknya itu yang kurasakan, entah dengan mereka. Aku dibawa pulang ke rumah yang kuinginkan, di tengah-tengah samudera ketidak tahuan, tapi aku tidak sibuk mencari-cari, aku hanya diam terpaku dalam hening, bila saja kenyataan itu seperti ini.