Simon menikmati secangkir kopi hitam, menghirup aromanya dalam-dalam sebelum menyesapnya perlahan. Dari jendela terlihat hujan merintik semakin lebat, aroma tanah yang basah menyeruak masuk bercampur dengan aroma kopi didepannya.
Ah, perpaduan petrikor dan aroma kopi ini memang selalu selaras di indera Simon. Pas sekali.
Lagi, asap yang mengepul dari cangkir kopinya membentuk siluet wajah seseorang yang hanya jadi miliknya dalam mimpi, Lenka.
Simon tersenyum miris.
Beberapa kali ia mendapat kesempatan dalam kondisi nyaris bisa memiliki Lenka jadi wanitanya, tapi selalu gagal. Bertahun-tahun ... bahkan puluhan tahun Simon menyimpan rasa cinta pada perempuan yang sama. Sejak Lenka masih gadis, kemudian menikah, bercerai, menikah lagi dengan kekasih masa lalunya.
"Maaf bang, aku tidak bisa menerimamu sebagai kekasih karena abang sudah jadi sahabat sekaligus abang bagiku," kata Lenka saat Simon lagi-lagi memberanikan diri menawarkan cintanya. Ah, apalah daya Simon yang hanya dianggap begitu oleh Lenka.
Bukannya masih berharap, hanya saja kadang menyebalkan ketika kesempatan itu seolah mengoloknya lagi dan lagi.
Bahagia ketika melihat orang yang kita cintai bahagia itu hanya berlaku jika dia sama kita, tapi kalau dia bahagianya sama orang lain?
Ah, berhenti menipu diri dengan kata-kata yang menyiratkan kita baik-baik saja padahal sebenarnya kita tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Jadi lebih baik aku katakan, aku bahagia jika melihat dia baik-baik saja dengan pilihannya, dan aku sendiri menanamkan dalam pikiranku bahwa aku harus bahagia walaupun tanpa dia, batin Simon.